Di kota miskin di negara miskin dan di benua miskin, ada sekelompok orang dengan tujuan sama berpenampilan nyentrik dan mewah agar terlihat kaya.

Atau, lebih tepatnya, untuk terlihat lebih baik dengan mewujudkan gaya keramahan juga elegan dari penampilan sartorial. Mereka biasa disebut Sapeurs atau Society of Tastemakers and Elegant People, orang-orang Kongo berpakaian elegan dan modis dengan selera fashion tinggi.

Mereka mengubah jalan-jalan di Brazzaville, ibu kota Kongo, menjadi ruang mode. Kebanyakan mereka berasal dari latar belakang kemiskinan, muncul sebagai konsumen fashion yang tidak biasa, bahkan sering kali mereka harus menghemat uang hingga tidak makan hanya untuk membeli barang-barang fashion yang mereka inginkan.

Agar terlihat khas mereka membeli sepatu bermerek, pakaian dengan warna cerah, dan gaya necis, lebih menonjol dengan latar belakang kemiskinan di mana mereka tinggal. Gaya Sapeurs dimulai sebagai salah satu emulasi, usaha atau ambisi untuk menyamai bahkan melebihi dari yang lain, bagian dari gengsi dan harga diri.

Mereka bergaya menelusuri jalan-jalan kumuh dan kotor dengan menggunakan sepatu dari kulit buaya dan pakaian rancangan desainer, walau hidup dalam kemiskinan.

Sejarah Konflik Negara Kongo

Konflik di Kongo Memprihatinkan

Konflik di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) telah mengalami dinamika konflik dalam kurun waktu yang panjang. Bahkan selama konflik terjadi dua kali perperangan besar yang melibatkan negara-negara Afrika lainnya.

Dua perang tersebut adalah Perang Kongo I yang terjadi pada tahun 1996-1997 dan Perang Kongo II pada tahun 1998-2003.

Konflik ini telah dimulai sejak tahun 1990an ketika terjadi perselisihan antar etnis Tutsi dan Hutu untuk memperebutkan kekuasaan wilayah. Di RD Kongo sendiri ada kelompok pemberontakan yang ingin menggulingkan Presiden RD Kongo saat itu, Mobutu Sese Seko, karena pemerintahannya dianggap terlalu pro-Amerika.

Kelompok pemberontakan yang dipimpim Laurent Desire Kabila mengambil kesempatan dalam konflik etnis Tutsi dan Hutu dengan menggalang dukungan dari etnis Tutsi. Pada 4 Oktober 1996, kelompok pemberontak dari Banyamulenge melakukan serangan langsung ke desa Lamera, wilayah timur RD Kongo yang menjadi tempat pengungsian etnis Hutu.

Konflik kemudian menjadi perang terbuka dengan adanya campur tangan negara tetangga yaitu Angola, Burundi, Rwanda dan Uganda dan dikenal dengan Perang Kongo I. Keterlibatan negara ini dikarenakan adanya kepentingan sumber daya alam, dukungan terhadap etnis Tutsi, dan ketidaksukaan negara-negara tersebut terhadap rezim pro-Amerika Mobutu.

Mobutu yang pada saat itu kehilangan dukungan Amerika Serikat karena perang dingin telah berakhir akhirnya menyerah dan melarikan diri ke luar RD Kongo. Perang ini berakhir dengan kemenangan kelompok pemberontakan anti-Mobutu pada tahun 1997 dan Laurent Desire Kabila kemudian diangkat menjadi Presiden RD Kongo.

Pada tahun 1998, keadaan politik di RD Kongo kembali memanas. Laurent Desire Kabila gagal membagi kekuasaannya terhadap kelompok-kelompok pendukungnya sehingga yang awalnya mendukung Kebila berbalik melawan dengan memberontak kembali. 4 Kabila kemudian menggalang dukungan dari etnis Hutu untuk melawan kelompok pemberontak yang didukung etnis Tutsi.

Selain itu, Kabila juga menggalang bantuan negara-negara tetangga yaitu Angola, Chad, Namibia dan Zimbabwe. Adanya bantuan luar negeri tersebut perang kembali berkobar antara RD Kongo, Angola, Chad, Namibia dan Zimbabwe melawan Rwanda, Uganda dan Burundi. Perang ini dikenal dengan Perang Kongo II atau Great African War.

