Muammar Gaddafi merupakan sosok diktator yang pernah memerintah Libya cukup lama. Dia tidak ramai dibicarakan di media-media politik, melainkan juga olahraga khususnya sepak bola.

Putra bungsunya, Al-Saadi Gaddafi ternyata pernah merintis karier sepak bola profesional dan sempat merumput di Serie A Italia. Tiga klub dia bela di Negeri Pizza, bersama Perugia, Udinese dan Sampdoria.

Karier Al-Saadi di Serie A Italia memang berbau politik. Pihak pemerintah Italia yang namanya santer terdengar, yaitu Silvio Berlusconi punya hubungan dekat dengan ayah Al-Saadi, Muammar Gaddafi.

Silvio Berlusconi yang menjabat sebagai perdana menteri Italia dan juga pemilik AC Milan, menilai kekerabatan dengan Muammar Gaddafi cukup menguntungkan. Karena saat itu, Libya memang memiliki pasokan minyak bumi yang melimpah.

Al-Saadi, Putra Diktator Libya yang Punya Privelege

The day Gaddafi's son played at the Camp Nou | MARCA in English

Cerita yang dihimpun Edisi Bonanza88, sebagai putra bungsu dari sang diktator, Al-Saadi tentu saja merasakan kemewahan sejak masih kanak-kanak. Dia juga diberikan kebebasan menentukan karier yang dipilih.

Sejak masih anak-anak, dia suka bermain sepak bola di komplek kediaman keluarganya di Bab al-Azizia, Tripoli. Bahkan bakat sepak bola itu didukung oleh ayahnya, Muammar Gaddafi. Pelatih pribadi sampai didatangkan ke rumahnya secara rutin setiap harinya.

Privelege yang dimiliki oleh Al-Saadi terlihat pada tahun 2000 alias saat dirinya sudah berusia 27 tahun. Dia akhirnya menapaki karier profesional sebagai pesepakbola dengan bergabung klub besar Libya, Al-Ahly Tripoli.

Kesan privelege benar-benar langsung terasa ketika Al-Saadi gabung Al-Ahly Tripoli. Dia diberikan jabatan sebagai kapten klub. Bahkan rekan-rekan setimnya mendapatkan hadiah jika memberikan umpan pada Gaddafi. Hadiah atau bonus yang paling sering diberikan adalah Toyota Camry dan 500 Libya Dinar setara dengan 250 poundsterling.

Yang paling menarik adalah ketika dia masih berkarier, Al-Saadi ditunjuk menjadi pemimpin federasi sepak bola Libya. Menjadi pemimpin Federasi Sepak Bola Libya tidak menghentikan Al-Saadi bermain, dia bahkan membela Timnas Libya dan menjadi kapten tim nasional.

Setahun di Al-Ahly, dia pindah ke Al-Ittihad Tripoli dengan kurun waktu 2001-2003 di klub yang tidak kalah besar. Sebenarnya, kemampuannya saat itu bisa dibilang biasa-biasa saja, tapi tentu karena pengaruh sang ayah, semuanya berjalan mulus.

Karena rumor yang berkembang soal karier Al-Saadi mengatakan sepak bola Libya sudah diatur sedemikian rupa agar memudahkannya. Setiap klub yang dia bela, selalu dapat keistimewaan dari wasit dan para pemain lawan juga tidak bisa protes.

Bahkan kabar ini didukung oleh pengakuan dari Presiden Al-Ahly Benghazi, Khalifa Bin Sraiti usai timnya menang atas Al-Ittihad di sebuah pertandingan Liga Primer Libya. Dia menjelaskan pesan yang dia terima setelah kemenangan itu.

“Saya akan menghancurkanmu, klubmu juga. Saya akan mengubah klub mu menjadi sampah, menjadi sarang burung hantu!” cerita Khalifa Bin Sraiti.

Benar saja, pada pertemuan selanjutnya terjadi kerusuhan saat Al-Ahly Benghazi menghadapi Al-Ittihad (tim Al-Saadi). Tepat pada tanggal 20 Juli 2000, laga terakhir di musim Liga Primer Libya. Di mana, Al-Ahly Benghazi membutuhkan hasil imbang untuk menghindari degradasi.

Namun tim yang dibela Al-Saadi mendapatkan penalti yang kontroversial. Fans Al-Ahly merasa muak dan tumpah ruah ke lapangan, membuat laga ini harus ditunda. Para penonton keluar dari stadion dan melanjutkan demo di luar dengan membakar foto Muammar Gaddafi.

Selang beberapa bulan, Muammar Gaddafi memberikan pesan balasan atas kerusuhan tersebut. Pada tanggal 01 September 2000, buldoser menghancurkan stadion Al-Ahly, tempat latihan dan kantor tim.

