Geliat kota daerah dengan sebutan Kota Serambi Mekkah ini bukan hanya terlihat dinamis di saat siang hari. Pada malam hari, daerah yang terletak di ujung Pulau Sumatera ini juga semarak menyugukan sensasi bagi mereka yang haus akan kehidupan malam.

Sensasinya pun berbeda, kalau biasanya dilakukan dengan berlawanan jenis, kini praktik syahwat dengan sesama jenis juga mulai merebak di daerah ini.

Ada wawancara secara khusus terhadap salah seorang waria yang berdomisili di salah satu daerah di Kabupaten Aceh Tamiang, kini dirinya mengelola salon kecantikan milik saudaranya dan di tempat itu pula ia melayani hasrat birahi para tamunya.

Sebut saja namanya Rindu (bukan nama yang sebenarnya) berusia 24 tahun, sejak dari kecil dirinya sudah memiliki orientasi untuk menjadi transgender dan malah suka berpenampilan seperti perempuan.

Sejak dari kecil pula dirinya tidak tertarik sama sekali kepada perempuan meskipun seorang lelaki tulen, tetapi ia lebih suka terhadap sesama lelaki dan kala itu orang tuanya pun tidak ikut berkomentar banyak terhadap perubahan orientasi seksualnya.

Penampilannya saat ini jangan Anda bayangkan seperti seorang lelaki biasanya, ia mampu merias diri seperti seorang perempuan dan malah juga melakukan suntik hormon agar payudaranya terlihat seperti perempuan.

Menurut pengakuannya, suntik hormon itu dilakukan oleh salah seorang bidang yang juga berdomisili di salah satu daerah di Kabupaten Aceh Tamiang, namun hanya saja suaranya masih sedikit terdengar seperti seorang laki-laki.

“Makanya abang datang ke salon nanti semua layanan, seperti pijat semua badan, hisap-hisap, jilat-jilat dan main belakang. Jadi kapan mau datangnya, biar dapat layanan full servis,” ujar Rindu sambil tersenyum, seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Untuk sekali bercinta dengannya, maka harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu dan biasanya orang yang menggunakan jasa syahwatnya adalah lelaki yang berusia 27 tahun hingga 35 tahun.

Baginya dalam melayani tamu harus profesional dan memberikan pelayanan yang terbaik, hal itu dilakukan agar setiap orang yang mencicipi tubuhnya agar tidak berpaling kepada waria lainnya.

Namun Rindu tidak sembarangan menerima tamu ia sangat memilih-milih juga, agar tidak terkena penyakit menular seksual atau penyakit yang berbahaya lainnya, serta satu lagi yang paling penting menurutnya, yaitu persoalan harga.

“Kalau mau begituan ya lihat-lihat jugalah orangnya, harus bersihkan supaya tidak terkena penyakit. Cuma masalah harga juga penting, kalau memang sudah cocok maka baru kita main,” tutur Rindu.

Dalam satu hari, dirinya cukup melayani satu orang tamu saja dan tidak ingin terlalu memaksakan diri untuk terus melakukan hubungan intim terhadap sesama pria.

Secara umum tamunya itu sudah menjadi pelanggan rutin dan hanya sesekali datang orang baru untuk mendapatkan layanan syahwatnya.

Rindu selalu melayani syahwat tamunya itu di salon, karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang paling aman dan nyaman, serta tidak dapat menarik perhatian dari masyarakat sekitarnya.

Sebagian yang datang ke salonnya itu memang untuk mempercantik diri dan Rindu juga membuka layanan pangkas bagi kalangan pria, sehingga saat melakukan perbuatan terlarang itu memang tidak menarik perhatian.

Dirinya juga tidak terlalu kaku kepada tamunya tentang persoalan menggunakan alat pengaman, karena ada sebagian tamu yang tidak ingin menggunakan kondom namun ada juga yang suka menggunakan alat kontrasepsi itu.

“Ini kan salon bang, bukan rumah janda, jadi aman kali disini dan nyaman, tidak perlu ragu. Lagian juga saya selalu melakukannya di salon dan banyak tamu yang datang ke salon. Pokoknya aman,” kata Rindu.

Keberadaan waria yang berprofesi ganda ini, memang sulit terlacak. Jaringan mereka tersusun rapi dan tersembunyi di balik tembok negeri berlebel Syariat Islam ini.

