Di Jepang ada tradisi unik dan bikin panas dingin kaum adam. Nyotaimori adalah istilah untuk menyebutkan penyajian sushi yang disajikan di atas tubuh seorang wanita cantik.  Tradisi ini merupakan tradisi kuno Jepang yang diyakini menjadi hadiah atau perayaan para samurai yang telah memenangkan pertempuran.

Para wanita ini sebelumnya telah membersihkan seluruh bagian tubuhnya dan mandi dengan sabun khusus bebas aroma. Setelah itu tubuh mereka disemprotkan cairan khusus untuk menjaga rasa dan aroma sushi.

Meskipun wanita sebagai pengganti piring penyajian sushi ini menggunakan pakaian yang minim atau dalam kondisi telanjang, namun ada aturan yang harus dipatuhi oleh para pelanggan.

Misalnya dilarang berbicara dengan model, menghormati gadis yang menjadi model, dilarang menyentuh bagian tubuh model, tidak mengeluarkan kata-kata yang melecehkan model dan menggunakan sumpit sebagai satu-satunya alat untuk mengambil sushi.

Selain Nyotaimori ada juga istilah Nantaimori yang merujuk pada praktik yang sama namun dengan menggunakan model laki-laki.

Berdasarkan informasi Edisi Bonanza88, bisa dikatakan, nyotaimori merupakan cata penyajian sushi menggunakan tubuh wanita tanpa busana sebagai penganti piring.

Beragam sushi disajikan dalam tubuh wanita yang sebelumnya telah diperciki cairan khusus untuk menjaga aroma dan rasa. Karena keunikan penyajianya ini, masyarakat umum juga mengenal nyotaimori dengan sebutan neked sushi.

Penyajian yang berbeda dari yang lain ini bukan karena ingin menarik perhatian semata, melainkan bentuk dari sebuah seni. Nyotaimori pertama kali dibuat dengan dasar sushi itu bisa dikmati dengan berbagai cara. Selain rasa yang dapat dinikmati oleh lidah, sushi juga bia dinikmati dengan mata melalui bentuk penyajiannya.  

Ajang Pencabulan dan Peran Sashimi Girl

Uživatel Weirdo Centre 🌈💫 na Twitteru: „[Japan] Hari ini gw belajar  tentang Nyotaimori [Body Sushi] yaitu praktek makan Sushi diatas perempuan  telanjang. Praktek ini tentu saja originated dari Jepang.…  https://t.co/uuVg1VuZHH“

Sebuah peristiwa tak mengenakkan terjadi di sebuah restoran di Taiyuan, Shanxi, China. Dilansir dari South China Morning Post, seorang wanita yang tubuhnya dijadikan ‘meja’ untuk meletakkan sushi, mencak-mencak kepada seorang pelanggan.

Penyebabnya, dia menuding seorang pelanggan telah mencabuli dirinya. Video dari momen ini beredar luas di media sosial dan menjadi viral. Wanita yang tubuhnya digunakan untuk menyajikan hidangan sushi itu awalnya berbaring di atas meja.

Dia memakai pakaian yang sangat minim. Sementara, di tubuhnya, diletakkan sejumlah makanan sushi. Wanita itu kemudian bangun, dan menuding seorang pelanggan, telah berbuat cabul sembari pura-pura mengambil sushi memakai sumpit.

Wanita itu mengatakan, awalnya dia berpikir pelanggan itu tak sengaja. Tapi ia kemudian marah ketika pelanggan itu melakukannya berkali-kali.

Tradisi ini diyakini merupakan hadiah atau perayaan para samurai yang telah memenangkan pertempuran. Meski sushi disajikan di atas tubuh wanita telanjang, tapi ada aturan ketat dalam etika penyajian Nyotaimori.

Di antaranya, pelanggan dilarang keras bicara kepada para wanita penyaji sushi. Tertawa, atau bicara kata-kata yang tak pantas, juga dilarang keras.

Sashimi Girl adalah pemandu wanita yang menghidangkan sushi di sambil telanjang. Sedangkan Sashimi merupakan makanan Jepang berupa berasal dari laut dengan kesegaran prima yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap, kecap asin, parutan jahe, dan wasabi. Makanan laut segar itu berupa ikan, kerang, dan udang karang dihidangkan dalam bentuk irisan kecil.

Di Jepang tradisi makan sushi di atas wanita telanjang disebut dengan Nyotaimori. Dahulu tradisi ini sering dilakukan oleh para shogun di Jepang. Namun saat ini Nyotaimori telah berkembang menjadi sebuah suguhan istimewa dari kaum sosialita di berbagai belahan dunia.

Salah seorang pengusaha penikmat Sashimi Girl mengungkapkan jika buat menikmati hidangan di atas wanita telanjang ini memang begitu rahasia. Ada salah satu restoran Jepang di Blok M menyediakan layanan Sashimi Gril. Buat menikmati hidangan ini lumayan mahal, kisarannya dari Rp 10 juta hingga 20 juta. “Ada tetapi memang tertutup,” ujar LB saat berbincang

Dia menyebut sebuah restoran di kawasan Blok M menyediakan layanan Sashimi Girl. Sebuah restoran tak jauh dari Blok M Plaza menyediakan layanan ini. Namun hanya tamu langganan yang bisa menikmati makan sushi di atas tubuh wanita telanjang ini. Jangan harap, tamu baru bisa menikmati layanan ini.

