Fetish, keberadaannya lekat dalam kegiatan seksual manusia. Sejatinya wajar sekali jika kamu atau orang lain memiliki fetish ketika menanggapi hal-hal berbau seksual.

Namun jangan terlalu mudah terbuai akan rayuan kenikmatan fetish. Jika tak paham dan salah kaprah, fetish yang seharusnya menambah kenikmatan kegiatan seksual, malah menjadi sebuah tindakan menyimpang, bahkan melanggar hukum.

Kata fetish berasal dari bahasa Portugal, “feitico”, dengan makna pesona yang obsesif. Arti sederhananya, fetish merupakan sikap seseorang yang cenderung atau selalu mengalami rangsangan nafsu birahi terhadap hal-hal selain bagian tubuh seksual. Maksud bagian tubuh seksual adalah payudara serta alat kelamin.

Berkaca dari makna tersebut, kamu pun dapat dengan mudah menilai dirimu sendiri, “Apakah saya termasuk orang yang mempunyai fetish dalam kegiatan seksual?”. Jika kamu kerap terangsang secara nafsu birahi ketika melihat hal-hal selain bagian tubuh seksual, kemungkinan ada fetish tertentu yang ada di diri kamu.

Wujud fetish pun ada banyak sekali ragam serta jenisnya. Paling umum, fetish terbagi menjadi dua, fetish kepada bagian tubuh non-seksual dan fetish kepada benda-benda mati.

Jenis fetish yang menyangkut bagian tubuh non-seksual, biasanya mengarah ke area ketiak, leher, kaki, atau bokong. Sementara ragam fetish yang perihal benda-benda mati lebih sulit didefinisikan, karena tiap individu mengalaminya secara berbeda.

Lalu, mana fetish yang dikatakan menyimpang dan mana yang tidak? Secara garis besar, menurut pemaparan Zoya Amirin, seorang seksolog profesional, jenis fetish yang muncul rangsangan terhadap benda-benda mati pada dasarnya bentuk penyimpangan seksual.

Pendapat Zoya Amirin jelas tidak sembarangan, sebab dirinya sudah dibekali ilmu memadahi. Terlebih, Zoya Amirin mengacu kepada standar yang dicetuskan DSM atau Diagnostic and Statisical Manual of Mental Disorders, sehingga terbukti sah kebenarannya secara ilmiah.

“Sebenarnya fetish kepada benda-benda mati adalah perilaku seksual menyimpang menurut DSM (Diagnostic and Statistical Manual),” kata Zoya seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari Kompas.com.

Fetish dan Penyimpangan Seksual

Mendalami Fetish Disorder dan Bagaimana Seseorang Bisa Mengalaminya

Sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan fetish dan penyimpangannya, mari tengok standar normal seseorang di ranah seksual.

Kegiatan seksual yang murni sekaligus bersih dari unsur penyimpangan, penerapannya hanya menggunakan bagian-bagian tubuh seksual guna mendapatkan rangsangan. Selebihnya, termasuk fetish, tentu ada potensi penyimpangan di dalamnya.

“Yang disebut tidak menyimpang dari seks ya ‘silaturahmi kelamin’, tanpa dia harus pakai hal-hal atau benda-benda lain yang tidak ada hubungannya dengan hubungan seksual ini,” penjelasan Zoya.

Walau fetish keberadaannya kadang diselimuti oleh potensi penyimpangan, masih ada situasi serta batas-batas yang dapat mewajarkannya.

Fetish yang masuk kategori dapat dimaklumi adalah ketika seseorang tetap dapat melakukan kegiatan seksual, atau sama sekali tak masalah berhubungan seks tanpa ada fetish yang disukainya. Orang dalam tahap ini gairahnya akan meningkat dan lebih senang apabila kegiatan seksualnya dihiasi fetish idamannya.

