Bagi Robot Gedek pernah mengaku membunuh adalah perkara sensasi. Tidak ada motif dendam atau mencari popularitas. Ia cuma ingin memenuhi hasratnya. Tak lebih, tak kurang. Kasus Robot mencuat ke permukaan pada 1997.

Ia ditangkap polisi lantaran menjadi terdakwa sodomi dan pembunuhan terhadap sejumlah anak jalanan. Tabi Robot berbeda: ia bukanlah siapa-siapa. Ia bukan anggota gangster, bukan kriminal tulen. Ia sebatas, mengutip Kompas, “manusia terpinggirkan yang terdampar di riuh rendahnya Jakarta.”

Majalah Gatra dalam “Awas, Pemangsa Bocah” yang terbit pada 2010 mendeskripsikan sosok Robot seperti berikut: gelandangan berkaki timpang, berpostur pendek, tidak kekar, bungkuk, dan berjalan pincang. Gatra juga menyebut bahwa kepala Robot Gedek teleng, alias menggeleng tanpa sebab—inilah yang menyebabkan ia dipanggil “Robot Gedek.”

Menurut catatan polisi yang dihimpun Edisi Bonanza88, Robot melakukan aksi bengisnya dalam kurun waktu 1994 sampai 1996. Korbannya delapan anak jalanan di Jakarta. Empat mayat korban ditemukan di Kemayoran, Jakarta Pusat, sisanya di Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Kondisi mereka seragam; bekas jeratan di leher, sayatan di perut, dan anusnya terdapat bekas luka terkena benda tumpul. Polisi sempat kewalahan mengusut pembunuhan berantai ini. Hampir dua tahun, polisi, catat Gatra, “seperti menemui jalan buntu”.

Polisi memperoleh titik terang usai korban kedelapan (namanya Kasikin) ditemukan. Ditambah lagi, polisi mendapatkan keterangan beberapa saksi. Dari keterangan tersebut, ketemulah nama Robot. Mulanya polisi ragu dengan nama Robot. Pasalnya, secara fisik Robot dianggap “tidak seperti seorang pembunuh”.

Namun, setelah melakukan pengecekan berkali-kali, polisi akhirnya meyakini bahwa pelaku pembunuhan adalah Robot. Upaya pencarian Robot pun segera dilakukan. Tapi, polisi tak menemukan Robot di Jakarta. Berdasarkan informasi yang polisi dapatkan, Robot pulang ke kampung halaman di Ketandan, Batang, Jawa Tengah.

Polisi, masih menurut Gatra, lalu menciduk Robot ketika ia sedang mengemis di stasiun kereta api di Tegal. Pada 1997, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Robot. Ia kemudian dimasukkan ke LP Nusakambangan, Cilacap. Satu dekade berselang, Robot Gedek tewas akibat serangan jantung.

Mengenai pembunuhan berantai yang dilakukan Robot tersebut, Erlangga Masdiana, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa anak-anak ditargetkan jadi korban karena “mereka tidak punya kekuatan untuk melawan.”

Benarkah pelakunya Robot Gedek?

Tidak Hanya Rian, Ini Dia Pembunuh Berantai Kejam di Indonesia - Blog Hotel  Bobobox Indonesia

Robot alias Siswanto memang sudah ditangkap, tapi pembahasan mengenai kasus ini terus bergulir. Muncul dugaan, Robot bukanlah pelaku pelaku pembunuhan berantai. Ia hanya korban salah tangkap dan tumbal untuk menutupi keberadaan pelaku yang asli. Usman Hamid, yang saat itu masih bekerja di KontraS, mengatakan bahwa Robot tidak mempunyai kemampuan membunuh karena di samping ia kurang waras, Robot juga dikenal sebagai pribadi yang lugu.

Lantas siapa yang diasumsikan jadi pelaku asli pembunuhan berantai ini? Namanya Baekuni, alias Babe. Pada 2010 silam, catat Liputan 6, Babe ditangkap polisi setelah ditetapkan jadi tersangka pembunuhan berantai terhadap 14 anak. Motifnya, korban menolak hasrat seksual Babe. Cara Babe menghilangkan nyawa mereka juga sama: menjerat leher korban dengan tali rafia hitam.

