Saat ini hampir di semua sekolah telah mengenal adanya kekerasan, bully dan tawuran. Budaya tersebut rupanya berakar sejak tahun 1980-an hingga 1990 an di mana pada saat itu tawuran dianggap sebagai Hiburan pelepas penat seusai sekolah.

“Pada zaman itu, masyarakat memaknai tawuran sebagai hal yang berbeda dengan jaman sekarang. ‎Dulu tidak ada televisi dengan beragam pilihan, tidak ada gadget, sehingga tawuran itu dilakukan karena mereka ingin Hiburan. Terkadang kalau mereka bosan mereka akan melakukan tawuran karena menurut mereka menyenangkan,” ujar Sari Monik Agustin, Pengamat Sosial.

Pada era itu, jelas Monik, kekerasan tidak dimaknai sebagai kekerasan diluar batas, namun berfungsi untuk menertibkan. Pada saat itu, memukuli anak oleh guru dan orangtua dianggap sebagai bentuk pendisiplinan anak.

“Karena saat itu tidak ada sumber informasi yang banyak. Berbeda dengan saat ini, dimana anak dapat mendengar, melihat dan membawa di media bahwa kekerasan tersebut adalah hal yang tidak baik,” ungkapnya.

Semuanya berubah ketika memasuki era akhir 90-an dan 2000-an. Kekerasan seperti tawuran, kekerasan dan bully dilakukan siswa tidak lagi sebagai bentuk pendisiplinan, tetapi sebagai penyaluran frustasi.

Secara historis, munculnya fenomena tawuran antar pelajar ini tidak diketahui secara pasti, tetapi yang jelas siapapun yang pernah menyandang status sebagai pelajar seperti di jenjang pendidikan SLTA (Sekolah Lanjutan Pertama) mungkin pernah mengalaminya, terlibat tawuran, atau minimal mendengar teman satu sekolahnya terlibat tawuran atau perkelahian.

Hal ini sesuai dengan hasil jajak pendapat Kompas pada bulan Oktober, dengan responden di 12 kota di Indonesia, diketahui sebanyak 17,5 prosen responden mengakui bahwa saat bersekolah di tingkat SLTA, sekolahnya pernah terlibat tawuran.

Tidak sedikit pula responden atau keluarga responden yang mengaku pada masa bersekolah terlibat tawuran atau perkelahian massal antar pelajar. Jumlahnya mencapai 6,6 persen atau sekitar 29 responden.

Awal mula munculnya tawuran, jika dilihat dari peristiwa tawuran yang diberitakan media massa untuk pertama kalinya, mungkin dapat dijadikan acuan, dimana pemberitaan terkait tawuran antar pelajar pertama kali muncul sekitar tahun 1960-an. Tepatnya tahun 1968, muncul pertama kali dalam berita di Kompas edisi 29 Juni 1968 memuat artikel mengenai tawuran pelajar di Jakarta.

Tawuran dari Masa ke Masa

Pelajar SMK Dominasi Tawuran di Padang : Okezone News

Tawuran pelajar menjadi momok yang menakutkan pada era tahun 90 dan meledak begitu masif dan radikal di pertengahan tahun 1996. Tawuran menjadi problem yang serius selama 20 tahun lebih, karena telah lebih dari 100 siwa terbunuh dan ribuannya terluka, juga membuat kerusakan besar di berbagai infrastruktur publik, berikut bis, sekolah dan jalan – jalan yang rusak.

Tawuran pelajar mulai menurun di era tahun 2000 – 2002 ketika yayasan PGRI menghilangkan STM yang dibawah kebijakannya. Pada tahun – tahun itu sekolah STM yang di bawah PGRI tidak lagi mengambil siswa baru dengan tujuan memutus rantai musuh yang bernama warisan.

Mengapa dan kenapa hanya sekolah STM PGRI saja yang di hapus? Karena pada era itu STM PGRI penyumbang tertinggi dari maraknya tawuran pelajar. Dulu kala STM Negeri selalu bergandengan dengan STM PGRI, jika paginya anak negeri siangnya di isi anak PGRI.

