Praktek prostitusi digadang-gadang sebagai salah satu jenis pekerjaan tertua di dunia. Sejak sebelum masehi, dalam kitab-kitab agama Samawi bahkan sudah tertera transaksi gelap antara uang dan kepuasan seksual.

Sebut saja bisnis haram di Kota Sodom dan Gomora yang habis dilalap si jago merah, hingga raja-raja yang memiliki banyak istri, selir atau gundik. Raja Salomo, yang dikenal arif dan bijaksana pun mendekati akhir masa jayanya tercatat memiliki 700 istri dan 300 selir.

Mesir sebagai salah satu sumber peradaban bangsa-bangsa di dunia juga tak terlepas dari gemerlap industri prostitusi. Meskipun negara terbesar di timur laut Afrika dan Timur Tengah ini menganggap ilegal perdagangan seks.

Sejak Arab Spring 2011 yang bergulir dari Tunisia hingga seantero pemerintahan diktator negara semenanjung Arab, termasuk penggulingan Presiden Mohamed Hosni Mubarak setelah menjabat lima periode di Mesir, perekonomian Negeri Piramida menurun tajam. Investor mulai menarik diri, terutama pada sektor pariwisata. Banyak orang terjangkit kesulitan ekonomi dan mendadak jadi pengangguran.

Pada kondisi seperti ini, para penjaja seks itu semakin mengalami diskriminasi dan menjadi faktor penting kesenjangan ekonomi yang terlihat di permukaan. Dilansir dari Business Insider, tidak hanya prostitusi dampaknya telah meluas akibat revolusi, layanan romantika sesaat ini juga telah menyesap ke dalam lapisan sosial dan ekonomi rakyat Mesir secara mencolok.

Walaupun dilarang secara hukum, tetap saja ada beberapa lokasi favorit untuk pelesiran, antara lain di Hotel Marriot, Four Season, Hilton dan Sheraton Heliopolis yang terletak di ibu kota, serta beberapa apartemen dan rumah bordil ilegal di Alexandria dan kota-kota besar lainnya.

Di hotel tarifnya jauh lebih mahal, dibanding di kedai-kedai ‘kopi pangku’. Pelanggannya biasa berasal dari kalangan wisatawan Arab Saudi. Sementara pekerja seks komersil (PSK)-nya mayoritas berkewarganegaraan Mesir dan Rusia.

Salah satu red light district terkenal lainnya ialah Haram Avenue dan liga Arab Boulevard yang terletak di pusat Kota Mohandessin, Kairo. Beberapa dekade yang lalu, yakni selama Perang Dunia II, ada berbagai rumah perahu yang ditambatkan di tepi sungai Nil guna melayani pelesiran seks di ibu kota berpenduduk 16 juta orang tersebut.

Seks di Era Mesir Kuno

SEX – Dialogue Times

Menurut mitos Mesir kuno, alam semesta muncul dari ketiadaan. Namun, ada satu dewa yang hidup pada saat itu, Atum. Ia kemudian bermasturbasi dan memunculkan sepasang dewa kembar. Dengan demikian, Atum melakukan penciptaan pertama. Tentu saja, mitos ini menjadi dasar bagi budaya seks Mesir kuno yang unik dan aneh.

Dari mitos ini, muncul praktik dan upacara seksual yang melibatkan masturbasi, yang dipandang oleh orang Mesir kuno sebagai proses penciptaan yang akan memberi kehidupan. Meski terdengar aneh, dikatakan kalau para firaun Mesir kuno sering melakukan masturbasi ke Sungai Nil.

Simbolisme di sini cukup kuat, terlebih jika kita mempertimbangkan fakta kalau kata mtwt (ejaan Mesir kuno, diucapkan mahtoot) dapat diartikan sebagai benih, air mani, keturunan, atau banjir dari Sungai Nil. Pada saat itu, mereka tahu kalau banjir akan memberikan kesuburan di sekitar Sungai Nil, dan mereka melihat kesamaan itu pada air mani.

Selain kisah penciptaan melalui masturbasi, ada mitos seks lainnya dari Mesir kuno. Mitos ini menceritakan dua dewa, Horus dan Seth (atau Set), yang selalu berkelahi satu sama lain, di mana kisah mereka merepresentasikan cara orang Mesir kuno memandang kehidupan.

Singkat cerita, keduanya berebut takhta Mesir kuno setelah saudara Seth dan ayah Horus, Osiris, meninggal. Pada akhirnya, Horus menang dan berhasil mengklaim haknya. Namun, bukan berarti Seth berhenti untuk menantangnya.

