Budaya populer Jepang atau selanjutnya disingkat J-pop umumnya meliputi pertunjukan televisi, Film, comic/manga, anime, musik, dan fashion.

Dari semua ini yang paling populer di indonesia adalah anime, manga, dan fashion atau gaya pakaian anak muda Jepang. Para pengguna gaya pakaian Jepang ini dalam istilah ekspresifnya sering disebut sebagai costum player (Cosplay).

Penggunaan istilah ini mengindikasikan bahwa pemakaian kostum tersebut lebih cenderung bukan sebagai pakaian sehari-hari tapi lebih pada event pertunjukan atau penampilan bersama.

Costume Player di Jepang awalnya berasal dari gaya para tokoh-tokoh komik yang sepertinya tidak mungkin ditiru. Namun anak- anak muda Jepang berinisiatif untuk mencoba gaya-gaya di komik tersebut.

Dari sanalah gaya anak muda Jepang berkembang dan mulai berbeda-beda sesuai keinginan masing-masing individu. Anak-anak muda yang menganut gaya ini dapat dijumpai di daerah Shibuya dan Harajuku.

Mereka tak hanya bergaya ala tokoh kartun seperti Hello Kitty, tapi juga Marlyn Manson, Hip Hopers, dan gaya-gaya lain yang tidak kalah unik untuk dilihat. Tidak jarang mereka memodifikasi baju seragam; berlengan pendek seperti mini skirt, rok yang mini, dan kaos kaki gombrong dari pangkal betis sampai kemata kaki.

Mereka biasanya mangkal di Shibuya sehingga disebut Ko-gal. Ada lagi yang lebih ekstrim yang disebut Gals atau Gyaru. Gals adalah komunitas yang sadar fesyen, selalu mengikuti perkembangan, sering pergi ke salon untuk mengubah penampilan mulai dari mengecat rambut, tindik anting, bahkan tanning (proses penghitaman kulit).

Terdapat berbagai macam aliran cosplay di antaranya Cosplay Japanese Star atau Cosplay J-Star yang terbagi menjadi dua aliran, yaitu J-pop dan J-rock. Cosplay Anime yang pakaiannya terinspirasi dari tokoh animasi. Cross Play dimana perempuan berdandan seperti lelaki dan lelaki berdandan seperti perempuan.

Cosplay Original, yaitu pengguna kostum ala Jepang yang desainnya sudah dimodifikasi dengan imajinasi sendiri, tetapi tetap membawa ciri utama dari gaya aliran tertentu misalnya, membuat kostum samurai digabungkan dengan obi atau sabuk kimono, gothic, dan Harajuku style.

Ada juga aliran Tokusatsu yang menggunakan kostum superhero Jepang seperti Power Ranger, dan aliran Ganguro yang mengadopsi rias wajah tokoh pop Jepang, biasanya mereka mencoklati wajah mereka yang pias (tanning) dan menggunakan riasan dengan warna-warna yang kontras dengan kulit mereka seperti lipstik dan perona mata putih.

J-fashion dalam wujud Cosplay muncul di Indonesia pada awal tahun 2004. mula-mula di Jakarta, lalu menyebar ke berbagai kota besar di Indoensia. Sebelum Cosplay populer, Anime dan Manga telah terlebih dahulu menjadi trend Budaya populer Jepang yang diminati kaum muda perkotaan Indonesia sepanjang mulai paruh kedua tahun 1990-an hingga tahun 2000.

Popularitas J-fashion di Indonesia dikembangkan lewat berbagai saluran komunikasi yang ada, mulai saluran personal yang melibatkan tokoh-tokoh selebriti seperti Agnes Monica, Indra Bekti, Duo Ratu (Maia Ahmad dan Mulan Kwok), dan personil Band J-Rock, hingga saluran elektronik (terutama televisi) dan pertemuan publik seperti yang digalang oleh The Japan Foundation lewat festival Ikiteru Harajuku pada bulan september 2006 yang lalu. Lewat saluran ini pengaruh J-style merembes kedalam kehidupan kaum muda kelas menengah perkotaan Indonesia.

Menurut laporan Kompas dan H.U. Pikiran Rakyat, pada saat ini komunitas pencinta J-fashion telah muncul diberbagai kota besar Indonesia khususnya Bandung dan Jakarta.

Di Kota Bandung sendiri jumlah komunitas yang muncul diperkirakan lebih dari dua puluh dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan orang6. Diantara komunitas tersebut adalah Cosplay party, Ulets, dan Kansai. Cosplay party merupakan komunitas yang paling dikenal diantara berbagai komuitas yang ada.