Era tawuran pelajar pun turun kecuali timbul satu persatu, kasus demi kasus tawuran pelajar terjadi di beberapa bagian sudut jakarta saja dan itu bersifat sporadic dan situasional. Era ini tawuran pelajar hanya melibatkan STM Negeri yang berganti menjadi SMK dan SMK swasta yang berada di bawah yayasan.

Lalu mengapa tawuran pelajar kembali lagi marak saat ini? Apakah problem mendasar dari tawuran pelajar di Jakarta saat ini sama dengan masa era tahun 90 – 2000? Apakah keadaan sosial dan psikologi anak – anak sekolah masa lalu sama dengan masa sekarang? Apa yang membuat mereka kembali menghidupkan musuh warisan tersebut? Untuk apa? Dan apa tujuannya?

Pada era awal tahun 90 perkelahian pelajar berubah bentuk menjadi tawuran pelajar karena banyaknya para siswa yang bersekolah jauh dari rumahnya. Mereka yang merasa terancam akan musuh lalu membentuk sebuah basis (Barisan Siswa) yang naik bus yang sama, baik berangkat mau pun pulang sekolah.

Basis ini terdiri dari siswa kelas 3, 2 dan anak kelas 1, rumah mereka saling berdekatan atau kumpulan dari berbagai daerah yang satu jalur dengan bis yang mereka gunakan.

Di era pertengahan tahun 1993 istilah – istilah basis semakin terdengar dan mendapat predikat (status) yang menakutkan dan disegani oleh musuh – musuh. Basis – basis ini lah yang kerap tawuran ketika mereka bertemu dengan basis dari siswa musuh sekolah mereka di jalur yang bersinggungan dengan bis mereka.

Sifat tawuran pun berubah, dari para pelajar yang biasa menyerang musuhnya di sekolah kini berganti dengan menghadang bis – bis sekolah musuh di jalur. Pada era tahun 95 – 96 jalur – jalur bis selalu di lewati oleh hampir semua sekolah yang berbeda, baik musuh atau pun tidak.

Jalur – jalur ini lah yang begitu sulit untuk di antisipasi oleh polisi atau guru untuk mengantisipasi tawuran pelajar. Di jalur ini juga para siswa berhati – hati baik penyergapan yang di lakukan oleh musuh sekolahnya atau pun bertemu secara tidak terduga karena bis mereka bertemu di jalur yang sama.

Basis – basis ini mudah sekali di kenali, karena sebagian mereka Mereka naik bis dengan cara bergelantungan. Pada tahun pertengahan 90an ledakan penduduk di usia remajadi Jakarta menambah beban bagi persoalan tawuran antar pelajar, apalagi trend anak STM menjadi sekolah favorit pada saat itu.Tawuran pelajar pun mengalami kenaikan pesat dan makin masif, radikal, ekstrim dan sulit di antisipasi.

Lalu bagaimana dengan era tawuran pelajar saat ini? di tahun 2012 tawuran kembali merebak. Korban pun kembali berjatuhan. Jika di tahun 2010 sampai di akhir 2011 tawuran pelajar marak terjadi di kota – kota penyanggah, seperti Bekasi, Depok dan Tangerang, kali ini di pertengahan 2012 tawuran pelajar di Jakarta kembali lagi marak.

Akar tawurannya masih sama yaitu musuh warisan, musuh warisan senior atau kakak kelas yang turun temurun masih di dengungkan oleh senior mau pun para alumni yang masih memprovokasi adik – adiknya. Merekalah anak – anak basis (barisan siswa) yang dahulu kerap mewarnai tawuran di Jakarta.

Apakah secara institusi sekolah – sekolah tersebut bermusuhan? Tidak, sama sekali tidak. Mereka lah yang membuat sekolah ini satu sama lain bermusuhan. Jika para guru, penegak hukum dan pemerintah mengawasi anak – anak basis ini, maka tawuran akan mudah di antisipasi, di petakan, dan di eliminir sedini mungkin.

