Pada era 1980-1990an, lima artis Indonesia di bawah ini dikenal sebagai bom seks karena kerap berperan di film panas. Di era tersebut,  lima artis Indonesia ini kerap menghiasi layar televisi masyarakat Indonesia, bahkan beberapa pernah berperan di film komedi Warkop DKI.

Tampil seksi dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya di film yang mereka bintangi, lima artis Indonesia di bawah ini mendapatkan predikat bom seks di masanya.

Di urutan pertama ini ada artis yang kerap membintangi film berbau horor dan seks, yakni Sally Marcelina. Beberapa film yang pernah dibintangi, di antaranya adalah Misteri Janda Kembang, Gadis Erotik, Susuk Nyi Roro Kidul, hingga Pergaulan Ranjang Pemikat.

Artis yang tenar karena membintangi film komedi Warkop DKI ini juga dikenal sebagai bom seks Indonesia ialah Eva Arnaz. Perempuan kelahiran Bukittingi, 14 Juli 1958 ini mengawali karier di dunia hiburan setelah menjadi juara dua dalam ajang Abang None Jakarta 1976. Banyak adegan hot nan erotis yang ia mainkan dari film yang dibintangi.

Selain itu ada Febby Lawrence. Sebelum terjun ke dunia perfilman Indonesia, Febby Lawrence dikenal sebagai model. Setelah sukses menjadi model, dia mulai beradu peran di sejumlah film panas di era 90-an.

Artis Indonesia yang dikenal sebagai bom seks di masanya adalah Malvin Shayna. Di awal 1990-an, mulai dikenal artis bernama Malvin Shayna. Beberapa film yang pernah ia bintangi ada Gairah Terlarang, Pergaulan Metropolis dan juga Misteri Cinta.

Bahkan, ia juga bermain peran di film komedi Warkop DKI. Dari cuplikan video di atas, Malvin Shayna masuk dalam jajaran artis panas lainnya, seperti Ayu Azhari, Febby Lawrence, Sally Marcelina, hingga Windy Chindyana.

Artis Indonesia yang dikenal sebagai bom seks di masanya terakhir ada Gitty Srinita. Beberapa film yang ia bintangi meliputi Don Aufar dan juga Skandal Iblis.

Sepak Terjang Eva Arnaz

Masih Kenal Eva Arnaz? Mantan Artis Terkenal yang Kini Hijrah dan Berjualan  Lontong Sayur - Tribun Jogja

Film panas yang diperani Eva Arnaz ada yang bercerita berlatar sejarah raja-raja Jawa, Ken Arok Ken Dedes (1983).

Dalam film ini, Eva Arnaz yang berdarah Padang itu berperan sebagai Ken Dedes, seorang perempuan yang dalam sejarah dianggap menurunkan raja-raja Jawa. Sementara karakter Tunggul Ametung diperankan Advent Bangun dan Ken Arok, bekas rampok yang jadi raja dan belakangan mempersunting Ken Dedes, diperankan George Rudy.

Dalam film ini, Ken Dedes berpakaian tipis. Sudah pasti Ken Dedes terlihat cantik dan menawan. Adegan menarik dalam film ini adalah ketika Ken Dedes turun dari tandu. Aksesoris yang menutupi area selangkangannya terlepas dan cahaya yang menyilaukan mata Ken Arok terpancar dari sekitar paha Ken Dedes.

Meski dicap sebagai bom seks era 1980-an, Eva tak memulai karier sebagai bintang film panas. Dalam beberapa film pertamanya, dia tampil sopan dan jauh dari kesan “buka-bukaan”.

Film Duo Kribo (1977) besutan Edward Sirait, yang dibintangi duo legenda rock Indonesia berambut kribo—pentolan God Bless Ahmad Albar dan dedengkot AKA Ucok Harahap—tak hanya membuat dua orang itu makin terkenal, tapi juga menjadi debut penting bagi aktris pendatang baru bernama Eva Yanthi Arnaz.

Dalam film tersebut, aktris dengan tinggi badan 168 cm itu berperan sebagai Monalisa. Eva adalah jebolan None Jakarta 1976 dan Ratu Jakarta 1977 kelahiran 14 Juli 1958.

