Pada peradaban awal, manusia memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Mereka memperoleh makanan dari berburu atau memakan berbagai buah-buahan. Karena jenis kebutuhannya masih sederhan dan belum membutuhkan bantuan orang lain.

Mereka hidup mandiri, dank kala itu disebut prabarter, yaitu manusia belum mengenal adanya transaksi perdagangan atau kegiatan jual beli.

Ketika jumlah manusia semakin bertambah dan peradaban manusia semakin maju, kegiatan dan interaksi manusia pun semakin tajam. Kebutuhan manusia pun juga bertambah. Pada saat ini mulai muncul ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Muncul lah kegiatan bercocok tanam dan berkembang lagi sejak saai itu manusia mulai menggunakan berbagai cara dan alat untuk melangsungkan pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Terjadilah tukar menukar kebuthan dengan cara barter, kemudian periode ini disebut zaman barter.

Pertukaran barter menandai adanya keinginan yang sama pada saat yang bersamaan dari pihak-pihak yang melakukan pertukaran ini. Namun ketika kebutuhan semakin kompleks semakin menciptakan double coincidence of wants.

Ketika seseorang membutuhkan beras sedangkan hanya memiliki garam dan pihak yang lain tidak membutuhkan garam yang dibutuhkan daging. Sehingga syarat terjadinya barter tidak terpenuhi. Karena itulah, diperlukannya alat tukar yang dapat diterima oleh semua pihak. Alat tukar demikian disebut uang yang pertama kali dikenal dalam perdaban Sumeria dan Babylonia.

Uang kemudian berkembang dan berevolusimengikuti perjalanna sejarah. Dari inilah uang kemudian dikategorikan dalam tiga jenis yaitu uang barang, uang kertas dan uang giral atau uang kredit.

Dalam sejarah, pemakaian uang barang yang pernah disyartakan barnag yang digunakan sebagai barang kebutuhan sehari-hari seperti garam. Namun kemudian uang komoditas atau uang barnag ini dinilai banyak kelemahan.

Di antaranya, uang barang tidak memiliki pecahan, sulit untuk disimpan da sulit untuk diangkut. Kemudian pilihan sebagai uang jatuh pada logam-logam mulia seperti emas dan perak. Kenapa dipilih karena memiliki nilai yang lebih tinggi, langka, dan dapat diterima secara umum sebagai alat tukar. Dan kelebihannya, emas dan perak dat dipecah menjadi bagian-bagian yang kecil. Selain itu juga logam mulia ini juga tidak mudah rusak atau susut.

Ketika uang logam masih digunakan sebagia uang resmi dunia, ada beberapa pihak yang melihat peluang meraih keuntungan dari kepemilikan mereka atas emas dan perak. Pihak-pihak ini adalah bank, sebagai orang yang meminjamkan uang dan pandai emas atau toko perhiasan.

Dengan adanya ini, pandai emas dan bank mengeluarkan surat (uang kertas) dengan nilai yang besar dari emas dan perak yang dimilikinya. Karena kertas ini didukung oleh kepemilikan atas emas dan perak, masyarakat umum menerima uang kertas ini sebagai alat tukar.

Budaya Barter di Sejarah Manusia

Pengertian, Sejarah, Kelemahan dan Kelebihan Sistem Barter

Sistem barter dikenal sejak sebelum uang jadi alat tukar resmi dalam melakukan transaksi apapun. Barter merupakan kegiatan tukar-menukar barang yang dilakukan oleh dua pihak tanpa menggunakan perantara alat bayar seperti, uang dan lainnya.

Secara garis bersar, barter adalah jenis transaksi yang dilakukan melalui penukaran barang dengan barang atau jasa dengan barang. Meski secara nilai finansial bisa saja tidak seimbang, namun masing-masing pihak yang terlibat biasanya telah sepakat. Selain itu, keuntungan yang diperoleh pun didasari oleh asas manfaat yang tepat.

Seperti yang diketahui, barter adalah salah satu bentuk penunjang transaksi perdagangan awal ketika manusia belum menemukan uang untuk alat tukar. Konon, barter pertama kali digunakan sebagai transaksi perdagangan sejak 6000 SM dan diperkenalkan oleh penduduk Suku Mesopotamia.

Tak lama setelah itu, sistem barter diadopsi oleh orang-orang Fenisia. Mereka menukarkan barang-barangnya kepada penduduk di kota lain yang terletak di seberang lautan.

Seiring perkembangan zaman, sistem barter justru kian maju di Babilonia. Di masa itu, beragam barang bisa digunakan sebagai standar barter, seperti misalnya tengkorak manusia. Tak hanya itu saja, garam juga dikenal sebagai salah satu barang yang populer digunakan untuk pertukaran.

