French Kiss merupakan istilah yang sangat populer. Jika diibaratkan, French kiss jauh lebih tepat hanya dilakukan oleh pasangan resmi saja. Pasalnya, setelah berciuman biasanya akan dilanjutkan dengan “aksi” selanjutnya yang jauh lebih panas, dan hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah saja.

Secara harfiah, istilah French kiss bisa diartikan sebagai ciuman Prancis atau ciuman ala orang Prancis. Tapi meskipun begitu, penulis buku The Science of Kissing, Sheril Kirshenbaum, menyebut jika istilah French kiss sendiri masih sangat misterius.

Meskipun begitu, menurut beberapa cerita yang dihimpun Edisi Bonanza88, istilah French kiss sendiri justru lebih dulu dikenal di Amerika setelah Perang Dunia II, dan tidak terlalu populer di Prancis.

Cerita awalnya, ketika itu para prajurit Amerika banyak yang ditugaskan di Eropa. Lama berada di perantauan, mereka pun akhirnya membangun hubungan spesial dengan penduduk lokal, tentu saja mereka pun membangun hubungan dengan para wanita Prancis.

Perang selesai, dan para tentara ini pun harus kembali pulang ke negaranya. Nah sebagai ucapan perpisahan, konon katanya beberapa di antara mereka ada yang melakukan ciuman dengan gaya yang sangat intens, dan gaya ciuman inilah yang dikenal dengan istilah French Kiss.

Dugaan ini makin diperkuat dengan munculnya sebuah foto pasca Perang Dunia II, yang memperlihatkan seorang pelaut Amerika tengah mencium perawat berseragam putih di Time Square sebagai perayaan kemenangan Sekutu atas Jepang.

Jika Amerika sudah mengenal istilah French kiss sejak Perang Dunia II, orang Prancis justru tidak mengenal istilah ini. Baru di tahun 2014 kemarin, kamus Petit Robert menambahkan kata “galocher”, yang merujuk pada aktivitas berciuman dengan menggunakan lidah.

Terlepas dari semua itu, Prancis dengan Ibukotanya, Paris, memang sejak dulu dikenal sebagai negara yang penuh dengan romantisme. Bahkan menurut Wordorigins.org, sejak tahun 1920an, kata “French”  sudah disematkan dalam istilah-istilah yang merujuk kepada hubungan pria dan wanita dewasa.

Namun, ingat, French kiss memang mampu memberikan kenyamanan dan membuat hubungan seksual semakin membara. Selain itu, banyak penelitian yang menyebut jika berciuman ampuh mengurangi ketegangan dan rasa cemas yang disebabkan oleh hormon stres kortisol.

Meskipun begitu, kamu harus ingat jika aktivitas ini pun mengandung bahaya yang tinggi, termasuk berisiko menularkan penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan virus dan bakteri, seperti Pilek, Flu, Infeksi Herpes, Hepatitis B, Meningitis dan penyakit lainnya.

Maka dari itu, untuk menghindari itu semua, pastikan kamu dan pasangan selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan cara menyikat gigi (minimalnya) 2 kali dalam sehari, dan hindari berciuman ketika kamu atau pasangan sedang sakit atau terdapat luka di bibir serta mulutnya.

Nah, yang paling penting dari semua itu adalah, kamu hanya boleh berciuman dengan pasangan yang sudah resmi. Berciuman dengan orang yang tidak kamu kenal, atau baru kenal beberapa saat, berisiko tertular penyakit yang mungkin malah bisa menghancurkan masa depanmu.  

Asal Muasal Ciuman

Your Ultimate Guide To Turning Him On With A French Kiss | Hauterfly

Berciuman sebagai rasa ekspresi romantis diyakini telah dimulai di India, di mana puisi epik Mahabharata diyakini ditulis, yakni sekitar 1000 SM. Di sini, termuat deskripsi ciuman romantis pertama yang dikenal dalam sejarah.

Dilansir dari Psychology Today, teks-teks kitab Weda dari India kuno juga berbicara tentang ciuman. Selain itu, Kama Sutra—buku soal seks paling terkenal—yang menurut para ahli berasal dari abad ke-2, mencurahkan seluruh bab terkait masalah ciuman.

Beberapa antropolog bahkan meyakini bahwa orang Yunani belajar tentang ciuman erotis dari orang India ketika Alexander Agung menyerbu India pada 326 SM. Meski demikian, hal ini masih terus diperdebatkan.

Dalam literatur sejarah lainnya, sejarawan Yunani kuno, Herodotus pada abad ke-5 SM menyebut bahwa ciuman sangat biasa di antara orang Persia untuk menyapa.

Misalnya, ciuman mulut biasa dilakukan orang-orang dengan kedudukan yang sama. Sementara itu, orang Persia akan saling mencium pipi kalau punya kasta lebih rendah.

