Tertawa merupakan kebutuhan umat manusia saat ini. Hilangnya tawa dari kehidupan tentu akan mengganggu kelancaran komunikasi di setiap lini masyarakat. Tertawa bahkan telah dijadikan sebagai salah satu parameter penerimaan seorang individu terhadap individu lainnya.

Tertawa biasanya dihasilkan dari salah satu media yang paling terkenal yaitu komedi. Komedi ialah sesuatu yang lucu; atau dalam maksud lain yakni keadaan yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan. Sehingga, secara sederhana dapat dikatakan bahwa komedi merupakan alat pencipta tawa bagi manusia.

Komedi sebenarnya tercipta dari berbagai cara serta media. Komedi biasanya dapat muncul dari ranah kesengajaan seperti seni komedi atau ketidaksengajaan seperti kondisi yang tiba-tiba mengejutkan dan aneh yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Seni komedi sebagai ranah penciptaan komedi yang disengaja tertuang dalam berbagai bentuk media penyampaian. Terdapat tiga media berkomedi yaitu lakuan, grafis, dan literatur.

Media literatur seperti cerita lucu, esai komedi, sajak jenaka dan lain sebagainya. Media grafis seperti kartun, karikatur, foto jenaka, komik beralur, meme komik. Sedangkan media lakuan seperti film-film komedi, teater komedi baik yang tradisional ataupun modern seperti sitkom atau pertunjukan teater komedi televisi seperti opera van java,fesbuker, dan lain sebagainya.

Tidak lupa yang terbaru adalah kehadiran komedi tunggal yang biasa disebut dengan Stand Up Comedy. Stand up comedy merupakan gaya komedi baru yang mulai dikenal pada tahun 2011. Seseorang diwajibkan berada sendirian di atas panggung dengan mengandalkan tindak verbal untuk membuat orang lain tertawa.

Alat utama dari seorang comic (sebutan untuk pelaku stand up comedy) adalah susunan kata atau kalimat yang dilisankan dan mengejutkan. Stand up comedy merupakan pertunjukan komedi yang sebenarnya mengandalkan teknik dan pemahaman teori walaupun tetap akan ada beberapa faktor inner self yang mendukungnya.

Stand Up Comedy yang mengandalkan permainan kata dan kalimat memiliki celah untuk dapat dipelajari oleh siapa saja seperti halnya beberapa konsep penciptaan joke yang disampaikan Greg Dean dalam bukunya yang berjudul Step By Step to Stand up Comedy. Sehingga, Stand Up Comedy dapat menjadi salah satu wadah belajar membuat comedy yang baik bagi orang awam.

Di dalam Stand Up Comedy terbagi menjadi beberapa tipe menurut Joe Eagan, yaitu one-liner stand up, story stand up, themed/long story stand up, character stand up, rant stand up, impresion stand up, niche/pioneering stand up, dan juga timing stand up. Dari delapan tipe Stand Up Comedy tersebut, one-liner adalah yang paling mudah untuk dipelajari karena struktur pembangunan joke-nya terlihat sangat jelas.

Bagian set-up dan punch line pada joke mudah untuk ditemukan. Stand Up Comedy one-liner termasuk yang mudah untuk dipelajari namun sangat rentan untuk gagal dalam pertunjukan. Hal ini yang membuat jumlah comic dengan jenis one-liner di Indonesia sedikit. Salah satu yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Indra Frimawan.

Terpilih sebagai objek penelitian karena Indra Frimawan berhasil menduduki juara 3 di kompetisi SUCI 5 Kompas TV. Susunan kalimat pada joke Indra Frimawan di kompetisi inilah yang menjadi bahan penelitian dan akan dilihat struktur pembangunan joke-nya melaui sudut pandang ilmu bahasa pragmatik.

Stand Up Comedy biasa diselengarakan dalam Comedy Clubs, Bars, gedung pertunjukkan, kampus-kampus, dan gedung teater, tetapi tidak ada batasan dimana seharusnya pertunjukan Comedy ini diselenggarakan. Stand Up Comedy adalah suatu seni pertunjukan yang bertujuan untuk langsung membuat penonton tertawa, tidak seperti komedi lain yang menciptakan sebuah cerita melalui drama.