Barisan siswa (basis) inilah yang masih menghidupkan musuh yang bernama warisan dan melestarikan permusuhan ini sampai detik ini. Dan mereka akan menyerang musuh sekolah mereka, baik para pelajar tersebut menjadi anggota basis atau pun bukan, karena tujuan mereka adalah mengalahkan musuh dengan cara kekerasan.

Korban tawuran pelajar terus berjatuhan, jika siswa SMA 6 meninggal karena serang, di Payakumbuh, Sahardjo satu korban lagi dari SMA Yayasan Karya meninggal karena di serang oleh SMK Kartika Zeni

Tidak semua anak SMA atau anak STM (SMK) yang terlibat dalam tawuran atau menjadi bagian dari basis. Tapi korban tawuran tidak memandang itu semua. Sampai detik ini tawuran tetap sulit sekali untuk di hentikan. Pertanyaan mendasarnya, apakah sebenarnya kita memahami dan mengerti akar dari tawuran itu sendiri?

Boedoet dan Tawuran di Jakarta

Panas, Tawuran STM vs SMA 1 Langsa | Blog Alumni STM Langsa

Boedoet merupakan singkatan dari Boedi Oetomo, nama lain SMK Negeri 1 Jakarta. Nama Boedoet sendiri merujuk lokasi di mana sekolah ini berada: Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat.

Tepatnya 1989, Boedoet terlibat bentrok dengan SMA Negeri 1 Jakarta, yang lokasinya notabene bersebelahan. Penyebab tawuran tak terang. Yang pasti, korban berjatuhan cukup banyak, di samping rusaknya beberapa gedung dan kendaraan di sekitar lokasi berlangsungnya bentrok.

Sejak kerusuhan tersebut, Boedoet rutin menghiasi media, dengan topik yang bisa ditebak secara gamblang: tawuran antarpelajar.

Pada 2009, ambil contoh, puluhan siswa dari Boedoet ditangkap Kepolisian Sektor Metro Sawah Besar ketika hendak menyerang pelajar SMK Fransiscus. Rencananya, gerombolan Boedoet bakal menghadang anak-anak Fransiscus di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Niat itu urung terlaksana karena polisi keburu menahan mereka, saat gerombolan melintasi jalanan Wahidin. Polisi mengamankan barang bukti berupa benda-benda tajam, seperti parang, stik golf, sampai gir.

Dua tahun berselang, siswa Boedoet ditemukan tewas setelah ditusuk dua orang. Pemicunya yakni saling ledek di grup Facebook bernama “Tawuran Pelajar se-Jabodetabek,” yang diisi ribuan member, mayoritas adalah anak-anak sekolah kejuruan mesin.

“Ini fenomena baru melalui dunia maya, di mana para pelajar meledek pelajar lainnya. Berawal dari itu, pelajar STM Bonjer 5 [Jakarta Barat] mencari pelajar lain,” tegas Enci Haryadi, yang menjabat Kasatreskrim Polres Jakarta Pusat waktu itu.

Pada 2012, empat murid Boedoet ditangkap polisi di Jatinegara, Jakarta Timur, sebab terlibat tawuran dengan membawa senjata tajam. Tawuran pecah usai bus yang ditumpangi anak-anak Boedeot dihadang di Jatinegara.

Masih di tahun yang sama, puluhan siswa Boedoet ditahan aparat karena merampas barang-barang milik anak-anak SMK Tanjung di depan Museum Fatahillah. Sejumlah gir turut diamankan oleh polisi sebagai barang bukti.

Menjelang 2014 tutup buku, lagi-lagi kabar mengenai Boedoet meramaikan media massa. Seorang siswa Boedoet mengalami luka bakar di sekujur kepala dan leher akibat terkena siraman air keras dari sejumlah pelajar di Prumpun, Jakarta Timur.

“Diduga korban menjadi sasaran tawuran antarpelajar,” kata Kompol Sri Bhayangkari, Kasubag Humas Polres Jakarta Timur saat itu.

Kabar tersebut seperti menambah daftar duka yang terjadi pada 2014. Beberapa bulan sebelumnya, siswa Boedoet tewas dalam tawuran pelajar di bilangan Bungur, Senen, Jakarta Pusat. Korban tewas akibat benda tajam.