Asal Usul Harajuku dan Fashion di Jepang

All You Need To Know About Harajuku Style

Harajuku style telah menjadi salah satu street style yang paling dikenal di seluruh dunia. Gaya jalanan asal Jepang ini sangat unik dan ‘berbeda’ sehingga sangat populer di kalangan anak muda baik di Jepang maupun luar Jepang.

Kepopulerannya telah banyak melahirkan tulisan-tulisan yang mendeskripsikan berbagai tampilan gaya dalam Harajuku style ini, mulai dari gaya imut—lebih dikenal dengan kata kawaii seperti lolita, gaya anarkis seperti punk, hingga garmen gelap gulita seperti gothic.

Sekiranya kita sudah cukup tau bagaimana penampakan dari berbagai gaya dalam Harajuku style ini. Mis-alnya gaya lolita yang berkesan kekanakan yang elegant. Gaya ini cenderung disusun oleh garmen berupa dress mengembang berwarna merah muda atau biru muda dengan aksen renda dan aksesoris feminin lainnya seperti payung, tas tangan serta bando berenda.

Contoh lainnya adalah gaya cosplay (costume player) yang menirukan tampilan pemeran dalam film; karakter dalam manga atau komik Jepang; dan karakter dalam anime atau animasi Jepang.

Fashion mulai berkembang di Jepang akibat pengaruh Barat. Pada saat Barat melakukan westernisasi, Jepang dibuka kembali dan pengaruh-pengaruh Barat mulai masuk ke Jepang seiiring dengan restorasi Meiji di tahun 1867. Sebelumnya, Jepang menutup diri dari dunia pada tahun 1603 dengan menerapkan politik sakoku atau yang berarti negara tertutup.

Selama pemerintahan yang dipimpin oleh Tokugawa ini, pemerintah Jepang tidak membiarkan siapapun menginjak tanahnya kecuali orang Cina, Portugis dan Belanda, sehingga pengaruh asing (luar Jepang) tidak menjamah tanah Jepang.

Hal ini tidak hanya berlaku satu arah, melainkan dua arah. Jadi, orang asing tidak diperbolehkan memasuki tanah Jepang, begitu pula dengan orang Jepang. Mereka tidak diperbolehkan meninggalkan Jepang. Karena Jepang membatasi kontaknya dengan negara lain, perkem-bangan dan kejadian yang terjadi di dunia luar luput dari pandangan mereka, begitu juga dengan fashion.

Setelah Jepang kembali dibuka, masyarakat Jepang mulai merasakan dunia luar dan berusaha menerimanya. Pada periode ini kimono merupakan pakaian utama masyarakat Jepang.

Barulah setelah restorasi Meiji, masyarakat Jepang mulai mengadopsi cara berpakaian orang Barat dan menggunakan youfuku atau pakaian bergaya Barat untuk menggantikan wafuku atau pakaian Jepang. Namun hal ini tidak berlangsung secara cepat karena masyarakat Jepang membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan youfuku, sehingga fashion di Jepang diterima secara perlahan dan bertahap.

Pada awalnya pakaian Barat hanya diaplikasikan dalam fashion pria. Sedangkan fash-ion perempuan tetap didominasi oleh pakaian Jepang. Sembari fashion Barat mencari jalan untuk memasuki Jepang, muncul kelompok perempuan yang menjadi trendsetter dalam fash-ion perempuan.

Mereka disebut modan gaaru atau modern girl. Perempuan pekerja ini gemar mengonsumsi fashion terbaru dan mengenakan riasan untuk menciptakan tampilan mata ala Betty Boop yang besar dengan alis bulan sabit.

Kelompok yang sering disebut dengan istilah moga—singkatan dari modan gaaru—ini juga memiliki mulut yang kecil dengan rambut pendek yang keriting dan kulit yang pucat.

Terdapat kritikan panjang antara wafuku dan youfuku di antara perempuan Jepang. Meskipun begitu, bagi pria Jepang, fashion Barat merupakan gaya kontemporer yang mencerminkan modernitas. Di sisi lain, perempuan Jepang menganggap hal tersebut sebagai bentuk pen-gabaian terhadap nilai-nilai tradisional perempuan Jepang.

Barulah setelah Perang Dunia II, youfuku mulai berkembang dan menyebar ke seluruh masyarakat Jepang. Informasi men-genai fashion—yang pada saat itu berasal dari Amerika Serikat dan Prancis—mengalir me-lalui majalah fashion lokal dan impor yang juga mengalami perkembangan.

Produksi garmen Barat mulai meledak bersamaan dengan sekolah desain dan tata busana yang muncul satu per satu. Tata busana, baik profesional dan rumahan, menjadi bagian yang krusial dalam kehidupan masyarakat Jepang. Tren inilah yang menjadi pemicu munculnya para desainer profesional Jepang yang pertama.