Buku Apa siapa orang film Indonesia mengungkap fakta, setelah Duo Kribo, Eva Arnaz bermain dalam Musim Bercinta dan Nafas Perempuan. Keduanya dirilis pada 1978. Menurut catatan J.B. Kristanto dalam Katolog Film Indonesia 1926-2005, pada dua film itu Eva Arnaz berpasangan dengan Roy Marten. Masa itu Roy Marten sedang berjaya.

Selain itu, seperti ditulis J.B. Kristanto (hlm. 174), Eva Arnaz ikut serta dalam film Kuda-kuda Binal (1978). Tahun berikutnya, Eva Arnaz menjadi lawan main bintang bulutangkis Liem Swie King dalam film Sakura Dalam Pelukan (1979). Eva juga pernah bermain dalam Lima Cewek Jagoan (1980) dan Cewek Jagoan Beraksi Kembali (1981).

Peran Eva Arnaz di tahun-tahun awal kariernya di dunia film itu bukan peran yang “hot”. Aktingnya kebanyakan masih sebagai pemeran pembantu, termasuk dalam film-filmnya bersama Roy Marten dan Suzanna. Dalam film Lembah Duka (1981), Eva juga bertindak sebagai peran pembantu. Ia berperan sebagai pelacur dan germo yang mengalami serentetan kegagalan berumahtangga.

Kehidupan Pribadi Eva Arnaz

Kenali Eva Arnaz Dari 9 Kebiasaan Uniknya Ini - Dijelas.in

Semasa mudanya, Eva Arnaz mengalami masa kawin-cerai. Mulai dengan Kiki Saelan, Barry Prima, juga Adi Bing Slamet. Dengan Kiki Saelan—anak dari Kolonel Maulwi Saelan—Eva hanya sebentar merasakan perkawinan. “Hanya dua bulan saja. Kawin Desember, Januari pisah,” tulis Film Majalah.

Sementara Barry Prima adalah lawan mainnya dalam film Membakar Matahari (1981). Adi Bing Slamet, yang tak lain adalah putra dari seniman Bing Slamet, dikenal sebagai bintang cilik pada era 1970-an.

Dalam Membakar Matahari, Eva berperan sebagai perempuan yang diperkosa perampok di kampung lalu dipekerjakan sebagai pelacur di Jakarta. Dalam film Serbuan Halilintar (1982), Eva bermain bersama Barry Prima juga.

Peran utama lain didapatkannya dalam film Gadis Bionik (1982), yang terinspirasi serial Bionic Woman (1976). Begitu juga dalam Warok Singo Kubro (1982). Dalam film ini, Eva Arnaz tampil garang. Sesuatu yang menjadi ciri khasnya, bulu ketiak, pun sudah tampak di film ini.

Selain sebagai pemeran utama, Eva Arnaz juga dikenal sebagai aktris pernah meramaikan film-film Warkop Prambors DKI (Dono Kasino Indro). Seperti Maju Kena Mundur Kena (1983), Pokoknya Beres (1983), Atas Boleh Bawah Boleh (1986), Sabar Dulu Dong (1989), juga Lupa Aturan Main (1991).

Pada era 1990-an, Eva Arnaz tidak lagi berjaya di bioskop Indonesia. Banyak aktris panas lain yang meramaikan bioskop di tahun-tahun terakhir Orde Baru itu.

Sepanjang era 1980-an hingga 1990-an, film panas memang ramai di bioskop-bioskop Indonesia. Sebagian besar penontonnya adalah orang-orang muda dan berjenis kelamin laki-laki.

Para penonton itu, menurut Iman Budhi Santoso dalam Kisah Polah Tingkah: Potret Gaya Hidup Transformatif (2001), “kepinginnya memang menikmati dunia fantasinya yang datang dari sensualitas Meriam Bellina, Eva Arnaz, Yenny Farida, Inneke Koesherawati atau Kiki Fatmala”

Di masa jayanya sebagai bom seks, penampilan Eva Arnaz mirip Edwige Fenech, bintang panas Italia era 1970-an. Tapi Eva yang dulu bukanlah Eva yang sekarang. Dalam 20 tahun terakhir, pakaiannya cenderung tertutup dan identitas Islam kerap mewarnai penampilannya.

