Pada 2021, DKI Jakarta menginjak 494 tahun. Hari lahir Jakarta merujuk pada tanggal pertempuran tentara Demak pimpinan Sultan Fatahillah dengan pasukan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa, tanggal 22 Juni 1527.

Fatahillah menang dalam pertempuran itu. Daerah yang berhasil dipertahankannya diberi nama baru, Jayakarta atau sekarang Jakarta. Namun jauh sebelum pertempuran tersebut terjadi beberapa wilayah Jakarta ternyata sudah diperebutkan.

Antara lain oleh kerajaan zaman Hindu-Budha juga pasca kejayaan kerajaan Mataram Islam. Salah satu wilayah tertua awal peradaban Jakarta ialah Sungai Ciliwung. Awal peradabannya terjadi di muara sungai tersebut yang bersentuhan langsung dengan Laut Jakarta di utara.

Sejarawan sekaligus penulis buku sejarah Jakarta Jj Rizal mengatakan awal peradaban Jakarta berada di Sungai Ciliwung, sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Jakarta yang kini menuju kota megapolitan berawal dari sebuah bandar atau pelabuhan kecil di muara Sungai Ciliwung pada jaman kerajaan Hindu-Tarumanagara pada abad kelima Masehi. “Ya, sepanjang daerah aliran Ciliwung itu tempat tertua, ditemukan banyak peninggalan pra sejarah,” tuturnya.

Namun, menurutnya prasasti tersebut baru ada di masa sejarah, sedangkan banyak peninggalan di aliran Ciliwung yang sudah ada sejak zaman prasejarah. “Ga ada prasasti di aliran Ciliwung sebab itu zaman prasejarah.

Bukti yang paling banyak adalah penemuan kapak perimbas di sepanjang Ciliwung,” tuturnya. Namun jika ditelusuri, aliran Sungai Ciliwung kini sudah berbeda dengan zaman prasejarah tersebut, karena sempat adanya banyak perubahan di masa kolonial Hindia Belanda.

Tepatnya pada abad 17, dibawah Gubernur Jendral Ja Pieterszoon Coen. Dalam buku Membenahi Tata Air Jabodetabek, karya AR Soehoed, kala itu Batavia mengalami kekeringan di musim kemarau, karena beban hidrolis yang tidak dapat dipikul Sungai Ciliwung.

Alhasil, Hindia Belanda mulai membuka-tutup kanal-kanal yang ada, juga membuat sodetan-sodetan aliran, memindahkan aliran, membuat tanggul-tanggul, tetapi dengan tergesa-gesa.

Asal Muasal Sungai Ciliwung

Sejarah Ciliwung, sumber air minum yang kini jadi tempat sampah |  merdeka.com

Sungai atau kali, menurut orang Betawi ini, bermula dari berbagai sumber mata air yang terdapat di Mega Mendung, ketika itu masuk wilayah keresidenan Buitenzorg (Bogor). Mata air yang membentuk sebuah dasar sungai itu bergerak ke arah utara ke wilayah yang dulu disebut Djakarta, yang di kemudian hari meninggalkan sejumlah genangan lumpur, kanal, dan parit.

Sebagai akibat letusan Gunung Salak pada 4-5 November 1699, sungai yang mengalir sepanjang wilayah Djakarta ini menjadi keruh, kotor dan rusak. Padahal di muara sungai Djakarta ini terdapat sejumlah pulau-pulau kecil. Panjang aliran sungai itu antara 40-50 mil (1 mil =1.609 kilometer).

Letusan Gunung Salak juga ikut mengubah aliran Sungai Ciliwung yang oleh penduduk lokal diartikan sebagai “sungai yang berbelok-belok”, dan tepi sungai tertimbun lumpur. Secara geografis kota Batavia sendiri pada dasarnya terletak di bagian timur muara Sungai Ciliwung yang berbelok-belok.

Pemerintah Hindia-Belanda mencoba untuk membersihkan Sungai Ciliwung, yang di sepanjang 1730-1750 menyebabkan reputasi kota Batavia di masa kekuasaan VOC dari julukan “Ratu dari Timur” (Koningin van het Oosten) berubah menjadi “Kuburan di Timur”. Namun usaha menanggulangi kondisi lingkungan sungai yang buruk itu tidak berhasil mengembalikan reputasi lama kota Batavia.

