Angelo Peruzzi secara luas dianggap sebagai salah satu penjaga gawang terhebat di generasinya. Ia mampu bersaing untuk mendapatkan posisi utama di Timnas Italia dengan kiper sekaliber Francesco Toldo, Walter Zenga, dan Gianluca Pagliuca.

Sayangnya, ia kalah ketika harus bersaing dengan Gigi Buffon di bawah mistar gawang Gli Azzuri. Ya, sang pelatih yang menangani Timnas Italia, setidaknya sejak tahun 1998, lebih memilih untuk menggunakan jasa Buffon ketimbang Peruzzi. Kendati demikian, nama Peruzzi tetap mendapat pengakuan sebagai kiper hebat bagi penikmat sepak bola era 90-an.

Lahir di Blera dekat Viterbo, legenda Lazio itu memulai segalanya sebagai prospek muda Roma sebelum akhirnya pindah ke Verona dengan status pinjaman pada tahun 1989 silam. Namun, setelah kembali ke Roma pada tahun 1990, Peruzzi harus absen selama 12 bulan setelah gagal lolos tes doping.

Peruzzi kemudian memiliki karier yang sukses nan spektakuler setelah melewati masa itu, di mana ia eksis selama 20 tahun dengan klub Serie A Juventus, Inter Milan, dan Lazio. Dalam hal pencapaian, Peruzzi memenangkan hampir semua trofi termasuk Liga Champions, Coppa Italia, Piala UEFA, Piala Super UEFA, Supercoppa Italiana (2 kali), dan Scudett0 (3 kali).

Penjaga gawang yang memiliki tubuh kekar ini juga bermain dalam 31 pertandingan bersama tim nasional Italia. Menariknya, nama Peruzzi masuk dalam urutan ke-27 terkait pemungutan suara untuk Ballon d’Or pada tahun 1997 silam.

Peruzzi adalah kebalikan dari stereotip penjaga gawang, yang flamboyan dan tidak tertekan. Hal ini yang akhirnya membuat dia dikenal karena reaksi cepatnya. Bagaimana tidak, Peruzzi tak pernah ragu untuk melompat dari garisnya pada tendangan sudut atau serangan balik.

Meskipun tubuhnya pendek dan kekar, ia berhasil menaklukkan setiap tembakan, dengan cara membelokkannya melewati mistar gawang. Aksi heroiknya itu sangat mengejutkan para pemain dan penonton. Keuntungan lain yang dimiliki Peruzzi untuk permainannya adalah kemampuannya untuk menyelamatkan penalti, dan positioning-nya.

Peruzzi bergabung dengan Lazio pada tahun 2000 setelah meraih Scudetto bersama klub Ibu Kota tahun sebelumnya. Sebagai mantan produk pemain muda Roma, Peruzzi dengan cepat membuat dirinya disayangi oleh pendukung setia Lazio dengan memenangkan Piala Super Italia di pertandingan pertamanya dengan seragam I Biacocelesti.

Profesionalisme dan permainannya yang luar biasa mengubahnya menjadi favorit penggemar. Aksinya dalam menghentikan gol dalam dongeng “Banda Mancini”,mengubahnya menjadi subjek cerita rakyat Lazio.

Namun, setelah puncak era Sergio Cragnotti yang mempesona, Lazio terjerumus ke jurang finansial. Tim tersebut terpaksa menjual ikon-ikon penting seperti Hernan Crespo, Pavel Nedved, Juan Sebastian Veron, dan Alessandro Nesta untuk menutupi hutang yang menumpuk.

Pelatih Roberto Mancini pun mencoba untuk mengambil alih skuat. Tim mengejutkan para pakar Serie A dengan gaya permainannya yang menyerang. Tiga tahun di bawah mantan juru latih Manchester City ini, Lazio memuncak dengan kemenangan Coppa Italia 2003-04 usai mengalahkan Juventus.

Secara total, Peruzzi terhitung telah memainkan 192 pertandingan untuk Biancocelesti hingga pensiun pada Mei 2007 akibat cedera parah. Setelah pensiun, ia mencoba untuk terjun ke dunia kepelatihan di level muda nasional Italia dan Sampdoria.

