Serat Centhini kerap dianggap sebagai mahakarya sastra Jawa. Kitab itu membahas beragam aspek kehidupan masyarakat Jawa lampau. Mulai dari religiusitas, moral, dan bahkan seksualitas. Ia lahir melalui sejarah yang panjang dari kekeratonan Solo.

Penggagasnya adalah Pangeran Adipati Anom, tidak lain merupakan anak dari Susuhan Pakubuwana IV. Sang pangeran berniat untuk mendokumentasikan pengetahuan, pemahaman, serta keyakinan masyarakat Jawa pada abad 19. Untuk melaksanakan tugas kebudayaan tersebut, Ia menunjuk tiga penyair kenamaan di keraton.

Serat Centhini sering disebut-sebut sebagai Kamasutra versi Jawa. Walaupun isinya tak sepenuhnya merupakan pembahasan terkait seks, tetapi kitab tersebut merupakan dokumentasi budaya seksual masyarakat Jawa yang paling lengkap.

Seksualitas masyarakat Jawa tidak hanya dibahas melalui wejangan dan nasihat dalam melakukan aktifitas seks. Tetapi juga, berisi hubungan antara seks dan dunia spiritual.

Salah satu aspek yang menarik dari Serat Centhini adalah uraian soal “ulah asmara”. Dalam Serat Centhini, “ulah asmara” menjadi semacam panduan dalam berhubungan seksual untuk mengetahui titik-titik sensitif di genital laki-laki maupun perempuan. Salah satunya adalah bagaimana cara mempercepat orgasme perempuan melalui titik tertentu, maupun cara agar laki-laki bisa bertahan lama dalam seks.

Hal menarik lain yang ditemukan dalam Serat Chentini dapat dilihat dalam jilid keempatnya yang memuat ajaran dan nasihat seksual dengan balutan mistitsisme Jawa maupun Islam. Menurut Elizabeth D Inandak, penerjemah Serat Centhini, seks tidak diartikan sebagai hubungan antar alat kelamin dua manusia saja. Seks dalam Centhini tidak dianggap tabu karena seks tak lain merupakan puncak dari asmara antar dua insan.

Asmara yang dimaksud dalam Centhini memang tidak selalu berkaitan dengan hal-hal cabul. Kadang aktifitas asmara yang dijelaskan dalam Serat Centhini memang berkenaan dengan kebirahian, dan hawa nafsu.

Secara umum, asmara justru diartikan dalam bentuk-bentuk kasih sayang. Hal ini dapat diketahui melalui banyaknya ragam kata yang digunakan dalam Serat Centhini. Mulai dari ajigineng, cinta syahwati, mabuk kepayang, nafsu berahi, hingga terangsang.

Aspek Religius

Serat Centhini, Kitab Kamasutra Ala Jawa – KRJOGJA

Aktifitas asmara di dalam serat Centhini juga tidak serta merta digambarkan secara cabul. Aktifitas asmara bahkan banyak dijelaskan melalui rangkaian ritual yang banyak dipengaruhi oleh penanggalan dan musim.

Dalam salah satu Jilid terkait “ulah asmara”, Serat Centhini bahkan juga menjelaskan kiat-kiat bercinta sesuai dengan penanggalan tertentu. Misalnya, ketika berhubungan seks tiap tanggal satu kalender Jawa, maka si laki-laki perlu memulai aksinya dengan mencumbu dari kening dahulu. Berbeda di tanggal dua, aktifitas asmara perlu diawali dengan mencumbu di daerah pusar. Tanggal-tanggal setelahnya pun memiliki ritual yang berbeda-beda.

Kisah erotis dalam Centhini juga berkembang lebih liar lagi. Serat Centhini mengisahkan seksualitas dan spiritualitas menggunakan kisah petualang Cebolang. Cebolang dikisahkan sebagai remaja tanggung yang lari dari rumah karena perasaan bersalah.

Setelah melakukan dosa-dosa besar di rumahnya, Cebolang perlu terjun bebas ke dalam dunia yang penuh kehinaan untuk menyucikan dirinya. Dalam upaya penyucian itu, Cebolang berulang kali melakukan aktifitas seks yang bermacam-macam.

Salah satu aktifitas yang kontroversial adalah ketika Cebolang bersenggama dengan dua perempuan secara bergiliran di wilayah pesantren dekat Mataram. Kisah malam-malam liar Cebolang biasa diakhiri dengan penyucian melalui mandi, wudhu dan pelaksanaan salat subuh di masjid.

Kisah seks dalam Serat Centhini juga melampaui batas moral yang ada di masyarakat kita sekarang. Serat Centhini kerap mengisahkan hubungan seksual sesama jenis, hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, dan bahkan pelacuran. “Biasanya dilakukan suka sama suka. Mungkin dengan ronggeng laki-laki ataupun ronggeng perempuan,” ujar Kartika Setyawati, seorang pengkaji Serat Centhini.