Di bawah bangsa Romawi, berciuman punya makna lebih luas. Orang-orang Romawi mencium pasangan atau kekasih mereka, keluarga, teman-teman, dan para penguasa.

Ciuman pada saat itu dibedakan, antara ciuman di tangan atau pipi (osculum) dengan ciuman di bibir basium), serta ciuman yang penuh gairah (savolium).

Jenis ciuman pada zaman Romawi pun berbeda-beda. Misalnya, untuk memenuhi tujuan dari sosial, politik, hingga bagian dari aktivitas seksual. Di zaman buta huruf yang meluas, ciuman berfungsi untuk menyegel perjanjian.

Sampai akhirnya, setelah kejatuhan Romawi, ciuman romantis menghilang selama lebih dari 1.000 tahun. Ciuman ini muncul kembali pada akhir abad ke-11 oleh kisah legendaris Romeo dan Juliet.

Ciuman Romeo dan Juliet saat itu adalah simbol gerakan untuk menghapus perjodohan keluarga dan merayakan cinta sebagai kekuatan yang membebaskan.

Ada banyak teori tentang alasan manusia berciuman. Salah satunya, seperti dikutip dari Healthline, ciuman didorong oleh kasih sayang.

Berciuman menyebabkan reaksi kimia di otak, termasuk ledakan oksitosin atau “hormon cinta”. Hormon ini membangkitkan perasaan kasih sayang dan kemelekatan. Menurut sebuah studi pada 2013, oksitosin sangat penting dalam membantu ikatan pria dengan satu pasangan.

Wanita juga mengalami banjir oksitosin selama persalinan dan menyusui, untuk memperkuat ikatan ibu-anak.

Alasan kedua, ciuman didorong oleh perasaan cinta romantis. Pernah merasakan “jungkir balik” saat jatuh cinta? Itulah efek dopamin di otak Anda ketika jatuh cinta.

Dopamin ini dilepaskan ketika Anda melakukan sesuatu yang terasa enak, seperti berciuman dan menghabiskan waktu bersama seseorang yang Anda suka. Tak heran, rasa enak dan menyenangkan ini bisa menimbulkan efek “kecanduan”.

Beberapa ciuman juga didorong hasrat seksual. Bukan rahasia lagi kalau beberapa ciuman benar-benar didorong oleh keinginan seksual.

Bahkan, dalam penelitian yang pernah dilakukan, partisipan wanita mengatakan mereka lebih kecil kemungkinan berhubungan seks tanpa berciuman terlebih dahulu.

Pentingnya Berciuman

Inilah Bahaya French Kiss dengan Seorang Perokok Aktif

Aktivitas berciuman telah menjadi bagian penting dalam ritual pasangan. Ciuman bisa memenuhi pula kebutuhan manusia akan afeksi alias kasih sayang. Ciuman adalah salah satu ekspresi afeksi yang paling universal.

Pentingnya ciuman bukan omong kosong romantik belaka. Sheril Kirshenbaum telah menjelaskannya panjang lebar dalam buku yang ia terbitkan lima tahun yang lalu berjudul The Science of Kissing. Topik atas aktivitas yang melibatkan bibir dan terasa remeh itu ia jelaskan dalam sudut pandang sains, lalu tiba-tiba ia berubah menjadi sesuatu yang esensial.

Krusialnya ciuman dalam penelitian Sheril, dan dikuatkan oleh temuan peneliti lain, menjelaskan bahwa ciuman bisa menjadi kunci utama langgengnya sebuah hubungan. Ciuman pertama merupakan tahapan yang krusial.

Ada risiko tersendiri terutama yang dimaksudkan untuk dilanjutkan ke tahap hubungan seksual. Kurang lebih 59 persen pria dan 66 persen perempuan tak melanjutkan pendekatan hanya gara-gara pasangannya tak memuaskan saat pertama kali berciuman.

Psikolog John Bohannon dari Butler University pernah meneliti aktivitas ciuman ini dan menemukan bahwa sebagian besar dari kita mengingat secara detail momen ciuman romantis pertama kita, yakni hingga 90 persennya.

Dalam penelitiannya yang melibatkan lebih dari 5.000 responden itu, ingatan tentang ciuman pertama bahkan lebih kuat ketimbang ingatan atas hubungan seksual pertama.

Ciuman adalah perkara keintiman, sedangkan hubungan seksual lebih ke jalan meraih orgasme. Dua hal ini berbeda, dan menjelaskan mengapa perasaan berbunga-bunga saat berciuman bisa menjadi gerbang pembuka perasaan seseorang terhadap pasangannya.

Maka ciuman juga menjadi hal yang berisiko jika seseorang tak mampu mengendalikan perasaan dengan baik. Atas dasar inilah film-film seperti Pretty Woman (1990) berpegang pada rumus yang sakral: pekerja seks komersial (PSK) haram berciuman mulut ke mulut.