Ketika tembok kota Batavia selesai dibangun pada 1650, pemerintah VOC sudah mulai dibuat repot untuk menangani masalah kebersihan sekaligus kesehatan kota. Ini berkaitan dengan Sungai Ciliwung dengan anak-anak sungainya yang lebih dikenal dengan sebutan sodetan Kali Ciliwung, menjadi tempat pembuangan sampah.

Berbagai usaha, termasuk mengeluarkan sejumlah peraturan, adalah bagian dari program dan perencanaan pemerintah kota untuk menangani masalah lingkungan hidup di perkotaan Batavia waktu itu. Gambaran lebih lengkap tentang hal ini diuraikan dalam subbab tulisan berkaitan dengan soal lingkungan.

Berkaitan dengan pembangunan dan perluasan kota, ternyata Batavia maupun Jakarta berkembang mengikuti arus aliran Ciliwung. Pertumbuhan kota mengarah ke bagian selatan di abad ke-19 dan dasawarsa pertama abad ke-20, sampai ke Gambir, Meester (Jatinegara), dan Pasar Minggu.

Pada 1632 Ciliwung dalam wilayah tembok kota (Intramuros) diluruskan menjadi Kali Besar. Di sepanjang sisi sungai itu menjadi lokasi rumah-rumah tinggal penduduk bangsa Eropa. Sementara itu, letusan Gunung Salak pada 1699 menyebabkan garis pantai menjorok hingga 75 meter, disamping menyebabkan Ciliwung menjadi dangkal.

Pemerintah kolonial mencatat bahwa di Kali Angke dan Ancol perahu-perahu bisa ditambatkan di bagian sungai yang dangkal. Tetapi di Ciliwung, hanya pada waktu pasang naik (pasang besar) perahu-perahu penduduk dapat menyusur sungai hingga ke tempat-tempat permukiman. Kota Batavia sendiri dibangun dengan bentuk empat sisi dikelilingi oleh sebuah parit besar yang dibentuk oleh Sungai Ciliwung.

Karena itu pada keempat sisi tembok kota, ada empat gerbang. Yang ke arah selatan menuju Molenvliet (sekarang Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk) dibangun pada 1631; yang ke arah timur dibangun pada 1636 (Rotterdammerpoort, sekarang Jalan Cengkeh), ke arah barat dibangun pada 1651 (Utrechtsepoort, sekarang Jalan Kopi), dan yang ke arah tenggara dibangun pada 1657 yang kita kenal sebagai Pintu Kecil.

Sejak 1657 pemerintah kota mencoba meningkatkan aliran air sepanjang kanal Molenvliet untuk menggerakkan kincir, dan empat tahun kemudian (1661), kanal tersebut diberi nama Molenvliet (molen = kincir, vliet = sungai kecil).

Pada mulanya parit-parit (grachten) dibangun dengan maksud untuk mengalirkan air, walau kemudian menjadi sumber penyakit. Terlepas dari banyak anggapan yang mengatakan bahwa kota Batavia dibangun meniru kota-kota di Negeri Belanda dengan membangun sejumlah kanal atau parit.

Padahal alasan dasar pertimbangan yang sesungguhnya adalah keharusan untuk meninggikan dataran Batavia yang berawa-rawa dan mengisi dengan kubangan atau kolam yang diisi air. Menurut catatan, kolam-kolam itu kemudian malah menjadi tempat persembunyian buaya.

Di lapangan depan Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta) terdapat sebuah air mancur yang bersumber dari air Sungai Ciliwung di bagian hilir. Di tempat air mancur itu dibuat sejumlah keran sehingga warga dapat memperoleh air minum untuk keperluan sehari-hari. Ada pula yang menjual air minum itu kepada penduduk.

