Penjelasan etimologi kata hippie rasanya tidaklah cukup untuk memahami subkultur hippie. Subkultur hippie lahir dari latar belakang keadaan sejarah yang menyertainya.

Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana hippie lahir, diperlukan adanya penjelasan mengenai situasi Amerika Serikat pada saat itu, yakni di era pasca Perang Dunia II dan di era 1950an.

Kemenangan Sekutu di Perang Dunia II mengantarkan Amerika Serikat pada kemakmuran di bidang ekonomi. Kemenangan dalam perang memunculkan semangat antusias dalam pikiran rakyatnya.

Ditambah efek dari kebijakan “New Deal” dari presiden Franklin D. Roosevelt, industri swasta sepenuhnya berfokus pada tujuan sipil dan kemungkinan untuk kembali memasuki perdagangan Eropa sehingga mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Dilatarbelakangi oleh stabilitas ekonomi, tingkat pengangguran rendah dan aset pribadi yang berkembang, masyarakat bisa memiliki keluarga besar tanpa takut akan resiko untuk tidak mampu memberi makan anak-anaknya.

Tingkat kelahiran di tahun-tahun setelah perang sangatlah tinggi, generasi yang lahir di antara tahun 1945 dan sekitar 1957-1960 dikenal dengan istilah “Baby Boomers”. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan: sebuah rumah bagus di pinggiran kota,

Baby boomers adalah masyarakat Amerika Serikat yang lahir di antara tahun 1946 dan 1964. Periode pasca Perang Dunia II General Fertility Rate (GFR) di Amerika Serikat naik dari angka terendah pada tahun 1936 dari 75.8 per 1.000 anak perempuan usia subur ke angka 122.7 pada tahun 1957.

Dan kemudian jatuh lagi ke angka 65.0 pada tahun 1976. Semua ras, agama dan kelompok etnis turut berpartisipiasi dalam fenomena ini.

Jumlah kelahiran per tahun selama periode tersebut tumbuh dari 2.3 juta ke 4.3 juta dan kemudian jatuh ke 3.1 juta. Tidak ada konsensus pasti mengenai penyebab ledakan bayi ini.

Ilmuwan sosial menunjukkan adanya gabungan kompleks faktor ekonomi, sosial dan psikologis. Kegembiraan dan optimisme setelah perang ditambah kemakmuran ekonomi pasca perang tampaknya membuat pasangan muda merasa mampu dan bersedia untuk membesarkan anak-anaknya.

Keadaan di dalam situasi Perang Dingin menciptakan kultur politik Amerika Serikat menjadi radikal. Komunis atau seseorang yang secara politik dianggap terlalu “kiri” disingkirkan oleh institusi semacam FBI (Federal Bureau of Investigation), the House of Un-American Activities (HUAC) yang bertugas mengawasi orang-orang Amerika yang dicurigai memiliki hubungan dengan komunis.

Suasana panas seperti itu mengakibatkan setiap politisi, karyawan institusi atau lembaga pemerintahan yang dicurigai dapat kehilangan pekerjaannya begitu saja. Golongan Kiri yang disebut “Old Left” seperti Partai Komunis Amerika Serikat (CPSUA) atau partai sosial-demokratis yang lebih kecil harus meninggalkan panggung politik.

Para anggota Partai Demokrat sebagian besar pindah ke politik kanan karena menjadi bagian dari partai sayap kiri sangatlah berbahaya.

Selain situasi politik yang tidak menyenangkan, ada permasalahan lainnya yaitu permasalahan rasisme. Masyarakat kulit hitam menderita akibat penindasan ras, terutama di negara bagian selatan. Perlahan-lahan, oposisi terhadap keadaan ini mulai bangkit dan menyita perhatian publik.

Penduduk kulit hitam di Montgomery dan pendeta lokal Martin Luther King memboikot bus kota untuk memprotes penangkapan warga kulit hitam bernama Rosa Parks yang ditahan aparat hanya karena menolak untuk tidak duduk di kursi bus bagian belakang.

Kesuksesan dari aksi solidaritas semacam ini menginspirasi banyak orang di seluruh negeri terutama mahasiswa universitas. Pada saat itu pula lahir gerakan hak sipil, yang berjuang menuntut hak untuk setiap warga Amerika, tanpa membedakan warna kulitnya.

Pada tahun 1959, Student for a Democratic Society (SDS) terbentuk dan nantinya menjadi kelompok yang paling berpengaruh dalam mengorganisir demonstrasi dan protes.

Kelompok ini juga merupakan jantung dari gerakan kiri baru atau “New Left”: perkumpulan orang yang saling berbagi tentang nilai dan ide dari kedamaian, solidaritas, anti-militerisme, anti-kapitalisme dan anti-totaliterisme.

