media sosial

Segala sesuatu itu harus dilaksanakan sesuai kadar normal, jangan berlebihan. Prinsip serupa juga berlaku dalam hal menggunakan media sosial.

Terlalu sering memakai media sosial tentu akan membuat kita banyak membuang waktu. Lebih parahnya lagi, bisa-bisa kita terserang penyakit mental berbahaya.

Lalu, apa saja penyakit mental berbahaya yang dimaksudkan? Berikut ulasan Edisi Bonanza88.

1. Fear of Missing Out (FOMO)

Fear of Missing Out (FOMO merupakan fenomena yang muncul di saat ketenaran media sosia garapan Mark Zuckerberg, Facebook, meningkat. Fomo pada umumnya merupakan tingkat kecemasan tinggi kehilangan pengalaman dengan orang terkoneksi di media sosial.

Michael Hogan mencoba meneliti kemunculan Fomo pada penggunaan media sosial. Lewat psychologytoday.com, Hogan mengumpulkan 76 mahasiswa secara acak sebagai responden. Ia menggunakan pendekatan Manajemen Interaktif dan kecerdasan kolektif untuk melihat kemunculan Fomo.

Penelitian Hogan membuahkan kesimpulan pengguna media sosial terindikasi mengidap Fomo, seperti peningkatan rasa seakan terasing, ketidakjujuran menggambarkan citra diri, rendah diri, muncul perasaan kesepian, dan meningkatnya rasa cemburu terhadap orang lain.

 

2. Kepalsuan

Enggak selamanya memposting foto kebahagiaan, baik bersama pasangan maupun sendirian, menunjukan seseorang sedang bahagia. Pada tahun 2014, para peneliti di Austria menemukan fakta pengguna media sosial mengalami suasana hati lebih rendah setelah menggunakan Facebook selama 20 menit. Mereka beranggapan postingan orang lain lebih bahagia daripada miliknya sendiri.

Suasana hati, baik atau buruk, juga dapat menyebar di antara orang-orang di media sosial. Menurut para peneliti dari University of California, konten emosional lebih membuat pengguna merasa kurang percaya diri setelah melihat pembaruan posting orang lain. Dengan begitu, semakin banyak orang mengunggah keceriaan, kegembiraan, kesenangan, dan lainnya justru semakin membuat dirinya menjadi sebaliknya.

 

3. Stress

Lebih dari 40% populasi dunia atau sekira 3 miliar orang menggunakan sosial media. Mereka menghabiskan rata-rata 2 jam sehari untuk bermedsos ria. Di antara banyak kegiatan, beberapa orang justru menggunakan sosial media untuk sarana melampiaskan stres atau kejenuhan. Lalu, apakah hal itu dapat mengurangi atau justru menambah stres?

Para peneliti di Pew Research Center, Washington DC, pada tahun 2015, melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka mensurvei sebanyak 1.800 prang. Hasilnya, sebagaimana dilansir bbc.com, kecenderungan tingkat stres pengguna justru meningkat. Hasil laporan itu juga mengungkap pengguna perempuan lebih tinggi tingkat stresnya ketimbang pria.

Di sisi lain, remaja yang menghabiskan lebih dari 2 jam sehari di media sosial cenderung mengalami masalah kesehatan mental seperti tekanan psikologis. Gadis remaja tercatat sangat rentan terhadap tekanan teman sebaya dan karena itu berisiko memiliki pengalaman negatif di media sosial sehingga dapat mempengaruhi perkembangan mentalnya.