Jangan remehkan musik dalam urusan ranjang. Musik diyakini dapat menggairahkan sesi bercinta Anda dengan pasangan. Lantas bagaimana musik memungkinkan ‘keajaiban’ itu terjadi?

Tracey Cox, pakar seks internasional, mengungkapkan hasil survei kolaborasinya bersama Deezer, sebuah layanan streaming musik dunia. Terungkap 55 responden yang merupakan warga Inggris merasakan seks yang lebih baik karena musik.

Bukan tanpa alasan karena menurut Tracey, musik memicu produksi dopamine, hormon yang memberi rasa nyaman dan senang. Kondisi serupa juga terjadi saat Anda berhubungan intim.

Di samping itu, musik juga meningkatkan daya ingat sehingga dapat membawa kenangan-kenangan manis akan hubungan seksual yang tak terlupakan. Dengan begitu, suasana hati pun terasa lebih baik.

Namun Tracey mengingatkan, tidak semua musik dapat membangkitkan gairah Anda. “Sebuah eksperimen menunjukkan, pria yang dimintamendengarkan lagu ‘senang’ lalu menonton video seksi sangat mudah terangsang dibanding mereka yang mendengarkan lagu ‘sedih’,” kata Tracey, seperti dikutip Female First.

Beberapa lagu yang disebut Tracey ampuh membangkitkan gairah di antaranya ‘Let’s Get It On’ (milik Marvin Gaye), ‘Love to Love You Baby’, (Donna Summer), ‘Skin’ (Rihanna), ‘Drunk in Love’ (Beyoncé), ‘Lollipop’ (‘Lil Wayne’s).

Ia menambahkan, suara yang berat mampu membuat suasana kian terasa seksi. “Ahli saraf mengatakan semua orang lebih mudah merespon ketukan saat mendengarkan instrumen bernada rendah,” katanya. Sementara menurut ahli psikologi, lanjut Tracey, tubuh kita sangat menyukai suara bass yang dalam karena terasa nyaman di kuping. Suara seperti itu juga menciptakan ‘getaran’ tersendiri sehingga membuat sesi bercinta semakin panas.

Tidak diragukan lagi, foreplay merupakan tahapan yang sangat penting dalam momen bercinta. Dengan foreplay yang cukup, maka orgasme akan semakin mudah dicapai, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Lantas bagaimana caranya agar foreplay lebih mudah? Cobalah untuk memasang musik di ruang tidur.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari LimeLife, studi yang dilakukan oleh Spotify mengungkapkan bahwa 40 persen orang dewasa mengaku musik yang seksi lebih meningkatkan gairah mereka selama bercinta dibandingkan dengan sentuhan. Hal ini mungkin terjadi karena faktanya musik dapat mengalirkan sensasi tersendiri pada tubuh dan pikiran.

Dalam studi ini, Spotify melakukan wawancara terhadap 2.000 responden berusia di antara 18-91 tahun. Seluruh responden tersebut ditanyakan mengenai apa yang mereka pikirkan tentang seks dan jenis musik yang membuat mereka bergairah.

Hasilnya, ditemukan bahwa lagu ‘Time of My Life’ milik Swayze’ berada pada puncak tangga lagu pilihan para responden. Sementara di urutan kedua adalah lagu ‘Bolero’ milik Ravel, dan urutan ketiga adalah lagu ‘Let’s Get It On’ milik Marvin Gaye.

“Tidak mengejutkan melihat banyaknya responden yang mengklaim bahwa musik di ruang tidur memberikan pengaruh bagi mereka. Musik dapat melepaskan reaksi dari bagian otak yang bertanggung jawab pada rasa bahagia dan kepuasan,” ujar Mullensiefen, dari Spotify.

Genre Musik Pemicu Seks

Woo The Atmosphere: Music And Sex - Pride News

Remaja rentan terlibat perilaku berisiko karena mudah diliputi rasa penasaran sehingga ingin mencoba berbagai hal. Nah, rupanya musik pilihan remaja ditengarai ikut berperan mendorong mereka untuk melakukan hal-hal berisiko.

Yang terbaru diungkap tim peneliti dari University of Texas Health Science Centre, Houston. Peneliti mengaku menemukan keterikatan langsung antara musik bergenre rap dan perilaku seks berisiko pada remaja.

Hal ini dibuktikan dalam riset yang menghabiskan waktu selama dua tahun dan melibatkan sekitar 443 remaja usia sekolah menengah. Mereka ditanya tentang seberapa sering mendengarkan musik rap dan apakah mereka percaya jika rekan-rekan sebayanya sudah melakukan hubungan intim di usia 13-16 tahun.

Hasilnya cukup mengejutkan. Remaja kelas 7 yang kerap mendengarkan musik bergenre rap, dengan frekuensi tiga jam sehari berpeluang 2,6 kali melakukan perilaku seks berisiko di kelas 9.