“Semua catatan kami, berkas-berkas klub, trofi-trofi kami dan medali, semua dihancurkan,” kata mantan pemain Al-Ahly, Ahmed Bashoun kepada The Guardian, 25 Mei 2011.

Selama dua musim membela Al-Ittihad, entah benar atau tidak, menurut footballpink.net, Al-Saadi juga mencatat 18 penampilan untuk Timnas Libya dengan mencetak dua gol dari tahun 2000 sampai 2006.

Masih dari sumber tersebut, dia juga berhasil menjuarai Liga Primer Libya bersama Al-Ahly dan Al-Ittihad Tripoli. Yang lagi-lagi, rumor berkembang itu semua karena wasit dan semua elemen pertandingan memihak pada tim yang dibela Al-Saadi.

Bahkan kabarnya kesempatan membela Timnas Libya didapat oleh Al-Saadi karena pengaruh sang ayah. Karena saat itu, Muammar Gaddafi memang benar-benar sudah menjadi seorang diktator di negaranya.

Tidak Puas di Libya, Al-Saadi Merantau ke Eropa

The Sad Football Career of Al-Saadi Gaddafi, the Son of the former Libyan  leader | KMAUPDATES

Al-Saadi pun merasa kemampuannya di atas lapangan hijau tidak bisa mencapai level tertinggi jika terus bermain di Libya. Dia percaya diri dengan kemampuannya bisa beradaptasi di level tertinggi, apalagi kalau bukan mencicipi sepak bola Eropa.

Dengan keuangan dan kekuasaan yang tanpa batas dari orang tuanya, Al-Saadi pun mulai melakukan gerakannya. Pada tanggal 09 Januari 2002, sebuah transaksi yang aneh muncul ke permukaan. Sebuah organisasi bernama Libyan Arab Foreign Investment (LAFI) membeli sebesar 5,31 persen saham Juventus.

Nama Muammar Gaddafi pun disebut-sebut menjadi dalang dari LAFI. Keakraban dirinya dengan Silvio Berlusconi yang juga Perdana Menteri Italia disebut juga menjadi pelicin dari transaksi ini.

LAFI pun masuk dalam jajaran direksi klub Juventus dan membujuk klub agar bisa menerima Al-Saadi Gaddafi sebagai representasi mereka. Saat itu, pelatih Bianconeri adalah Marcelo Lippi. Pelatih legendaris Italia itu sedang menghadapi dua pilihan yang sama-sama mematikan untuk kariernya. Menolak perekrutan Al-Saadi berpotensi kehilangan pekerjaannya atau menerimanya tapi skuatnya tidak sesuai harapan, yang tentu juga bisa dipecat pada akhir musim. Tapi Lippi dengan berani memutuskan untuk menolak perekrutan Al-Saadi.

Menurut kabar dari media setempat saat itu, Berlusconi menghubungi sejumlah klub untuk mencarikan alternative untuk Al-Saadi. Hingga pada akhirnya, Pemilik Perugia, Luciano Gaucci yang sukses diyakinkan oleh Berlusconi untuk mendatangkan Al-Saadi. Berlusconi saat itu meyakini bahwa Al-Saadi memang tidak punya kemampuan sepak bola yang kualitas top. Tapi dengan Perugia merekrut dia, hubungan antara Libya dan Italia bisa lebih baik, Al-Saadi Gaddafi pun menandatangani kontrak dua tahun dengan Perugia pada 2003.

Bukannya kemampuan bermain bola, Al-Saadi malah lebih sering menunjukkan kemewahannya selama berseragam Perugia. Media-media Italia saat itu ramai memberitakan tingkah laku Al-Saadi, salah satunya yang paling diingat adalah dating latihan dengan helicopter. Dia juga sering mengundang teman-teman setimnya ke pesta dan liburan yang dia adakan. Bahkan sebuah sumber mengatakan, Al-Saadi mensponsori bulan madu dari striker andalan Perugia, Jay Bothroyd.

Berada di Eropa, Al-Saadi ternyata sadar kemampuannya terbatas dibanding rekan-rekan setimnya yang lain. Dia pun meminta Perugia untuk menunjuk Diego Maradona sebagai konsultan teknis. Tidak hanya itu, pelari legendaris Kanada, Ben Johnson dia angkat sebagai pelatih kebugaran fisik pribadinya.

Semua upayanya itu hanya membuahkan satu penampilan untuk Perugia, itu pun sebagai pemain pengganti. Setelahnya, dia seringkali gagal tes doping dan narkoba, yang menunjukkan dia kecanduan obat-obatan terlarang.