Awal mula barter terjadi saat manusia menghadapi kenyataan, bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Manusia pun akhirnya mencari orang-orang yang mau menukarkan barang demi mendapatkan barang sesuai kebutuhan yang tak bisa dihasilkan sendiri. Sejak saat itu, barter dipercaya mampu menjadikan manusia lebih selektif dalam mendapatkan barang sehingga kualitasnya tetap terjaga dengan baik.

Namun, sistem barter ini tetap memiliki kendala umum, seperti sulitnya mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan di waktu bersamaan. Nah, kesulitan semacam inilah yang akhirnya mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran. Mereka menetapkan benda tertentu yang dinilai berharga sebagai alat tukar.

Pasar Barter di Indonesia

Video: Ini Sejarah Singkat Pasar Barter Wulandoni Hingga Juara I Nasional  Era New Normal - Surya Flobamora

Sebagian masyarakat Indonesia masih ada yang menerapkan sistem barter, seperti masyarakat di Labala, Nusa Tenggara Timur (NTT). Orang-orang yang melakukan proses barter itu adalah orang dari suku Wukak (daerah pegunungan) dan suku Lamanudek (daerah pantai). Setelah proses barter dilakukan di kapal saat orang gunung dan pantai bertemu, selanjutnya proses barter berlanjut saat orang pantai pergi ke daerah gunung untuk menukarkan hasil laut mereka dengan hasil pertanian dari daerah gunung.

Berbagai sumber yang dihimpun Edisi Bonanza88, proses itu berlangsung cukup lama dan masih sampai sekarang. Setelah itu dimusyawarahkan suatu hasil kesepakatan antara orang gunung dan orang pantai untuk membuat suatu tempat pertemuan antara orang gunung dan orang pantai untuk melakukan suatu proses barter.

Tempat yang disepakati itu yang sampai sekarang masih dilakukan proses tukar menukar hasil pertanian dan laut yang dilakukan di Labala, Kecamatan Wulandoni, Nusa Tenggara Timur.

Pasar Barter Kecamatan Wulandoni memiliki kaitan yang sangat erat untuk keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya. Desa-desa yang ikut terlibat dalam pasar barter ini juga lumayan banyak.

Mulai dari desa yang termasuk pesisir adalah Wulandoro, Leworaja, Atakera, Pantai Baru atau Kehi, dan Lamalera. Desa yang berada di perbukitan atau lereng gunung dan bukit adalah Puor, Uruor, Lewuka, Boto, Labala, Udak, dan Pusi Watu. Desa-desa itu berada di Kecamatan Wulandoni, Nagawutung, Nubatukan, dan Atadei.

Mereka datang ke pasar menggunakan truk, berjalan kaki, naik ojek, atau sepeda motor. Pasar barter telah berlangsung bersamaan dengan tradisi penangkapan paus di Lamalera, sejak ratusan tahun silam. Awalnya, hanya barter daging dan garam dengan beras, jagung, ubi, sayur, dan buah-buahan. Saat ini meluas ke berbagai jenis ikan dan barang-barang hasil pabrikan seperti beras dan bumbu-bumbu dapur.

Ditinjau dari segi letak wilayah, Labala merupakan daerah pantai dan gunung, terdapat begitu banyak gunung-gunung yang tinggi dan terjal, lautan yang dalam dengan arus yang deras dan ganas, daerah ini juga beriklim kering, musim hujan lebih pendek waktunya di banding musim kemarau.

Penduduknya juga terbagi menjadi dua, yaitu penduduk yang bermukim di pantai dan penduduk yang bermukim di daerah pegunungan, pada umumnya masyarakat pantai berprofesi sebagai nelayan dan masyarakat pegunungan berprofesi sebagai petani.

Dengan perbedaan topografi ini menyebabkan  berbeda pula kebutuhan, penduduk pegunungan membutuhkan ikan, yang mana ikan susah didapatkan di daerah pegunungan, sedangkan penduduk penghuni pantai membutuhakn buah-buahan dan sayuran yang sulit didapatkan di daerah pantai.

Dalam perspektif budaya, kawasan Labala terdapat keanekaragaman bahasa dan adat istiadat. Terdapat berbagai macam dialek, adat istiadat, corak pakaian adat, dan segala macamnya. Keanekaragaman ini pun ada tiada lain karena adanya pasar tradisonal pasar barter yang terdapat di Desa Labala.