Kendati demikian, hanya satu klub yang benar-benar tersisa di hatinya, yakni Lazio. Dia menerima tawaran untuk kembali ke Lazio sebagai manajer tim klub, demi membantu tim tumbuh ke level yang sangat pantas.

Jadi Kesayangan Marcelo Lippi

ANGELO PERUZZI MARCELLO LIPPI ITALY V FRANCE OLYMPIASTADION BERLIN Stock  Photo - Alamy

Marcelo Lippi menjadi pelatih yang berhasil membuat Juventus mendominasi kompetisi Serie A Liga Italia. Itu terjadi setelah dirinya ditunjuk untuk menjadi suksesor Giovanni Trapattoni pada tahun 1994 silam,

Lippi memberikan estetika baru pada sepak bola Italia, bukan di lapangan, tapi di luar lapangan. Membandingkan fitur-fitur Capello Milan yang keras dan mencolok, pelatih baru Juve adalah pria yang ramah.

“Dengan sepak bola seperti sekarang ini, melakukan dialog terbuka dengan para pemain Anda sangatlah penting,” kata Lippi dikutip Edisi Bonanza88 dari buku The Italian Job. “Saya sering berbicara dengan mereka dan saya harus mengatakan itu benar-benar memperkaya diri saya dalam banyak hal: secara budaya, taktik, teknis, sosial. ini adalah hal-hal yang meningkatkan manajerial tim.”

Dengan prinsip yang ia pegang itu, Lippi berhasil merengkuh gelar juara pada musim pertamanya di Juventus. Tak berhenti sampai di situ, pelatih berambut putih tersebut juga berhasil membantu Si Nyonya Tua untuk merengkuh scudetto dan sejumlah trofi prestisius lainnya.

Dalam masa kejayaannya bersama Juventus itu, Peruzzi juga masuk dalam ceritanya. Ya, sang penjaga gawang memang hampir selalu mendapatkan tempat utama di bawah mistar Si Nyonya Tua. Ini pun menjadi momen di mana Lippi merasakan ‘rasa sayang’ kepada Peruzzi.

Karena, sejak saat itu, Lippi selalu ingin memasukkan nama Peruzzi dalam skuatnya. Itu bisa dibuktikan ketika Lippi memutuskan hijrah ke klub rival Inter Milan pada 1999/00 silam. Saat itu, sang pelatih turut membawa Peruzzi ke Giuseppe Meazza untuk menjadi penjaga gawan utama Inter Milan.

Padahal, saat itu tim berjuluk La Benemata tersebut memiliki sosok kiper legendaris Italia lainnya, yakni Gianluca Pagliuca. Kendati demikian, hal itu tak membuat rasa sayang Lippi kepada Peruzzi luntur. Justru, Lippi mengusir Pagliuca dari tempat utamanya di Inter Milan.

Situasi ini pun membuat Pagliuca mengaku tidak senang dengan kehadiran sosok Lippi. Pagliuca mengungkapkan bahwa dia akan dengan senang hati bertahan di Inter Milan, kecuali untuk pelatih Marcello Lippi.

Seperti kutipan yang didapat Bonanza88 dari situs resmi FCInternews, mantan penjaga gawang Timnas Italia itu mengatakan bahwa desakan Lippi untuk merekrut Angelo Peruzzi menyebabkan kepergiannya dari Giussepe Meazza.

“Satu-satunya penyesalan saya adalah jika Lippi tidak datang, saya akan bertahan di Inter selama dua atau tiga tahun lagi,” kata Pagliuca. “Saya berselisih paham dengan Lippi dan tidak mungkin bagi saya untuk bertahan.”

“Dia ingin membawa anak buahnya bersamanya dan membawa Peruzzi, tetapi [Massimo] Moratti juga baru-baru ini menegaskan kepada saya bahwa menjual saya adalah salah satu kesalahan yang paling dia sesali.”

Bersama Inter Milan, Peruzzi pun diketahui memainkan 33 pertandingan di Serie A Liga Italia dan berhasil mengumpulkan 11 clean sheets. Sayangnya, kariernya di La Benemata harus berakhir ketika Lippi memutuskan untuk kembali ke Juventus.