Sedangkan kondisi yang lain adalah seseorang yang sudah teramat ketergantungan terhadap fetish setiap kali hendak melakukan kegiatan seksual. Orang dengan tahap fetish parah demikian, biasanya kesulitan atau sama sekali tidak bisa terangsang jika kegiatan seksual dilakukan tanpa dihiasi fetish kesukaannya. Hasrat seksual pengidap fetish parah hanya bisa terpenuhi oleh fetish-nya sendiri, bukan melalui ‘pertemuan’ alat kelamin.

Masalah serius muncul kalau seseorang sudah menyentuh tahap parah tadi. Obsesi yang berlebih seakan menjadikan fetish sebagai satu-satunya faktor pemuas hasrat seksual. Jika sudah begini, bisa-bisa muncul gangguan kronis terkait fungsi seksual, menjalar ke ranah sosial, hingga dinyatakan fetish disorder.

Namun, melabelkan seseorang mengidap fetish disorder atau tidak, juga harus dilakukan secara hati-hati. Menurut Asosiasi Psikiater Amerika, diagnosa fetish disorder hanya diberikan kepada orang-orang yang rutinitasnya, kehidupannya di lingkungan sekitar, mulai terganggu akibat kecanduan fetish.

Artinya, bila tak ada tekanan pribadi yang muncul disertai pelaporan masalah klinis, pihak profesional mustahil menjatuhkan diagnosa fetish disorder.

Sebenarnya ada beberapa indikator yang bisa dipakai untuk pengecekan dini apakah sebuah fetish tergolong fetish disorder atau bukan. Indikatornya kurang lebih seperti ini:

– Pengidap fetish disorder dapat dicek dari kegiatan seksualnya dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Alarm bahaya muncul apabila selama rentang enam bulan, seseorang tak bisa berhenti dan terus-terusan mengalami rangsangan seksual yang pemicunya berasal dari benda-benda mati ataupun bagian tubuh non-seksual.

– Indikator kedua adalah seseorang yang sudah merasa amat kesulitan menjalani kehidupan sosial maupun rutinitas secara normal. Faktor utama terciptanya kesulitan tentu dipengaruhi oleh keinginan memuaskan fantasi fetish yang dimilikinya.

– Indikator yang ketiga sejatinya berkaitan dengan indikator pertama. Bedanya, fokus indikator ketiga ini mengarah ke fetish seksual terhadap benda-benda mati. Jika rangsangan hanya bisa tercipta melalui fetish benda-benda mati yang tidak berkaitan dengan bagian tubuh seksual, seperti bra dan celana dalam, alarm bahaya akan fetish disorder patut dibunyikan.

Fakta mencengangkan lain yang masih berkaitan soal fetish disorder ialah gender pengidapnya. Masalah fetish disorder ternyata lebih sering mendera kaum laki-laki ketimbang perempuan. Bahkan gejala fetish disorder yang diperlihatkan laki-laki cenderung mudah terlihat dan terendus oleh orang-orang di sekitarnya.

Siapapun pengidapnya, fetish disorder aslinya bisa ditangani secara klinis. Penjelasan mengenai cara-cara penangangan fetish disorder bakal kami jabarkan nanti. Kami ingin lebih dulu merangkum apa saja bahayanya kalau seseorang pengidap fetish disorder tidak mendapat penanganan tepat.

Pengidap fetish disorder sangat mungkin mengeluarkan sikap-sikap memaksa yang tujuannya untuk memenuhi hasrat seksual. Ia akan tak segan melakukan apa saja asalkan kebutuhan fetish menyimpang yang dimilikinya terpenuhi.

Ambil contoh seseorang pengidap fetish disorder yang rasangannya berasal dari benda-benda mati. Demi memuaskan fetish dirinya, orang itu bukan mustahil sampai melakukan tindak pencurian. Dia bisa saja mengambil paksa objek yang menurutnya dapat merangsang hasrat seksualnya.

Kalau sudah mengeluarkan sisi-sisi memaksanya dan kepuasan fetish tetap tidak dapat terpenuhi, rasa frustasi berlebihan-lah yang akan muncul. Frustasi berpotensi meningkat menjadi depresi dan muncul pikiran-pikiran negatif seperti bunuh diri.