Pasar barter ini merupakan tempat bertemunya masyarakat Labala, orang gunung dan orang pantai saling sapa, menjajakan barang dagangannya, orang gunung menjajakan hasil perkebunan, ada jagung, pisang, umbi-umbian hewan ternak dan sebagainya, sedangkan orang pantai menjajakan hasil tangkapannya, yang berupa ikan basah dari berbagai jenis ikan maupun ikan kering dengan berbagai jenis olahannya.

Proses barter yang terjadi di Lebala termasuk unik karena orang gunung dan orang pantai menjajakan barangnya dengan bahasa daerah dan dialek yang berbeda-beda, dan anehnya mereka saling mengerti satu sama lain. Di sinilah terjadi pembauran budaya antara orang gunung dan orang pantai, jangan heran jika orang yang berasal dari daerah ini kadang menguasai beberapa bahasa daerah sekaligus, tidak mengherankan karena bahasa adalah alat komunukasi yang sangat penting,

Dari uang kertas hingga bitcoin

Bitcoin Adalah Mata Uang Digital, Ketahui Asal-usul serta Kelebihan dan  Kekurangannya | merdeka.com

Kemunculan uang pertama di peradaban manusia masih diperdebatkan lantaran ada beberapa versi. Jack Weatherford dalam buku History of Money (1997), misalnya, mendukung pendapat yang mengatakan bahwa uang pertamakali diciptakan dan digunakan oleh bangsa atau orang-orang dari Kerajaan Lydia.

Bangsa Lydia diperkirakan pernah hidup di kawasan yang kini menjadi wilayah Turki. Uang pada masa ini konon berwujud koin dengan gambar singa yang mengaum. Weatherford meyakini bahwa orang-orang Lydia sudah mengenal uang dan memakainya sebagai alat tukar sejak sekitar tahun 1.000 Sebelum Masehi (SM).

Donald B. Clane punya versi berbeda. Dalam buku Rationality and Human Behavior (1999), ia menyebut bahwa mata uang koin pertamakali ditemukan 6.000 tahun lalu di wilayah yang kini berdiri negara Turki. Namun, Clane tidak menyebut bangsa Lydia seperti keyakinan Weatherford.

Seiring berjalannya waktu, muncul pula uang yang dibuat dari kertas. Beberapa sejarawan meyakini uang kertas mulai digunakan pada di Cina pada tahun 100 Masehi. Berabad-abad berselang, bangsa-bangsa Eropa baru mengenal jenis uang ini, itu pun setelah Marco Polo pulang dari Cina.

Setelah digunakan, ternyata uang kertas tidak semudah seperti sekarang ini. Hal itu dikarenakan pada waktu itu belum ditemukan bahan pembuat kertas yang mampu bertahan selama mungkin. Barulah di masa Dinasti Tang itu uang kertas berhasil dibuat menggunakan kulit kayu murbei oleh Ts’ai Lun.

Sejarah uang menunjukkan jenis uang pada awalnya hanya berupa dua hal yakni uang kertas dan uang logam. Namun belakangan uang kemudian dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan kategorinya. Pertama ialah berdasarkan nilainya antara lain bernilai penuh ( full bodied money) dan tidak bernilai penuh (respresentative full bodied money). Kategorinya ditentukan berdasarkan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut.

Kemudian, ada pula pembagian jenis uang berdasarkan lembaga penerbitannya yakni uang kartal dan uang giral. Uang kartal diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral sedangkan uang giral diterbitkan oleh bank umum berupa cek atau giro.

Ada pula pembagian jenis uang berdasarkan kawasannya antara lain uang lokal, uang regional, dan uang internasional. Contoh uang lokal seperti rupiah, uan regional seperti euro yang bisa dipakai di banyak negara di Eropa dan dollar sebagai uang internasional karena laku secara global sebagai alat tukar.

Uang di Republik Indonesia

Bukan Alat Tukar, Ini 5 Uang Rupiah Khusus Dirilis Bank Indonesia untuk  Peringati Peristiwa Tertentu - Zona Jakarta

Di Indonesia, sejarah uang sudah ada pada masa kerajaan-kerajaan nusantara. Pada waktu itu, masing-masing kerajaan punya mata uang sendiri yang berbeda dari kerajaan lain. Masa itu, uang yang digunakan berupa logam dari emas dan perak, dimana nilainya ditentukan oleh berat uang tersebut.

Ketika masa penjajahan Belanda, VOC menerbitkan uang berbentuk koin dan kertas. Uang kertas kala itu dibuat dari jaminan perak seratus persen. Kemudian saat berganti ke masa penjajahan Jepang, mereka juga menerbitkan uang koin dan kertas menggunakan bahan alumunium dan timah.