Dan memang tidak terlihat sama sekali di atas permukaan. Maka jangan heran, jika kasus HIV dan AIDS di provinsi berjulukan Serambi Mekkah ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Komunitas Gay Sebarkan Penyakit AIDS

Waria di Aceh Terjaring Operasi LGBT | KORAN NASIONAL

Komunitas gay atau homoseksual saat sekarang ini sangat berkembang pesat di Provinsi Aceh dan juga dinilai sebagai salah satu faktor penyumbang penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.

Direktur Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP) Khaidir, untuk wilayah Kota Langsa, Aceh, mengaku pihaknya sedang mendampingi lebih dari 300 orang yang orientasi seksualnya mengarah kepada homoseksual.

“Coba bayangkan untuk Kota Langsa saja, dalam satu bulan di ruang Care and Treatment terdapat 17 orang yang dirawat karena mengalam penyakit HIV/AIDS dan ini hanya di satu kota saja, bagaimana dengan kota lainnya,” ujar Khaidir.

Khaidir menambahkan, secara umum yang terkena penyakit mematikan itu, latang belakangnya adalah dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dan proses penularannya dengan berbagai faktor.

Hal yang harus dipikirkan bersama-sama adalah mengenai bagaimana cara memustuskan mata rantai penularan itu dan juga penting untuk dilakukan pendidikan seks sejak dini, terutama bagi yang masih remaja.

“Tidak ada tempat yang aman dari kekerasan seksual, maka pendidikan seks cukup penting dan semua elemen harus ikut turun tangan dalam mengupayakan tentang pendidikan LGBT dan bahkan LGBT di Aceh sudah mulai tumbuh sejak SMP,” tutur Khaidir.

Penyebab merebaknya virus itu, kata dia, karena dipengaruhi oleh trend dan kehidupan seksual masing-masing. Bahkan trend LGBT sangat mendominasi dalam penularan penyakit menular seksual di Aceh.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Yayasan Permata Aceh Peduli, maka jumlah kasus HIV/AIDS di Aceh sudah mencapai angka 1.000 lebih, terhitung sejak tahun 2004 hingga 2019.

Menurut Khaidir, kasus HIV/AIDS yang paling banyak ditemukan adalah di Kota Langsa, pihaknya melakukan pendampingan terhadap 85 orang pengidap HIV/AIDS di kota tersebut, kemudian di susul Kabupaten Aceh Utara, terdapat 35 kasus yang didampingi dan kemudian Kota Lhokseumawe terdapat 23 kasus yang didampingi.

“YPAP melihat bahwa HIV/AIDS banyak ditemukan pada komunitas LGBT, hal itu karena pergaulan yang teroganisir lebih rapi, sehingga sangat sulit untuk dilihat dan kini sudah menjadi tren,” kata khaidir.

Selain kasus HIV/AIDS, penyakit menular seksual lainnya yang paling banyak ditemukan adalah penyakit sifilis atau dikenal dengan sebutan raja singa, biasanya yang tertular penyakit itu adalah yang masih berusia produktif.

Masing-masing daerah yang sering ditemukan kasus penyakit sifilis tersebut yaitu, di Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara dan kabupaten Bener Meriah, sehingga Yayasan Permata Aceh Peduli selalu rutin memberikan pendampingan.

“Saat ini Kota Langsa memang sedang panen kasus, sangat banyak kasus yang ditemukan disini, baik untuk kasus HIV/AIDS maupun sifilis. Mereka banyak tertular adalah usia produktif, yaitu 15 hingga 35 tahun,” ungkapnya.

Dirinya berharap agar pemerintah harus berperan penting terhadap berbagai kasus-kasus tersebut dan juga harus membentuk komunikasi dengan lintas sektor, karena persoalan tersebut tidak bisa bekerja sendiri dan jangan dibiarkan.

Hal lain juga penting untuk diberikannya edukasi seks kepada kalangan remaja, sehingga mereka bisa lebih paham dan batasan-batasan mana saja yang tidak boleh dilanggar, serta tidak rentang terhadap penyakit menular seksual.

Prostitusi Waria Melonjak Setelah Corona

Waria di Aceh Gelar Kontes Kecantikan di Hermes Usai Keputusan di MK -  Media Mega Nusantara (MMGN)

Sebut saja namanya Jack (bukan sebagai nama yang sebenarnya), jangan anda bayangkan ia seperti laki-laki biasa. Meskipun berjenis kelamin laki-laki, ia berpenampilan seperti seorang wanita, berambut panjang dan hanya saja suaranya masih terdengar khas laki-laki.

Jack mengaku masih sering melayani para lelaki yang pencinta sesama jenis, meski sedang terjadi wabah corona tidak serta-merta membuat Jack goyah untuk berhenti melakukan hal itu.

