Gurun dengan iklim ekstrem, begitulah Sahara dikenal. Padang pasir ini melingkupi bagian utara, tengah, dan sedikit barat Afrika. Sahara memang tampak tak berbatas. Gurun pasir ini membentang luas. Melintasi berbagai negara, sebut saja Algeria, Chad, Mesir, Libya, Mali, Mauritania, Maroko, Niger, Sudan, dan Tunisia.

Tak mengherankan jika Sahara dijuluki sebagai salah satu gurun terbesar di dunia. Karena luasannya yang mencapai 9.400.000 kilometer persegi. Pastinya, Sahara yang dalam Bahasa Arab berarti padang pasir ini memiliki sebanyak 2.800 tumbuhan vaskular (berpembuluh) yang sekitar seperempatnya merupakan tanaman endemik.

Keunikan lainnya, Sahara merupakan rumah bagi rubah fennec (Vulpes zerda), yaitu rubah kecil berukuran 37-41 cm yang memiliki pendengaran sensitif untuk setiap pergerakan serangga, mamalia kecil, dan burung.

Namun, siapa sangka, jika gurun yang suhu rata-ratanya di atas 38 derajat celcius ini awalnya adalah sebuah danau. Danau Mega Chad. Penelitian ini sebagaimana disampaikan oleh ilmuwan dari Royal Holloway, Birkbeck and Kings College, dan University of London yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Science.

Sebagaimana dilansir dari Daily Mail, Mega Chad merupakan danau air tawar segar seluas 360 ribu kilometer persegi di Afrika Tengah. Atau, ukurannya tiga kali dari luas Pulau Jawa.

Namun, dalam 1.000 tahun terakhir, ukurannya terus menyusut. Saat ini hanya menyisakan 355 kilometer persegi. Meski begitu, keberadaan danau tersisa bernama Chad ini begitu penting sebagai sumber air bersih bagi 20 juta penduduk di empat negara yang ada di sekitarnya. Yaitu Chad, Kamerun, Niger, dan Nigeria dengan kondisi danau yang pantainya membentuk rawa dan dihiasi pulau-pulau kecil.

Pastinya, danau terbesar yang terletak di Afrika ini telah menunjukkan pada kita bila periode lembab di Afrika Utara berakhir sekitar 5.000 tahun yang lalu. Dan, debu yang berasal dari Danau Bodele, sebagai sumber debu terbesar di atmosfer, dimungkinkan belum mengering hingga 1.000 tahun yang lalu.

Namun begitu, Edisi Bonanza88 mengutip tulisan Simon Armitage dari Departemen Geografi Royal Holloway, perubahan ini bahkan terjadi hanya dalam beberapa ratus tahun. Jauh lebih cepat dari anggapan sebelumnya.

Untuk menganalisis kondisi Danau Mega Chad, hingga mengalami penyusutan, para peneliti ini menggunakan citra satelit terutama untuk memetakan garis ujung danau yang pernah terlihat sebelumnya. Mereka juga meneliti proses sedimentasi danau untuk memperhitungkan umur guna menghasilkan catatan sejarah danau sekitar 15.000 tahun yang lalu.

Temuan ini sekaligus memberikan gambaran pada kita bagaimana hutan hujan Amazon tumbuh. Sebab, jutaan ton debu yang kaya akan nutrisi itu terbang melintasi Samudera Atlantik setiap tahunnya untuk membantu menyuburkan tanah dan hutan di kawasan tersebut.

Gurun Sahara sebagai Wilayah Hijau nan Subur

Gurun Sahara akan Berubah Menjadi Kawasan Subur Setiap 20.000 Tahun -  Tribun Jogja

Gurun Sahara tiba-tiba berubah sekitar 6000 tahun lalu. Saat itu, wilayah tropis secara tiba-tiba menjadi daerah paling kering di bumi. Perubahan ini diduga akibat perubahan pola cuaca dunia.

Gurun Sahara memiliki luas sekitar 9 juta kilometer persegi dan membentang di Afrika utara. Gurun Sahara juga merupakan salah satu wilayah di dunia yang diselimuti oleh berbagai misteri.

