Bagi yang sudah menonton film Parasite dari Korea Selatan (Korsel) tentu tahu ingat bagaimana satu keluarga di fim tersebut tinggal di apartemen semi-bawah tanah yang sempit dan gelap. Apartemen semacam ini dikenal warga lokal sebagai banjiha, dan ribuan orang tinggal di tempat tinggal semacam itu di ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari BBC Korea menemui beberapa warga lokal yang menempati banjiha dan mencari tahu seperti apa kehidupan di tempat tinggal mereka. Nyaris tidak ada sinar matahari di banjiha, tempat tinggal Oh kee-cheol.

Saking sedikitnya sinar matahari yang bisa masuk, bahkan tanaman mungil pun tidak bisa bertahan hidup. Pejalan kaki dapat mengintip isi apartemennya melalui jendela.

Anak remaja sering merokok di luar apartemennya, atau meludah ke tanah. Pada musim panas, Oh harus berjuang menghadapi kelembaban yang menyiksa dan jamur yang merajalela. Kamar mandi di dalam apartemen itu berukuran sangat kecil dan lebih tinggi setengah meter dari lantai rumah.

Langit-langit kamar mandinya juga rendah, sehingga Oh harus membuka lebar kedua kakinya supaya kepalanya tidak terbentur. “Saat pertama kali pindah ke apartemen ini, aku sering mendapat memar karena terbentur atau luka karena tergores tembok,” kata Oh, 31, yang bekerja di industri logistik. Tapi ia kini sudah terbiasa. “Saya sudah hapal di mana letak undakan dan lampu.”

Banjiha bukan hanya bagian dari arsitektur Seoul yang unik, tapi juga produk sejarah. Ruangan sempit ini bermula dari puluhan tahun lampau, di kala konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara sedang panas. Pada 1968, komando Korea Utara menyusup ke Seoul dalam misi membunuh presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee.

Misi tersebut gagal, tapi ketegangan antara kedua negara tidak surut. Di tahun yang sama, Korea Utara juga menyerang dan menangkap kapal mata-mata Amerika Serikat, USS Pueblo. Agen bersenjata Korea Utara menyusup ke Korea Selatan dan terjadilah beberapa insiden teror.

Khawatir akan ada eskalasi, pemerintah Korea Selatan pada 1970 memperbarui aturan terkait gedung dan menuntut semua gedung tinggi yang baru dibangun untuk melengkapi strukturnya dengan ruangan bawah tanah yang dapat digunakan sebagai bunker tempat berlindung dalam situasi darurat.

Dampak Konflik Semenanjung Korea

Seoul Government Initiates Grant Program to Fix Apartments Like Those  Depicted In Parasite | Architectural Digest

Banjiha juga memiliki sejarah panjang. Tempat kecil di bawah tanah ini ternyata merupakan produk dari konflik antara Korea Utara dan Selatan. Pada tahun 1968 silam, Korea Utara sempat menyusup ke dalam Seoul dalam rangka membunuh presiden Korea Selatan, Park Chung-hee.

Walau serangan tersebut gagal, banyak krisis dan insiden terorisme lainnya terjadi. Demi alasan keamanan, pemerintah Korea Selatan pun meminta agar gedung apartemen dilengkapi dengan ruang bawah tanah sebagai bunker.

Konflik Korea pada dasarnya merupakan perjuangan antara kedua bagian dari negara yang terpecah. Sebelumnya Korea Selatan dan Korea Utara pernah berada dalam sebuah kondisi dimana menjadi satu kesatuan dalam sebuah negara, yaitu dari zaman Dangun sampai masa Kerajaan (silla, koryo, dan Chosun).

Setelah Korea merdeka tahun 1945, pasukan Amerika Serikat dan pasukan Uni Soviet mendirikan pemerintahan militer di masing-masing wilayah yang terpisah ini, yaitu Amerika diwilayah selatan dan Uni Soviet diwilayah Utara sehingga memicu perpecahan di Semenanjung Korea.

Pada bulan November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), menyepakati sebuah resolusi yang meminta diadakannya pemilihan umum di Semenanjung Korea dibawah pengawasan sebuah komisi PBB.

Pada tahun 1945 Korea terpecah menjadi dua pemerintahan dengan sistem pemerintahan yang berbeda pula. Korea Selatan muncul dengan mengusung format sistem pemerintahan demokrasi dan kapitalisme, sementara Korea Utara atas dukungan Uni Soviet, menganut pemerintahan Komunis.

