Arak (jiu) adalah adalah minuman yang tak terpisahkan dari budaya Tionghoa. Mulai dari festival tahunan, pernikahan, sembayangan, sampai pembukaan toko, biasanya tak lepas dari acara minum-minum.

Tentu tak semua orang Tionghoa gemar menenggak minuman beralkohol ini. Banyak juga yang hanya meminumnya saat perayaan tertentu saja. Khususnya bagi keturunan Tionghoa di Indonesia, malah banyak yang tidak pernah menjamah botol minuman keras seumur hidupnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Edisi Bonanza88, asal usul arak punya cerita panjang. Yi Di, sang dewi arak. Yi Di adalah permaisari raja Yu, penguasa pertama dinasti Xia yang terkenal arif & bijaksana. Menurut legenda, Yi Di juga adalah penemu minuman arak yang dibuatnya dari biji-bijian yg diragikan. (versi lain menyebut dia membuatnya dari buah-buahan yang meragi)

Ketika penemuan baru itu disajikan pada suaminya, raja Yu sama sekali tidak gembira. Dengan serius dia justru melarang istrinya untuk menyebarluaskan penemuannya itu.

Alasannya karena minuman baru ini dianggap terlalu manis & memabukkan. Sehingga bila diminum penguasa takutnya akan membuatnya lupa daratan. Sementara kalau diminum rakyat jelata dikawatirkan akan membuat mereka malas.

Ada pepatah kuno yang menyatakan: ”Yi Di menghidangkan arak yang sangat manis, maka raja Yu mengasingkannya dari istana.” Maknanya adalah: agar seorang penguasa menjauhi para penjilat yang bermulut manis.

Mungkin karena Yidi tak pernah mempublikasikan penemuannya, sehingga dikemudianhari Du Kang juga dikenal sebagai penemu arak. Nampaknya ini mirip kasusunya Leif Erikson & Laksamana Cheng Ho yang dipercaya menemukan benua Amerika sebelum Columbus.

Namun ada versi lainnya. Du Kang, dewa arak yang termahsyur. Zaman dulu tersebutlah seorang penggembala miskin bernama Du Kang. Sehari2 Du Kang membungkus bekal nasinya dalam tabung bambu dan menyimpannya dalam lubang pohon, sementara dia menggembalakan domba.

Suatu hari Du Kang lupa membawa pulang bekal nasinya. Sialnya lagi esoknya hujan turun selama berhari-hari. Sehingga dia tidak dapat keluar dari rumah. Ketika ahrinya hujan reda, Du Kang cepat pergi kelubang pohon untuk mengambil makananaya.

Siapa tahu yang didaptkannya hanyalah seonggok nasi yang sudah meragi dan mengeluarkan cairan kuning. Ya, rupanya cuaca panas, dingin, embun, angin dan hujan telah menyebabkan peragian alami.

Du Kang sebenarnya jijik melihatnya dan mau membuangnya saja. Tapi, bau makanan basi itu ternyata begitu menggoda indera penciumannya. Akhirnya diapun nekad mencicipnya untuk merasakan.

Berbekal penemuan barunya ini, Du Kang kemudian membuka toko arak. Sejak itu mantan gembala miskin inipun menjadi orang kaya baru didesanya.  Setelah wafat, dia disembah sebagai dewa pelindung pedagang arak.

Ada banyak versi mengenai kapan tepatnya Du Kang hidup. Ada yang bilang dia hidup di jamannya Huang Di, pada dinasti Zhou, zaman Samkok dan Dinasti Jin. Bahkan ada juga yang menyamakan Du Kang dengan Shao Kang, salah satu raja dinasti Xia yang dipercaya juga menemukan arak.

Beda-beda Arak Tingkok

Inilah 5 Hal Tentang Arak Tradisional Tiongkok Yang Perlu Anda Ketahui |  Tionghoa.INFO

1.Huang Jiu (arak kuning).

Terbuat dari biji-bijian yang diragikan & tidak disuling, arak ini tidak terlalu keras & sering dipakai untuk memasak. Warna Huang Jiu beraneka ragam, mulai dari kuning terang sampai yang kemerah2an. Ang Ciu (arak merah) yang sering dipakai untuk memasak Chinese food di negara kita termasuk dalam kategori ini. Beberapa jenis arak kuning yang terkenal, misalnya: Nu Er Hong, Zhuangyuan Hong, arak beras Shaoxing, Huadiao Jiu, dsb.

  1. Bai Jiu (arak putih).

Berbeda dengan Huang Jiu, kadar alkohol dalam Bai Jiu amatlah tinggi. Minuman ini dibuat dari biji-bijian yang diragikan dan kemudian disuling. Contoh arak putih yang terkenal, misalnya: Mao Tai, Yanghe Da Qu, Fen Jiu, dsb.