Anggota dari kelompok SDS adalah anak muda intelektual yang sebagian besar mempelajari ilmu sosial, politik, dan bertujuan untuk menanggung masa depan, namun gerakan kiri baru tidak mempunyai tempat di lingkungan politik, sehingga sangat jelas jika partai dengan kekuatan SDS tidak akan sukses.

Pada masa awal pergerakan, SDS fokus kepada aksi dan oposisi yang langsung dan non-parlementer seperti membantu menyebarkan pandangan mengenai Gerakan Hak Sipil di masyarakat, dan mencoba meningkatkan kondisi kelas sosial terbawah Amerika.

Lahirnya kaum hippie

hippie | History, Lifestyle, & Beliefs | Britannica

Lingkungan  politik  Amerika  di  era  1960  menginspirasi  banyak  remaja Amerika untuk bergabung dengan pemberontakan para hippie.

Gerakan hak sipil menunjukkan tenaganya, pemerintah Amerika telah mengirimkan seribu pasukan tentara ke Vietnam, dan gerakan anti nuklir telah terbentuk atas respon terhadap ketegangan Perang Dingin. Lingkungan budaya juga telah berubah.

Kesusasteraan beat telah masuk ke kampus dan universitas dan menginspirasi banyak pelajar generasi baru. Para DJ (disk jockey) di seluruh negara bagian turut andil dalam menyatukan budaya pop antar ras dengan memperkenalkan kepada masyarakat kulit putih kepada “musik ras”, dan folk revival akhir 1950an dipadu-padankan dengan doo-wop rock awal 1960.

Hippie semakin menyebar di sejumlah daerah, namun terdapat beberapa daerah yang merupakan pusat dari counterculture tersebut, yaitu Haight-Ashbury di San Fransisco, Greenwich Village di New York, dan Sunset Trip di Los Angeles, yang karena lokasi, sejarah, dan populasinya memiliki keunikan dan cocok menjadi pusat utama counterculture.

Daerah utama hippie dimulai dengan adanya masyarakat kelas pekerja dan memilki satu faktor kesamaan: harga properti yang terjangkau. Rumah murah menarik masyarakat dari bermacam populasi untuk tinggal, dan di era 1950an lingkungan hippie merupakan campuran dari masyarakat Afrika Amerika, kulit putih.

Hispanik, gay dan lesbian yang hidup dengan harmonis. Etnis dan budaya yang berbeda-beda di dalam satu lingkungan menciptakan lingkungan sosial yang progresif. Hanya yang nyaman untuk tinggal dengan gaya hidup alternatif yang dapat tinggal di sana.

Tahun 1965 adalah tahun ketika hippie banyak mengambil peran. Selama tahun ini banyak band-band esensial Amerika mulai terbentuk dan menjadi populer, ditambah ratusan band yang bermunculan dari berbagai kota di seluruh penjuru negeri.

Sebelum tahun 1965, budaya hippie barulah permulaan, lahir dari sisa kebudayaan beat dengan pengaruh mod Carnaby Street dan folk revival Greenwich Village. Setelah tahun 1965 tidak diragukan lagi bahwa hippie telah mendominasi dan San Fransisco menjadi pusat dari fenomena kebudayaan baru yang unik ini

Di Haight-Ashbury atau lebih dikenal dengan julukan “Hashbury”, beberapa penduduk baru setempat mendirikan “flophouse”, yang berfungsi sebagai tempat singgah bagi para penjelajah dan band-band yang sedang melakukan tour.

Rumah singgah yang paling terkenal terletak di 1090 Page Street dan 1836 Pine Street, karena sempat disinggahi oleh musisi ternama seperti Janis Joplin dan grup band The Grateful Dead.

Page Street dan Pine Street juga berfugsi sebagai tempat konser, aktivitas musik psychedelic rock dimulai dari sini hingga kemudian pindah ke arena konser yang lebih luas bernama Red Dog Saloon di Virginia City, Nevada.

Pada musim panas 1965 Virginia City menjadi surganya para hippie hingga musim panas berakhir dan ditutupnya Red Dog Saloon.

Pada tahun itu juga para hippie setempat membentuk Family Dog, sebuah organisasi komunal yang mengadakan acara semacam konser musik, diskusi keagamaan, dan berbagai macam kegiatan bertemakan hippie.

Di balik organisasi tersebut adalah para promotor bernama Chet Halmes, Luria Catell dan seniman Alton Kelley, yang memiliki andil besar di daerah Haight.