Peruzzi pun akhirnya memilih Lazio sebagai destinasinya. Bersama Lazio, dia menetap untuk perjalanan yang luar biasa lagi, di mana ia bertahan tujuh musim di ibu kota. Peruzzi bahkan menambahkan trofi Coppa Italia lainnya untuk Lazio.

Meski tak lagi bekerja bersama, Lippi tetap menaruh harapan bisa kembali dengan Peruzzi. Itu pun bisa ia capai ketika dipercaya untuk menukangi Timnas Italia pada Piala 2006 silam. Saat itu, Lippi secara mengejutkan memasukkan nama Peruzzi ke dalam skuat Gli Azzuri.

Bantu Italia

Italy's Angelo Peruzzi celebrates with the FIFA World Cup News Photo -  Getty Images

Pemanggilan Peruzzi ke Timnas Italia pada ajang Piala Dunia 2006 silam ini, tentunya bukan untuk menjadi kiper utama. Akan tetapi, Lippi sengaja membawa sosoknya untuk mempengaruhi situasi di ruang ganti. Mengingat, Peruzzi memiliki mental dan kepribadian yang sangat berpengaruh untuk tim.

Pengaruhnya itu terasa jelas untuk Daniele De Rossi. Mantan gelandang AS Roma tersebut mengaku mendapatkan sebuah dampak positif dari hadirnya sosok Peruzzi di Timnas Italia di turnamen Piala Dunia 2006.

“Value seorang Peruzzi melampaui nilai teknis. Di masa sulit yang menimpa saya selama Piala Dunia 2006, Peruzzi adalah orang yang paling meyemangati saya,” katanya beberapa waktu lalu.

Sekedar mengingatkan kembali, saat itu De Rossi diskors selama empat pertandingan dan didenda £ 4.500 setelah dikeluarkan dari lapangan karena menyikut Brian McBride. Insiden itu terjadi ketika Timnas Italia berhadapan dengan Amerika Serikat di babak grup Piala Dunia 2006.

Penangguhan empat pertandingan termasuk pertandingan terakhir Grup E melawan Republik Ceko. Penangguhan itu pun membuat De Rossi hanya bisa tampil ketika Timnas Italia melangkah ke partai final Piala Dunia 2006.

Menyusul pertemuan Italia dengan AS, De Rossi menghubungi FIFA untuk meminta maaf atas aksi sikutnya ke arah McBride. Atas aksi kasar De Rossi ini, McBride dipenuhi lumuran darah di seluruh wajahnya dan membutuhkan tiga jahitan di bawah mata kirinya.

Awalnya, De Rossi mendapatkan larangan lima pertandingan di Piala Dunia 2006. Akan tetapi, sanksi itu berkurang setelah mantan gelandang Boca Junior tersebut bersikap sportif untuk meminta maaf.

“FIFA mengatakan kepada kami bahwa mereka memberinya larangan empat pertandingan daripada larangan lima pertandingan, karena kami menghargai surat yang ditulis De Rossi untuk meminta maaf atas tindakannya,” kata juru bicara media Federasi Sepak Bola Italia Antonello Valentini.

Selama De Rossi absen, Italia mampu berjuang dengan baik di turnamen empat tahunan ini. Mereka berhasil menjadi pemenang grup dan menghancurkan tim-tim yang ada di babak gugur. Gli Azzuri sukses mengalahkan Australia (1-0), Ukraina (3-0) dan Jerman (2-0) di semifinal.

Situasi ini membuat Italia berhak mendapatkan tiket ke final Piala Dunia 2006. Diketahui, saat itu mereka harus berhadapan dengan lawan yang sangat sulit, Timnas Prancis. Di sisi lain, masuknya Italia ke partai puncak ini membuat De Rossi bisa kembali merumput.

Kala itu, De Rossi tak memainkan peran sejak babak pertama. Dirinya baru diberikan kesempatan tampil ketika pertandingan memasuki menit ke-61. Sekedar informasi tambahan, De Rossi saat itu menggantikan peran krusial Francesco Totti.