Jay Bothroyd yang saat itu satu tim dengannya di Perugia saat itu, juga sempat memberikan komentar soal kemampuan Al-Saadi yang biasa-biasa saja. Meski begitu, Bothroyd melihat meski anak dari petinggi negara Libya, Al-Saadi tidak pernah meminta perlakuan khusus.

“Dia hobi sepak bola, miliarder yang ingin bermain sepak bola. Dia rajin berlatih setiap hari dan saya melihat dia benar-benar berusaha untuk beradaptasi dengan level tertinggi. Saya tidak pernah melihatnya meminta perlakuan khusus dari klub,” ucap Bothroyd dilansir dari National Post.

Terlepas dari kualitas Al-Saadi di atas lapangan, jika kita melihat dari luar perannya sangat berarti untuk Perugia. Klub tersebut mampu memiliki kondisi keuangan yang stabil. LAFI yang juga jadi investor Juventus, juga membuat Si Nyonya Tua benar-benar digdaya saat itu.

Kesuksesan kedua klub ini ternyata membuat klub lain iri, Udinese pun mendatangkan Al-Saadi agar meniru jejak langkah Perugia. Namun selama di Udinese, uang dari Al-Saadi tidak mengalir dan dia hanya duduk di bangku cadangan saja.

Hanya semusim, Al-Saadi lalu pindah ke Sampdoria. Presiden klub saat itu, Riccardo Garrone merupakan CEO perusahaan minyak swasta Italia, ERG. Dia berharap mendapat kontrak eksporasi minyak di Libya, tapi hal tersebut tidak juga terwujud. Sampdoria pun melepas Al-Saadi yang kemudian memutuskan pulang ke Libya pada tahun 2007 silam.

Pulang ke Libya untuk Berbisnis, Perang Saudara dan Masuk Penjara

Saadi Gaddafi in court charged with murdering footballer | Middle East Eye

Setelah kembali ke Libya, hari-hari Al-Saadi awalnya disibukkan dengan bisnis. Yang tentunya, lagi-lagi tidak lepas dari peran sang ayah yang masih menjabat sebagai pemerintah Libya.

Tapi pada tahun 2011, perang saudara pecah dan Al-Saadi menjadi komandan Pasukan Khusus Libya usai ayahnya dibunuh oleh kelompok pemberontak. Seperti pemberontakan di negara-negara Afrika, kelompok ini didukung oleh Amerika Serikat dan Prancis untuk menggulingkan kekuasaan Muammar Gaddafi.

Menurut penuturan pengawalnya dikutip dari VICE, Al-Saadi mengunjungi hampir semua rumah sakit untuk merekonsiliasi keterpurukan ayahnya. Dia saat itu mencoba untuk peduli dengan kemanusiaan di masyarakat Libya. Namun rezim yang dipertahankan Muammar Gaddafi yang awalnya memperjuangkan nasionalisme dan sosialisme Arab telah berubah menjadi rezim yang penuh korupsi, isolasi internasional dan kekerasan dimana-mana.

Hingga pada suatu saat, dia tiba di Barak Benghazi. Namun kedatangannya tercium oleh kelompok pemberontak. Para pendemo yang tidak bersenjata telah berkumpul di sekitar Barak, mereka kini sudah benar-benar anti-rezim kekuasaan Gaddafi. Berada di situasi pelik, Al-Saadi memerintahkan para prajurit menembaki para pendemo, menurut laporan dari jurnalis BBC, Paul Kenyon.

Setelah kejadian itu, pada tanggal 11 September 2011, Al-Saadi tidak lagi melayani ayahnya dan kabur ke Nigeria. Sebulan kemudian, Muammar Gaddafi meninggal, rezim Gaddafi benar-benar hancur lebur.

Tiga tahun kemudian, Al-Saadi kemudian dideportasi oleh pemerintahan Nigeria kembali ke Libya. Setibanya di negara bekas pemerintahan sang ayah, Al-Saadi langsung dijebloskan ke penjara Tripoli. Dia mendapat tuduhan kejahatan perang.

Meski pada akhirnya hancur lebur, rezim Muammar Gaddafi di Libya benar-benar sudah berbuat banyak untuk mimpi Al-Saadi menjadi seorang pesepakbola profesional. Menjadi pemegang saham Juventus, bermain di Serie A Italia dan bahkan kabarnya pernah menginjak rumput markas Barcelona, Camp Nou. Tidak hanya itu, dia bahkan pernah jadi Ketua Umum (Ketum) Federasi Sepak Bola Libya, kapten tim nasional dan mendapatkan penghargaan striker terbaik di negaranya. Kisah unik tapi penuh kontroversial.