International Rescue Committee (IRC) telah mendokumentasikan dampak kemanusiaan akibat Perang Kongo II. Penelitian IRC yang pertama antara tahun 2000 dan 2004 diperkirakan 3,9 juta orang terbunuh sejak tahun 1998.

Lebih dari 10% orang meninggal akibat kekerasan, sementara sebagian besar lainnya meninggal akibat dampak perang seperti infeksi penyakit, malnutrisi, kematian bayi, kelaparan, dan sebagainya yang diakibatkan oleh lemahnya sarana kesehatan dan ancaman keamanan pangan. Angka ini membuat Perang Kongo menjadi perang yang paling mematikan setelah Perang Dunia II.

Melihat begitu besarnya dampak Perang Kongo II ini dan ketidaksanggupan pemerintah RD Kongo untuk menanganinya, perang ini kemudian mendapatkan perhatian besar dari Dewan Keamanan PBB (DK PBB).

DK PBB mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk melakukan gencatan senjata. Pada 10 Juli 1999, perjanjian gencatan senjata pun dilakukan dan dikenal dengan nama Perjanjian Lusaka.

Nelangsa Orang Kongo Saat Ini

History of Fashion: Les Sapeurs Congolais — Y FASHION HOUSE

Seorang warga Brazzaville, Kongo, menyatakan keluhan dengan nada suara yang menyiratkan amarah. Ia merasa seperti budak di negara miskin.

Dia kesal melihat orang-orang di sekitarnya harus susah payah untuk mendapatkan air bersih padahal mereka tinggal di dekat sungai Kongo. Keluhan pria ini tayang dalam The Congo Dandies, film dokumenter yang diproduksi oleh Russia Today (RT).

Keluhan yang sama sebetulnya dialami pula oleh para Sapeurs, sebutan bagi anggota komunitas La Sape, singkatan dari Société des ambianceurs et des personnes elegantes atau Society of Atmosphere-setters and Elegant People.

Sebuah komunitas pecinta fesyen. Luzolo, Sapeurs yang bekerja sebagai penjual DVD mengaku tidak memiliki pasokan air di apartemennya. Tetapi ia punya baju Dolce & Gabbana. Seorang Sapeurs tidak peduli terhadap permasalahan ekonomi. Mereka hanya memedulikan satu hal: tampil gaya.

Para Sapeurs berjalan di kawasan kumuh Brazzaville mengenakan setelan jas warna warni, topi, sepatu kulit, kacamata hitam, dan payung. Mereka tampil layaknya pria kelas atas Eropa yang mengenakan busana dan aksesori dengan material dan potongan yang tepat. Setiap akhir pekan, para Sapeurs berkumpul di tepi jalan yang dipadati pedagang kaki lima.

Di sana mereka saling memamerkan busana yang dikenakan. Warga yang bukan bagian dari La Sape menilai Sapeurs berpenampilan terbaik. Tidak ada hadiah bagi yang pakaiannya paling apik. Sapeurs cuma butuh pengakuan bahwa mereka keren.

Tampilan yang dianggap keren membuat nama mereka dielukkan di tempat umum. Ini terjadi pada Maxime Pivot, yang pernah menyandang predikat Sapeurs terbaik. Bila ia datang ke pasar, para pedagang menyorakkan namanya. Pivot bagai selebritas. Para pedagang menyalami dan berusaha memegangnya.

Hal serupa terjadi pula pada seorang lansia bernama Severin Muengo. Di jalan, ia kerap diikuti oleh anak-anak. Namanya kerap dipanggil-panggil. Pada RT ia berkata bangga bahwa hal itu membuat dirinya merasa sebagai orang terkaya dan membuatnya merasa seperti di surga.

Muengo bangga memamerkan karung-karung berisi dasi dan syal, serta puluhan setelan jas yang menggantung di empat sisi dinding ruang penyimpanan baju di rumahnya. Ia mengaku meminjam uang sekitar US$6.000 – US$8.000 untuk membeli baju bermerek.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Edisi Bonanza88, di Kongo, praktik ini telah berlangsung sejak akhir tahun 1980-an. Dalam naskah yang terbit pada tahun 1988, New York Times menulis bahwa harga busana Sapeurs rata-rata tiga kali lipat lebih besar dari penghasilan bulanan mereka.