Stand Up Comedy mungkin hanya melibatkan seorang komedian, biasanya disebut dengan istlah One Man, Woman Show atau tampil hanya dengan seorang diri di depan para penonton. Meskipun disebut Stand Up Comedy, seorang Comic tidak harus selalu tampil secara berdiri, beberapa Comic ada yang melakukan dengan hanya duduk di sebuah bangku.

Sejarah Stand Up di Dunia

Just You and The Audience: a brief history of stand-up comedy | Pop! Events  Group

Sejarah adanya Stand Up Comedy dimulai pada1880 di Amerika. Pertunjukkan pertama adalah teater, pada saat di Amerika ada sebuah teater bernama The Minstrel Show yang diselenggarakan oleh seorang komedian bernama Thomas Dartmouth “Daddy Rice”.

Acara komedi The Minstrel Show ini dimulai tepat sebelum Civil War atau perang saudara di Amerika. Acara ini walaupun masih dalam bentuk humor yang biasa, tetapi mendapat perhatian yang besar dari warga Amerika pada saat itu terutama dari warga Amerika dengan kalangan menengah ke atas.

Akan tetapi acara ini mengandung unsur rasisme, contohnya seperti beberapa para Comic dengan sengaja menghitamkan mula mereka yang bertujuan untuk menyindir warga Amerika yang berkulit hitam. Pada saat itu mikrofon belum ditemukan Comic tersebut melucu dengan cara Slapstick yang dikenal dengan istilah Physical Joke atau lelucon fisik, acara ini bertahan hingga memasuki abad ke-20.

Perkembangan acara The Minstrel Show mengarah ke teater musikal bertema komedi pada acara pertamanya. Pada acara kedua ada sebuah acara yang disebut The Olio yang dibawakan oleh Group berjumlah dua orang bernama The Endmen yang dalam aksi mereka melakukan seperti pidato bersifat menyindir para politisi atau hanya sekedar mengangkat kehidupan sehari-hari, inilah dimulainya awal Stand Up Comedy.

Acara The Minstrel Show mulai tidak diminati penonton, kemudian lahir sebuah teater yang bernama Vaudeville. Vaudeville merupakan komedi dengan format acara yang mirip dengan The Mistrel Show, yang mejadi perbedaanya adalah acara Vaudeville menggunakan berbagai macam hiburan seperti musik, sulap, dan lainlain.

Namun ada satu perbedaan diantara acara Vaudeville dengan The Minstrel Show yaitu para komedian Vaudeville melakukan One Man Show meskipun masih menggunakan dengan tampil secara Slapstick karena pada saat itu belum ada mikrofon yang membuat para penonton mendengar apa yang diucapkan oleh para Comic.

Pada saat yang sama ada sebuah Show tandingan untuk Vaudeville yang bernama Burlesque yang lebih mengarah kepada kalangan menengah ke bawah sedangkan Vaudeville lebih mengarah kepada kalangan menengah ke atas. Burlesque meniru Segmen The Olio dari The Mistrel Show, dimana komedian menggunakan monolog dan pidato sebagai bentuk dari humor dengan panggung yang kecil agar lebih dekat dan bersahabat kepada penonton.

Perkembang teknologi yang semakin maju maka pada saat itu ditemukanlah mikrofon dan acara Vaudevile kembali hadir melalui Comic bernama Will Rogers, dimana salah satu komedian pertama yang menjadi Political Stand Up.

Tetapi dengan adanya radio dan televisi, komedi dengan format Stand Up mulai dikenal secara luas akan tetapi penonton mulai meninggalkan untuk mononton jenis komedi ini, hal ini terjadi karena pada saat itu lebih menikmati acara musik Live dan Night Club. Pada akhirnya Vaudeville maupunBurlesque mulai meninggalkan komedi ini.

Komedi dengan jenis Stand Up ini mulai kembali dilakukan oleh beberapa Comic, mereka kembali memulai melakukan komedi melalui Café dan sejenisnya. Pada akhirnya ada beberapa stasiun televisi yang berminat untuk membuat sebuah acara dengan format Stand Up Comedy seperti The Ed Sullivan Show, The Tonight Show, hingga pada akhirnya pada tahun 1959 lahirlah sebuah acara The Steve Allen Show yang menampilkan seorang Comic bernama Lenny Bruce.