Tawuran didorong oleh aksi saling ejek ketika kedua gerombolan pelajar berpapasan. Polisi sampai menurunkan puluhan personel guna menghentikan bentrok.

Fenomena Anak STM Tawuran di Jakarta

Dunia STM Djakarta: SEKOLAH TERBRINGAS SEJAKARTA PERIODE 1993-2004

Di beberapa kota ini, sangat sering terjadi tawuran antar pelajar.  Dan bahkan menduduki peringkat tertinggi tawuran antar pelajar di seluruh Indonesia. Ini sangat miris, mengingat  kota-kota tersebut adalah metropolitan.  Sudah banyak korban jiwa akibat bentrokan ini. Hasilnya upaya saling balas dendam menjadi pengawet perseteruan abadi ini.

Contohnya saja geng SMK 53 dan SMK 35 yang selalu menjadi musuh abadi dalam tawuran pelajar tersebut. Statistik menunjukkan, pada 2014 ada kurang lebih 760 tawuran yang terjadi di sana. 760 adalah angka fantastis yang menunjukkan betapa seringnya tawuran terjadi di kawasan tersebut. Setiap tahun lebih puluhan jiwa harus melayang akibat tawuran sia-sia ini.

STM memang selalu diidentikan dengan tawuran. Bahkan ketika mendengar STM melakukan aksi demonstrasi banyak yang sudah menebak akan terjadi chaos. Meskipun di sisi lain kehadiran STM sangat dibutuhkan terutama di dunia industri Indonesia.

Usia sekolah kejuruan di tanah air juga tak bisa dibilang muda. Mereka sudah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Di tahun 1743, sekolah kejuruan pertama pertama didirikan. Sekolah itu adalah Academie der Marine atau Akademi Pelayaran. Sayangnya sekolah itu kemudian ditutup tahun 1755.

Di akhir abad ke-18, Belanda mendirikan sekolah kejuruan bernama Ambachts School van Soerabaia (Sekolah Pertukangan Surabaya) yang diperuntukan bagi anak-anak Indo dan Belanda. Tak lama setelah itu dibentuk sekolah serupa di Jakarta.

Selama masa penjajahan, Belanda telah banyak mendirikan sekolah kejuruan. Tercatat setidaknya hingga tahun 1940 ada 88 sekolah kejuruan dengan total 13.230 siswa. Rata-rata sekolah yang didirikan di bidang pertukangan, teknik dan pertanian.

Di zaman kemerdekaan kehadiran sekolah kejuruan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Hingga akhirnya di tahun 70-an sekolah kejuruan dibuat agar memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Kebetulan pada saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang sangat baik yakni 7 persen per tahun.

Lantas, kapan anak sekolah kejuruan, dalam hal ini STM identik dengan tawuran?

Tawuran pelajar marak terjadi di era 90-2000an. Kondisi tawuran ini terjadi karena kondisi psikologis anak sekolah pada saat itu. Banyak dari mereka yang bersekolah jauh dari rumah. Merasa terancam (dari anak sekolah lain), mereka lalu membuat barisan siswa (basis).

Basis ini akan selalu bersama, baik berangkat maupun pulang sekolah. Rata-rata basis dibuat karena rumah berdekatan atau memiliki jalur perjalanan ke sekolah yang sama. Di tahun 1993 basis mendapat predikat menakutkan dan disegani musuh-musuhnya. Basis inilah yang sering melakukan tawuran pelajar.’

Cara tawuran selalu berubah-ubah, terkadang menyerang sekolah lawan atau menghadang bus yang ditumpangi basis sekolah lain. Di pertengahan 90an, ledakan penduduk di Jakarta membuat persoalan tawuran semakin rumit. Apalagi saat itu STM menjadi sekolah favorit.

STM yang siswanya rata-rata remaja pria membuat mereka lebih sering tawuran ketimbang SMA. Apakah setiap sekolah secara institusi bermusuhan? Jelas tidak, basis itulah yang membuat tawuran pelajar terjadi. Pertikaian ini juga yang menghidupkan musuh warisan.