Untuk Sapeurs yang tidak mampu membeli busana, tersedia jasa penyewaan baju. Bagi yang punya uang, baju bisa dibeli di sebuah toko yang menjual barang bermerek asal Paris seperti Yves Saint Laurent dan Yohji Yamamoto. Toko dimiliki oleh seorang Sapeurs yang kerap datang ke Paris untuk memborong busana guna dijual kembali.

Mereka pantang mengenakan busana tiruan karena jenis busana itu dianggap sebagai penghinaan dan tidak dibenarkan. Sapeurs di Kongo punya prinsip sapologie. Aljazeera menulis bahwa sapologie ialah ajaran agar Sapeurs tidak melakukan kekerasan serta ketidakadilan, tetap bahagia dan tampil elegan meski tak cukup makan.

Sapologie terkesan kontras dengan hal yang terjadi pada Sapeurs yang bermigrasi ke kota Paris. Merekalah cikal bakal La Sape yang jadi inspirasi gaya busana para Sapeurs di Brazzaville.

Munculnya La Sape

Komunitas La Sape, Seni Bergaya Borjouis Meski Dicekik Kemiskinan - Situs Politik, Hukum, dan Keamanan

Sebuah fenomena dari generasi ke generasi, orang Sapeur pertama kali muncul setelah kedatangan orang Eropa di Kongo pada tahun 1920-an, di mana para pelayan sering diberikan pakaian bagus oleh majikan mereka dengan maksud agar sang majikan dapat memamerkan kekayaan dengan kemampuan mereka memberikan tampilan berpakaian pelayannya secara baik.

“Pada awal abad ke-20, ketika Perancis tiba di Kongo, mitos keanggunan Paris lahir di antara kelompok pemuda etnis Bakongo,” kata fotografer Spanyol Hector Mediavilla, yang mulai mendokumentasikan Sapeur pada tahun 2003. Orang-orang Kongo yang bekerja untuk penjajah Perancis, atau yang hidup di Perancis, mulai mengadopsi gaya mode busana dan pengaruh aristokrat Perancis.

Misi Perancis adalah untuk membudayakan orang-orang Afrika yang dianggap tidak sopan dan telanjang. Mereka membawa pakaian bekas dari Eropa sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan loyalitas para kepala suku.

Pada akhir abad ke-19, pelayan rumah mereka adalah orang pertama yang dirangkul ke arah modernitas Eropa dengan diberi pakaian, bukan uang sebagai bayarannya. Elit Kongo tidak hanya mencakup pelayan rumah, tetapi juga mereka yang memegang posisi lebih rendah sebagai pegawai di kantor kolonial dan tempat-tempat lain.

Kembali ke Brazzaville masa kini, orang-orang Sapeurs harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli pakaian bagus, sepasang sepatu kulit buaya, dan aksesoris bermerek lainnya. Pada awal 1980-an sebuah kampanye melarang Sape muncul di ruang publik, sekarang mereka dihormati dan menjadi kesayangan rezim.

Mereka telah diangkat ke status yang lebih tinggi sebagai “warisan budaya” oleh Denis Sassou Nguesso (presiden Republik Kongo), memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam acara-acara budaya publik seperti Pameran Mode dan Kerajinan Afrika.

Sapeurs kontemporer, atau Sapeurs generasi ketiga, telah melampaui ide modernisasi dan berevolusi melalui pakaian dan lebih ke arah ide untuk memerangi kemiskinan melalui pakaian, menutupi realitas ekonomi mereka dengan ilusi kekayaan, dan bertahan dari penderitaan yang mereka hadapi.

Seperti subkultur lainnya, mereka memiliki hierarki dan benang merah yang diperkenalkan oleh generasi pertama Sapeurs, di mana status tertinggi yang diperoleh adalah Parisien, seseorang yang telah berhasil tiba di Paris dan kembali dengan modal budaya yang mereka aplikasikan di tempat tinggalnya.