George Carlin yang pada masa itu juga menjadi seorang komedian terbesar terinspirasi dari seorang Comic bernama Lenny Bruce. Stand Up ini mulai dikenal sebagai Stand Up Comedy dan untuk para komedian disebut dengan istilah Comic baru dimulai pada1966 yang ditemukan dari Universitas Oxford.

Awal Stand Up di Indonesia

7 Pelawak Stand Up Comedy Indonesia yang Menghibur Banget. Bikin Lupa Kalau  Lagi Galau! | YuKepo.com

Stand Up Comedy di Indonesia dimulai saat Ramon Papana dan temannya bernama Harry de Fretes, menyelenggarakan lomba komedi secara tunggal di Cafe yang bernama Boim Café pada 1992. Mungkin ada perlombaan komedi tunggal yang diselenggarakan di

Indonesia, tetapi yang dilakukan Ramon papana berbeda dengan komedi-komedi lain pada saat itu, karena mengharuskan humor yang menceritakan pengalaman atau kehidupan pribadi dari sudut pandang komedi tersebut.

Lomba komedi secara tunggal ini tunggal ini terus dilakukan oleh Ramon Papana di tahun-tahun berikutnya, meskipun Ramon Papana telah meninggalkan Boim Cafe dan membuka Comedy Cafe di Indonesia pada tahun 1997. Pada tahun tersebut juga dimulai acara Open Mic ketika itu dinamakan acara “Bintang Baru” yang mempersilahkan siapapun tampil di panggung untuk melucu.

Memasuki tahun 2000, Comedy Cafe pindah ke area Taman Ria Remaja Senayan dan tetap menyelanggarakan acara Stand Up Comedy di tahun-tahun, meskipun kurang diminati oleh penonton. Perlombaan komedi tunggal ini kembali diselenggarakan pada 25 agustus 2003 di Comedy Café Indonesia bekerja sama dengan majalah dari kompas Gramedia Group.

Memasuki tahun 2004, seorang penggemar fanatik Stand Up Comedy yang sudah mulai melakukan Stand Up Comedy sejak tahun 1998, bernama Iwel Sastra menyelanggarakan Show secara tunggal Stand Up Comedy pada tanggal 6 maret 2004 di gedung kesenian Jakarta dan tercatat sebagai Comic Indonesia pertama yang menyelenggarakan Show tunggal.

Kembali di tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 yang pada saat itu kegiatan Stand Up Comedy di Indonesia sudah mulai dikenal dengan mulai banyaknya penonton yang hadir di acara Comedy Workshop di Comedy Cafe. Setelah sekian lama Stand Up Comedy tidak berkembang, pada awal tahun 2011, ketika Comedy Cafe pindah ke daerah Kemang Jakarta Selatan disana sudah mulai banyak dikunjungi oleh penonton.

Sejarah panjang perjalanan Stand Up Comedy mulai diminati banyak penonton, dimulai pada tanggal 13 juli 2011 dengan datangnya peserta Stand Up Comedy kompas TV dan beberapa Comic Indonesia seperti Raditya Dika, Pandji, Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy dan lainlain tampil dalam acara di Comedy Café dan dengan dimulainya acara Stand Up Comedy di kompas TV maupun acara Stand Up Comedy Show Di Metro TV, sejak saat itu Stand Up Comedy Indonesia mulai diminati masyarakat luas.

Menulis materi stand up

How To Choose A Standup Comedy Class | Comic Universe

Kemampuan menulis materi stand up comedy adalah hal paling dasar yang harus dimiliki seorang stand up comedian, materi inilah nantinya yang akan menjadi senjata utama seorang comic di atas panggung.

Seorang stand up comedian harus menulis materi, karena stand up comedy bukanlah menceritakan cerita lucu, tapi membawakan sebuah opini, yang berasal dari sebuah hal yang dilihat dari sudut pandang komedi. Sebuah joke dalam stand up comedy dikenal dengan istilah Bit.