Menahan diri untuk tak menautkan kedua bibir telah menjadi aturan yang sangat umum di kalangan perempuan dengan profesi tertuta di dunia itu sejak lama.

Laporan dari ilmuwan sosial Joanna Brewis dan Stephen Linted menjelaskan bahwa PSK terkadang menolak ciuman bibir karena harus menyertakan “perasaan tulus dan cinta untuk orang lain”. Menghindari ciuman bibir dengan klien akan membuat pekerjaan menjadi sederhana dan tak menjadi kompleks di kemudian hari.

Dalam buku The Science of Kissing, Sheril mencantumkan pentingnya ciuman sebagai bagi laki-laki. Laki-laki yang mencium istrinya sebelum berangkat kerja akan hidup 5 tahun lebih lama, menghasilkan 20-30 persen lebih banyak uang, dan kemungkinan terlibat dalam kecelakaan mobil menjadi lebih kecil yakni hingga 50 persen. Demikian menurut sebuah penelitian psikologi yang dilakukan di Jerman selama 10 tahun di era 1980-an silam.

Berpautan dalam ciuman bibir serta manfaatnya

Master the Sensitive and Romantic Art: How to French Kiss a Girl - Men Wit

Ciuman bibir adalah jenis ciuman yang paling menimbulkan reaksi di otak ketimbang mencium bagian tubuh yang lain. Saat kedua bibir bertemu, otak akan memproduksi sejumlah bahan kimia yang membuat kita dimabuk kepayang secara tak sadar.

Bahan kimiawi itu terdiri dari tiga bahan utama yang intinya mampu membuat kita merasa senang dan ketagihan: dopamine, oxytocin, dan serotonin.

Dopamin yang dihasilkan oleh otak dapat menstimulasi area otak yang sama seperti saat seseorang mengonsumsi heroin atau kokain. Akibatnya kita merasakan euforia yang adiktif. Oxytosin, atau yang dikenal sebagai ‘hormon cinta’, memupuk kasih sayang diantara pelaku ciuman.

Hormon ini juga dilepaskan saat proses melahirkan dan menyusui, memupuk cinta kasih diantara ibu dan anak. Terakhir, otak menghasilkan serotonin yang saat berciuman kadarnya sama seperti yang dihasilkan otak pengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Manusia terbukti memiliki kelompok gen yang disebut MHC atau Major Histocompatibility Complex. MHC adalah kelompok gen yang membentuk bagian dari sistem kekebalan tubuh kita dan memberi kita aroma alami.

Perempuan terbukti sangat menyukai aroma kaos yang dikenakan laki-laki karena MHC perempuan berbeda dengan MHC laki-laki. Namun ada beberapa laki-laki yang memiliki aroma tubuh lebih kuat karena memiliki jenis MHC yang lebih berbeda. Semakin berbeda, semakin disukai.

Secara naluriah, perbedaan jenis MHC dan aroma yang mengikutinya itulah yang menyebabkan satu perempuan bisa suka dengan laki-laki tertentu, dan sebaliknya. Saat dua orang dengan MHC yang berbeda berhubungan seksual, bayi mereka akan memiliki komponen gabungan sistem kekebalan tubuh dari kedua orang tuanya.

Semakin berbeda gennya, semakin kuat kekebalan tubuh si kecil. Ini berarti, secara naluriah manusia memiliki sistem tersendiri yang mampu menghasilkan generasi yang lebih tahan penyakit.

Namun apakah persepsi soal aktivitas ciuman antara laki-laki dan perempuan itu sama? Tidak. Temuan di buku The Science of Kissing memberi penjelasan lebih lanjut, bahwa ciuman lebih bermakna bagi perempuan dibanding laki-laki. Bagi laki-laki, ciuman lebih dianggap sebagai jalan menuju hubungan seks.

Perempuan lebih melihat ciuman sebagai jalan untuk memilih pasangan yang terbaik, intim, mapan, dalam hubungan jangka panjang. Mereka memperhatikan bau mulut dan kebersihan gigi laki-laki saat berciuman.

Bau mulut yang tak enak dan gigi yang kotor membuat si perempuan berpikir ulang tentang ciuman lanjutan di masa depan. Sedangkan bagi laki-laki, ciuman memang menarik, namun wajah dan penampilan fisik juga tak kalah penting. Ciuman bagi laki-laki adalah bonus.

Anda boleh tak setuju dengan temuan itu. Tapi bagaimana pun juga, aktivitas ciuman dalam sains memang menarik sebab membuka cakrawala tentang reaksinya dalam otak dan tubuh, bahkan dampaknya secara kimiawi.

Soal esensi, itu dikembalikan lagi kepada si pelaku. Jika memang secara naluriah aktivitas mesra itu bisa menjadi cara untuk mendekatkan, buat apa dilaksanakan jika akhirnya menjauhkan?