Dalam sehari, biasanya ia melayani laki-laki pecinta sesama jenis itu bisa mencapai dua kali dan bisa saja lebih, tergantung ramai atau tidak orang yang menghubunginya untuk meminta “naik ke bulan” bersama.

“Ngapain harus takut, lagian aku sudah kenal semua mereka dan mereka itu kan langganan aku, maka aku nggak takut sama sekali untuk melakukan hubungan meskipun sedang terjadi corona,” ujar Jack

Apabila ingin melakukan hubungan intim bersama laki-laki, maka Jack akan melakukan di rumah temannya yang terletak di salah satu kecamatan di Kabupaten tersebut dan yang punya rumah merupakan orang yang berpengaruh.

Dengan begitu setiap tamu yang menikmati layanan syahwat Jack akan merasa aman dan tidak akan menarik perhatian orang sekitar, maka saat melakukan hubungan terlarang Jack merasa lebih nyaman.

“Di sini aman kali bang, apalagi yang punya rumah orang yang berpengaruh makanya aman-aman saja. Setiap tamu ku pun merasa nyaman dan tidak ada rasa was-was ketika sedang berhubungan,” tutur Jack.

Pada bulan April 2020, Yayasan Pertama Aceh Peduli (YPAP) menemukan dua orang mahasiswa yang terinfeksi Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Direktur Yayasan Permata Aceh Peduli Khaidir mengatakan, kedua mahasiswa tersebut berjenis kelamin laki-laki dan pecinta hubungan sesama jenis atau gay (homoseksual). Faktor terinfeksi AIDS, disebabkan karena melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis.

Kedua mahasiswa tersebut berasal dari Kota Langsa dan Kota Subulussalam, serta usianya masih sangat produktif. Kini lembaga itu terus memberikan pendampingan terhadap keduanya.

“Kedua mahasiswa ini memang gay dan itu kami temukan pada bulan April ini. Mengapa sampai mereka bisa terinfeksi AIDS, disebabkan karena melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis,” kata Khaidir.

Khaidir menambahkan berdasarkan hasil keterangan yang diperoleh dari mahasiswa yang berasal dari Kota Langsa, Aceh itu, maka dirinya sudah sangat banyak sekali melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis.

Untuk wilayah Provinsi Aceh secara umum, perkembangan kalangan homoseksual meningkat tajam, penyebaran paling tinggi terdapat di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Utara, Kota Langsa dan Kota Lhokseumawe.

Kalangan homoseksual tersebut merupakan tergolong dalam kategori “silent community”, sehingga keberadaannya sangat sulit dilacak. Kalangan gay itu terbagi dalam dua kategori, ada top dan bottom.

Untuk kategori gay bottom, maka ia memposisikan dirinya seperti wanita, hal ini yang lazim dilihat adalah kalangan waria. Begitu juga untuk kategori top, maka yang memposisikan dirinya sebagai laki-laki.

“Untuk kategori top ini keberadaannya sangat sulit untuk dilacak, karena sama dengan lelaki pada umumnya. Bahkan ada yang bekerja di bank, bekerja di PNS, serta sejumlah tempat lainnya,” tutur Khaidir.

Namun ada hal yang mengejutkan dari pengakuan Jack, bahwa dirinya juga selalu didatangi oleh tamu yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), yang meminta untuk memuaskan birahinya.

Baginya melayani laki-laki yang masih duduk dibangku SMA itu, memiliki sensasi tersendiri karena durasi berhubungan intim sangat lama, tidak seperti laki-laki yang sudah dewasa lainnya.

“Ada dua orang anak SMA yang menjadi langgananku, memang sih melayani anak SMA itu sensasinya beda, karena lebih lama durasinya saat melakukan hubungan seksual dan nikmat sekali,” kata Jack.

Kata Jack untuk sekali melakukan hubungan seksual dengannya, maka cukup membayar biaya sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, nantinya setiap tamu akan mendapatkan layanan yang full servis.

“Pokoknya mendapatakan layanan yang full servis lah agar setiap tamu menjadi puas dan juga bisa mendapatkan berbagai gaya, yang jelas tidak sampai kecewa lah. Aku tidak ingin buat tamu kecewa,” pungkas Jack.

Keberadaan waria yang berprofesi ganda ini memang sulit terlacak. Jaringan mereka tersusun rapi dan tersembunyi di balik tembok negeri berlebel Syariat Islam ini.