Setelah Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka, pemerintah Indonesia mulai membuat mata uang sendiri yang dinamakan ORI (Oeang Republik Indonesia). Semenjak itu, uang Indonesia terus mengalami perubahan desain dan nilainya disesuaikan dengan masa kepemimpinan pemerintahan.

ORI sendiri mulai ditetapkan pada 29 Oktober 1946 yang diterbitkan oleh de Javasche Bank. Kemudian de Javasche Bank berganti nama menjadi Bank Indonesia, sebagai Bank Sentral yang ada di Indonesia.

Dalam sejarah uang di Indonesia, uang Indonesia dicetak sendiri oleh pemerintah. Setelah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut seperti pasal 26 ayat 1. Kegiatan dan hak pencetakan dan mengedarkan uang mulai dilakukan oleh Bank Indonesia.

Sejak adanya uang, sejarah mulai berubah dengan terbentuknya berbagai negara-negara. Disinilah uang dipakai sebagai alat beli dan menamakannya sesuai dengan negara masing-masing. Setelah itu berbagai kegiatan ekonomi di setiap negara mulai membutuhkan mata uang untuk alat transaksi secara sah.

Kemunculan Uang Digital

Tiga Kontroversi Mata Uang Kripto

Sejarah uang makin berkembang sejak ditemukannya berbagai inovasi teknologi dalam kehidupan manusia. Bahkan kartu kredit sudah mulai diperkenalkan sebagai alat tukar pengganti uang untuk melakukan transaksi non-tunai pada tahun 1946.

Apalagi di era yang serba online ini, muncul alat tukar baru yang disebut dengan Bitcoin atau uang digital. Walaupun di beberapa negara bitcoin tidak dianggap sebagai alat tukar yang sah, namun saat ini nilainya sudah setara 7 ribu dolas AS. Bitcoin di banyak negara belum dianggap legal sebagai alat tukar namun keberadaannya dalam sejarah uang yang terus berkembang tak bisa disangsikan lagi.

Kini uang digital semakin berkembang dan menjadi favorit masyarakat. Penggunaan kartu kredit, debit card, e wallet, dan dompet digital semakin berkembang karena berbagai alasan. Salah satunya karena kemudahan dan keamanannya.

Rasanya sejarah uang akan tetap berkembang seiring dengan peradaban manusia dan transaksi keuangan yang dilakukannya. Seperti saat ini, publik mulai mengenal dengan bitcoin. Bitcoin ditemukan oleh Satoshi Nakamoto, sosok misterius pada tahun 2008 dan dirilis sebagai perangkat lunak sumber terbuka pada awal tahun 2009.

Transaksi pertama terjadi antara Nakamoto dan pengguna awal bitcoin pada Januari 2009. Transaksi dunia nyata pertama terjadi pada tahun 2010 ketika penambang bitcoin membeli dua pizza dari Papa John’s di Florida seharga 10.000 bitcoin.

Mata uang ini didasarkan pada blockchain yang berisi buku besar publik dari semua transaksi di jaringan bitcoin. Mereka yang berpartisipasi dalam mata uang dapat menambang bitcoin menggunakan perangkat komputer.

Minat awal dalam mata uang digital itu kecil, terutama di antara kriptografer dan mereka yang ingin terlibat dalam transaksi yang tidak dapat dilacak dengan mudah.

Seiring waktu, mata uang tersebut memperoleh eksposur yang lebih luas dari sisi baik dan buruknya. Lebih banyak pengecer membuka untuk menggunakan bitcoin pada tahun 2012 dan 2013. Namun, otoritas federal menutup situs Silk Road, yang menggunakan bitcoin untuk transaksi pasar gelap, pada Oktober 2013.

Mt. Gox juga terjun di bursa bitcoin pada 2014. Awalnya dimulai sebagai situs untuk perdagangan kartu permainan, kemudian mereka berkembang menjadi pasar untuk bitcoin. Pada Mei 2013, 150.000 bitcoin diperdagangkan di bursa per hari. Tetapi tuduhan penipuan mengelilingi bursa ketika ditutup pada tahun 2014. Bursa tersebut kehilangan sekitar 850.000 bitcoin, meskipun beberapa di antaranya telah ditemukan.

Bitcoin sekarang diperdagangkan di sejumlah bursa independen non-terpusat, seperti Coinbase. Mata uang tersebut juga dapat dibeli dan dijual melalui pialang-pialang. Mungkin ada perbedaan harga di antara bursa yang berbeda, yang dapat mengarah pada peluang arbitrase di bursa yang berbeda. Kurangnya pertukaran cryptocurrency terpusat membuat sulit untuk memastikan harga yang seragam.