Liarnya kisah-kisah seks dalam Serat Centhini menjadi pesona karya ini. Melalui Serat Centhini, kita dapat memahami luasnya kemungkinan dan fantasi seksual masyarakat Jawa pada abad itu. “Menarik, karena ketika aktifitas seks dilakukan di klub seks bebas itu biasa saja. Tapi dalam Serat Centhini, aktifitas seks bisa dilakukan di pesantren sehingga nilai erotikanya lebih tinggi dari kisah lain,” ujar Inandiak.

Pada masa penerbitannya hingga kini, Serat Centhini kerap dibacakan melalui tembang yang dipadukan dengan rangkaian musik gamelan. Hal ini menurut Inandiak, dilakukan secara sengaja. Terutama untuk menutup dan membaurkan kata-kata kotor ataupun penjelasan-penjelasan cabul, sehingga tetap dinikmati oleh masyarakat umum tanpa memancing birahi.

Oleh karena itu, meskipun memiliki banyak kisah seks yang liar, Serat Centhini juga tidak dapat dikategorikan sebagai pornografi karena Ia tidak ditujukan untuk membangkitkan birahi. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat yang menganggapnya sebagai bacaan porno belaka. Hal ini ditepis oleh Agus Wahyudi, seorang penulis lulusan Sastra Arab UGM.

Menurut Agus, label “bacaan porno” yang tersemat dalam pikiran masyarakat ketika membayangkan Serat Centhini perlu dikoreksi. Agus menilai, kemungkinan para penulis Serat Centhini pun tidak punya maksud untuk membangkitkan gairah seksual pembaca. Menurut Agus, Serat Centhini lebih tepat disebut sebagai bacaan beraroma seks ketimbang bacaan porno.

Hal ini juga disepakati oleh Kartika yang menganggap justru lebih banyak aspek religiusitas yang dibahas dalam Serat Centhini. Dalam Serat Centhini, religiusitas seseorang diartikan sebagai kesalehan atau bahkan pengabdian seseorang terhadap agamanya.

Representasi aspek religiusitas dalam Serat Centhini muncul melalui beragam bentuk. Mulai dari ritual-ritual agama seperti ibadah dan penyucian diri, sampai tuntunan dan nasihat hidup lahir batin.

Kartika menyinggung beberapa contoh yang jelas ada dalam Serat Centhini. Mulai dari keabsahan dalam beribadah, tujuan dan fungsi salat, hingga pembahasan terkait ketuhanan Yang Maha Esa. Serat Centhini juga kerap membahas peristiwa maupun ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Quran. Salah satunya adalah peristiwa malam Lailatul Qadar.

Aspek Religius yang terdapat dalam Serat Centhini tidak hanya ditunjukkan melalui penggambaran keyakinan Islam. Ajaran agama dan keyakinan lain pun kerap ditemukan dalam Serat Centhini. Sebut saja ada ajaran animisme-dinamisme, serta Hindu-Budha. Ajaran Budha juga pernah dijelaskan dalam satu kisah spesifik.

Dalam Serat Centhini dikisahkan sebuah perjalanan dua karakter Jayengsari dan Rancangkapti. Ketika mereka berkelana ke Gunung Tengger, mereka menemui seorang resi yang memberi petuah tentan ajaran Budha dan enam aliran di dalamnya.

Sayangnya, kisah-kisah yang menyimpan ajaran agama dan keyakinan selain Islam tidak terlalu banyak dibahas. Hal ini dikarenakan Serat Centhini sendiri yang berasal dari lingkungan santri. Memang pada masa itu, kebudayaan dan ilmu pengetahuan lebih banyak ditemui di pondok-pondok pesantren. Hal ini tidak aneh, mengingat pada masa itu ajaran Islam sudah menjadi keyakinan yang dominan di masyarakat Jawa.

Menurut Agus, cerminan ajaran Islam dalam Serat Centhini setidaknya dijabarkan melalui dua bentuk. Bentuk yang pertama adalah melalui hukum islam atau ajaran fikih. Sedangkan bentuk kedua melalui ajaran tasawuf atau ajaran kebatinan Islam.

Meskipun banyak disispi ajaran religius, Serat Centhini juga tidak menghardik keyakinan mistisisme yang memang kental dalam masyarakat Jawa. Keyakinan mistisisme bahkan juga digambarkan menyelimuti aktifitas seksual. Kisah Amongraga dan Tembangraras menjadi salah satu kisah menarik yang mampu mencerminkan bagaimana aktifitas seksual dapat berbalut dengan hal mistik.

Dikisahkan, Amongraga dan Tembangraras sebagai pasangan suami istri baru yang hendak melaksanakan malam pertama. Malam pertama mereka tidak langsung dilalui dengan aktifitas seksual sebagaimana malam pertama umumnya terjadi.

