Ryan Mason pasti tak pernah mengira karier sepak bolanya akan berakhir begitu cepat. Tepat pada 13 Februari 2018, Mason yang baru berusia 26 tahun, dengan terpaksa mengumumkan ke publik bahwa dirinya gantung sepatu dari lapangan hijau.

Padahal karier Mason kala itu terbilang masih dapat berkembang banyak. Namun Mason harus mengubur mimpinya dalam-dalam akibat cedera otak yang dialaminya.

Mendapati pengalaman pilu tersebut, rasa kecewa berat tentu menyerang hati serta pikiran Mason. Beruntung, Mason mampu bangkit meninggalkan segala kenangan buruknya.

Tiga tahun pasca pensiun dini, Mason dipercaya mengisi jabatan pelatih kepala Tottenham Hotspur. Mason menggantikan peran yang sebelumnya dipegang oleh juru taktik top dunia, Jose Mourinho.

Kebangkitannya makin terasa megah karena Mason turut berhasil memecahkan rekor tersendiri. Mason resmi dinobatkan sebagai pelatih termuda di sepanjang sejarah Liga Inggris.

Meniti Karier di Tottenham Hotspur

Het bijzondere verhaal van Ryan Mason: de 29-jarige (tijdelijke) opvolger  van Mourinho - Voetbal International

Mason lahir pada 13 Juni 1991 di Enfield, salah satu daerah kota London bagian utara. Menengok latar belakang tempat lahirnya itu, wajar bila Mason sejak kecil sudah mempunyai rasa cinta kepada Tottenham Hotspur.

Markas Tottenham yang lama, White Hart Lane, juga masih termasuk dalam kawasan Enfield. Mason pun mewujudkan kecintaannya terhadap Tottenham dengan masuk ke akademi muda klub saat berusia delapan tahun.

Perkembangan kemampuan olah bola Mason dinilai pelatih akademi Tottenham cukup menjanjikan. Buktinya sekitar bulan Agustus 2008, Tottenham memberi kontrak profesional pertama untuk Mason.

Berselang tiga bulan setelah menandatangani kontrak profesional, Mason mendapat kesempatan debut. 27 November 2008, Mason dimainkan pelatih Tottenham kala itu, Harry Redknapp, di laga Piala UEFA kontra klub Belanda, NEC Nijmegen.

Mason diturunkan ketika laga telah memasuki masa injury time. Meski debutnya terbilang sangat sebentar, pencapaian itu tetap lumayan bagi Mason yang baru berusia 17 tahun.

Namun selanjutnya, Mason kesulitan menembus tim utama. Mason akhirnya harus berulang kali dipinjamkan ke klub lain supaya terus memperoleh menit bermain.

Musim 2009/10, Mason menjalani masa peminjaman di klub kasta bawah Liga Inggris, Yeovil Town. Musim 2010/11, dari bulan Agustus sampai November Mason dipinjam Doncaster Rovers.

Khusus paruh pertama musim 2011/12, Mason dua kali dimainkan Tottenham di Liga Europa. Mason tampil satu menit kala jumpa Lazio, dan bermain empat menit kontra NK Maribor.

Memasuki paruh kedua musim 2011/12, Mason dipinjamkan lagi ke klub lain. Kali ini Mason berguru ke Millwall FC.

Musim dingin 2012/13, Mason merantau menuju tanah Prancis. Ia dipinjamkan Tottenham kepada FC Lorient sampai akhir musim.

Musim 2013/14, Mason sepenuhnya menjalani masa peminjaman di Swindon Town. Bersama Swindon, Mason mengemas 22 penampilan dan mengoleksi lima gol.

Kepercayaan Mauricio Pochettino

Tottenham appoint Ryan Mason as interim manager after sacking Jose Mourinho  - The Athletic

Nasib Mason yang selalu jadi pemain pinjaman, ada harapan akan mendapati perubahan ketika manajemen Tottenham Hotspur menunjuk pelatih baru, Mauricio Pochettino. Maklum, gaya asuh Pochettino yang sebelumnya membesut Southampton, memang terkenal suka memaksimalkan bakat-bakat pemain muda.

Harapan tersebut ternyata bukan cuma sekedar jadi angan. Pochettino benar-benar memberi kepercayaan lebih kepada Mason untuk masuk ke tim senior Tottenham secara reguler.

Tepat tanggal 24 September 2014, Pochettino kali perdana menyertakan Mason di susunan skuat Tottenham untuk laga resmi. Mason dibawa Pochettino mengisi deretan pemain cadangan dalam laga Carabao Cup kontra Nottingham Forest.

