Secara universal dalam menjalankan akti-vitas hidup sehari-hari, semua makhluk hidup, termasuk manusia, wajib membuang limbah tubuh mereka. Namun, bagaimana cara manusia zaman dulu melakukan itu? Saat ini kita mengenal istilah toilet.

Toilet merupakan satu wadah arsitektur untuk mengelola limbah tubuh manusia yang sadar akan martabatnya bahwa mereka berbeda dengan hewan dalam tata cara membuang limbah tubuh mereka.

Orang-orang berbudaya Barat umumnya melakukan aktivitas bertoilet dengan cara duduk di toilet, sementara orang-orang berbudaya Timur melakukannya dengan cara berjongkok.

Ketika arsitek merancang toilet duduk untuk mereka yang berbudaya Timur, dudukan toilet yang dirancang untuk mendudukkan pantat peng-gunanya, akhirnya menjadi tempat meletakkan kaki/alas kaki pengguna yang jongkok. Tidak terjadi sinkronisasi antara rancangan dengan penggunaan toilet. Fenomena ini ditemui hampir di semua fasilitas toilet publik di Indonesia.

Toilet duduk (sitting toilet) digunakan dengan cara melekatkan panggul dan duduk pada dudukan atau kursi toilet. Toilet jongkok (squatting toilet), digunakan dengan cara pengguna jongkok dengan posisi telapak kaki masing-masing di sisi kanan dan kiri dari lubang toilet dan paha menyentuh perut.

Toilet duduk umum digunakan oleh masyarakat Barat, oleh karenanya juga disebut ‘toilet gaya Barat’. Toilet dengan gaya jongkok sejak masa kuno umum digunakan oleh masyarakat Asia, seperti India, Jepang, China, hingga Anatoila, sehingga disebut sebagai ‘toilet gaya Asia’ atau ‘toilet gaya Timur’

Awal kemunculan Toilet

SEJARAH ASAL MULA TOILET | KASKUS

Salah satu peradaban yang berperan penting pada terciptanya sistem sanitasi adalah peradaban tinggi lembah Sungai Indus. Masyarakat India telah mengenal penggunaan toilet sekitar tahun 2500 SM.

Dari data yang dihimpun Bonanza88, mereka membuat toilet yang dihubungkan dengan saluran pembuangan yang terbuat dari tanah liat. Hal itu memperlihatkan kebudayaan manusia memiliki kemajuan yang sangat baik.

Namun keadaan yang sangat berbeda terjadi selama Zaman Kegelapan, terutama di wilayah Eropa, dari tahun 500 M sampai 1500 M, di mana orang-orang membuang wadah berisi kotoran manusia melalui jendela.

Saat itu terdapat banyak sekali tempat pembuangan umum yang dibiarkan terbuka sehingga mengakibatkan tumbuhnya berbagai macam penyakit menyerang orang-orang Eropa. Bahkan banyak orang yang mati di jalan akibat buruknya sistem kesehatan di Eropa saat itu.

Sebelum memiliki toilet di dalam rumah, orang-orang terpaksa membuang kotorannya di tempat pembuangan umum kotoran manusia, atau membuangnya ke dalam sungai yang mengalir. Selain itu juga mereka biasanya mengubur kotoran tersebut di dalam hutan. Bahkan orang-orang menggunakan pispot yang harus dibersihkan secara berkala.

Kesadaran manusia akan kebutuhan sistem sanitasi yang akan berdampak pada kesehatan dan kebersihan mereka baru muncul pada abad ke-16. Pemerintahan di setiap wilayah mulai menganjurkan masyarakatnya membuat toilet di dalam rumahnya, atau menyediakan toilet umum di beberapa tempat.

Namun kesadaran masyarakat akan pentingnya toilet untuk menjaga mereka dari penyakit belum tersebar secara merata. Barulah pada abad ke-18, seluruh masyarakat Eropa mulai menyadari keberadaan toilet sebagai kebutuhan penting mereka.ada masa peradaban Romawi kuno yang dimulai 753 SM, itulah pertama kalinya sejarah mencatat ketika manusia mengenal toilet umum.