Namun perilaku ini hanya muncul jika si partisipan meyakini rekan-rekan sebayanya juga melakukan hal yang sama. Partisipan yang mengamininya rata-rata menginisiasi untuk melakukan hubungan seks 2,5 kali lebih besar ketimbang teman-temannya yang hanya mendengarkan musik rap tetapi tidak merasa seks di usia remaja merupakan tindakan yang benar. Rap dianggap responden sebagai genre musik yang paling banyak mengandung pesan-pesan bernada seksual dan eksplisit atau terang-terangan.

Fakta ini mendorong peneliti untuk percaya bahwa ketika remaja mendengarkan makna dari pesan-pesan seksual dalam sebuah lagu, maka mereka akan berupaya memastikannya dengan bertanya kepada teman-teman mereka.

Bila teman-temannya mengiyakan, itu akan menjadi semacam pembenaran bagi mereka untuk mencoba melakukan hubungan seks. Begitu juga sebaliknya. “Musik rap mempengaruhi keyakinan mereka tentang apa yang dilakukan para remaja pada umumnya,” kata peneliti, Kimberly Johnson-Baker seperti dikutip dari Journal of Adolescent Health.

Hal yang sama juga berlaku untuk perilaku berisiko lain seperti mengonsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang. “Dan makin sering didengarkan, Anda akan semakin yakin,” imbuh Johnson-Baker.

Johnson-Baker khawatir dengan temuan ini sebab pemahaman remaja tentang hubungan seksual akan menentukan perilaku seksnya di masa depan, sehingga mencegah atau mengantisipasi hal ini menjadi upaya yang sangat penting.

Musik dan Alat kelamin wanita

Background Music For Sex by Sex Music, Slow Sex Music, Music For Sex on  Amazon Music - Amazon.com

Keyakinan bahwa mendengarkan musik bisa membuat anak semakin cerdas sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Yang paling baru adalah teknologi berupa speaker yang dimasukkan dalam vagina ibu dengan tujuan agar anak bisa mendengarkan musik dengan lebih jelas.

Namun ternyata teknologi ini tak banyak berfungsi dan hebat-hebat amat. Percuma jika para ibu itu berharap janin mereka bisa lebih cepat mendengarkan musik dari Taylor Swift hingga Mozart.

Teknologi itu yang disebut dengan BabyPod, dibuat oleh perusahaan dari Spanyol. Dijual dengan harga $150 dolar atau sekitar Rp2 juta dengan janji akan memberikan stimulasi suara  pada bayi sebelum mereka lahir, termasuk juga mendorong perkembangan saraf bayi.

Alat berwarna pink ibu terhubung dengan app yang memungkinkan para orang tua untuk memilih berbagai musik untuk bayi mereka.

Namun pertanyaannya apakah para ibu memang perlu memiliki speaker ini untuk perkembangan bayi mereka?Kontributor medis NBC Dr. Natalie Azar mengatakan dia tak terlalu yakin.

“Saya tak bisa membayangkan ada ahli kandungan yang mengatakan oke dengan hal, karena penelitian ilmiah untuk soal ini sungguh-sungguh mengada-ada menurut saya,” kata Dr. Azar pada Today.

Dr. Azar mengarakan dia sangat prihatin dengan keinginan untuk menstimulasi bayi dengan cara ini. Mengingat bahkan para ahli kesehatan anak malah menganjurkan anak-anak kecil untuk dijauhkan dari televisi dan stimulasi serupa.

Meski BabyPod yang menginstruksikan untuk rutin membersihkan alat ini, Azar mengatakan memperkenalkan alat semacam ini selama masa kehamilan sangat  tidak ada gunanya.

“Memasukkan sesuatu yang asing — toh Anda juga tidak menggunakan tampon saat  hamil — bukan karena Anda harus, tapi memang dokter biasanya akan membatasi hal semacam ini,” kata Azar.

“Kita semua tahu, vagina punya cara sendiri untuk membersihkan diri dan segalanya, dan ini tampaknya adalah risiko yang sebenarnya tak terlalu diperlukan.”

Karena jikapun orang tua ingin memperkenalkan musik sedini mungkin, sebenarnya mereka bisa mendengar dan merespon suara bahkan yang berasal dari luar perut ibu mereka. Para dokter juga mengatakan bahwa suara yang paling mereka butuhkan adalah suara ayah dan ibu mereka sendiri, sesederhana itu.

Untuk orang tua yang berharap bahwa stimulasi pada ruterus akan membuat bayi lebih cerdas, Azar merekomendasikan agar musik diperdengarkan dalam suasana ruangan di mana si ibu bisa sambil bersantai. Si ibu juga bisa sambil bicara pada janinnya.

Cara ini lebih terbukti bisa membuat anak lebih mengenali dan merespon suara orang tua mereka setelah lahir.

“Yang terbaik bagi anak adalah interaksi cara tradisional dengan orang tua mereka, begitu mereka lahir,” kata Azar.

“Jadi tak ada calon ibu yang perlu merasa bersalah karena tidak menggunakan alat ini melalui vagina mereka dengan pikiran hal itu bakal membuat anak mereka lebih cerdas.”

Sejarah kemunculan musik

Sejak abad ke-2 dan abad ke-3 sebelum Masehi, di Tiongkok dan Mesir ada musik yang mempunyai bentuk tertentu. Dengan mendapat pengaruh dari Mesir dan Babilon, berkembanglah musik Hibrani yang dikemudian hari berkembang menjadi musik Gereja.