Tertinggal 0-1 akibat pada babak pertama, membuat Pochettino harus melakukan perubahan. Menit ke-65, Pochettino akhirnya menurunkan Mason, menggantikan gelandang bertahan, Benjamin Stambouli.

Keputusan Pochettino menurunkan Mason sungguhlah tepat. Baru tujuh menit merumput, Mason sukses memanfaatkan umpan rekannya, Ben Davies untuk menciptakan gol tendangan jarak jauh sekaligus penyama kedudukan.

Setelah gol Mason, permainan skuat Tottenham makin menggila. Dua gol tambahan berhasil dicetak Tottenham melalui aksi Roberto Soldado dan Harry Kane.

Pasca laga, pujian demi pujian langsung membanjiri Mason. Peran Mason di lapangan ibarat inspirasi utama tim yang kemudian membawa Tottenham meraih kemenangan 3-1 atas Nottingham.

“Saya sudah lama menunggu momen seperti ini. Saya selalu percaya diri dengan kemampuan yang saya punya. Saya memang harus menunggu lebih lama daripada pemain muda yang lain, tetapi akhirnya saya mampu membuktikan kualitas saya bagi tim,” ucap Mason pasca laga, seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari DailyMail.

Pochettino puas atas penampilan yang diperlihatkan Mason. Tiga hari berselang usai lawan Nottingham, Pochettino berani memberikan kepercayaan lebih kepada Mason untuk bermain di laga Liga Inggris.

Kepercayaan Pochettino tak sembarangan, sebab lawan yang dihadapi adalah rival abadi Tottenham alias sesama klub London Utara, Arsenal. Apalagi Tottenham akan bertindak sebagai tim tamu, artinya status laga memanglah sungguh penting.

27 September 2014, Mason pun bermain sejak menit awal kontra Arsenal di Emirates Stadium. Mason mengisi posisi gelandang tengah, berduet dengan Etienne Capoue.

Performa Mason pun lagi-lagi mengesankan. Kerja keras Mason mampu meredam kreativitas para gelandang Arsenal, seperti Jack Wilshere, Mikel Arteta, dan Aaron Ramsey.

Laga lawan Arsenal berakhir imbang 1-1. Mason membantu Tottenham mencuri satu poin dari markas rival abadi mereka.

Mason Makin Bersinar

Vorm keert terug bij Spurs als keeperstrainer, Mason (29) maakt seizoen af  | Foto | AD.nl

Laga lawan Nottingham dan Arsenal sudah cukup membuktikan kualitas apik Mason. Setelahnya, Pochettino memberikan menit bermain reguler bagi Mason sebagai pemain utama di lini tengah Tottenham.

Sepanjang sisa kompetisi Liga Inggris, Mason cuma dua kali absen. Mason sampai akhir musim Liga Inggris 2014/15 total mengemas 31 penampilan, dengan rincian 29 kali tampil sejak menit awal, dan dua sisanya menjadi pemain pengganti.

Makin manis lagi, Mason turut mendapat kesempatan membela negaranya, Timnas senior Inggris. Jeda internasional bulan Maret 2015, Mason untuk kali perdana dipanggil Timnas Inggris guna menyambut dua laga lawan Lithuania dan Italia.

Sebenarnya agak beruntung Mason masuk skuat Timnas Inggris, sebab ia hanya menggantikan posisi Adam Lallana yang tiba-tiba dibekap cedera. Meski begitu, Mason performanya bersama Tottenham sedang sangat menanjak, sehingga tetap layak memperoleh kesempatan tersebut.

Mason awalnya hanya menghiasi bangku cadangan saat Inggris menang 4-0 atas Lithuania dalam laga kualifikasi Euro, 27 Maret 2015. Namun ketika Inggris berusa Italia di laga persahabatan internasional, 31 Maret 2015, Mason berhasil mengemas debutnya, bermain selama 16 menit menggantikan rekannya, Jordan Henderson.

Kelebihan utama yang dimiliki Mason adalah kerja kerasnya dalam menyusuri hampir setiap sisi lapangan. Mason tak kenal lelah berlari dalam memaksimalkan skema counter-press arahan Pochettino.

Kalau ada data mengenai kekuatan paru-paru seorang pemain sepak bola, Mason pastu memuncaki daftar di Liga Inggris. Kekuatan staminanya begitu prima, hal yang membuat Mason sangat dicintai oleh para pendukung Tottenham.

Mason memiliki dua tugas utama: menekan secara agresif untuk merebut bola serta melakukan transisi menyerang dengan umpan vertikal cepat. Khusus tugas merebut bola, Mason sangat agresif dan sering mendapat pujian.