Tahun pastinya memang tidak tercatat. Ketika itu toilet yang dikenal tidak seperti yang kita gunakan saat ini. Toilet pada masa itu tidak memiliki sekat. Kita menggunakannya bersama-sama. Bentuknya berupa bangku panjang yang menempel di sepanjang tembok ruangan dan pada jarak tertentu bagian tengahnya berlubang. Di masa itu orang bisa ramai-ramai berada di dalam toilet, menunaikan hajat masing-masing sambil mengobrol.

Jangan lupa, di masa itu belum ada tisu atau bidet. Setelah buang air, orang membersihkan dirinya dengan spon yang digunakan bersama-sama. Memang di kala itu standar kebersihannya masih rendah. Bahkan beberapa orang mengaku digigit tikus ketika menggunakan toilet.

Kadang, toiletnya juga meledak dan mengeluarkan api dari lubang pembuangan kotoran. Hal itu karena bercampurnya gas hidrogen sulfida dan metana. Lalu, kapan perempuan memiliki toilet umumnya sendiri? Jawabannya adalah di era Victoria atau di abad ke-19.

Dulu kastil-kastil milik para bangsawan belum mengenal toilet. Orang kaya maupun orang miskin sama-sama memiliki toilet di luar rumah. Toilet mulai masuk ke rumah di abad ke-11. Namun, toilet yang ada masih sangat sederhana misalnya hanya berupa lubang di tanah atau kendi untuk menampung air kencing.

Sementara itu kastil-kastil yang dibangun beberapa tingkat memiliki lubang di tiap lantainya yang langsung menuju ke tanah untuk membuang kotoran. Sebenarnya desain toilet yang sederhana ini merupakan bagian dari kelemahan arsitektur kastil kala itu.

Istilah toilet ketika itu belum digunakan secara serempak. Tiap daerah memiliki penyebutannya masing-masing. Istilah WC yang kita kenal saat ini berasal dari istilah orang Inggris yaitu water closet. Ini merujuk kepada kloset duduk yang saat itu sudah bisa menyiram sendiri. Toilet sendiri berasal dari Bahasa Prancis, toilette, yang artinya ruang ganti pakaian.

Pakaian perempuan di zaman itu cukup rumit sehingga ketika buang air mereka harus melepas seluruh gaunnya. Orang Amerika menyebutnya sebagai wash room sebagai ungkapan halus untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan di dalamnya. Bukan buang air, mereka akan mengaku baru selesai mencuci tangan.

Pada 1870, teknologi pipa pembuangan sudah meningkat pesat sehingga banyak ruang publik yang membangun toilet di dalam gedungnya. Toiletnya dibangun dengan memisahkan jenis kelamin dan memiliki beberapa pintu sekaligus. Ruang toilet ini pun menjadi benar-benar luas karena ada banyak kursi dan sofa di dalamnya sehingga terasa seperti di rumah sendiri.

Apalagi ketika memasuki abad ke-20 yaitu puncaknya perempuan berada di ruang publik. Perang dunia ditambah revolusi industri mendorong perempuan untuk memasuki dunia kerja. Kebutuhan rest room pun meningkat pesat. Bahkan bagi pabrik-pabrik, menyediakan toilet alias rest room menjadi kewajiban.

Sebenarnya tahun 1596, John Harrington telah menciptakan ide pembuatan toilet yang tertutup oleh air, seperti pada toilet modern. Tetapi gagasan Harrington tersebut baru sepenuhnya diaplikasikan lebih dari 180 tahun setelah penemuannya.

Perubahan besar pada toilet terjadi pada 1738, ketika J.F. Brandel mempekenalkan toilet siram tipe katup. Kemudian pada 1775, Alexander Cummings berhasil mengembangkan toilet yang dapat mempertahankan air dalam cekungannya ketika sedang tidak digunakan. Sehingga tidak menyebarkan bau, dan dapat mengalirkan kotoran keluar dari rumah.