Bentuk perindustrian juga bertransformasi den-gan sendirinya, dari industri tekstil tradisional menjadi industri pakaian. Hal ini meru-pakan respon atas tuntutan pasar yang baru. Transformasi ini menghasilkan desain yang unggul dan memindahkan kemampuan industri pemroduksian kimono sebagai budaya tra-disonal ke dalam teknologi fashion yang baru sebagai dasar kemampuan.

Setelah berbagai informasi mengenai fashion masuk di Jepang, desainer-desainer fash-ion mulai bermunculan. Di sekitar tahun 1960-an, dunia mulai mengenal desainer Jepang yang bernama Hanae Mori. Namanya tenar di Amerika Serikat berkat desain sutra Jepangnya yang mewah. Pada akhirnya dia diterima sebagai anggota Parisian haute couture.

Pada dekade selanjutnya, Takada Kenzo menarik perhatian dunia fash-ion saat dia memulai debutnya di Paris dengan desainnya yang mencampurkan warna dan motif khas Jepang dengan nuansa urban Paris. Desainer seperti Yamamoto Kansai, Miyake Isse—atau lebih dikenal dengan nama Issey Miyake—, dan desainer lainnya juga melebarkan sayap di Paris, London, dan New York di pertengahan tahun 1970-an.

Berawal dari Kota Ninja

All You Need To Know About Harajuku Style

Harajuku merupakn sebuah distrik di Shibuya, Tokyo, Jepang. Nama Harajuku sudah tenar sejak jaman dulu. Di tahun 1850-an adalah Harajuku adalah pos kota kecil strategis di daerah Kamakura Highway. Di Harajuku ini pula, Kaisar Meiji membangun kuil terkenalnya sebelum perang dunia kedua.

Mulai 1970-an, Harajuku berkembang menjadi pusat budaya dan fashion anak muda Jepang. Harajuku Fashion Street terbentang sepanjang stasiun Harajuku hinggaStasiun Omotesando. Di kiri-kanan jalan sepanjang 1 km itu, Anda bisa menjumpai jejeran butik dari merek ternama, cafe hingga restoran.

Mal paling terkemuka di sini adalah Omotesando Hills, dengan lebih dari 100 toko, cafe, restoran, hingga salon kecantikan. Lalu ada Oriental Bazaar, toko penjual souvenir terbesar di Tokyo. Ada juga Kiddy Land, toko mainan anak-anak paling terkenal di Tokyo.

Tak kalah menarik Takeshita Street. Meski tak begitu lebar, jalan di sebelah kanan depan Stasiun Harajuku ini sangat ramai dengan pejalan kaki. Toko, kafe, restoran, hingga salon berjajar di sebelah kanan-kiri jalan ini.

Banyak  pula anak-anak muda yang tengah berdandang, dan mejeng di sepanjang jalan ini. Gaya pakaian penuh dengan aksesoris dari ujung rambut hingga ujung kaki, dandanannya pun yang tampak ramai dan berwarna-warni.

Ada banyak nama untuk gaya pakaian mereka, mulai dari Lolita, Gyaru, Ganguro, Kogal, Bszoku, Decora, Shironuri, Visual kei, Oshare kei, Angura kei, Cult party kei, Dolly kei, Fairy kei, hingga Mori girl. Itulah Harajuku’s Youth Culture.

Dikawasan Harajuku ada juga tempat-tempat lain yang menarik di kunjungi, seperti Meiji Jinggu Shrine, Yoyogi Park, Yoyogi National Stadium, Ura-Harajuku, Laforet Harajuku, Togo Shrine, Ota Memorial Museum of Art, dan Nezu Museum.

Tempat-tempat ini pula yang membuat Harajuku menjadi salah satu tujuan paling populer di Tokyo, baik untuk wisatawan domestik dan internasional.

Dulu sebelum zaman Edo, Orang – orang menjadikan Harajuku sebagai kota penginapan (juku) yang melewati rute Jalan Utama Kamakura. Setelah terjadi Insiden Honnoji, penguasaan Harajuku diserahkan kepada ninja dari Provinsi Iga sebagai hadiah dari Tokugawa Ieyasu yang telah membantu melarikan diri dari Sakai.

Setelah memasuki zaman Edo, didirikan markas untuk melindungi kota edo di Harajuku oleh kelompok ninja dari Iga, karena letaknya strategis berada di bagian selatan Jalan Utama Koshu. Samuarai kelas Bakhusin pun juga memilih untuk bertempat tinggal di Harajuku.

Harajuku kemudian dibangun ketika memasuki zaman Meiji dan menjadi kawasan penting yang menghubungkan Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Di tahun 1906, sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote, maka mulai dibukalah Sataiun JR Harajuku.