Sama seperti orang Yunani dan Romawi kuno, ada kemungkinan kalau orang Mesir kuno memandang tindakan homoseksual sebagai hal yang dapat ditoleransi, bahkan diterima secara sosial. Tradisi ini bisa kita lihat dalam mitos Horus dan Seth.

Seperti dijelaskan dalam laman Departemen Antropologi Universitas Negeri Michigan, Seth dan Horus terus bertempur sampai mereka mencoba untuk “menjepit” dan memaksa yang lain untuk menjadi budak seksual mereka. Dalam prosesnya, Seth mencoba mempermalukan Horus dengan memaksanya berperan sebagai perempuan secara seksual.

Jika berhasil, Seth bisa mendapatkan dukungan dari dewa-dewa lain. Namun, rencana itu digagalkan oleh ibu Horus, Isis. Pada gilirannya, Isis berhasil menipu Seth agar ia menelan air mani Horus, sehingga Horus pun menang dan berhasil mempertahankan takhtanya.

Bukan rahasia lagi kalau orang Mesir kuno memiliki kebiasaan seks yang aneh. Namun, apa jadinya jika ternyata mereka juga sering berhubungan seks dengan binatang? Memang, binatang adalah salah satu “ikon” yang sering ditampilkan dalam setiap aspek budaya mereka, termasuk dalam gambaran dewa-dewa Mesir kuno.

Namun dalam buku Bestiality and Zoophilia: Sexual Relations with Animals, disebutkan kalau buaya menjadi salah satu objek seks favorit orang-orang Mesir kuno. Untuk melakukannya, mereka akan menggulingkan buaya lalu berhubungan seks dengannya. Mereka percaya kalau seks dengan buaya akan memberikan keberuntungan dan kemakmuran pada mereka.

Sama seperti di Babilonia kuno, pelacuran dipandang sebagai tindakan ilahiah dan terhormat bagi orang Mesir kuno. Namun tidak seperti di Babilon, para pelacur Mesir kuno hanya diperbolehkan muncul di tempat-tempat tertentu. Di sana, mereka akan diberi status sosial yang relatif tinggi, terutama jika mereka melakukannya atas nama dewa.

Hebatnya lagi, para pelacur di Mesir kuno dapat bekerja secara terbuka dan bebas. Mereka akan mentato tubuh mereka sendiri, memakai lipstik merah atau riasan lainnya untuk menandakan dan membedakan diri mereka dari wanita biasa. Pada saat itu, pelacuran dipandang sama seperti berdagang atau pekerjaan umum lainnya.

Restu Keluarga dan Praktek Prostitusi

Amnesty's Call to Decriminalise Sex Work Condemned by Egypt's Women's  Council | Egyptian Streets

Ratusan remaja perempuan Mesir melayani wisatawan berkocek tebal dari Teluk Persia demi membantu menafkahi keluarga. Pertalian yang disebut “kawin musim panas” itu ilegal dan berujung pada trauma seksual bagi korban.

Mahar yang ditawarkan biasanya bernilai besar untuk keluarga perempuan, senilai hingga beberapa tahun gaji. “Kedengarannya menggiurkan. Keluarga saya mengatakan saya akan mendapat hadiah dan baju baru. Saya masih muda saat itu. Lalu saya memberikan restu,” kisah Howeida ihwal lamaran dadakan di musim panas tersebut.

Dengan mahar yang didapat, kedua orangtuanya membeli mesin cuci dan sebuah lemari es.

Percampuran ilegal di Mesir dimungkinkan karena adanya celah lebar dalam hukum pernikahan. Kontrak pernikahan bisa didapat di hampir semua toko buku.

Kolaborasi antara makelar hukum dan pengacara memastikan proses hukum berjalan mulus dan rahasia. Pernikahan semacam ini tidak tercatat dan bisa dibatalkan secepat ia dilangsungkan.

Howeida kini berusia 28 tahun dan pernah ‘menikah’ selama delapan kali, masing-masing untuk hanya beberapa hari. Dia ingin mengubur aib masa lalu dan menolak menyebut nama aslinya. Sejak berhenti menjadi pengantin musim panas, dia mengenakan niqab berwarna hitam yang menutupi seorang wanita berparas cantik dengan kulit halus dan rambut panjang sebahu.

Ketika pertamakali dilamar, dia masih hidup bersama ayahnya, ibu dan saudara tiri berusia enam setengah tahun. Keluarga kecil itu tinggal di sebuah rumah berkamar tiga di sebuah desa di luar distrik Ouseem, 20 kilometer dari Kairo.