Pada 1778, Joseph Bramah mengubah katup geser menjadi katup engkol. Saat itu setiap toilet sudah dapat membuang kotoran dengan cara mengalirkannya menggunakan air. Pada 1870, S.S. Helior menciptakan toilet tipe siram yang dikenal dengan nama “optims”.

Dari tahun 1890 hingga memasuki abad ke-21, satu-satunya perubahan yang terjadi pada toilet hanyalah estetika. Mengenai cara kerja dan fungsi toilet tetaplah sama. Perubahan lain pada toilet dilakukan pada bentuk dan desain dari toilet, yang banyak disesuaikan dengan kebutuhan dan selera masing-masing orang. Air yang digunakan pun lebih sedikit dibanding sejak pertama ditemukan, sehingga dapat menghemat penggunaan air.

Kemunculan Toilet Berbayar

Sungguh Ironi, Seperti Inilah Rupa Toilet di Zaman Romawi - Banjarmasin Post

Toilet umum berbayar sering ditemukan di pusat perbelanjaan, tempat wisata, tempat umum atau ruang publik lain. Orang harus membayar untuk menggunakan tempat buang air umum dengan nominal tertentu. Tahukah kamu kapan toilet berbayar diciptakan?

toilet umum berbayar pertama diciptakan di Romawi Kuno pada 74 Masehi oleh Kaisar Vespasian (Caesar Vespasianus Augustus atau Titus Flavius Vespasianus). Kaisar Vespasian adalah pendiri Dinasti Flavian (usai perang saudara setelah kematian Kaisar Nero) dan penggagas Colosseum Romawi (Flavian Amphitheatre).

Orang Romawi Kuno menemukan cara menghasilkan uang dari limbah publik. Sejarah mencatat adanya pajak aneh di zaman itu, salah satunya pajak air kencing (urine). Di Romawi kuno, air seni manusia adalah komoditas berharga.

Urine digunakan untuk berbagai alasan seperti penyamakan kulit, pencucian bahkan menyikat gigi. Kaisar Vespasian (memerintah pada 69-79 M) dan Kaisar Nero (memerintah pada 54-68 M) menemukan peluang emas untuk mendapatkan keuntungan dari kencing.

Mereka memungut pajak atas pendapatan urine. Hasil pajak urine mengarah ke frase Latin populer Pecunia non alet yang artinya uang tidak berbau. Dilansir dari Italian Notebook, frase Pecunia non alet bermula dari protes putra Kaisar Vespasian, Titus, yang mengeluhkan pajak yang buruk tersebut.

Tetapi Kaisar Vespasian mengangkat sebuah koin dan bertanya apakah Titus tersinggung oleh baunya. Saat Titus menjawab tidak, Vespasian mengatakan koin itu berasal dari urin.

Sebelum toilet umum pertama kali diperkenalkan, orang Romawi Kuno buang air kecil ke dalam pot yang dikosongkan ke dalam tangki septik (septic tank). Pada 74 M Kaisar Vespasian memperkenalkan kembali pajak urin dan memerintahkan pembangunan tempat kencing umum berbayar.

Limbah urine akan dikumpulkan dan dijual sebagai sumber amonia yang digunakan untuk penyamakan kulit dan membersihkan pakaian. Tempat kencing umum sudah jarang ditemui di Italia.

Tetapi toilet umum masih dikenal dengan sebutan Vespasiani hingga saat ini. Di zaman modern, John Nevil Maskelyne (1839-1917) mendapat pujian atas penemuan toilet berbayar. John adalah seorang pesulap panggung Inggris, penemu dan keturunan astronom Royal Nevil Maskelyne.

Pada abad ke-19, Maskelyne menemukan kunci untuk toilet London. Dengan cara menyisipkan koin sen untuk menggunakan toilet umum tersebut. Sehingga muncul eufemisme, menghabiskan satu sen (spend a penny) untuk aktivitas kencing.