Musik itu kemudian disenangi oleh masyarakat, karena adanya pemain-pemain musik yang mengembara serta menyanyikan lagu yang dipakai pada upacara Gereja. Musik itu tersebar di seluruh Eropa kemudian tumbuh berkembang, dan musik instrumental maju dengan pesat. Setelah ada perbaikan pada alat-alat musik, misalnya biola dan cello.

Kemudian timbulah alat musik Orgel. Komponis besar muncul di Jerman, Prancis, Italia, dan Rusia. Dalam abad ke 19, rasa kebangsaan mulai bangun dan berkembang. Oleh karena itu perkembangan musik pecah menurut kebangsaannya masing-masing, meskipun pada permulaannya sama-sama bergaya Romantik. Mulai abad 20, Prancis menjadi pelopor dengan musik Impresionistis yang segera diganti dengan musik Ekspresionistis.

Musik merupakan salah satu penyemangat hidup. Tanpa musik, kehidupan kita akan terasa sangat sepi dan pastinya membosankan. Karena musik bisa memberikan warna baru di dunia dan juga bisa menjadi penghibur diri kita. Sejarah musik dunia dimulai pada abad ke-2 dan pada abad ke- 3 sebelum masehi.

Sejarah musik sudah ada sejam zaman purbakala dan kemudian dipergunakan untuk mengiringi upacara – upacara kepercayaan. Kemudian perubahan sejarah musik terjadi pada abad pertengahan , dikarenakan adanya perubahan keadaan dunia yang semakin meningkat.

Sejarah musik tidak berhenti disitu saja karena kemudian setelah melewati abad pertengahan, ada zaman Renaisance yang berarti kelahiran kembali tingkat kebudayaan tinggi yang sudah menghilang sejak zaman Romawi. Kemajuan musik pada zaman ini ditunjukkan dengan adanya genre musik baru, seperti Barok dan Rokoko.

Pada tahun 1750 setelah berakhirnya sejarah musik bergenre Barok dan Rokoko, muncul lah musik klasik. Musik ini memiliki ciri – ciri pada penggunaan dinamikanya dari yang keras ke yang lembut.

Kemudian pada temponya juga semakin cepat. Penggunaan accodr 3 nada, pemakaian ornamentik dibatasi. Dan di jaman yang modern ini musik sudah masuk ke berbagai media elektronik dengan berbagai macam aliran musik seperti pop , rock , jazz , Hip Hop , R & B dan segala jenis aliran musik lainnya yang ada di seluruh dunia.

Perkembangan musik dari zaman ke zaman

Introduction to Modern Music – Starico

Pada masa ini, di abad pertengahan, musik sangat dipengaruhi oleh kekuasaan gereja pada masa itu dan kemudian notasinya berkembang menjadi musical repertoire. Apa sih musical repertoire itu? Musical repertoire ialah kumpulan dari lembaran musik yang dimainkan secara individual, ensambel atau dimainkan dengan instrumen dan choir. Sayangnya, musik-musik dari masa ini rusak dan hanya tersisa bagian kecil saja, Squad. The Gregorian Chant merupakan salah satu dari lembaran musik terkenal di masa itu.

Musisi-musisi Renaissance

Pada masa ini, instrumen musik seperti piano atau organ sudah dikenal hingga muncul musik instrumen. Di kota Florence, Italia berkembang seni opera atau pembawaan musik dengan vokal diiringi instrumen musik. Pada masa ini juga, chords musik lebih fleksibel dan mudah untuk disesuaikan dengan gaya musisi itu sendiri.

Barok (1600-1700an)

Pada periode ini, jenis musik instrumen lebih dikenal secara umum. Para komposer musik memberikan improvisasi ke dalam hasil karyanya. Gaya bermusik para musisi lebih beragam. Terdapat aliran musik Rokoko pada periode ini. Perbedaan musik Barok dan Rokoko ialah musik Barok memakai Ornamentik yang membolehkan komposer memberikan improvisasi spontan pada karyanya, sedangkan musik Rokoko memiliki komposisi musik yang dekoratif, tapi tidak terlalu kompleks.

Klasik (1700-1910an)

Klasik era (era klasik Barat) berhubungan erat dengan harmoni. Beberapa hasil karya dari masa ini merupakan hasil karya yang tidak dapat dibandingkan dengan karya apa pun pada masa sebelumnya, seperti karya Beethoven berjudul Fifth Symphony.

Romantik (1810-1900an)

Pada era ini, karya-karya pada era romantik memiliki komposisi perasaan emosi yang kuat dan makna yang dalam. Dari karya Schumann sampai Wagner, komposisi menjadi lebih kompleks sebagai simbol dari beberapa karya yang dramatis seperti Siegfried karya milik Wagner.

Setelah penemuan radio, musik menjadi lebih sering terdengar oleh kita, begitu juga dengan televisi yang turut memengaruhi era ini, membawa musik menjadi produk dari budaya massa. Musik juga berevolusi hingga menciptakan berbagai jenis atau aliran musik, tempo atau bahkan temponya.