Dapat diduga tradisi menjual air minum dalam kaleng atau jerikan di masa sekarang ini bermula dari waktu itu. Namun sejak 1670 orang mulai mengambil air minum di luar tembok kota, yaitu di Pancoran dan Glodok. Ini jauh sebelum tahun 1733-1738 ketika Batavia diserang wabah penyakit, kolera, disentri, dan malaria. Pengetahuan dan kebiasaan memasak air minum dari kali sudah dimulai sejak 1700, bahkan mendatangkan air minum dalam kemasan dari Bogor, tahun 1773.

Sungai Ciliwung bak Venezia di Italia

Mengembalikan Ciliwung sebagai Sungai Terbersih di Dunia sebagaimana  Tercatat dalam Sejarah Halaman all - Kompasiana.com

Sungai Ciliwung dapat disusuri sampai ke tempat permukiman warga ketika ada pasang naik. Artinya sungai ini juga memberi fasilitas untuk angkutan orang dan barang. Walau menjelang akhir abad ke-17, pemerintah kolonial sudah mengkhawatirkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Ciliwung tidak akan lagi dapat dilayari oleh perahu dan sampan karena air sungai menjadi semakin dangkal.

Apalagi daerah sepanjang sungai biasanya juga menjadi daerah pertanian dan industri, untuk Batavia artinya perkebunan tebu dan pabrik gula. Pada akhir abad ke-17 itu, terdapat 16 kincir penggilingan gula di sepanjang Ciliwung. Di tepian Kali Sunter penggilingan gula ada 36 dan di Kali Pesanggrahan terdapat 26 penggilingan gula.

Pemilik perkebunan tebu juga membangun waduk dan pintu air yang airnya diambil dari sungai dan kali tersebut. Nantinya kerusakan lingkungan sungai juga turut disumbang oleh sisa-sisa dan sampah dari penggilingan gula dan perkebunan tebu.

Tercatat dalam sejarah, kapitan Cina di Batavia adalah inisiatif kapitan Cina ketiga, Phoa Bing Gam (Belanda menyebutnya, Bingam), yang mengajukan permohonan kepada pemerintah kota Batavia pada 1684, untuk menggali parit atau kanal sepanjang Molenvliet yang terletak di bagian selatan di luar tembok kota.

Tujuannya adalah agar dapat mengirim hasil produksi gula tanah perkebunan tebu miliknya dari daerah Tanah Abang ke pelabuhan. Parit digali sepanjang tiga kilometer dengan jalan di kedua sisi parit tersebut. Tepi barat sisi parit sekarang adalah Jalan Gajah Mada, dan pinggir timur menjadi Jalan Hayam Wuruk.

Ketika Molenvliet dibangun, daerah itu disambungkan dengan Ciliwung yang lalu melahirkan daerah Pancoran dari utara ke selatan hingga persimpangan Jalan Majapahit dan Jalan Juanda ataupun Jalan Veteran sekarang.

Tujuan awal membangun Molenvliet yang dikerjakan oleh kapitan Phoa Bing Gam sebagai kontraktor, adalah juga untuk memfasilitasi pengiriman kayu dan bambu bagi pembangunan kapal dan rumah-rumah di Intramuros. Kayu diambil dari hutan di daerah Tanah Abang dan sekitarnya. Kayu-kayu itu diambangkan di parit Molenvliet berjalan hingga ke bagian kota, tepatnya di muka pintu gerbang selatan, sekarang Jalan Pintu Besar Selatan.

Pada akhir abad ke-17, artinya sesudah selesai dibangun oleh Phoa Bing Gam, dan pada paruh abad ke-18, pengiriman gula ke pelabuhan biasa dikirim lewat parit Molenvliet. Kelak juga dibangun kincir pembuat bubuk mesiu di sepanjang Molenvliet. Di samping itu tercatat pula adanya kincir penggerak pembuatan tepung-terigu, pembuatan batu-bata, penggilingan, dan pembakaran kapur.

Sejak 1657 pemerintah kota mencoba meningkatkan aliran air sepanjang kanal Molenvliet untuk menggerakkan kincir, dan empat tahun kemudian (1661), kanal tersebut diberi nama Molenvliet (molen = kincir, vliet = sungai kecil). Sementara yang dikerjakan Phoa Bing Gam adalah menyambungkan Molenvliet hingga ke Pancoran dan membangun jalan di sisi kiri dan kanan kanal.