  1. Arak buah (anggur).

Banyak yang beranggapan bahwa tehnologi membuat arak dari buah2an (khususnya anggur) masuk ke China pada dinasti Han (melalui jalan sutra.) Namun berdarkan penelitian arkeolog, sisa-sisa arak yang terbuat dari buah ternyata sudah ditemukan dalam tempayan yg berusia 4000-5000 tahun di China.

Sesuai namanya, arak obat memang dibuat dengan mencampurkan berbagai herbal berkhasiat. Yang termasuk kategori ini, misalnya:

1.Wu Jia Pi (Acanthopanax Bark); dipakai untuk mengobati rematik, penyakit persendian dan penyakit lambung.

  1. Dang Gui (Angleica Sinesis); berguna untuk melancarkan peredaran darah
  2. Tu Su; dibuat dari 7 macam ramuan berkhasiat. Biasa disajikan pada tahun baru Imlek. 4. Wuxiang Jiu (Ngo Hiang Ciu) & Dieda Jiu; kalau yang ini bukan untuk diminum, tapi untuk dioleskan pada bagian tubuh yang luka/memar. Cukup populer dikalangan praktisi kungfu.
  3. Arak vitalitas. Sesuai namanya, jamu ini memang terbuat dari alat vital menjangan yang dipotong, dikeringkan & kemudian direndam dalam alkohol.Berguna untuk meingkatkan vitalitas.

Tradisi Panjang

Inilah 5 Hal Tentang Arak Tradisional Tiongkok Yang Perlu Anda Ketahui |  Tionghoa.INFO

Arak Nu Er Hong mungkin adalah arak yang paling sering disebut dalam film-film bergenre Wuxia. Arak tersohor ini berasal dari Shaoxing, Propinsi Zhejiang. Menurut kebiasaan disana, seorang ayah akan mengubur guci arak saat menunggu kelahiran anaknya.

Nantinya saat si anak menikah, arak itu akan dikeduk & disajikan pada handai taulannya. Awalnya yang dikenal hanya Nu Er Hong (Arak Perempuan Merah) saja. Disebut demikian karena disajikan pada pernikahan anak perempuan yang berpakaian serba merah. Tapi belakangan muncul juga Arak Zhuangyuan Hong atau ‘Sarjana Merah’ untuk anak laki-laki.

Menurut legendanya, pada zaman dulu ada seorang penjahit yang tengah bersukacita menunggu kelahiran anak pertamanya. Menjelang hari kelahirannya, calon ayah itu memborong berguci-guci arak kuning kualitas nomor satu untuk menjamu para tamunya. Tapi betapa kecewanya Dia ketika mengetahui bahwa bayinya ternyata perempuan.

“Untuk apa punya anak perempuan! Masih kecil jadi tanggungan orang tuanya & setelah besar nanti merad mengikuti suaminya.” keluhnya sedih. Dia kemudian mengubur arak yang sudah dibelinya kedalam tanah.

Belasan tahun kemudian, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, berbakti & pandai. Berkat tangan dinginnya juga usaha jahitan ayahnya semakin maju. Singkatnya, Dia adalah teladan bagi semua perempuan muda di desanya. Bahkan anak laki-laki saja mungkin tidak ada yang secemerlang dia.

Pada hari perkawinan putrinya, rumah si penjahit kebanjiran tamu, sampai-sampai dia kehabisan stok arak. Saat itulah dia teringat arak yang dipendamnya dulu & langsung dikeduknya. Setelah dicicipi oleh para tamunya, rasa arak ini ternyata enak dan wangi, benar-benar arak berkualitas tinggi.

Sejak saat itu, masyarakat di Shaoxing dan sekitarnya ikut-ikutan memendam arak saat istrinya hamil. Belakangan, kepopuleran arak ini mulai berkembang dan akhirnya diperjualbelikan.

Kalau Arak Nu Er Hong adalah arak yang sering disebut di film Wuxia, maka Arak Mao Tai adalah arak yang banyak dipakai dalam literatur klasik. Minuman ini dikenal sebagai arak nomor satu, dan disajikan dalam acara-acara kenegaraan. Arak Mao Tai konon harus dibuat dari air sungai Chi Sui (Sungai Merah) dari Dusun Mao Tai di Guizhou.

Menurut legenda, tersebutlah seorang gadis yang menggelandang sendirian di suatu musim dingin yang hebat. Dengan memelas dia meminta seteguk arak pada tiap kedai yang dialuinya untuk menghangatkan badannya. Tapi tak ada satupun juragan yang mau membagikan arak mereka.