Amongraga justru hanya mengajak Tembangraras untuk duduk tanpa berdekatan dan menikmati kesunyian berdua. Ketenangan Amongraga dan Tembangraras berlangsung hingga 40 malam tanpa terjadi aktifitas seksual sama sekali.

Mereka hanya saling duduk bercerita, sembari Amongraga mengajarkan rahasia aktifitas asmara yang dapat membawa mereka ke puncak pengalaman mistis. Amongraga kemudian mengajak Tembangraras untuk bertelanjang sesuai dengan tingkatan mistik masing-masing. Semakin tingkatan mistik mereka meningkat, maka semakin telanjang pula lah keduanya.

Ajaran mistik yang dimiliki Amongragaini didapatkan melalui ilmu asmaragama, semacam kamasutra jawa, serta mistisisme Islam. Mistisisme Islam di dalamnya sendiri berasal dari ajaran aliran Sufi Timur Tengah seperti Rumi.

Sedangkan ajaran mistik Islam yang terdapa dalam Serat Centhini dapat diurai benangnya berasal dari ajaran tasawuf Jawa yang memiliki pokok martabat tujuh. Ajaran tersebut banyak berisi seputar eksistensi manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Ajaran ini menganggap manusia dan alam semesta sendiri sebagai manifestasi dari Tuhan.

Mistisisme di dalam Serat Centhini juga tidak hanya tampil dalam kisah-kisah erotisnya. Mistisisme bahkan muncul melalui kisah seputar ilmu kebatinan, kekebalan, ilmu pusaka, dan primbon.

Tersimpan Misteri

Urusan Seks yang Blak-blakan dalam Serat Centhini - Mengenal Budaya Jawa

Terlepas dari isinya yang menggambarkan aspek-aspek kehidupan masyarakat Jawa secara luas, Serat Centhini sendiri masih menyimpan misteri lain. Salah satu misteri yang belum terungkap adalah alasan dari penjudulannya yang berubah. Judul awal dari Serat Centhini asalnya adalah Suluk Tembangraras.

Jawaban dari misteri penjudulan Serat Centhini sendiri perlu dilihat melalui sejarah penerbitannya. Kitan yang rampung sekitar seabad yang lalu ini menghabiskan ongkos penerbitan sekitar 10.000 ringgit emas. Pendanaannya berasal dari kantong pribadi Amangkunegara III. Dana ini digunakan untuk membiayai jasa dan tenaga para oujangga keraton yang menyusunnya.

Pendanaan tersebut dilatari dari keresahan petinggi budaya Keraton yang melihat besarnya pengaruh budaya kolonial di dalam masyarakat Jawa. Ketiga penulis utama Serat Centhini sebenarnya tidak bermaksud menempatkan tokoh Centhini sebagai karakter utama dalam cerita.

Peran Centhini lebih banyak serupa seperti peran Plato dalam kisah-kisah filosofis Aristoteles. Centhini menjadi murid yang mendengar tetuah dari gurunya, Amongrogo.

Perlu diperhatikan satu pembeda posisi antara Tembangraras dan Centhini, masing-masing sebagai murid dari Amongrogo. Tembangraras memiliki posisi istimewa karena juga merupakan kekasih dan istri dari Amongrogo.

Artinya, petuah dan ajaran dari Amongrogo seringkali diserap oleh Tembangraras ketika berada dalam satu ruang intim yang sama. Sedangkan Centhini, hadir sebagai penguping yang mengobservasi serta mencatat segala petuah tersebut dari ruang yang lebih berjarak.

Peran Centhini sebagai pengabdi dan murid yang lebih objektif ini, menempatkannya menjadi lebih terang dan seimbang dalam beragam situasi. Sifat ini yang membuat para penulis utama Serat Centhini kagum dengan tokoh tersebut. Mereka memaknai Centhini sebagai sosok yang pandai menempatkan diri dalam segala situasi. Sosok Centhini juga diartikan sebagai representasi dari rakyat jelata atau kawula alit.

Pandangan para penulis utama Centhini dapat diartikan sebagai misi terselubung untuk menangkap ajaran filosofi Jawa secara lebih terang melalui perspektif rakyat yang jujur. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya masyarakat Jawa di level akar rumput.

Melalui sosok Centhini, ajaran falsafah Jawa dapat dibawa secara lebih dekat dengan khalayak utamanya, yaitu rakyat kecil. Sosok Centhini disebut memunculkan sentimen yang optimistis bagi rakyat.

Kesimpulan tersebut masih merupakan spekulasi para ahli dalam menafsirkan niat para pujangga keraton. Tidak ada yang mengetahui persis tujuan utama sebenarnya dari penjudulan Serat Centhini.

Terlepas dari masalah penjudulannya, Serat Centhini tetap merupakan mahakarya yang mampu merekam kebudayaan Jawa dari beragam aspek. Serat Centhini juga mampu menunjukkan betapa unik dan rumitnya budaya Jawa, yang seringkali dianggap inferior dibanding dengan budaya barat.