Sementara di Haight para hippie hanya sibuk berpesta, pada tahun 1966 The Diggers terbentuk. The Diggers adalah sebuah kelompok sosial politik yang berdedikasi atas ide untuk menciptakan revolusi budaya dan dikenal sebagai simbol politik hippie.

Tujuan The Diggers adalah menginspirasi para anak muda untuk menjadi para revolusioner sejati. The Diggers menolak moralitas dan legalitas tradisional.

The Diggers percaya dapat menciptakan masyarakat yang bebas dari konsumerisme dengan membagikan makanan gratis dan mendirikan toko gratis bagi para hippie untuk memenuhi kebutuhannya, namun pada akhirnya The Diggers tidak pernah mencapai tujuannya karena menyadari bahwa para hippie lebih tertarik untuk bersenang-senang dari pada berpartisipasi dalam revolusi sosial.

Virus Hippie terus menyebar

ᐈ Hippies girls stock photography, Royalty Free hippie girl photos | download on Depositphotos®

Budaya hippie terus menyebar, tidak hanya di San Fransisco, tetapi juga di New York yang terdapat banyak hippie. Mulai tahun 1966 seluruh hippie mulai berkumpul bersama dalam suatu acara. Berkat jasa para DJ radio dan pers alternatif para hippie dapat berkumpul bersama dengan jumlah ribuan orang.

Pertemuan besar diadakan pada 14 Januari 1967 di Golden Gate Park, San Fransisico, 20.000 hippie berkumpul sehingga diliput oleh media nasional dan menarik perhatian publik.

Beberapa para penggiat hippie mulai menyusun agenda yang lebih besar, hasilnya adalah diadakannya Monterey International Pop Festival pada 1967, konser musik di lapangan terbuka yang pertama dan terbesar. Setelah itu ada Summer of Love, ketika ada lebih dari 100.000 hippie dari penjuru negara bagian berkumpul di San Fransisco.

Jumlah hippie di Haight-Ashbury semakin bertambah banyak dan menimbulkan banyak masalah. Budaya hippie mulai terkomersialisasi, bahkan ada jasa perjalanan bis yang menawarkan paket perjalanan yang mengunjungi tempat berkumpul para hippie, dan ratusan toko hippie baru.

Atas masalah ini, pada bulan Oktober 1967 kelompok The Diggers meresponnya dengan melakukan mars yang berjudul “Death of the Hippie March” dan ditutupnya toko psychedelic pertama milik Ron Thelin. Bagi para The Diggers dan beberapa hippie setempat, mars tersebut merupakan akhir simbolik dari era keemasan hippie.

Gencarnya publisitas meningkatkan perhatian dari polisi dan pemerintah. Hippie mulai mendapat tekanan dari luar, para hippie sulit untuk mendapatkan tempat tinggal, pekerjaan dan keramahan di tempat tinggalnya. Di tahun 1968 sejumlah kelompok hippie Youth International Party (Yippies) dipimpin oleh Jerry Rubin bertempat di Central Park menarik massa dengan jumlah mendekati 30.000 orang melakukan protes dan menyebarkan pesan politik.

Yippies menggabungkan revolusi politik dan sindiran terhadap pemerintah, selain itu juga mempertemukan para hippie dengan para pelajar aktivis. Puncaknya pada agenda protes masif yang bernama “Youth Festival”, aparat keamanan menahan Rubin, Hoffman dan enam orang lainnya atas dugaan penghasut kerusuhan.

Meskipun para hippie yang sebenarnya telah berakhir di tahun 1967, hippie yang baru terus datang ke San Fransisco. Musik hippie menjadi musik utama, musisi seperti Janis Joplin, the Doors dan Jimi Hendrix merajai tangga lagu. Pada tahun 1969, konser musik legendaris Woodstock Music Art Fair menjadi momen penting dalam sejarah musik Amerika dan menjadi simbol utama dalam budaya hippie.

Tahun 1969 menjadi puncak utama dalam kebudayaan hippie, hingga pada tahun 1970 para hippie terguncang dengan kabar duka kematian para musisi. Janis Joplin dan Jimi Hendrix meninggal pada tahun itu, disusul oleh kematian Jim Morrison vokalis the Doors di tahun 1971, yang kematian para musisi tersebut diduga akibat penggunaan obat-obatan berat.

Kematian para musisi, bintang psychedelic rock dan simbol dari lingkungan musik West Coast ini juga mengubah budaya hippie. Obat-obatan berat semacam heroin dan kokain mulai menyebar ke daerah Haight-Ashbury, dan banyak para hippie idealis mulai meninggalkan tempat tersebut agar tidak tekena pengaruh buruk. Pada saat obat-obatan ini mulai menyebar banyak dari para hippie melanjutkan mimpinya di tempat lain, dan pada saat itu pula hippie-ism berakhir.