Bahaya lainnya, fetish disorder dapat merusak keharmonisan hubungan si pengidap dengan pasangannya. Si pengidap lebih mengutamakan kehadiran fetish yang disukai, ketimbang peran sang pasangan sebagai faktor pemuas hasrat seksual.

Jika sudah terlanjur demikian, pihak pasangan jelas lama-kelamaan makin tak mendapat perhatian cukup. Hubungan romansa yang terbina pun keharmonisannya otomatis hancur berantakan.

Dampak buruk paling parah kami jabarkan terakhir, yakni potensi si pengidap fetish disorder untuk mengganggu kenyamanan dan keamanan orang-orang lain di sekitarnya. Sebenarnya dampak yang ini berkaitan dengan dua bahaya sebelumnya.

Pengidap fetish disorder punya kecenderungan sikap memaksa. Dia bukan mustahil memaksa orang lain agar mau menjadi partner yang memuaskan hasrat fetish-nya.

Bila orang lain yang diajak juga bersedia sejatinya tidak masalah. Namun kebanyakan kasus yang muncul, keinginan pengidap fetish disorder biasanya mendapatkan tentangan dari orang lain. Paksaan yang kemungkinan disertai tindakan kriminal pun langsung dilakukan si pengidap fetish disorder.

Akar Permasalahan Fetish Disorder

Ramai "Gilang Bungkus", Apakah Fetish Berbahaya dan Bisa Dikenali? Halaman  all - Kompas.com

Seseorang pengidap fetish disorder tidak mengalaminya secara tiba-tiba. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi si pengidap, sehingga fetish disorder tersebut kemudian mendera dirinya.

Banyak ahli berpendapat kalau fetish disorder akar permasalahannya disebabkan oleh pengalaman buruk di masa kecil. Tidak usah langsung ke timbulnya fetish disorder, fetish yang dapat dimaklumi saja juga muncul lantaran faktor serupa.

Lalu, kenangan buruk masa kecil yang seperti apa? Sekali lagi kami tekankan, ada banyak sekali kemungkinannya. Namun kami akan coba mengerucutkannya berdasarkan kasus-kasus fetish disorder yang sering terjadi.

Pertama, ada pengaruh dari paparan konten-konten pornografi. Belum tahu apa-apa, anak kecil akan dengan polosnya membuka konten pornografi.

Mereka awalnya hanya tidak sengaja atau coba-coba. Namun suatu waktu mereka sempat melihat adegan seksual yang ternyata memicu ketagihan.

Konsep ketagihannya bakal terus dipertahankan si anak sampai dirinya tumbuh dewasa. Jika sudah begitu, fetish yang didapat dari konten pornografi akan terus ada.

Kedua, fetish yang menyimpang timbul akibat kebiasaan tabunya pendidikan seksual. Seorang anak ketika tumbuh dewasa bakal mendapatkan banyak sekali informasi tentang seksual dari lingkungan sekitarnya. Anak yang tak memiliki bekal pendidikan seksual, tentu sembarangan menerima informasi-informasi seksual tadi.

Beruntung kalau informasi yang masuk bukanlah kegiatan seksual menyimpang. Namun bagaimana bila yang terjadi sebaliknya, fetish disorder bukan mustahil mendera si anak ketika nanti tumbuh dewasa.

Ketiga, fetish disorder bisa saja muncul dari sebuah ketidaksengajaan. Maksud ketidaksengajaannya begini: pengalaman seseorang ketika masih anak-anak yang tanpa sengaja mendapatkan rangsangan setelah melihat atau tersentuh objek tertentu.

Anak-anak tentu tidak mengerti pasti dan belum mendapat pengetahuan cukup mengenai rangsangan seksual yang diterimanya. Hal yang dia tahu hanyalah objek yang merangsangnya dapat membantunya meningkatkan kepuasan seksual.

Pedoman ini pun nantinya akan terus bertahan sampai dewasa bila tak mendapatkan arahan yang tepat. Apabila terlanjur demikian, fetish disorder pun akan muncul dengan sendirinya.