Setelah korbannya tak bernyawa, Babe menyalurkan hasrat seksualnya. Sebagian besar korban Babe dimutilasi. Teori yang beredar seperti ini: yang membunuh anak-anak itu bukan Robot, melainkan Babe. Ia menjadikan Robot sebagai tameng atas perilaku bengisnya. Hal ini bisa dilihat dari, pertama, Babe merupakan satu-satunya saksi yang memberatkan Robot dalam persidangan. Waktu itu, Babe memakai nama Sunarto.

Ia mengatakan kepada hakim bahwa ia melihat Robot melakukan aksi brutalnya di dekat bekas Bandar Udara Kemayoran sekitar pukul 01.00. Dalam persidangan, Sunarto alias Babe mengaku sebagai pedagang baju bekas di Pasar Jiung, Kemayoran.

Faktor kedua, seperti dituturkan Febry Irmansyah, pengacara Robot, sekalipun Robot mengakui kesalahannya, akan tetapi keterangannya patut diragukan mengingat Robot punya masalah kejiwaan.

Ketiga, ada korban Babe yang punya identitas sama dengan korban Robot. Korban bernama Rio, misalnya. Namun, tuduhan itu ditolak kuasa hukum Babe, Rangga Rikuser. Menurut Rangga, Babe memang kenal Robot. Namun, hanya sebatas teman seprofesi di jalanan.

Rangga juga menambahkan bahwa Babe tak pernah jadi saksi dalam kasus Robot. Sementara itu, Boy Rafli Amar, Kabid Humas Polda Metro Jaya, bersikukuh apabila Babe dan Robot Gedek sama sekali tidak memiliki keterkaitan. Bahkan keputusan hakim dalam memvonis Robot Gedek, menurutnya atas dasar pembuktian.

Pernyataan Boy dibenarkan Edward Syah Pernong, saat itu menjabat Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Pusat. Edward menegaskan, Robot dan Babe adalah dua kasus yang berbeda.

Menurut Edward, dalam mengusut kasus Robot, polisi telah menerapkan sistem identifikasi berdasarkan prinsip ilmiah guna mengidentifikasi tersangka. Setelah itu, sebagaimana dilaporkan Gatra dalam “Dua Babe, Dua Tempus,” polisi lalu “melakukan pengumpulan data secara total, akurat, prosedural, hati-hati, serius, faktual, utuh, berhubungan, dan mencari kebenaran.”

Dalam mengungkap perkara Robot, terang Edward, ada tiga hal yang dikulik penyidik: bukti langsung, bukti penghubung, dan bukti pencari. Polisi menemukan bekas sperma Robot di TKP. Kemudian, sidik jari Robot juga teridentifikasi pada pisau cutter yang tertinggal di TKP.

Beberapa barang milik korban juga ditemukan pada Robot. Belum lagi keterangan dari saksi yang menyaksikan korban selalu bersama Robot. Faktor yang menambah keyakinan Edward ialah pengakuan dari Robot sendiri yang mengaku telah membunuh beberapa anak.

Plus, Robot menyebutkan beberapa tempat kejadian di mana ia melakukan aksi-aksinya. “Dari segi lokus, korpus, tempus, dan modus antara Robot dan Babe berbeda,” ujar Edward.

Robot Gedek vs Babe

Babeh Kenal Robot Gedek - News Liputan6.com

Polisi membantah fakta baru mengenai keterlibatan Baekuni alias Babe dalam pembunuhan yang dilakukan Siswanto atau yang dikenal Robot Gedek. Pasalnya ada dugaan kalau Robot Gedek dijadikan ‘tumbal’ oleh Babe.

“Kita masih pelajari keterlibatan Babe dengan Robot Gedek, namun itu memerlukan waktu dan penyidikan lebih lanjut,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Jumat 5 Februari 2010.

Polisi tidak mau terburu-buru menyimpulkan hal tersebut, apalagi mengkait-kaitkan dengan informasi yang tidak jelas. “Kalau memang benar, harus ada bukti-bukti, fakta-fakta, keterangan dari saksi dan tersangka,” ujarnya.

Menurut Boy, penyidik masih fokus pembunuhan yang dilakukan Babe. “Apakah masih ada korban tambahan Babe?, itu yang jadi prioritas utama kita,” imbuhnya.