Nurnaningsih sebagai Pelopor

Nurnaningsih, artis yang dicap sebagai bom seks pertama Indonesia |  merdeka.comNurnanigsih sangat populer di perfilman Indonesia di tahun 1950-1970-an. Dia memiliki banyak penggemar setelah membintangi film Harimau Tjampa besutan sutardara legendaris H Umar Ismail. Ketenarannya karena berani beradegan bugil di film tersebut dan menimbulkan kontroversi di masyarakat yang masih memandang tabu.

Dari film Krisis (1953) Nurnaningsih mulai terjun ke dunia film. Pada 1954 Nurnaningsih menimbulkan kehebohan di masyarakat umum karena berani tampil terbuka dalam beberapa filmnya seperti Krisis dan Harimau Tjampa. Dia juga bermain di film Djakarta, Hongkong, Macao, Bernafas dalam Lumpur, Remang-remang Jakarta, dan Malam Satu Suro.

Tak hanya di film, artis yang biasa dipanggil Nur ini juga berani berpose seronok di berbagai majalah. Foto bugilnya tersebar luas di masyarakat. Dia juga membuat kontroversi dengan pendapatnya yang liberal dan belum terpikirkan oleh artis lain.

Belakangan baru diketahui bahwa foto-foto itu adalah hasil teknik montage, sementara Nurnaningsih sendiri tidak pernah tahu-menahu tentang pembuatannya. Aktris tenar lainnya yang pernah menjadi korban serupa adalah Titien Sumarni dan Netty Herawati.

Seperti yang terjadi saat ini, film Nurnaningsih juga mengundang banyak kontroversi. Karena itu peredaran filmnya jadi terbatas karena beberapa daerah mencekal peredaran film yang dibintanginya. Karena pemboikotan tersebutnama Nur perlahan-lahan meredup. Pada tahun 1980-an Nur pun berhenti dan seolah menghilang dari dunia perfilman.

Nur sempat kembali ke dunia film dengan peran-peran kecil, tetapi tak berlangsung lama. Nur meninggal pada 21 Maret 2004 di usia 78 tahun. Dari Nurnuningsih lahir generasi baru seperti Rahayu Effendi, Suzanna, Eva Arnaz, Inneke Koesherawati, Ayu Azhari, Julia Perez.

Bom seks dan lahirnya sutradara wanita

Setelah Indonesia merdeka, industri perfilman Indonesia mulai menggeliat lagi, tapi kali ini digerakkan oleh sineas-sineas bumiputra seperti D. Djajakusuma, Djamaluddin Malik, dan Usmar Ismail.

Film Seruni Salju (1951) kembali melejitkan seorang aktris pribumi lain, yaitu Titien Sumarni, yang merupakan salah satu aktris Indonesia paling terkenal pada zamannya, bahkan dijuluki Marilyn Monroe-nya Indonesia. Karier Titien hanya berusia lima tahun—setelah itu, popularitas Titien menurun hingga akhirnya hidup miskin. Ia meninggal muda di usia 35 tahun.

Di periode bersamaan muncul aktris lain yang tak kalah sensasional bernama Nurnaningsih. Tidak tanggung-tanggung, ia dijuluki sebagai bom seks pertama Indonesia berkat keberaniannya tampil nyaris bugil dan beradegan seks di film Harimau Tjampa (1954), sehingga ia dijuluki paduan antara Jane Russell dan Marilyn Monroe, dua bom seks Hollywood tahun 50-an.

Foto telanjangnya membuat Nurnaningsih diboikot dari dunia hiburan dan terpaksa ‘menghilang’. Ia meninggal dalam keadaan miskin sebagai tukang cuci di usia 79 tahun.

Di tahun 1956, sutradara Usmar Ismail menggebrak dengan film Tiga Dara yang melejitkan nama aktris Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak. Meski sutradara dan produsernya laki-laki, napas perempuan sangat kental di film bergenre musikal ini.