Toilet di Jepang

Teknologi Canggih Toilet di Jepang Memang Keren, Buatmu Jadi Ingin Berlama-Lama

Toilet di Jepang rata-rata bersih dan terawat, sehingga nyaman digunakan bagi wisatawan. Selain itu, dapat digunakan oleh siapapun tanpa membayar dan juga disediakan tisu toilet.

Sebagian besar tempat di Jepang yang dikunjungi oleh wisatawan terdapat toilet. Toilet ada di tempat-tempat yang dikunjungi oleh wisatawan seperti bandara, stasiun, penginapan, tempat perdagangan, taman, dan tempat pariwisata. Selain itu, di beberapa convenience store dan supermarket juga disediakan toilet. Anda juga dapat menggunakan fasilitas toilet di dalam bus dan kereta jarak jauh.

Di Jepang ada sejumlah kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan toilet. Ada yang langsung menggunakan kata toilet dan ada juga yang tidak. Misalnya, lebih baik menggunakan kata “wastafel” dan “kamar kecil” daripada langsung mengatakan “toilet” pada saat sedang makan. Mungkin Anda harus mengetahui berbagai macam panduan supaya Anda tidak bingung apakah itu toilet atau bukan.

Toilet gaya Jepang biasanya terdapat pada bangunan kuno atau tempat pariwisata dan jenis toiletnya berbeda tergantung pada tempatnya. Namun, akhir-akhir ini sebagian besar sudah menggunakan toilet gaya barat.

Toilet gaya jepang adalah toilet yang menggunakan kloset seperti mangkuk. Gaya toilet tersebut sudah ada sejak dahulu kala di Jepang, tetapi pada rumah modern saat ini tidak digunakan lagi. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa di beberapa bangunan tua dan tempat wisata, saat ini pun gaya toilet seperti itu masih digunakan.

Toilet Jepang cara pembersihannya sedikit berbeda tergantung dari toiletnya. Jika toilet yang ada tangkinya (gambar kiri atas), Anda dapat membersihkannya dengan menggerakkan tuas ke samping.

Sedangkan toilet yang tidak ada tangkinya (gambar kanan atas) seperti dalam toilet gaya Jepang dan toilet umum, Anda dapat membersihkannya dengan menggerakkan tuas ke bawah. Ada juga toilet yang dapat dibersihkan dengan tombol bilas dan dengan menyentuhkan tangan kita pada sensor, tuas, ataupun tombol yang tertempel pada dinding.

Di toilet Jepang, kertas tisu yang sudah dipakai dibuang ke kloset saja dan dialirkan bersama-sama dengan kotoran. Namun, tisu yang boleh dialirkan bersama dengan kotoran hanyalah tisu khusus toilet dan tisu yang larut dalam air.

Selain kedua jenis tisu tersebut, buanglah benda-benda lainnya ke tempat sampah. Saat Anda datang ke Jepang, cobalah toilet duduk dengan pembersih air hangat.

Toilet duduk dengan pembersih air hangat ini berfungsi untuk membersihkan bagian yang hendak dibersihkan dengan air hangat dan dapat menghangatkan toilet.

Selain itu, ada juga fitur penghemat listrik, yaitu menghangatkan toilet duduk seketika dan mengeluarkan air hangat hanya pada saat toilet digunakan. Di Jepang ada alat yang mengeluarkan bunyi aliran air untuk menghilangkan bunyi pada saat eksresi yang disebut “Alat Pembuat Bunyi Toilet Palsu”.

Toilet akan mengeluarkan bunyi saat Anda menekan tombol dengan tangan dan mengeluarkan bunyi dengan otomatis saat mendeteksi adanya orang yang masuk ke toilet.

Selain itu, terdapat tombol panggilan darurat di dekat tombol flash. Mari berhati-hati supaya tidak menekan tombol darurat yang bertuliskan kanji “呼出(dibaca: yobidashi)”selain untuk kondisi darurat karena tombol tersebut digunakan bagi penyandang cacat dan orang yang kondisinya kurang baik saat berada di toilet.