Polisi juga akan mendalami apakah Babe pernah menjadi saksi dalam persidangan Robot Gedek. “Kalau memang benar, itu tentu jadi fakta baru dalam kasus Robot Gedek,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjut Boy, dalam proses hukum Robot Gedek tetap terbukti bersalah. “Dalam proses pembuktian yang telah digelar dia terbukti dan sudah melalui proses peradilan,” pungkasnya.

Sementara itu, kuasa hukum Pengacara terpidana Siswanto alias Robot Gedek merasa yakin bahwa Baekuni alias Babe (49) adalah saksi kunci dalam sidang Robot Gedek.

Babe adalah saksi yang memberatkan terdakwa dalam persidangan pada Juli 1997 silam. “Saya yakin 100 persen mukanya sangat mirip dengan Sunarto alias Babe,” kata pengacara Robot Gehek, Febri Firmansyah saat dihubungi wartawan, kemarin.

Namun, lanjut Ferbi, saat persidangan Robot Gedek di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Baekuni menggunakan nama lain, yaitu Sunarto alias Babe. Saat persidangan, Babe bersaksi bahwa Robot Gedek memutilasi kemudian menyodomi semua korbannya.

Saat itu, jaksa penuntut umum menghadirkan Babe dipersidangan sebagai teman Robot Gedek, karena  hubungan antara Babe dan Robot Gedek sangat dekat.

“Yang jelas keduanya punya hubungan dimana sama-sama memiliki kelainan seksual, yakni suka menyodomi anak di bawah umur,” jelas Febri.

Menurutnya, Robot Gedek dan Babe saling mengenal saat keduanya bekerja di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat beberapa tahun silam.

Febri tidak yakin kliennya membunuh, karena saksi yang dihadirkan oleh JPU hanya Babe dan selama persidangan berlangsung selalu dilakukan tertutup karena kasusnya asusila.

Saat persidangan berlangsung, kuasa hukum sempat meminta Majelis Hakim untuk melakukan tes kejiwaan terhadap Robot Gedek. Namun, permintaan itu selalu ditolak.

“Mulai dari Polres Jakarta Pusat hingga diajukan ke persidangan selalu ditolak,” jelasnya.

Alasan Febri meminta melakukan tes kejiwaan terhadap Robot Gedek saat itu karena Robot Gedek tidak pernah serius menjawab saat diajukan pertanyaan.

“Dia selalu cengengesan dan tidak pernah serius saat ditanya apakah membunuh,” jelasnya.

Namun, majelis hakim saat itu lagi-lagi menolak bantahan Febri. Alasan majelis hakim, Babe mampu diajak berkomunikasi.

“Kalau tidak dilakukan tes kejiwaan, bagaimana bisa mengetahuinya,” ujarnya mengakhiri perbincangan.

Kuasa hukum babe, Haposan Hutagalung membenarkan jika Babe mengenal Robot Gedek atau Siswanto. Keduanya saling mengetahui kebiasaan masing-masing.

“Babe mengetahui jika Robot suka mensodomi dan memutilasi anak-anak jalanan, begitu juga sebaliknya. Robot Gedek mengetahui kalau Babe suka menyodomi dan memutilasi anak-anak,” katanya.

Haposan mengatakan, perkenalan dua pembantai itu berkisar sekitar tahun 1993-1995. Perkenalan itu karena keduanya juga merupakan anak jalanan di kawasan terminal Pulo Gadung.

“Mereka berdua sama gelandangan, dari situlah keduanya akrab dan kebetulan selera mereka sama suka mensodomi anak-anak,” tambahnya.

Namun, menurut pengakuan Babe, lanjut Haposan, korbannya berbeda dengan robot gedek. “Dia (Babe) tidak pernah membunuh bersama robot. Artinya korbannya berbeda-beda, dan tidak juga mensodomi bersama Robot,” kata Haposan.

Haposan membantah jika Babe pernah bersaksi dalam kasus robot gedek.

“Tidak pernah babe dipanggil sebagai saksi atas kasus yang dilakukan Robot, kalaupun ada saksi dengan nama Babe, mungkin itu Babe yang lain, karena sebutan Babe itu cukup banyak di anak jalan,” ujarnya