Laga Italia vs Prancis itu pun harus berakhir hingga babak adu penalti. Hal itu terjadi ketika keduanya memainkan permainan imbang 1-1. Prancis lebih dulu unggul lewat titik putih Zinedine Zidane, sebelum akhirnya disamakan oleh tandukan Marco Materazzi.

Pada babak adu penalti, De Rossi pun memberikan kontribusi yang sangat baik. Ditunjuk sebagai penendang penalti ketiga Timnas Italia, De Rossi sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Situasi itu tentunya bukan hal yang mudah bagi De Rossi, mengingat dirinya tengah baru saja mendapatkan masalah. Untungnya, mental De Rossi tidak berkurang, sehingga tak mempengaruhi penampilannya di final Piala Dunia 2006. Itu pun tak terlepas dari peran Peruzzi.

“(Selama) empat hari diskualifikasi, saya selalu merasakan kepercayaan Lippi, bahkan ketika dia marah setelah insiden kartu merah. Saya selalu merasa bahwa jika ada kesempatan untuk kembali. Beberapa hari sebelumnya, Peruzzi datang kepada saya dan berkata: ‘Lihat, ini gila, mungkin dia ingin melakukannya. Biarkan kamu bermain dari awal’.”

“Saya bersiap-siap, jelas bahwa saya bisa ikut serta (di final Piala Dunia 2006). Saya mulai dari bangku cadangan. Semuanya berjalan baik dan itu tetap menjadi kenangan paling berkesan yang saya miliki tentang karier sepak bola saya. ”

Gaya Khas

Peruzzi, da portiere a vicesindaco: minacce dai bracconieri | Sky Sport

Angelo Peruzzi adalah seorang legenda sepak bola Italia yang berhasil memenangkan tiga kali penghargaan Kiper Terbaik Serie A Tahun Ini. Peruzzi dianggap oleh para pakar sebagai salah satu kiper Italia terhebat sepanjang masa. Sepanjang kariernya, ia bermain untuk klub Italia Roma, Hellas Verona, Juventus, Inter Milan dan Lazio.

Peruzzi adalah seorang penjaga gawang yang kuat, atletis, lengkap, dan konsisten, meskipun rawan sekali cedera. Ia juga dikenal karena kekuatan fisik, posisi, reaksi eksplosif, kecepatan, dan kelincahannya.

Kendati fisiknya kekar, dia sangat mahir dalam bergegas keluar dari garisnya untuk menangkis atau menangkap bola. Karena fisiknya yang gempal, Peruzzi diberi julukan “Tyson” mengacu pada tubuh petinju Mike Tyson yang sama kuatnya.

Situasi ini pun membuatnya sangat efektif dalam tim, yang mengandalkan sistem pertahanan zonal marking dengan garis pertahanan tinggi. Karena tinggi badannya yang sederhana untuk seorang penjaga gawang, ia kurang efektif keluar untuk menghalau umpan silang, dan lebih suka meninju bola ke luar daripada mencoba menangkapnya.

Meskipun ia sangat berbakat, baik secara teknis maupun akrobat, ia adalah penjaga gawang yang efisien, yang melakukan penyelaman spektakuler hanya jika diperlukan. Dalam perjalanan kariernya, dia juga menonjol karena konsentrasinya yang kuat, dan kemampuannya untuk menghasilkan penyelamatan krusial.

Peruzzi juga efektif dalam menghentikan tendangan penalti lawan. Kendati demikian, ia tidak terlalu ahli dalam penguasaan bola di kakinya, dan biasanya lebih suka membuang bola setiap kali bola dikembalikan kepadanya.

Pria yang kini berusia 51 tahun itu memiliki karier yang luar biasa meski sudah semakin tua. Ia mampu mempertahankan tingkat kinerja yang tinggi secara konsisten. Tak hanya dikenal karena kepemimpinan, mentalitas, dan kepercayaan yang ia inspirasi pada rekan satu timnya, Peruzzi nyatanya juga memiliki karakter yang cukup baik, tenang dan pendiam di luar lapangan.