“Kami tidak menyediakan. Di sini khusus makan biasa saja,” kata salah satu penerima tamu restoran.

Seorang pengusaha lain juga penikmat Sashimi Girl menuturkan jika keberadaan layanan ini bukan hanya terdapat di kawasan Blok M saja. Namun salah satu restoran Jepang mewah di kawasan Jakarta Pusat juga menyediakan layanan ini. “Ada di daerah Thamrin,” ujar DD

DD mengatakan jika tempat karaoke Jepang memang kebanyakan menyediakan layanan Sashimi Girl. Buat transaksi, biasanya memang dilakukan tertutup. Jika tamu menginginkan layanan Sashimi Girl, biasanya pelayan akan menyuruh untuk menunggu di dalam ruangan. Beberapa menit kemudian menu Sashimi lengkap bakal diantarkan bersama dengan wanita yang bakal menjadi meja makanan mentah itu.

Ada peraturan untuk menikmati Sashimi Girl, biasanya tamu dilarang untuk mengajak ngobrol si wanita. Namun untuk makan Sashimi, tamu boleh langsung menggunakan lidah menikmati hidangan tersedia di atas tubuh si wanita itu. “Biasanya saya suka bawa tamu dari luar daerah. Paling hanya pegang-pegang saja, sushinya enggak di makan,” ujar DD.

Untuk tarif menikmati layanan Sashimi Girl, DD menyebut jika wanita yang menjadi meja makanan segar itu di bayar RP 2,5 juta. Harga tersebut belum termasuk sajian makanan tersedia di atas wanita itu. Jika di tambah dengan uang tips dan lain-lain, untuk menikmati Sashimi Girl menghabiskan fulus sekitar Rp 20 juta.

“Rp 20 jutaan, room free of charge. Kalau LC yang menemani dibayar per voucher. Satu Voucher biasanya dihargai Rp 500 ribu,” tutur DD.

Bagi orang Jepang, nyotaimori dibuat bukan tanpa alasan. Secara harafiah, Nyotaimori sendiri mempunyai arti sebagai sebuah cara untuk mengagumi tubuh seorang wanita.

Tidak hanya soal seksualitas, Jepang sendiri mempunyai berbagai cara untuk menikmati sebuah makanan, khususnya melalui sebuah acara makan malam glamor yang dianggap sebagai sebuah seni.

Di Jepang, sekarang ini sulit untuk bisa mendapatkan restoran yang mau mempraktekkan Nyotaimori secara terbuka. Sedangkan di negara lain, ditenggarai AS, Perancis, Berlin hingga London, Nyotaimori berkembang dengan cukup pesat.

Jangan salah menyamakan Nyotaimori dengan Nantaimori. Kenapa? Karena nantaimori berarti penyajian sushi di atas tubuh pria. Di dunia barat sendiri, film “Sex and the City” pernah mempertontonkan aktris Samantha Jones menjadi model dari Nyotaimori ini.

Meski saat ini tradisi tersebut telah dilarang di berbagai negara, termasuk Jepang karena alasan kesehatan dan lainnya, namun ada sebagian masyarakat setempat yang masih menikmati Nyotaimori dengan cara berbeda, seperti dalam bentuk foto misalnya.

Beberapa waktu lalu, pemotretan yang dilakukan oleh aktris sekaligus cosplayer cantik, Luchino Fujisaki, berhasil memanjakan mata para penggemar Nyotaimori. Foto-foto tersebut diambil oleh fotogafer ternama, Hiyoco, dan memperlihatkan aksi Luchino saat berpose, di mana tubuhnya tertutup ikan mentah dan dengan gurita di antara kedua kakinya.

Tubuh wanita berusia 39 tahun asal Prefektur Fukuoka tersebut tampak dihiasi oleh berbagai hidangan mentah seperti sushi, tuna, hingga gurita besar. Selain itu, dalam unggahan di akun Instagramnya pada bulan Juni lalu, pemeran serial drama Coloring Himura (Irodori Himura) ini juga memamerkan foto ketika tubuh polosnya dihiasi oleh berbagai buahan-buahan segar.

Mengenakan kostum untuk meniru karakter anime dan manga atau yang lebih dikenal dengan istilah cosplay kini bukan hanya jadi sekedar hobi dan terus mendapatkan popularitas di seluruh penjuru dunia, tak hanya di Jepang saja. Berkat media sosial seperti Instagram dan Twitter, para cosplayer wanita, khususnya, saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian para penggemar pria dengan cara mengunggah foto mereka saat mengenakan beragam kostum, hingga tampil seksi.