Meskipun kadang pula Mason menuai kritikan atas penampilannya ketika Tottenham kehilangan poin penuh. Laju agresifitas Mason menekan pemain lawan beberapa kali tampak sembarangan dan malah memberikan lubang besar di sektor pertahanan.

Cobaan Karier Menerpa Mason

Menyambut musim 2015/16, Mason hadir dengan kepercayaan diri lebih. Wajar, musim sebelumnya sinar Mason sungguh mencuat di permukaan pentas sepak bola Inggris.

Lima pekan perdana Liga Inggris, Mason terus mendapat menit main reguler. Namun setelahnya, cobaan karier tiba-tiba menerpa Mason.

Ia mengalami cedera lutut yang membuatnya harus absen menjalani penyembuhan. Ada empat laga Inggris yang dilewatkan Mason, sampai akhirnya ia merumput lagi di pekan ke-10 saat Tottenham bersua Bournemouth.

Sayang sekali, Mason tidak lagi menjadi pemain utama yang mengawal lini tengah Spurs. Mason sampai pekan ke-13 Liga Inggris selalu bertugas sebagai pemain pengganti.

Laga Liga Inggris pekan ke-14, Mason akhirnya kembali dipercaya tampil sejak menit awal. Lawan yang dihadapi terbilang berat, yakni salah satu raksasa Liga Inggris, Chelsea.

Penampilan Mason awalnya berjalan mulus, mampu mengawal lini tengah timnya dari gempuran pemain-pemain top Chelsea. Kejadian tak terduga datang saat laga menyentuh menit ke-56, Mason mendadak mengalami masalah pada bagian ankle dan harus ditarik keluar.

Cedera ankle ini jadi ujian berat berikutnya yang dilalui Mason. Bahkan hitungannya lebih berat, karena Mason harus absen sampai melewatkan 10 pertandingan Liga Inggris.

Begitu benar-benar pulih, Mason tak langsung mendapat kesempatan bermain. Laga pekan ke-25 dan ke-26, Mason masih berdiam duduk di bangku cadangan.

Barulah pada laga pekan ke-27 kontra Swansea City, Mason menjalani comeback pasca cedera. Mason bermain selama 15 menit sebagai pemain pengganti, membawa Tottenham menang 2-1.

Laga berikutnya, atau laga pekan ke-28, Tottenham bersua West Ham United dan Mason dipercaya tampil sejak menit awal. Tapi hasil laga tak berujung baik, lantaran Tottenham menyerah 0-1.

Setelah laga pekan ke-28, Mason benar-benar kesulitan mendapatkan kembali posisi utama di sektor tengah Spurs. Walau terus dimainkan, Mason hampir selalu turun sebagai pemain pengganti.

Cuma dua kali Mason dijadikan pemain utama lagi, yaitu ketika Tottenham bersua Southampton (laga pekan ke-37) dan kontra Newcastle United (laga pekan ke-38). Sialnya, kedua laga itu semuanya berakhir dengan kekalahan, Mason tak bisa berbuat banyak menolong Tottenham.

Hull City dan Petaka yang Mengakhiri Karier Mason

Ryan Mason: From being 'lucky to be alive' to being the youngest manager in  Premier League history | Marca

Posisi Ryan Mason di skuat utama Tottenham Hotspur mulai tersisihkan, seiring deretan cedera yang menimpanya sepanjang musim 2015/16. Hull City, tim yang musim 2016/17 baru mendapatkan jatah promosi ke kasta tertinggi Liga Inggris, coba ambil kesempatan atas situasi Mason.

Tawaran sebesar 15,4 juta euro diajukan Hull untuk memboyong Mason pada bursa transfer musim panas 2016. Mauricio Pochettino dan manajemen Tottenham Hotspur pun menyetujui proposal tersebut.

Mason lantas resmi menjadi milik Hull mulai tanggal 30 Agustus 2016. Gabung Hull, Mason tentu berharap bisa mendapat perjalanan karier yang lebih baik.

Impian Mason ternyata tak sepenuhnya terwujud. Sejak debut di pekan ke-4 sampai laga pekan ke-14 Liga Inggris 2016/17, Mason memang mendapat menit bermain reguler. Tapi hasil yang diterima Hull saat Mason bermain hampir selalu apes.

Bayangkan saja, 10 laga perdana Mason membela Hull, cuma menghasilkan satu kemenangan dan dua imbang. Sedangkan sisanya berujung kekalahan semua.

Bahkan Hull baru memperoleh kemenangan keduanya pada laga pekan ke-21. Kemenangan kedua ini Mason bermain sejak menit awal dan membawa Hull mengatasi perlawanan Bournemouth 3-1.