“Saya masih lugu. Saya masih percaya pada cinta. Malam pertama sangat mengerikan. Setelahnya saya punya masalah psikologis,” kata Howeida. Meski demikian, keluhan itu tidak menghentikan keluarga menikahinya untuk kesekian kali pada musim panas berikutnya.

Ketika Howeida kehilangan keperawanannya, mahar yang diberikan jauh lebih rendah, yakni sekitar 600 Euro atau setara dengan Rp. 8,3 juta.

Kisah hidup Howeida tidak unik, kata Ahmed Moselhy, kuasa hukum sebuah LSM yang khusus mengadvokasi kasus prostitusi dan perdagangan manusia. “Banyak gadis ingin membantu keluarganya dan menikah secara sukarela. Lalu mereka melakukannya berulangkali, karena ketagihan uang.”

“Setiap keluara di sekitar sini punya delapan atau lebih anak. Setiap anak perempuan bisa menghasilkan uang untuk membeli satu mobil atau merenovasi rumah menjadi bertingkat.”

Kawasan pinggiran Kairo nyaris tak tersentuh pertumbuhan ekonomi. Seperempat penduduknya hanya berpenghasilan kurang dari Rp. 30.000 per hari. Kondisi muram tersebut menguntungkan pelaku wisata seks. Terkadang seorang wisatawan bisa membayar 100.000 Euro atau Rp. 1,5 miliar, bergantung pada penampilan, usia, durasi pernikahan dan status keperawanan.

Meski pernah dijual sebagai pengantin musim panas, Howeida masih hidup bersama sang ayah dan ibu tiri. “Saya tidak lagi takut, tapi saya benci mereka. Terutama ayah saya. Kenapa dia membiarkan ini terjadi?” tukasnya. Dia kini mencari pria yang tepat untuk menjalin pernikahan yang sesunguhnya.

Praktek Prostitusi Anak-Anak

The Story Behind Child Brides in Egypt | Egyptian Streets

Ada banyak turis dari Tanjung Arab yang menghabiskan waktu di Mesir. Mereka rata-rata menyewa sebuah flat di Kairo dan Alexandria. Namun, beberapa datang tanpa keluarga mereka, dan memiliki tujuan lain.

Tujuan lain mereka adalah El Hawamdia, sebuah kota kecil 20 kilometer dari Kairo selatan. Di kota itu, ada banyak lelaki Arab yang menaiki mobil-mobil mewah melewati ladang dan sawah di kota kecil itu. Yang mereka cari adalah komoditas unggul; gadis belia.

Gadis-gadis belia berusia 11 hingga 13 tahun menandatangani kontrak. Kontrak itu adalah kontrak Muta, atau kontrak untuk kawin kontral. Mereka dikontrak untuk menjadi istri para lelaki tersebut selama beberapa jam atau beberapa hari.

Azza El-Ashmawy menyebutkan bahwa hal tersebut adalah sebuah praktek prostitusi yang memakai kedok pernikahan sah agama. Direktur Cild Anti-Trafficking itu menyebutkan, bahwa gadis-gadis akan dibayar untuk tinggal selama musim panas saja, atau, dibawa kembali ke tempat mereka untuk menjadi prostitut.

Yang membuat kita lebih sedih lagi, Ladies, adalah fakta bahwa beberapa gadis yang menginjak 18 tahun sudah pernah menikah sebanyak 60 kali.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan ada sekitar dua juta anak yang dilibatkan menjadi perempuan penghibur saban tahun.

Menurut sebuah artikel di surat kabar the Washington Post, setiap tahun ada sekitar 14 juta gadis di seluruh dunia menjadi pengantin anak-anak. Itu artinya ada 38 ribu pengantin anak-anak setiap hari.

Industri hiburan seks di Mesir terus meningkat meski pada 2008 larangan pernikahan dini telah diberlakukan.

Pernikahan yang melibatkan pengantin anak-anak itu ada yang hanya bertahan sehari atau bahkan beberapa jam, tergantung perjanjian dengan mak comblang. Sejumlah mak comblang juga sering menawarkan jasa penyewaan gadis-gadis desa berumur sebelas tahun untuk dibawa ke hotel-hotel atau penginapan supaya dipilih pelanggan.

Kenyataan mengejutkan menyatakan bisnis perdagangan seks terus meningkat sejak revolusi Mesir pada 2011 yang mengakibatkan ekonomi memburuk. Kondisi ini memaksa keluarga-keluarga menikahkan anaknya di waktu belia.