Keempat atau yang terakhir, kami khususkan untuk menjelaskan akar permasalahan dari premis, bahwa gender laki-laki jadi pihak yang lebih sering terserang fetish disorder.

Banyak pria di dunia yang sejak kecil hidup dengan prinsip patriarki. Pedoman seperti, pria tidak boleh cengeng, pria harus selalu kuat, harus tegas, membuat perasaan banyak laki-laki ketika masih kecil sulit tersalurkan dengan baik.

Begitu kesedihan dan kecemasan datang, pria yang tumbuh bersama prinsip patriarki sangat kental, harus mencari hal-hal lain supaya tetap merasa nyaman. Kondisi demikian kerap membuat perasaan yang tak tersalurkan menyumblim menjadi beragam gangguan perilaku maupun kejiwaan, termasuk fetish disorder.

Menangani Fetish Disorder

Ramai Fetish Kain Jarik, Psikiater Sebut Fetish Lebih Banyak Dialami Lelaki

Sekitar bulan Agustus tahun 2020, Indonesia sempat digemparkan dengan kasus yang berkaitan dengan fetish disorder. Kala itu viral kejadian pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Gilang.

Banyak pihak yang berpendapat bahwa Gilang mempunyai fetish saat membungkus orang lain menggunakan kain jarik. Tak heran jika kemudian muncul istilah yang seakan memberikan judul untuk kasus ini, yakni “Gilang Bungkus”.

Kasus Gilang Bungkus terkuak setelah salah satu korbannya membuat utas lewat media sosial Twitter. Sang korban menceritakan detail bagaimana perlakuan Gilang yang meminta dirinya supaya mau membungkus tubuh memakai kain jarik.

Gilang diceritakan meminta hal demikian demi kepentingan penelitian. Pihak korban awalnya sempat menolak, namun Gilang berulangkali mengeluarkan ucapan yang bernada paksaan.

Tindakan yang diperbuat Gilang memang sungguh mirip seperti ciri-ciri fetish disorder. Bahasa ilmiahnya, Gilang rasanya termasuk golongan paraphilia, seseorang yang punya fetish terhadap benda-benda mati.

Gilang hanyalah satu contoh dari kasus fetish disorder. Sejarah dunia telah mencatat banyak sekali kasus disorder, tak jarang yang sampai berujung perbuatan kriminal, seperti penculikan dan pembunuhan.

Data yang diihimpun Edisi Bonanza88, ragam fetish disorder yang telah terungkap pun ada banyak jenisnya. Paling terkenal seperti pedofilia (fetish rangsangan seksual terhadap anak kecil) dan exhibionist (fetish rangsangan seksual dengan memamerkan alat kelamin di tempat umum kepada orang lain).

Ada lagi jenis fetish disorder Agalmatophilia Mannequins, fetish yang rangsangannya dipicu boneka atau patung. Fetish Eproctophilia, fetish yang rangsangan seksualnya mencuat saat mencium bau kentut. Pokoknya masih ada banyak lagi jenis-jenis fetish disorder.

Orang-orang yang mengidap fetish disorder tentu harus mendapat penanganan khusus dari ahlinya. Si penderita dapat menjalani psikoterapi untuk mengurangi sekaligus menghilangkan fetish disorder-nya.

Psikoterapi berarti si penderita akan menjalani terapi dengan berbicara, meluapkan dan menceritakan hal-hal yang dialaminya. Umumnya ada tiga jenis psikoterapi yang dapat diberikan kepada penderita fetish disorder, yakni Cognitive behavioral therapy (CBT), Acceptance and commitment therapy (ACT), dan Psikoterapi psikodinamik.

Si penderita dapat pula dibantu menggunakan metode meminum obat-obatan tertentu. Paling umum yakni obat yang mempengaruhi perbaikan kinerja otak untuk meredakan fetish disorder-nya.

Segala penanganan nantinya diharapkan dapat membantu si penderita agar lebih handal memanfaatkan hormon medroxyprogesterone acetate dan cyproterone yang ada dalam tubuh. Kedua hormon tadi sangat berguna meredakan tingkat testostereon yang biasa memicu dorongan seksual.