Tokoh-tokohnya tidak digambarkan cengeng atau tak berdaya—sebaliknya justru sangat progresif untuk zaman itu. Film ini juga menandai kehadiran wajah-wajah indo dalam perfilman Indonesia, yang diwakili oleh Mieke Wijaya, Indriati Iskak, dan Suzanna—yang namanya melejit lewat film Asrama Dara (1958).

Namun yang patut dicatat, dunia perfilman Indonesia sudah berhasil menelurkan sutradara wanita sejak usianya masih balita. Sutradara wanita pertama Indonesia yang tercatat dalam sejarah adalah Ratna Asmara lewat film Sedap Malam (1950), yang berkisah tentang istri yang setelah ditinggal mati suaminya terpaksa menjadi pelacur. Ratna juga mendirikan perusahaan film sendiri bernama Asmara Film.

Setelah sekian lama menjadi aktris primadona, Chitra Dewi juga akhirnya terjun menjadi sutradara sekaligus produser. Pada tahun 1971, ia menyutradarai tiga film sekaligus, yaitu: Bertjinta dalam Gelap, Dara-Dara, dan Penoenggang Koeda dari Tjimande. Sayang, setelah itu namanya tenggelam begitu saja.

Sutradara wanita yang dianggap karismatis dan berwibawa adalah Sofia WD. Berpendidikan Belanda, pernah ikut bergerilya saat perang kemerdekaan dengan pangkat sersan mayor, dan pernah jadi aktris panggung, ia mengawali karier di dunia film sebagai aktris di film Air Mata Mengalir di Tjitaroem (1949).

Setelah bermain dalam puluhan film, ia naik kelas menjadi sutradara lewat film Badai Selatan (1960). Pada 1974, ia mendirikan perusahaan film bersama suaminya, aktor terkenal WD Mochtar.

Fenomena Christine Hakim

Sayangnya, sejak tahun 1971 hingga 1993, tidak tercatat lagi nama perempuan yang menjadi sutradara maupun produser, meskipun perfilman Indonesia sempat mencapai puncak produksi.

Saat itu jagat film kita didominasi oleh film remaja (mulai era Rano Karno-Yessy Gusman hingga Onky Alexander-Meriam Bellina), film laga (Barry Prima, Advent Bangun, George Rudy), film komedi slapstick (Warkop DKI), film horor (Suzanna), dan film semi esek-esek (Eva Arnaz, Sally Marcelina, Kiki Fatmala).

Lima aktris dan aktor mendaulat diri sebagai The Big Five atau aktor dengan bayaran termahal di pertengahan 70-an—Yati Octavia, Yenny Rachman, Doris Callebaut, Roy Marten, dan Robby Sugara.

Di tengah hiruk-pikuk itulah hadir seorang Christine Hakim. Ditemukan oleh sutradara legendaris Teguh Karya, Christine Hakim langsung menggebrak lewat film perdananya, Cinta Pertama (1973), dan meraih Piala Citra di tahun 1974.

Selanjutnya, ia dikenal sebagai aktris pelanggan Piala Citra berkat aktingnya yang selalu cemerlang di berbagai film, antara lain Sesuatu Yang Indah (1977), Pengemis dan Tukang Becak (1978), dan Di Balik Kelambu (1982). Namun yang membuat reputasinya tak tergoyahkan hingga saat ini adalah aktingnya dalam film Tjoet Nja’ Dhien (1988).

“Christine Hakim adalah sebuah fenomena yang tidak datang di setiap dekade perfilman Indonesia. Bahkan sampai kini, belum ada yang bisa menandingi dia,” ujar Nia Dinata, sutradara dan produser. Nama-nama lain seperti Tuti Indra Malaon, Niniek L. Karim, dan belakangan Yenny Rachman, juga dikenal memiliki reputasi sebagai ‘aktris serius’.

Namun, pada periode 1991-1998, perfilman nasional mati suri, karena hanya mampu memproduksi 2-3 film setiap tahun. Munculnya stasiun TV swasta. teknologi VCD, kehadiran sinetron, serta disahkannya UU No.8 Tahun 1992 yang mengatur peniadaan kewajiban izin produksi film, membuat perfilman Indonesia pun knock out.