Padang pasir Sahara bersalju merupakan salah satu misteri yang dimilikinya, selain proses pembentukannya. Terbentuknya Gurun Sahara dicoba dijawab oleh peneliti Universitas A & M Texas. Peneliti tersebut yaitu Robert Korty, seorang profesor di Departemen Ilmu Atmosfer, bersama seorang rekannya, William Boos, dari Universitas Yale.

Mereka mencoba mengungkap petunjuk yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perubahan iklim di padang pasir tersebut. Jawaban tersebut, diyakini dapat berkontribusi terhadap upaya prakiraan cuaca dan curah hujan seluruh dunia.

Perubahan Gurun Sahara tersebut telah dipublikasikan ke dalam jurnal Nature Geoscience. Kedua peneliti mengamati pola curah hujan sejak era Holosen untuk menyelidiki misteri tersebut.

Kemudian, membandingkannya dengan berbagai pergerakan zona konvergensi intertropis saat ini. Zona ini adalah sebuah wilayah luas dengan curah hujan tropis intensif ini. Menggunakan permodelan komputer dan data lainnya, para peneliti menemukan berbagai keterkaitan (links) dengan pola curah hujan ribuan tahun lalu.

“Memahami apa yang terjadi di sana 6000 tahun lalu, dengan kerangka kerja penelitian kami, akan membantu kita memahami mengapa sabuk hujan tropis terbanyak mengatur dimana mereka melakukannya,” Korty menjelaskan.

“Sabuk hujan tropis berhubungan dengan apa yang terjadi di tempat lain di dunia melalui sirkulasi Hadley. Tetapi, hal itu tidak akan memprediksi perubahan di tempat lain secara langsung, sebagaimana bahwa rantai peristiwa bersifat sangat kompleks. Namun, itu merupakan sebuah langkah menuju tujuan tersebut.”

Sahara terbentuk karena dipengaruhi oleh sirkulasi Hadley. Daerah yang dahulu hijau, memiliki banyak tumbuhan, kemudian berubah seketika menjadi padang pasir. Sirkulasi Hadley adalah sirkulasi atmosfer tropis yang naik dekat khatulistiwa. Hal ini terkait dengan perpindahan angin subtropis, sabuk hujan tropis.

Ia juga mempengaruhi posisi badai, angin topan, arus angin berkekuatan lebih dari 100 km per jam (jet stream). Di mana ia menghampiri daerah subtropis, ia dapat menciptakan kondisi seperti padang pasir. Mayoritas daerah kering di bumi berada pada wilayah di bawah bagian menurun (descending parts) sirkulasi Hadley.

“Kerangka kerja ini juga dapat berguna memprediksi rincian tentang bagaimana ikatan hujan tropis cenderung bergeser selama peristiwa El Niño dan La Niña terkini. El Nino serta La Nina adalah fenomena mendingin atau memanasnya air di tengah Samudera Pasifik. Keduanya mempengaruhi pola cuaca seluruh dunia.”

Seperti diketahui bahwa telah terjadi berbagai dampak perubahan iklim dan pemanasan global terhadap berbagai sektor kehidupan di bumi. Korty meyakini bahwa temuannya dapat menghasilkan cara lebih baik dalam memprediksi pola curah hujan berbagai belahan dunia di masa depan.

“Satu dari beberapa akibat kedua fenomena tersebut yaitu kita dapat menyimpulkan bagaimana posisi hujan akan berubah dalam menanggapi kekuatan masing-masing,” katanya.

“Kami dapat menyimpulkan bahwa variasi orbit bumi yang mengubah curah hujan di utara Afrika 6.000 tahun lalu, dengan sendirinya tidak cukup untuk mempertahankan jumlah hujan, dimana bukti geologis menunjukkan seperti terjadi di padang pasir tersebut. Berbagai umpan balik antara pergeseran hujan serta vegetasi saat itu diperlukan untuk mendapatkan hujan lebat di wilayah itu 6000 tahun lalu.”

Dari Ikan Lele hingga Dinosaurus di Gurun Sahara

Fosil Dinosaurus Sebesar Bus Ditemukan di Gurun Sahara, Ini Artinya Halaman  all - Kompas.com

Penelitian tentang makhluk laut yang mendiami Sahara telah diterbitkan di jurnal American Museum of Natural History yang dapat diakses publik.