Sapeurs berkumpul di klub Sape untuk memvalidasi satu sama lain, mereka memamerkan pengetahuan dan pakaian bermerek mereka. Tujuan akhir bagi seorang Sapeur adalah untuk dikagumi, dihormati, bukan Paris yang mereka perjuangkan tetapi kemampuan untuk saling pamer ketika mereka kembali ke Brazzaville atau Kinshasa melalui penampilan mewah.

Kemiskinan yang melanda Kongo disebabkan oleh perang dan politik. Keberadaan kelompok Sapeurs saat ini dianggap sebagai perlawanan ekonomi, saat mereka menggunakan pakaian borjouis untuk melupakan segala kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.

Para Sapeurs menolak pandangan bahwa mereka meniru Perancis, karena mereka berpakaian sebagai diri sendiri bahkan lebih baik. Orang Sapeur mengangkat diri mereka ke status yang setara, menunjukkan bahwa kemiskinan tidak akan menghalangi mereka dan bahwa mereka adalah tuan bagi mereka sendiri.

Dalam “La Sape: Tracing the History and Future of the Congos’ Well-Dressed Men” (2017), Hannah Rose Steinkopf-Frank menyebut bahwa pada tahun 1976 Jean Marc Zeita, remaja pria asal Kongo pindah ke kota Paris. Ia membentuk perkumpulan imigran muda asal Kongo bernama Aventuriers.

Mereka meniru gaya penampilan orang Prancis. Gaya itu kemudian dibawa pulang ke kampung halaman, agar dianggap sukses. Mereka turut membawa berbagai busana dan majalah untuk referensi gaya.

Masalahnya: para Sapeur di Paris ini pun bukan orang kaya. Untuk bisa membeli pakaian mahal, mereka menceburkan diri ke perdagangan narkoba. Hannah, mengutip makalah “Dream and Drama: The Search for Elegance among Congolese Youth”, menulis bahwa para Sapeur di Paris ini memanfaatkan pakaian rapi sebagai citra kesuksesan.

Tidak semua Sapeur di Kongo tahu kisah ini. Tiap Sapeur bisa punya cerita berbeda tentang asal usul La Sape. Ada yang menganggap La Sape muncul pada zaman koloni Prancis ketika tuan tanah memberi upah pada buruh dalam bentuk pakaian. Hector Mediavilla, fotografer yang pernah mendokumentasikan Sapeur di Kongo berkata bahwa warga lokal meniru gaya penampilan orang Prancis saat mereka dijajah.

“Bergaya ialah salah satu cara mengekspresikan diri dalam situasi yang serba terbatas. Sapeurs bicara tentang bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri di tengah situasi buruk,” katanya.

Gondola beranggapan bahwa dengan bergaya, para Sapeurs hendak melawan masyarakat Barat lewat kesan, ‘Mereka boleh menjajah kita tetapi kita berpenampilan lebih baik dari mereka.’

Pendapat lain menyebut La Sape dibentuk oleh Papa Wemba, musisi Kongo yang ingin tampil beda dari musisi lain. Oleh karena itu ia berbelanja barang bermerek di kota Paris dan tampil gaya dalam busana ribuan dolar.

Selain menyanyi, ia kerap berpesan kepada kaum muda agar selalu tampil rapi dan bersih. Kepopuleran Papa Wemba jadi salah satu pengaruh utama bagi kelangsungan La Sape. Para Sapeur mengidolakan Papa Wemba. Pivot meneruskan semangat Papa Wemba dengan mendirikan kursus calon Sapeurs di Kongo.

Tak semua Sapeurs nyaman dengan gaya gemilang. Aime Champagne, Sapeur asal Kinshasa yang pindah ke London berkata bahwa sesungguhnya ia tak mau lagi berpenampilan seperti orang kaya padahal serba kekurangan. Namun ia terpaksa terus bergaya ala Sapeur agar tidak diprotes rekan-rekannya di Kongo.

Pada Aljazeera Charlie Schengen, Sapeur yang juga tinggal di London berkata bahwa La Sape telah membuat ia merasa kehilangan tradisi Kongo. “Ini sebuah kebodohan. Orang tidak mau sekolah dan hanya ingin belanja baju.”