Sisi Gelap Dunia Timur Tengah

Travels in the Middle East: The Problems of Prostitution in The UAE -  TravelSexLife

Yang cukup mengejutkan adalah soal seksualitas di kalangan remaja. Sejumlah penelitian di beberapa negara Arab, seperti Tunisia, Maroko, Aljazair, Libanon, dan Yordania, menyatakan sepertiga kaum lelaki pernah melakukan hubungan pranikah.

Sedangkan perempuan yang pernah melakukannya terdata sebanyak 80 persen. Sekalipun banyak yang menyangsikan data tersebut. Semua pergeseran nilai itu selalu berada dalam sebuah tegangan yang beririsan dengan norma agama, tradisi, kebudayaan, politik, dan ekonomi.

Struktur itu berkelindan dalam relasi kekuasaan lelaki-perempuan, yang muda-tua, serta pemerintah dan warga. Dalam tegangan itulah muncul kebutuhan untuk mendefinisikan ulang identitas dan orientasi seksual, peran gender, keintiman, dan persoalan reproduksi. Seks menjadi cerminan dari berbagai kondisi yang menyebabkan adanya peneguhan atau perlawanan atas sistem nilai tertentu.

Shereen El Feki, yang menulis buku Seks dan Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah, mengajak pembaca melihat dunia Arab melalui perubahan-perubahan pandangan dan tindakan merujuk ke seks, asmara, pernikahan, agama, identitas, politik.

Peristiwa akbar di Lapangan Tahrir (Mesir) menjadi perhatian dunia. Ratusan ribu orang, selama sekian hari, berkumpul untuk melantunkan suara-suara kebebasan, keadilan, demokrasi. Lapangan itu mirip papan iklan untuk berbagai misi.

Apakah seks turut disuarakan di Lapangan Tahrir ada bersama revolusi? Kita bakal menemukan persoalan- persoalan seks dengan berbagai argumentasi di buku Shereen.

Pembacaan buku-buku dan pengakuan orang-orang di dunia Arab menjadi kumpulan informasi mengejutkan. Petuah-petuah ulama mengajak umat untuk melindungi diri dari ajaran seks Barat. Shereen mengutip pandangan Sayyid Qutb sebagai representasi pandangan konservatif tentang seks. Qutb menganggap Barat adalah “jamban kekacauan seksual” dan “kebusukan moral”.

Pandangan ini mulai mendapat tantangan dari generasi mutakhir, berbarengan dengan revolusi politik dan dominasi teknologi internet. Seks perlahan menjadi tema cair, mengubah selera dan pemaknaan.

Seks telah meresap ke dunia Arab dengan aroma Barat, bercampur adat dan agama. Di Mesir, seks adalah persoalan pelik, mulai urusan pernikahan sampai perzinaan. Selama gerakan revolusi di Lapangan Tahrir, ada poster ganjil berisi seruan kaum muda: ‘Aku ingin menikah!’.

Seruan ini disuarakan kaum revolusioner. Mengapa? Pernikahan di Mesir selalu memunculkan gelisah dan kehormatan, merujuk ke pelaksanaan ajaran agama, adat, anutan modernitas. Keputusan menikah mesti dibarengi dengan berbagai modal, dari iman sampai uang.

Pernikahan memang menjalankan ajaran agama Islam, tetapi mengikutkan beban berat. Beban itu bernalar konsumerisme. Hasrat menikah memerlukan uang, berdalih demi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan berlatar adat. Kaum revolusioner pun berseru agar ada revolusi seks dan pernikahan.

Urusan seks di dunia Arab dijalankan institusi keluarga, negara, perusahaan, media massa. Bisnis seks dan pernikahan mulai menjalar di dunia Arab. Shereen melaporkan ada bisnis perjodohan, pelacuran, pernikahan kontrak, konsultasi seks, program seks di televisi, perbukuan seks, situs seks.

Semua memberi aroma dalam lakon seks dan pernikahan. Buku Seks dan Hijab sudah mengajukan berbagai kisah dan penjelasan, meski tak pernah tuntas. Lakon seks terus bergerak dan berubah.

Shereen mengakui buku Seks dan Hijab bukan bahasan terakhir mengenai seks di dunia Arab. Buku ini menjadi langkah awal pada sebuah titik balik dalam sejarah dunia Arab. Kisah-kisah revolusi masih berlangsung di dunia Arab. Kita pun menginsafi dunia Arab mutakhir tak cuma revolusi politik.

Buku ini bukan untuk menambah buku lain yang mengkritik soal betapa maskulinnya seks dan politik di Arab, buku ini hanya menyajikan fakta yang terjadi. Penelitian kualitatif selama lima tahun ini patut diapresiasi karena secara utuh bisa menghadirkan referensi untuk menggali pembentukan kehidupan seksual di Mesir dan transformasinya.