Pecahnya Korea menjadi dua wilayah ini dipengaruhi faktor eksternal yang menjadi salah satu factor yang mengawali lahirnya Perang Dingin, yaitu rivalitas antara Amerika Serikat (US) dan Uni Soviet (USSR).

Rivalitas dua Negara besar (Bipolar Great Power) tidak hanya terlihat di Eropa ketika Jerman pecah menajdi dua; Jerman Barat dan Jerman Timur, namun juga berdampak di Asia Timur yaitu pemisahan Korea Utara dan Korea Selatan. Korea Utara yang mendapat pengaruh besar dari kekuasaan komunis USSR dan Korea Selatan yang mendapat pengaruh dari blok Liberalis Barat.

Ketika Perang Dingin berakhir yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin (Jerman) pada tahun 1989 telah menunjukan berakhirnya pula rivalitas ideologis antara US dan USSR di daratan Eropa, tetapi gejala tersebut tidak sampai pada kawasan Asia Timur, tepatnya di Semenanjung Korea, dimana berakhirnya Perang Dingin tidak mengakhiri perpecahan di Semenanjung Korea, antara Korea Selatan dan Korea Utara tidak menunjukan gejala untuk menjadi Negara Korea yang bersatu seperti yang terjadi di Jerman.

Sampai penelitian ini dilakukan Korea Selatan dan Korea Utara masih bertahan dengan system pemerintahan dan ideologi negara yang sungguh bertolak belakang yang merupakan warisan dari perang dingin. Korea Utara masih bertahan dengan system pemerintahan komunis dan Korea Selatan telah berkembang menjadi Negara liberal demokratis dengan system ekonomi liberal kapitalis dan masuk dalam kategori New Indutrial Coutries (NICs).

Sebelum munculnya film Parasite, jarang ada film-film Korea yang menggambarkan kehidupan masyarakat menengah dan miskin yang tinggal di banjiha. Parasite membuka mata dunia lebih lebar terhadap gambaran lebih utuh Korea sebagai negara kaya. Di balik beragam bidang industri yang gemerlapan, banyak kehidupan sulit masyarakat kelas proletar yang tersembunyi di baliknya.

“Tempat tinggal seperti (banjiha) di film itu sangat serupa dengan psikologi protagonis kita. Kita menjadi negara kaya dengan sangat cepat. Dan orang-orang yang tak mampu mengejar ketertinggalan, akan merasa tersesat. Dan mereka merasakan inferioritas. Masalah ekonomi bukan sekadar angka. Namun juga tentang emosi yang besar,” tutur Bong Joon-ho.

Gedung-gedung apartemen di Korea dibangun sebagai pengganti permukiman tapak yang banyak hancur usai Perang Korea (1950-1953). Utamanya di kota-kota besar seperti Seoul dan Busan seiring Korsel membangun perekonomiannya berbasis industri yang tentu mengundang urbanisasi.

“Ekonomi Korea (Selatan) mulai tumbuh sejak awal 1960-an dan telah bertransformasi dari masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri. Blok-blok apartemen di kota-kota dan kompleks-kompleks industri juga mulai dibangun,” ungkap Damian Harper dkk dalam Lonely Planet Korea.

Kompleks-kompleks apartemen itu mulai dibangun pada 1961. Pemerintahan militer saat itu memercayakan pembangunannya kepada Korea National Housing Corporation. Kompleks apartemen yang dibangun adalah Mapo Apartments, yang dibangun di atas lahan bekas kompleks penjara.

“Lalu dilanjutkan dengan Kompleks Apartemen Hangang di Ichondong, Seoul yang merepresentasikan desain terbaru untuk gedung apartemen. Desainnya kemudian ditiru untuk gedung-gedung apartemen lain di Distrik Banpo, Yeongdong, dan Jamsil pada 1970,” tulis Jung In-ha dalam Architecture and Urbanism in Modern Korea.

Di tengah pembangunan itu, Korsel tetap dihantui konflik dengan saudaranya dari utara (Korut). Utamanya pada 1968, saat banyak infiltran militer Korut yang berupaya membunuh Presiden Korsel Park Chung-hee.

Potensi eskalasi konflik bersenjata kian terasa kala kapal AL Amerika Serikat USS Pueblo ditangkap militer Korut pada 22 Januari 1968. Di tahun itu juga sekelompok infiltran militer Korut menyatroni Blue House (Istana Kepresidenan Korsel) untuk membunuh Presiden Park, namun gagal.