Seperti yang dilakukan oleh Luchino Fujisaki, dan cosplayer cantik asal Jepang pemilik akun Twitter Pon_chan216 beberapa waktu lalu. Bukan mengenakan kostum ala karakter anime maupun manga dari negara asalnya seperti kebanyakan cosplayer lain, kali ini yang dikenakannya adalah kostum dari anggota pertama kelompok Disney Princess, Snow White, dengan versi yang lebih menggoda.

Sejarah Sushi hingga Mendunia

Mengenal Budaya Nyotaimori, Makan Sushi di Atas Tubuh Wanita Telanjang |  KASKUS

Sushi merupakan makanan khas Jepang yang populer di seluruh dunia atau menjadi populer saat ini. Di Negara selain Jepang, Sushi berkembang secara unik dimana menunjukan budaya makanan negara tersendiri, seperti Sushi dengan Apokat, Keju, Udang Goreng, dan lain-lain di dalamnya. Saat ini, di luar negeri pun Sushi sudah dapat dinikmati dengan mudah di Sushi Bar atau Restoran Jepang.

Makanan Jepang bisa dibuat oleh siapapun, namun di saat bersamaan ada makanan yang rumit luar biasa dan membutuhkan ketelatenan tingkat dewa untuk membuatnya. Dengan kata lain, makanan Jepang, menyitir istilah Shizuo Tsuji, adalah a simple art. Seni tapi sederhana. Sederhana tapi nyeni.

Kita bisa melihatnya di film dokumenter apik Jiro Dreams of Sushi. Salah satu murid Jiro, Daisuke Nakazawa, harus mencoba hingga 200 kali untuk membuat sushi telur dadar! Bayangkan, di banyak tempat, telur dadar hanyalah satu dari banyak varian masakan telur. Namun di tangan orang Jepang, telur yang amat sederhana itu jadi masakan yang menguarkan satu hal: kesempurnaan.

“Waktu Jiro bilang telurku sudah layak disajikan, aku menangis saking senangnya,” kata Daisuke.

Bagi Jiro, sang senpai, kesempurnaan itu bisa dipelajari. Salah satu cara belajar paling menyenangkan sekaligus membuatmu belajar sabar adalah dengan tidak mengeluh. Kamu harus jatuh cinta dengan pekerjaanmu.

“Kamu harus mendedikasikan hidupmu untuk menguasai skill-mu. Itu adalah kunci sukses, dan kunci untuk dihormati,” ujar Jiro.

Namun di sisi lain, coba tonton duologi Little Forest. Film ini berkisah tentang kehidupan gadis bernama Ichiko yang tinggal di Komori, sebuah desa yang terletak di bawah kaki gunung di kawasan Tohoku.

Film ini menarik karena beberapa hal. Pertama karena menghadirkan pemandangan desa Komori yang indah. Kedua, karena menghadirkan masakan yang diambil dari bahan lokal. Dalam tiap musim, Ichiko memasak beberapa masakan yang kerap disesuaikan dengan musim.

Misalkan ketika musim salju datang, Ichiko membuat sup kacang merah yang dipadukan dengan mochi dan natto (fermentasi kacang kedelai). Atau ketika musim semi hangat datang berkunjung, dia membuat bakke miso, makanan klasik Jepang berbahan bunga fukinotou yang selalu tumbuh ketika musim semi.

Dari film itu, kita bisa menengok bahwa masakan Jepang pada dasarnya amat sederhana. Ia tak butuh proses panjang berjam-jam. Tak butuh pula berpuluh jenis bumbu. Dan jelas tak memerlukan penataan yang dipoles berlebihan.

Sama seperti negara lain yang punya dasar agrikultural kuat, masakan Jepang jelas lebih mengandalkan kesegaran bahan (walau tetap ada makanan yang diawetkan), dan juga keseimbangan komponen makanan.

Hebatnya, makanan sederhana ala Jepang ini bisa begitu mendunia. Pada 2013, JETRO, organisasi terkait pemerintah Jepang yang mengurusi perdagangan dan investasi, merilis survei terhadap konsumen makanan di luar Jepang.

Salah satu pertanyaan survei adalah, “Apa makanan luar negeri favoritmu saat sedang bersantap di restoran?” Sekitar 83 persen menjawab makanan Jepang, di samping beberapa jawaban lain.

Ketika ditanya alasan kenapa mereka memilih makanan Jepang, alasan terbanyak (88 persen) menjawab karena rasa yang enak. Alasan kedua terbanyak (53 persen) adalah karena makanan Jepang sehat.

“Makanan Jepang memang punya keseimbangan nutrisi. Satu set makanan tradisional Jepang terdiri dari nasi, sup, lauk utama, dan dua lauk pendamping,” tulis JETRO dalam laporan berjudul Serving Japanese Food to the World.

Selain soal keseimbangan nutrisi, makanan tradisional Jepang jadi sehat karena makanan seperti nasi atau gandum atau sup tak perlu digoreng. Beberapa jenis makanan malah dimakan mentah dan segar, misalkan sashimi. Pada 1920, jurnalis Inggris J.W Robertson Scott menyebut bahwa 90 persen masyarakat Jepang adalah vegetarian. Alasan utamanya karena kemiskinan.