Ilmuwan mengungkapkan bahwa pada 100 juta hingga 50 juta tahun lalu, Sahara merupakan sebuah lautan yang sangat besar dan luas. Peneliti menyebut daerah itu sebagai Trans-Sahara Seaway, sebuah lautan kuno yang meliputi seluruh bagian Afrika Barat.

Selama dua dekade, para ilmuwan meneliti fosil dan endapan di Mali. Ilmuwan dapat membentuk gambaran akurat tentang seperti apa lingkungan prasejarah saat itu.

Mereka menyimpulkan bahwa Trans-Sahara Seaway merupakan perairan yang hangat dan dangkal, serta dihuni makhluk menyeramkan termasuk lele laut kuno dan ular laut raksasa.

Spesimen lele laut kuno diperkirakan memiliki panjang 1,6 meter sementara ular laut kuno berukuran 12 meter.

Tentunya ukuran hewan di atas sangat mengesankan jika dibandingkan dengan spesies ular laut dan lele modern.

Dilansir dari CNN, peneliti menjelaskan bahwa Trans-Sahara Seaway membentang dari utara ke selatan dari tempat yang sekarang disebut Aljazair hingga Nigeria.

“Ekosistem Mali kuno memiliki banyak predator puncak termasuk Crocodyliformes, Serpentes, dan Amiidae, beberapa di antaranya adalah spesies terbesar dalam kelompok organisme mereka,” tulis peneliti di dalam jurnal penelitiannya.

Istilah di atas berarti banyak buaya, ular, dan ikan menyeramkan yang mendiami daerah tersebut.

Trans-Sahara Seaway merupakan daerah isolasi yang terputus-putus dari laut lepas sehingga menciptakan endemisme akuatik.

Endemisme terjadi ketika suatu spesies mempunyai jumlah terbatas pada area tertentu.

Isolasi semacam itu memungkinkan spesies di sana memiliki predator terbatas dan memastikan sumber daya makanan selalu tersedia sehingga memungkinkan spesies tumbuh menjadi ukuran raksasa.

Penelitian yang menarik bukan! Selain kita ketahui Sahara merupakan gurun tandus yang ternyata tadinya merupakan lautan dengan berbagai hewan menyeramkan di dalamnya.

Selain itu, para ilmuwan menggali fosil dinosaurus seukuran bus sekolah yang hidup sekitar 80 juta tahun lalu di oasis Gurun Sahara di Mesir, temuan yang akan memberikan secercah cahaya bagi periode waktu misterius dalam sejarah dinosaurus di Afrika.

Para peneliti menyatakan dinosaurus Periode Cretaceous pemakan tumbuhan yang memiliki empat kaki dan berleher panjang itu dinamai Mansourasaurus shahinae.

Dinosaurus dengan panjang 10 meter dan berat 5,5 ton itu merupakan anggota kelompok yang disebut titanosaurus yang meliputi binatang-binatang terbesar yang pernah tinggal di Bumi. Seperti kebanyakan titanosaurus, ada piringan tulang yang disebut osteoderm pada kulit Mansourasaurus.

Mansourasaurus, yang hidup dekat pantai samudra purba yang mendahului Laut Mediterrania, adalah satu dari sedikit dinosaurus yang diketahui dari masa 15 juta tahun terakhir Era Mesozoikum, atau zaman dinosaurus, di daratan Afrika. Madagaskar punya sejarah geologi terpisah.

Sisa-sisa fosil yang ditemukan di Oasis Dakhla di pusat Mesir merupkaan fosil paling komplit di antara fosil vertebrata darat Afrika dalam rentang waktu yang lebih panjang, sekitar 30 juta tahun sebelum kepunahan massal dinosaurus 66 juta tahun lalu, kata ahli paleontologi Hesham Sallam dari Mansoura University di Mesir, yang memimpin studi yang hasilnya disiarkan di jurnal Nature Ecology and Evolution.

Para ilmuwan memulihkan tengkorak, rahang bawah, leher dan tulang belakang, iga, punggung dan anggota tubuh bagian depan, kaki belakang dan osteodermnya.

Banyak bagian Afrika tertutup padang rumput, savana dan hutan hujan yang menyamarkan bebatuan tempat fosil-fosil ditemukan, kata peneliti postdoctoral Eric Gorscak dari Field Museum di Chicago, yang sebelumnya di Ohio University.