Sebagai langkah preventif untuk melindungi warganya jika terjadi perang lagi, pada 1970 pemerintah Korsel mengeluarkan kebijakan agar setiap gedung apartemen yang dibangun harus mempunyai ruang bawah tanah sebagai bunker darurat saat terjadi serangan bom maupun nuklir dari utara.

“Dalam satu komplek apartemen terdiri dari tiga gedung yang memiliki tangga eksterior, sebuah ruangan semi bawah tanah dan pilotis (dinding penopang beton bertulang, red.), sesuai kebijakan pemerintah tentang bangunan permukiman yang punya batasan jumlah lantai. Pembangunan ruang semi bawah tanah paling disukai pengembang karena tak terhitung dalam batasan lantai yang ditetapkan pemerintah,” lanjut In-ha.

Mulanya, pemerintah melarang setiap pengembang maupun pemilik apartemen menyewakan atau menjual banjiha itu lantaran diperuntukkan khusus untuk situasi darurat. Namun tingginya kebutuhan permukiman akibat kebutnya laju industri dan perekonomian Korsel pada 1980-an membuat pemerintah melegalkan praktik jual-beli atau sewa banjiha untuk hunian.

Kemiskinan di Negara Maju seperti Korsel

For Seoul's Poor, Class Strife in 'Parasite' Is Daily Reality - The New  York Times

Fakta yang tak terbantahkan yaitu, film-film KDrama hanyalah cuplikan dari sejumput fakta tentang kehidupan di Korea Selatan.

Sama seperti di negara-negara Asia kebanyakan, kehidupan di Korea Selatan pun mempunyai jurang perbedaan yang sangat menjulang. Tak semuanya hidup beruntung, bahagia, tinggal di rumah megah dan mewah.

Sebagian dari warga Korea Selatan yang kurang beruntung harus bergelut dengan getir pahit kehidupan yang cukup menyengsarakan. Tak jarang keadaan yang miris membuat kesehatan warganya yang juga terganggu.

Selain itu Korsel juga negara yang mengacuhkan para lansia. Korsel adalah negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi ke-10 di dunia. Kondisi ini diperparah dengan depresi pada manula yang memicu naiknya angka bunuh diri: dari 35/100 ribu [tahun 2000], menjadi 82/100 ribu [tahun 2010].

Studi yang terbit dalam Journal of Mental Health (2014) memaparkan, para manula seringkali merasa tertekan karena ekonomi, penyakit yang mereka derita, dan stres akibat kondisi fisiknya sudah terbatas.

“Sekitar 45,7 persen manula di Korsel hidup miskin, jauh di atas standar ideal sebesar 12,9 persen,” tulis sebuah laporan Survei Ekonomi Korea (Juni 2018, hal 5).

Data yang dilansir Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sebuah organisasi dunia dengan anggota negara-negara penganut ekonomi pasar bebas, malah menunjukkan angka yang lebih tinggi: sekitar 48,6 persen orang Korsel berusia lebih dari 65 tahun berada dalam garis kemiskinan.

Jumlah tersebut adalah rekor tertinggi di antara 34 negara OECD. Kemiskinan juga memaksa para perempuan manula di sana menghabiskan tahun-tahun senja mereka dengan menjadi Bacchus Lady, sebutan bagi profesi manula sebagai pekerja seks komersial.

“Dari 56 kasus pelacuran sekitar Jongmyo Park, 28 kasus adalah Bacchus Lady berusia 60-an dan 7 kasus berusia 70-an,” ungkap laporan statistik kasus Kantor Polisi Hyehwa, masih dari laman yang sama.

Dari sekitar 200 PSK di distrik Jongno, sekitar 15 persennya adalah Bachus Lady berusia 70-an tahun. Mereka biasanya beroperasi mulai dari jam satu siang hingga sore hari. Sementara untuk lokasi esek-eseknya, mereka biasa menuju sejumlah motel di gang-gang sempit di belakang taman. Harga sewanya murah belaka: 5 ribu won (setara Rp59 ribu).

Kendati menjajakan jasa prostitusi, namun tak semua pelanggan Bacchus Lady meminta layanan seksual. Kebanyakan dari mereka “hanya” diminta mandi di motel, berbaring sambil berpegangan tangan, lalu tidur siang sambil pelukan.

Sementara untuk kalangan kakek-kakek yang sering berkunjung ke taman seperti dalam komunitas Kim, biasanya relasi mereka dengan para Bacchus Lady lebih mirip interaksi dua manula kesepian yang saling membutuhkan.