Setelah berputar-putar, ahirnya hanya ada satu pasangan renta yang mau memberinya arak. Mereka bahkan mengajaknya untuk bermalam di gubuk reot mereka. Malamnya sang kakek bermimpi didatangi Dewi Yidi (Dewinya Arak) yang wajahnya persis dengan gadis yang ditolongya tadi.

Setelah memuji kemurahan hati sang kakek, Dewi Yidi kemudian memintanya untuk membuat arak dari sungai yang mengalir di dekat rumahnya.

“Mana ada sungai didekat rumahku?, sentak si kakek kebingungan.

“Ada kok, coba saja besok kakek lihat sendiri”, ujar Dewi Yidi lembut. Lalu Dia pun menghilang.

Benar saja, keesokan harinya si kakek menemukan sebuah sungai yang berada di dekat rumahnya. Kakek itu pun buru-buru bersujud pada langit, karena dia meyakininya sebagai karunia dari Thian. Arak yang dibuat dari air sungai tersebut konon tak ada tandingannya sampai sekarang.

Menurut kepercayaan, kalau orang kaya yang membuat arak dari sungai merah pasti tak enak. Tapi kalau orang miskin yang buat rasanya pasti luar biasa.

Lewat Bambu

Unik, China Produksi Minuman Bir Menggunakan Batang Bambu : Okezone  Lifestyle

Biasanya minuman keras seperti wine atau bir dibuat dalam tong kayu ek, namun kenyataannya arak China tak disimpan di tong kayu ek. Pembuat arak di China menyimpan araknya dalam bilah bambu.

Melansir AFP, pembuat minuman keras bernama Chen Chao tersebut menggunakan batang bambu untuk melakukan proses fermentasi minuman alkohol yang ia buat. Menurut Chen, batang bambu dapat menghasilkan aroma khas bahkan dapat bermanfaat bagi kesehatan. Ia memasukkan sereal bahan arak ke dalam batang bambu dengan teknik tekanan tinggi.

Chen mengatakan ia lebih menyukai batang bambu yang masih muda lantaran dapat tetap tumbuh sehingga memungkinkan dia untuk ‘memanen’ dengan hasil baik saat April.

Bulan April dianggap sebagai momen paling tepat untuk panen lantaran bersamaan dengan perayaan tahunan Qingming. Perayaan ini dilakukan untuk menghormati leluhur.

“Selama proses fermentasi, minuman keras di dalam bambu bercampur dengan senyawa flavon yang dihasilkan bambu, juga bercampur dengan getah,” kata Chen.

Menurut Chen, sesuai dengan kepercayaan lokal, flavon dan getah bambu dianggap memiliki efek detoksifikasi dan berperan dalam kesehatan paru-paru. Metode membuat minuman keras di dalam bambu ini juga mengurangi kandungan alkohol. Dikatakan Chen, bambu akan menyerap alkohol dari minuman tersebut.

“Produksi kami cukup terbatas, sekitar 50 hingga 60 ribu botol per tahun, setiap botol berisi 500 hingga 600 mililiter,” kata Chen yang menyebut total produksi dapat mencapai setidaknya 25 ribu liter per tahun.

Namun Chen berharap dapat meningkatkan jumlah tersebut dengan menggunakan teknik baru yang lebih efisien sebagai upaya menangani kompetisi antar pembuat minuman keras dalam bambu.

“Sebelumnya, sedikit orang tahu tentang alkohol bambu, karena produksi minuman ini cukup rahasia. Kini berubah,” kata Chen.

Chen mempelajari teknik tradisional ini dari tempat asalnya, timur provinsi Fujian. Ia kemudian merilis produksi minumannya sendiri pada 2015 di Sichuan, tempat hutan bambu terkenal Shunan Bamboo Sea.

Di hutan bambu tersebut, biasa dikenal sebagai tempat produksi minuman keras yang terbuat dari sorgum, ketan, jagung, dan gandum.

Namun usaha Chen mulai menurun sejak China meluncurkan kampanye anti-korupsi yang melarang pemberian barang mewah seperti wine dan minuman keras lainnya kepada pejabat publik.

Arak Dalam Masakan

1. ANG CIU (Arak Beras) Adalah sejenis minuman beralkohol yang biasa  disebut dengan arak merah. Bumbu ini biasa dipakai dalam mas… | Masakan  korea, Masakan, Resep

Jika kita dihadapkan pada segelas minuman keras, baik bir, wine, atau whisky, umat Muslim akan sepakat mengatakan tidak. Minuman itu adalah minuman haram yang tidak boleh diminum.