Ukuran Mansourasaurus lebih kecil dibandingkan dengan sepupu titanosaurus seperti Argentinosaurus di Amerika Selatan, serta Dreadnoughtus, Patagotitan dan Paralititan dari Afrika, beberapa melampui 30 meter panjangnya.

“Mansourasaurus, meski termasuk binatang besar untuk standard sekarang, kecil dibandingkan dengan titanosaurus lainnya,” kata ahli paleontologi Matt Lamanna dari Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh.

Para peneliti menyatakan Mansourasaurus lebih dekat kekerabatannya dengan titanosaurus Eropa dan Asia ketimbang mereka yang berasal dari tempat lain di Afrika dan daratan Belahan Bumi Selatan termasuk Amerika Selatan, yang sebelumnya tergabung dalam benua super yang disebut Gondwana.

“Ini, pada gilirannya, menunjukkan untuk pertama kali bahwa setidaknya beberapa dinosaurus bisa berpindah antara Afrika Utara dan Eropa Selatan pada akhir Mesozoikum, dan bertentangan dengan hipotesis lama yang berpendapat bahwa fauna dinosaurus Afrika terasing dari yang lain selama periode waktu ini.”

Gurun Sahara sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan

Penasaran, Ada Apa di Bawah Pasir Gurun Sahara? – Kinipaham

Negara-negara yang ‘berbagi’ Sahara antara lain Mesir, Mali, Libya, Mauritania, Chad, Niger, dan Algeria. Selain dilingkupi padang terluas nomor tiga di dunia, negara-negara Afrika tersebut berbagi sejarah pula tentang kebudayaan serta keilmuan Islam.

Menengok masa lalu, Afrika merupakan bagian penting dari sejarah keilmuan Islam. Negara-negara di sekitar Sahara diketahui merupakan pusat-pusat belajar bagi cendikiawan Muslim. Timbuktu, sebuah kota di Mali, jika mengingat kebudayaan Islam di Afrika, maka kota tersebut tak mungkin dilewatkan.

Legendaris, Timbuktu pada abad ke-14 merupakan kiblat belajar cendikiawan Muslim, terutama di Afrika. Reputasi universitas, sekolah-sekolah keilmuan Islam di Timbuktu tak perlu dipertanyakan lagi. Termahsyur di kalangan cendikiawan muslim.

Akan tetapi, menelusuri negara-negara di sekitar Sahara, bukan hanya Timbuktu yang memiliki sejarah legendaris tentang keilmuan Islam. Salah satu pusat belajar Islam di Afrika, ialah Birni Gazargamu, jantung negara bagian Kanem Bornu.

Birni Gazargamu letaknya persis di daerah Yobe, 150 kilometer dari Danau Chad. Birni Gazargamu adalah rumah dari Idris Alooma, raja dari abad ke-16 yang merintis kemajuan di bidang pemerintahan dan infrastruktur.

Pusat keilmuan Islam pertama di Sudan Tengah didirikan di sana, dengan Idris Alooma sebagai penggagasnya. Idris Alooma memang terkenal peduli dengan pendidikan, sebab ia sendiri seorang cendikiawan. Giatnya Idris membangun pusat studi Islam di Birni Gazargamu menghasilkan penulis sub-Sahara pertama yang menulis menggunakan bahasa arab, Ibrahim Al– Kanemi.

Yang tak kalah menarik dari Gurun Sahara ini ialah fakta dari peneliti bahwa gurun ini ikut membantu terbentuknya Kepulauan Karibia.

Studi peneliti di Universitas Miami itu menunjukkan debu kaya zat besi dari padang pasir Afrika yang luas itu – yang terbawa sejauh 8.000 kilometer melalui atmosfer melintasi Lautan Atlantik – “memberikan gizi” bagi bakteri khusus yang menghasilkan zat karbonat kalsium untuk membentuk kepulauan Bahama dalam 100 juta tahun terakhir.

Dipimpin oleh ahli geolog kelautan Peter Swart, para ilmuwan menemukan konsentrasi tinggi dua unsur khas padang pasir Sahara dalam sampel dasar laut sepanjang Great Bahama Bank.

Sedimen di sana diciptakan oleh cyanobacteria, yang menurut Swart perlu 10 kali lebih banyak zat besi dibanding fotosintesis lain. Proses itu menghasilkan kalsium karbonat yang kini mengelilingi rantai kepulauan Bahama.