Pada tahun 1919 setelah kuil Meiji didirikan, Omotesando yang merupakan jalan utama ke kuil di bangun. Sedangkan di tahun 1970-an Harajuku menjadi pusat busana, setelah dibukanya berbagai department store. Kawasan ini pin semakin terkenal setelah diliput di majalah fesyen di Jepang, seperti Anan dan non-no. Pada saat itu, Annon-zoku yang merupakan kelompok gadis-gadis sering dijumpai berjalan-jalan di Harajuku.

Gaya busana para gadis ini menitu pada majalah fesyen. Sekitar tahun 1980-an banyak orang pergi ke Jalan Takeshita karena di sana ada Takenoko-zoku yang berdandan aneh dan menari dijalan, sehingga kawasan ini menjadi ramai.

Lalu, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan khusus pejalan kaki, sehingga Harajuku menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda. Sedangkan sekitar tahun 1990-an, Harajuku semakin ramai dengan munculnya butik yang menjual barang dari merek-merek terkenal di Omotesando.

Apa saja yang bisa di lakukan di Harajuku Tokyo?

Berbelanja di Takeshita-dori

Takeshita Street - Takeshita Dori - Tokyo - Day 1 · Asakusa + Harajuku +  Shibuya

Takeshita-dori merupakan jalan utama di dari Stasiun Kereta JR Harajuku dan merupakan pusat belanja yang panjang keseluruhannya 350 meter dan setiap had tidak dapat dilalui kendaraan dari jam 11 pagi hingga jam 6 sore (bentuknya mirip seperti Pasar Baru di DKI Jakarta). Kita bisa langsung menemukannya setelah keluar dari stasiun Harajuku atau stasiun kereta bawah tanah Omotesando.

Di Takeshita-dori kita bisa menemukan toko fashion, aksesoris dan pemak-pemik, dan jajanan khas Jepang. Pecinta antis dan budaya pop Jepang akan suka berjalan di Takeshita Don, karena disini terdapat banyak toko yang menjual berbagai merchandise (kebanyakan unofficial) artis-artis temama, seperti Takuya Kimura, SMAP, L’Arc-en-Ciel, dan lain-lain.

Area ini sudah menjadi daerah trendsetter fashion Jepang sejak tahun 1970an bahkan hingga saat ini. Di jalan sepanjang kurang lebih 350 meter ini, anda akan melihat lautan manusia.

Semuanya berjalan perlahan sambil menengok sesekali ke toko-toko yang menarik perhatian. Hal yang harus diperhatikan adalah saat had libur. Jalanan akan terlihat penuh dengan dengan wisatawan asing dan orang-orang yang ingin berbelanja.

Membeli oleh-oleh di Daiso Harajuku

Daiso Harajuku | DiGJAPAN!

Jika berjalan dari Stasiun Harajuku dan langsung memasuki dan menyusuri Takeshita Street, dalam waktu kurang lebih 3 menit, anda dapat melihat bangunan setinggi 3 lantai yang berada di sebelah kiri dengan desain entrance yang menarik.

Plang nama Harajuku Daiso dengan warna-warni ceria terpampang diatasnya. Tempat ini juga menjual berbagai macam barang, dari peralatan dan dekorasi rumah, alat tulis dan belajar, perabotan dapur, dan juga kosmetika. Dan semua harganya sangat murah, hanya 108 yen saja.

Masuk ke AKB48 Official Shop di Harajuku

AKB48: The Surprising Truth Behind the World's Biggest Band | InsideJapan  Tours

Tidak cuma di Akihabara saja, di Harajuku Rita juga bisa menemukan toko AKB48. Buat kamu penggemar berat AKB48, tempat ini tidak boleh dilewatkan! Ketika yang lainnya sedang berbelanja di Takeshita-dori, kamu bisa masuk dan melihat pernak-pernik serta aksesoris khas AKB48 di sini.

Bersantai di Tokyo Plaza Omotesando Harajuku

Tokyu Plaza Omotesando Harajuku - Tokyo Attractions - Japan Travel

Tokyu Plaza Omotesando Harajuku bagaikan oasis di tengah hiruk pikuk Harajuku dan Omotesando. Di bagian bawah layaknya pusat perbelanjaan lain di Harajuku dan Omotesando, Tokyu Plaza juga dipenuhi oleh toko-toko busana yang menjual brand-brand terkenal seperti American Eagle dan Tommy Hilfiger.

Namun yang membuatnya berbeda adalah ruang terbuka hijau yang berada di bagian atas gedung yang dinamakan Hutan Omohara. Di sini siapapun dapat beristirahat dengan tenang di kursi-kursi kayu yang sejuk dibawah pepohonan rindang. Bagi teman-teman yang lelah saat berbelanja dan berkeliling di Harajuku dan Omotesando silakan datang ke tempat ini untuk bersantai.