Tetapi ketika dihadapkan pada sepiring ayam tumis kecap ala Jepang yang berbau harum dan rasanya enak, kita mungkin akan melahapnya dengan tanpa beban. Padahal ada kemungkinan masakan itu menggunakan arak sebagai salah satu bumbunya.

Penggunaan arak dalam masakan itu sepertinya sudah melekat, sulit dipisahkan. Banyak kegunaan yang diharapkan dari barang haram tersebut. Kegunaan pertama adalah melunakkan jaringan daging.

Para juru masak meyakini bahwa daging yang direndam dalam arak akan menjadi empuk dan enak. Oleh karena itu daging yang akan dipanggang atau dimasak dalam bentuk tepanyaki seringkali direndam dalam arak.

Selain itu arak juga menghasilkan aroma yang khas, yang oleh para juru masak dianggap dapat mengundang selera. Aroma itu muncul pada saat masakan dipanggang, ditumis, atau digoreng. Munculnya arak itu memang menjadi salah satu ciri masakan Cina, Jepang, dan Korea.

Jenis arak yang digunakan dalam berbagai masakan itu bermacam-macam, ada arak putih (pek be ciu), arak merah (ang ciu), arak mie (kue lo ciu), arak gentong, dan lain-lain. Produsennya pun beragam, ada yang diimpor dari Cina, Jepang, dan Singapura.

Banyak pula buatan lokal dengan menggunakan perasan tape ketan yang difermentasi lanjut (anggur tape). Penggunaan arak ini pun beragam, mulai dari restoran besar, restoran kecil, bahkan warung-warung tenda yang buka di pinggir jalan.

Keberadaan arak ini masih jarang diketahui oleh masyarakat. Sementara itu ada kesalahan pemahaman di kalangan pengusaha atau juru masak yang tidak menganggap arak sebagai sesuatu yang haram.

Kalau tentang daging babi, mungkin sudah cukup dipahami berbagai kalangan bahwa masakan itu dilarang bagi kaum Muslim. Meskipun ada sebagian masyarakat yang melanggarnya, tetapi kebanyakan pengelola restoran tahu bahwa hal itu tidak boleh dijual untuk orang Muslim.

Lain halnya dengan arak. Sebagian besar kalangan pengelola restoran tidak menganggap bahan masakan itu haram hukumnya. Apalagi dalam proses pemasakannnya arak tersebut sudah menguap dan hilang. Sehingga muncul anggapan bahwa masakan yang menggunakan arak itu tidak apa-apa bagi umat Islam.

Anggapan tersebut tentu saja salah. Dalam Islam hukum mengenai arak atau khamr sudah cukup jelas, yaitu haram. Bukan saja mengkonsumsinya tetapi juga memproduksinya, mengedarkannya, menggunakan manfaatnya, bahkan menolong orang untuk memanfaatkannya.

Nah, ini tentunya menjadi peringatan bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam membeli masakan, sekaligus juga menjadi perhatian bagi para pengelola restoran yang menjual produknya kepada masyarakat umum agar tidak menggunakan arak.

Masakan yang biasa menggunakan arak ini adalah jenis tumis, daging panggang, dan masakan semi basah. Aroma yang muncul dari arak itu kemudian dipadukan dengan berbagai bumbu-bumbuan yang lain, sehingga memunculkan flavor yang enak dan mengundang selera.

Beberapa pihak yang menyadari akan haramnya arak ini mencoba mencari alternatif lain. Misalnya dengan air jeruk limau atau kecap kedelai dengan aroma tertentu. Tetapi beberapa alternatif itu selalu ditolak produsen dan para juru masak. Menurut mereka, aroma yang muncul berbeda dengan yang ditimbulkan oleh arak masak. Kalau rasa dan aroma arak yang diinginkan muncul, memang sulit digantikan.

Arak masak ini sebenarnya memang berbeda dengan arak yang biasa diminum sebagai minuman keras. Di dalam arak masak ini biasanya sudah ditambahkan beberapa bumbu yang menyebabkannya memiliki rasa yang berbeda. Akan tetapi hakikat arak tetap melekat pada bahan tersebut. Ia juga adalah hasil proses fermentasi yang menghasilkan minuman keras, kemudian dimodifikasi dengan bumbu-bumbu tertentu.

Dilihat dari proses pembuatan dan bahan-bahan yang digunakannya, maka meskipun berbeda, namun status kehalalannya akan tetap sama dengan arak sebagai minuman keras.

Kandungan alkoholnya pun, kalau ini dijadikan sebuah indikator, tetaplah tinggi. Dari hasil analisa terhadap beberapa arak masak yang beredar, kandungan alkoholnya berkisar antara 5-10 persen.

Penggunaan arak dalam masakan memang sangat sedikit. Paling-paling hanya ditaburkan beberapa tetes saja.