Secara struktur, Bit terdiri dari 2 komponen utama, yaitu Setup (bagian pengantar sebuah joke) dan Punchline (bagian yang membuat orang tertawa). Setup adalah bagian yang memang bukan untuk membuat orang tertawa, tapi Setup diperlukan sebagai penghubung untuk menggiring perhatian audiens menuju Punchline yang akan dilempar. Jadi bisa dibilang, Setup inilah yang pada akhirnya akan menjadi alasan audiens, kenapa Punchline-nya terdengar lucu.

Joke dalam Stand Up Comedy terbangun dari dua struktur yang dapat diklasifikasikan menjadi bagian set-up dan juga bagian punch line. Set-up merupakan bagian yang bertujuan untuk menciptakan ekspektasi di benak para penonton. Definisi tersebut juga diperkuat dengan sederhana oleh Notaslimboy dengan menyebut set-up sebagai bagian yang diciptakan untuk mengarahkan asumsi penonton. Set up bagian pertama dari sebuah joke yang mempersiapkan tawa.

Sedangkan punch line dapat berupa kata-kata atau tindakan yang digunakan untuk mengejutkan para penonton. Punch line atau biasa juga disebut dengan punch merupakan bagian kedua dari struktur joke yang membuat penonton tertawa.

Punch line juga dapat diartikan sebagai bagian dari joke yang memberikan kejutan di akhir yang tidak sesuai dengan asumsi awal penonton. Bagian punch line dapat didukung dengan tiga bantuan untuk membuatnya semakin kuat dan membuatnya memiliki kemungkinan untuk dapat menghasilkan tawa menjadi lebih besar.

Bantuan pertama adalah act-out yang merupakan gerakan tubuh atau mimik muka yang dilakukan comic dalam penampilannya untuk membawa atau memperkuat joke. Bantuan kedua adalah dengan tagline atau dapat juga disebut dengan double punch.

Tagline adalah kalimat singkat yang dikatakan comic setelah mengucapkan punch line. Tagline ini dilakukan untuk menambahkan tawa menjadi lebih besar dan biasanya akan memunculkan asumsi ketiga bahkan lebih dan membuat penonton semakin tidak menebak akhir dari sebuah joke. Bantuan terakhir adalah dengan melakukan callback.

Bantuan ini merupakan bantuan yang sedikit sulit untuk dilakukan. Callback merupakan sebuah joke yang memiliki punch line yang sama dengan punch line pada joke sebelumnya  serta biasanya disajikan dalam konteks yang jauh berbeda namun masih memiliki kesinambungan baik kata, frasa atau kalimat.

Selain itu, yang harus diperhatikan oleh seorang komika ialah Don’t Try To Be Funny Maksudnya yaitu biarlah penonton menertawakan materi yang dibawakan, bukan menertawakan Comic-nya. Jadi Comic tidak boleh melucu – lucukan dirinya seperti memakai pakaian yang aneh, berlagak latah, gagap, dan sebagainya.

Komika juga harus Don’t Tell Street Jokes. Maksudnya yaitu Comic tidak boleh membawakan materi atau jokes yang sudah umum atau sudah pernah didengar orang banyak. Jadi Comic harus membawakan materi buatan dirinya sendiri. Biasanya Stand Up Comedian yang membawakan Street Jokes (sering disebut sebagai Joke Kodian) akan dipanggil Stand Up Kodian.

Yang paling penting juga, Don’t Tell Stories. Maksudnya yaitu Comic tidak boleh membawakan jokes yang terlalu panjang seperti cerita. Jadi Comic harus membawakan jokes yang singkat saja.

Be Serious, Maksudnya yaitu Comic yang tampil harus terlihat serius, tidak “cengengesan” seperti kebanyakan pelawak. Seorang Comic juga harus santai, karena dengan begitu ia akan membawakan materinya dengan lebih mudah.

Comic yang akan dikatakan sebagai komik yang bagus adalah komik yang memiliki jati diri atau persona, jadi dia harus memiliki cirri khas dan jargon-jargon yang bias dijadikan sebagai identitasnya. Dengan kata lain seorang komik harus mengenali dirinya lebih dalam agar personanya muncul.