Sampai 1869 warga penduduk Batavia masih menggunakan kereta kuda melewati Molenvliet dalam perjalanan dari rumah mereka di bagian selatan menuju ke utara, bagian kota tempat kerja mereka. Di tahun 1882 trem uap diperkenalkan dengan jalur sepanjang Molenvliet dan trem listrik mulai beroperasi di tahun 1900.

Area di sepanjang Molenvliet yang terletak di luar tembok kota dianggap lebih sehat dan bersih. Maka perpindahan warga ke arah selatan mulai terlihat sejak 1740-an dalam usaha mereka menghindar dari wabah penyakit yang melanda Intramuros.

Dipelopori oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Wilhelm Baron von Imhoff, maka berbondong-bondonglah penduduk Eropa dan kaum berada lainnya untuk pindah ke wilayah Molenvliet yang kelak juga meluas hingga ke Weltevreden (sekarang sekitar Harmoni sampai ke Lapangan Banteng, Gambir).

Kemunculan rumah-rumah elit di sepanjang Molenvliet, salah satunya adalah yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Rienier de Klerck yang sekarang menjadi gedung Arsip Nasional RI, kelak juga melahirkan suatu kebiasaan baru yang dilakukan oleh warga yang berdiam di area sepanjang Molenvliet tersebut.

Dari sebuah gambar litograf karya Johannes Rach yang didapat Edisi Bonanza88. tampak kereta kuda melintas di muka rumah Rienier de Klerck yang terletak di muka Molenvliet West (Jalan Gajah Mada). Budak-budak sedang duduk bersantai di pinggir kali, seorang kuli Cina tampak memikul barang yang diduga adalah setumpuk buku, sementara seorang Cina lainnya berjalan lewat dengan payung mengembang.

Ternyata kanal-kanal itu tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi angkutan barang dari hulu (Ommelanden) ke hilir menuju pelabuhan. Tetapi juga kanal-kanal yang besar dan lebar seperti Molenvliet menjadi jalur pelesiran pada sore hari ketika udara lebih sejuk dan matahari tidak lagi terik.

Kebiasaan di Negeri Belanda menyusuri kota dengan sejumlah kanal yang dapat dilayari perahu, juga sungai Thames di London, di Italia, Jerman dan bagian Eropa lainnya, diteruskan oleh para elit pejabat VOC dan warga penduduk kota Batavia yang kaya raya. Mereka memiliki perahu berhias yang pada sore hari digunakan sebagai kendaraan air untuk menyusuri kota. Plesir dan pamer gaya hidup masa kolonial.

Berita dari sebuah koran Peranakan Tionghoa, Pembrita Betawi, 12 Juni 1891 menyebutkan perlombaan perahu dalam perayaan Pehcun yang diadakan dari kali di sekitar Glodok menuju Kali Angke, merupakan pula bagian dari menjadikan kali sebagai fungsi keriaan. Sayangnya pada periode selanjutnya, air kali yang semakin dangkal menghentikan keriaan yang berkaitan dengan perayaan tradisional kaum peranakan Tionghoa di Batavia dan Jakarta sekarang ini.

Bagaimanapun kali di Batavia, Ciliwung, Kali Besar, Angke, dan Molenvliet serta sejumlah kali kecil lainnya, memiliki berbagai peranan dan fungsi bagi kehidupan warga penduduk kota. Akibat keteledoran dan perlakuan buruk manusia terhadap kali yang sebetulnya menghidupi warga di sekitarnya, maka epidemi yang membuat pusat pemerintahan kota Batavia ditinggalkan.

Perpindahan warga dan juga pusat kedudukan pemerintah kolonial berarti juga perkembangan kota lebih mengarah ke selatan. Pada awal abad ke-19 wilayah yang disebut sebagai Weltevreden, yang sekarang merupakan wilayah Jakarta Pusat, menjadi pusat pemerintahan sejak dari periode kolonial Hindia-Belanda, pendudukan Jepang, sampai Indonesia merdeka hingga sekarang ini.