Dibina untuk Jadi Laki-Laki

Dibina Di Mapolres, Waria Salon Di Aceh Berubah Jadi Macho - Fokusatu

Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji, mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa razia atas para waria pada Sabtu malam (27/01) merupakan langkah ‘pembinaan’.

“Kita sudah bina, mereka bukan waria lagi. Mereka mengatakan pria yang keren,” tuturnya.

Dalam percakapan telepon, Senin (29/01) dengan wartawan BBC Indonesia, Pijar Anugerah, AKBP Untung menjelaskan para waria telah ‘kembali menjadi laki-laki tulen’ setelah menjalani pembinaan psikologis dan akidah dari ulama setempat.

Ketika diwawancara, Untung mengaku sedang di tengah-tengah kegiatan pembinaan tersebut dan menunjukkan kepada BBC ‘keberhasilan pembinaan’ versinya.

Ia bertanya kepada para peserta, “Kalian waria atau bukan?” dan dari latar belakang, terdengar jawaban pelan dan samar: “Tidak.”

Namun seorang pegiat HAM di Aceh -yang tak mau disebut namanya- mengatakan para waria sekarang dilanda ketakutan. “Sudah tujuh orang yang mengungsi ke Medan hari ini.”

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mengecam tindakan polisi di wilayah Aceh Utara yang melakukan penangkapan dan penahanan sejumlah waria, memangkas paksa rambut mereka, dan menutup salon tempat mereka bekerja.

Komisioner Pendidikan & Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menyebut tindakan itu merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan peraturan. “Semua warga negara harus mendapat perlindungan hak asasinya. Dan semua warga negara harus mendapat perlakuan yang sama,” kata Beka kepada BBC, Senin (29/01).

Beka mengatakan Komnas HAM akan meminta klarifikasi kepada Kapolda Aceh terkait peristiwa tersebut.

Sementara itu, seorang perwakilan komunitas transgender di Aceh mengaku dalam kondisi ketakutan setelah penggerebekan terbaru ini.

Kepolisian Aceh Utara dan Polisi Syariah Wilayatul Hisbah menangkap sejumlah waria dikawasan Lhoksukon dan Tanah Jambo Aye, pada Sabtu malam (27/01).

Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji mengatakan penangkapan tersebut dilakukan karena Pelaksanaan Operasi Pekat (penyakit masyarakat), dalam rangka penertiban waria yang disebutnya semakin meresahkan warga.

Sebanyak 12 orang waria ditangkap, dan lima salon yang mempekerjakan mereka juga sudah diberi garis polisi, seperti dilaporkan wartawan di Aceh, Hidayatullah.Untung Sangaji menyebut para transgender itu ‘diamankan,’ setelah polisi mendapat laporan ‘keresahan warga.’

Ia menambahkan polisi kemudian memotong paksa rambut para waria itu serta melepas semua pakaian perempuan yang mereka kenakan, untuk diganti dengan pakaian laki-laki.

“Mereka kita tahan selama tiga hari untuk diberikan pembinaan. Tadi malam saya lihat mereka semua mampu berprilaku dengan baik seperti laki-laki ‘normal,'” kata Untung Sangaji pula.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Munawar A Djalil, melalui saluran telpon mengatakan, hukum jinayat diterapkan hanya jika terjadi perbuatan maksiat, misalnya terbukti atas perbuatan homo seksual, lesbian, berjudi, mabuk-mabukan, berzina dan berduan dengan yang bukan muhrim.”Jika tidak terbukti atas tindakan tersebut, akan diberikan pembinaan agar terjauh dari perbuatan maksiat,” kata Kadis Syariat Islam, Munawar A Djalil.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menilai penangkapan yang dilakukan kepolisian Aceh Utara melanggar aturan internal kepolisian itu sendiri. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia no. 8 tahun 2009 mencantumkan tugas polisi untuk melindungi hak khusus kelompok minoritas, termasuk dalam hal orientasi seksual.

“Kalau dilihat dari foto-foto dan berbagai informasi yang ada jelas melanggar aturan Kapolri,” ujar Beka.

Kendati polisi mengklaim operasi yang mereka lakukan berawal dari keresahan warga, Beka menekankan bahwa selama tidak undang-undang yang dilanggar oleh sekelompok orang, tidak boleh ada perlakuan di luar hukum. “Dan seharusnya kan posisi kepolisian melindungi warga yang rentan,” ia menambahkan.

Namun Untung berdalih bahwa perlakuan terhadap para waria itu bisa dibenarkan, karena perilaku mereka bertentangan dengan Qanun Aceh. “Di sini Aceh, Serambi Mekah, tidak boleh ada begitu,” ujarnya.