Pasca meraih poin penuh atas Bournemouth, Mason dan seluruh pengggawa Hull tentu lebih optimis lagi menatap laga pekan ke-22. Mason dkk. sama sekali tak gentar jumpa tim sekelas Chelsea di Stamford Bridge.

Nama Mason mengisi susunan pemain utama yang diturunkan Hull guna meladeni tim tuan rumah Chelsea. 10 menit pertama, pertandingan berjalan baik bagi Hull yang mampu mengimbangi permainan lawan.

Cerita berbeda lantas terjadi saat laga berusia 13 menit. Chelsea mendapat hadiah sepak pojok, umpan lambung dilepaskan ke area kotak penalti Hull.

Mason sedang dalam posisi bertahan, langsung berlari coba menghalau peluang Chelsea lewat sundulan kepala. Tiba-tiba, datang sambaran bek Chelsea, Garry Cahill, yang terlibat duel udara dengan Mason.

Kepala Cahiil dan Mason ternyata saling berbenturan. Wasit sontak meniup peluit tanda pelanggaran, sementara kedua pemain tadi tergeletak di rumput meringis kesakitan.

Setelah mendapat perawatan, Cahill tetap bisa melanjutkan pertandingan. Beda halnya nasib Mason yang harus ditarik keluar lapangan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Hull yang kemudian tampil tanpa Mason, akhirnya kalah 0-2. Namun duka Hull bukan tertuju kepada kekalahannya, melainkan kondisi Mason yang ternyata mengalami cedera kepala serius.

Tempurung kepala Mason retak, hingga membuat selaput otaknya rusak. Beberapa jam pasca ditubruk Cahill, Mason menjalani operasi penyelamatan.

Tindakan operasi beruntungnya dapat berjalan lancar. 14 pelat baja, 45 staples, dan enam jahitan besar lantas menghiasi kepala Mason.

Pemulihan cedera kepala Mason berlangsung selama empat bulan. Cedera kepalanya berangsur membaik, Mason kembali berlatih secara intensif memanfaatkan fasilitas spesial dari Hull.

Latihan intensif terus dijalani Mason, tanpa sekalipun pernah bermain. Sampai akhirnya pada Februari 2018, Mason, tim medis, dan manajemen Hull menggelar pertemuan khusus.

Isi pertemuan membahas hasil pemeriksaan tim medis yang menyatakan bahwa Mason mustahil melanjutkan karier sebagai pesepak bola. Apabila tetap nekat berkarier, Mason terancam meregang nyawa di atas lapangan.

Mason pun terpaksa gantung sepatu. Ia meninggalkan segala mimpinya tentang sepak bola yang sejatinya masih sangat mungkin diraih andai cedera kepala tak menerpa.

Menjadi Pelatih Tottenham

Bale prijst manager Mason (29) na winnend debuut bij Tottenham Hotspur | NU  - Het laatste nieuws het eerst op NU.nl

Ryan Mason tak ingin lepas dari sepak bola meski telah gantung sepatu. Musim panas 2019/20, Mason kembali ke klub lamanya, Tottenham Hotspur, dengan jabatan sebagai asisten pelatih.

Musim 2019/20 berakhir, Mason mendapat tugas baru menangani pengembangan pemain muda di Tottenham. Tapi kejutan datang saat musim 2020/21 memasuki masa penghujungnya.

Pelatih kepala Tottenham, Jose Mourinho, didepak akibat rentetan hasil buruk yang diterima tim. Manajemen Tottenham lantas mempercayakan posisi pengganti Mourinho kepada Mason.

Penunjukkan Mason sekaligus membuatnya resmi menjadi pelatih termuda di sepanjang sejarah Liga Inggris. Walau cuma berstatus pelatih sementara sampai akhir musim 2020/21, Mason punya tekad kuat mengantarkan Tottenham meraih hasil yang lebih baik.

“Saya ingin kami berani dan agresif, bermain seperti Tottenham Hotspur. Saya ingin tim ini berjuang untuk membuat bangga para penggemar kami,” ucap Mason seperti dikutip Edisi Bonanza88 dari The Guardian.

Mason benar-benar berhasil bangkit dari fase terburuknya. Lebih manisnya lagi, Mason langsung mampu mempersembahkan kemenangan bagi Tottenham dalam laga perdananya melatih.

21 April 2021 kemarin, Mason menjalani debut selaku pelatih Tottenham. Ia menemani Spurs meladeni perlawanan Southampton.

Hasilnya, Mason sukses membawa Tottenham meraih poin penuh, menang 2-1 atas Soton. Bukan mustahil ke depannya Mason akan sanggup memberikan kemenangan yang lebih banyak lagi untuk Tottenham.