Budaya Hippies di Indonesia

LIFESTYLE: Hippies

Ketakutan akan budaya Hippies ini tercermin dari larangan rambut gondrong. Dalam narasi mengenai kekuasaan yang merasuk pada budaya, anak muda bisa dikatakan menjadi salah satu yang krusial, selain ruang gerak yang serba di batasi, nyatanya campur tangan penguasa juga masuk sampai pada gaya rambut.

Pada masa 60-an sampai 70-an muncul sebuah stigma yang mengatakan bahwa rambut gondrong merupakan cerminan para pelaku kriminalitas. Bukan lagi persoalan remeh temeh bahkan isu ini telah menjadi isu nasional.

Puncak dari isu ini adalah ketika Menhankam/Pangab mengirim radiogram No. SHK/1046/IX/73 kepada seluruh jajarannya pada 1973. Isinya, anggota ABRI dan karyawan sipil yang bekerja di lingkungan militer beserta keluarganya dilarang berambut gondrong. Lalu apa sebenarnya trigger dari ketakutan akan mereka yang berambut gondrong?

Aria Wiratma Yudhistira, dalam bukunya Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an, mengungkapkan bahwa pemicu dari ketakutan tersebut berawal dari budaya Hippies di Amerika.

Mayoritas pelaku budaya Hippies di Indonesia adalah kategori Plastic Hippies. Mereka meniru Hippies di Amerika hanya sebatas kulitnya saja. Banyak anak muda yang kemudian berambut gondrong, menggunakan busana longgar dan mencolok, bahkan sebagian dari mereka memakai narkotika dan melakukan seks bebas tanpa memahami apa yang menjadi nilai dasar dari perilaku ini.

Meskipun pengaruh budaya seperti ini hanyalah sebuah pengaruh budaya populer semata, namun dalam kacamata rezim Orde Baru saat itu, hal ini dianggap sebagai sebuah ancaman yang patut di tertibkan. Sebuah ketakutan, dan cara lain untuk mengkungkung ruang berekspresi anak muda kala itu.

Ekspres edisi 25 Januari 1971 menulis, para hippies perempuan kerap membuat masalah. Mereka, bila memerlukan uang, dengan gampangnya meminta ditiduri siapapun, demi mengisi kocek. Kaum hippies juga dianggap membawa penyakit kelamin.

Pemerintah pantas cemas. Terlebih, saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menata anak-anak muda untuk berpenampilan baik, tidak gondrong dan tidak mengikuti gaya hidup yang kebarat-baratan.

Pemerintah daerah di Bali akhirnya ambil tindakan, mengeluarkan kebijakan mengusir hippies pada 1971.

Kantor Dirjen Imigrasi di Jakarta jadi sibuk. Mereka kelimpungan mengurus laporan dan pemulangan para kaum hippies dari Bali.

“Selain uang yang mereka bawa sedikit, sehingga tidak bisa membeli apa-apa di sini. Kadang-kadang mereka menjual tiketnya sehingga menyulitkan pemerintah yang harus mengurus pemulangannya,” kata Soebyakto, kepala Humas Dirjen Imigrasi, kepada Ekspres edisi 25 Februari 1972.

Alih-alih pulang kampung, bule-bule asing tak bermodal itu hijrah ke Jawa.

Pemerintah pusat pun meradang. Pada Agustus 1971 keluar instruksi bersama antara Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan/Ketua Sektor Laut Pariwisata, dan Kepala Kepolisian RI. Isinya, menolak masuknya dan keberadaan orang-orang yang disebut hippies ke dalam wilayah Indonesia.

Di dalam instruksi bersama dinyatakan, yang disebut hippies adalah laki-laki atau perempuan yang berpakaian dan berdandan tak teratur dan tak sopan, kebiasaan hidup tak teratur, mengganggu perasaan susila, tak mempunyai penginapan yang pasti, serta mempergunakan dan membawa obat bius.

Setelah itu, keluar instruksi kawat dari Dirjen Imigrasi kepada perwakilan-perwakilan mereka di dalam dan luar negeri untuk tak memperpanjang visa yang sudah diberikan, serta tak mengeluarkan visa baru kepada terduga kaum hippies yang mau masuk ke Indonesia.

Namun, bila hanya dilihat dari ciri berpakaian, pemerintah mengalami kesulitan untuk mengenali mana kaum hippies asing atau yang betulan turis. Sebelum masuk ke Indonesia, mereka terkadang berpakaian rapi dan di pasport tertulis sebagai mahasiswa.