Sebagai tokoh besar bagi bangsa Indonesia, Soekarno juga menyimpan segudang kontroversi. Dari kedekatannya dengan Partai Komunis Indonesia, hingga perilaku poligami yang dilakukannya. Salah satu skandal yang jarang diperbincangkan adalah kemunculan film porno yang diperankan oleh aktor mirip Soekarno. Bagaimana skandal ini bisa muncul?

Setelah masa kemerdekaan, Indonesia menjadi negara yang afiliasinya diperebutkan dua adidaya, Uni Soviet di blok timur dan Amerika Serikat di blok barat. Perebutan ini tak lain adalah salah satu bentuk perang proxy yang terjadi di masa perang dingin.

Uni Soviet sebagai pentolan geng komunisme berusaha menyebarkan pahamnya ke negara-negara di seluruh dunia. Amerika Serikat sebagai dedengkot kapitalisme, berusaha menahan laju penyebaran paham tersebut.

Pada satu periode, Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno menunjukkan kedekatan yang lebih erat pada blok timur. Soekarno kerap menyatakan keengganannya berpihak pada Amerika Serikat dan kapitalisme.

Malah, Soekarno secara jelas menunjukkan kedekatannya dengan negara-negara sosialis seperti Kuba maupun Soviet. Bantuan Soviet pun mengalir deras ke Indonesia yang kala itu sedang membangun dirinya selepas menang dari agresi kolonial Belanda.

Amerika Serikat yang mencium kedekatan ini mulai khawatir dan panik. Beberapa upaya dilakukan untuk berhasil memenangkan Indonesia dari Soviet. Salah satu cara kotor yang dilakukan oleh Amerika Serikat adalah melalui spionase dan kampanye gelap untuk menjatuhkan reputasi aktor-aktor besar seperti Soekarno.

Melalui upaya ini, Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) bahkan sengaja membuat film porno dengan aktor yang dimiripkan dengan Soekarno. Manipulasi ini berlandaskan anggapan populer bahwa Soekarno adalah laki-laki yang gila perempuan.

Dicari Aktor Mirip

CIA Bikin Film Porno Mirip Sukarno - Historia

Upaya penjatuhan reputasi ini diungkap kemudian hari oleh mantan agen CIA, Joseph B. Smith. Smith menjelaskan bahwa CIA sengaja mencari dan menemukan pemeran film porno yang kebetulan mirip Soekarno.

Asalnya, pemeran tersebut tidak terlalu serupa dengan Soekarno. CIA sengaja mendorong Hollywood untuk mencarikan pemeran berkulit gelap yang sekiranya bisa dibuat supaya terlihat seperti Soekarno. Upaya ini dilancarkan dengan sentuhan-sentuhan teknik make-up yang saat itu sudah dikuasai oleh industri film Hollywood.

Upaya tersebut awalnya berujung pada jalan buntu. Secanggih apapun ilmu make-up yang mereka miliki pada saat itu, aktor berkulit gelap tetap tidak bisa diserupakan dengan tokoh dengan fitur Asia Tenggara macam Soekarno.

Di tengah keputuasaan ini, CIA mendobrak upaya mereka lebih jauh lagi. Mereka memutuskan untuk membuat topeng yang menyerupai wajah Soekarno. Setelah topeng itu selesai dibuat, CIA kemudian menginstruksikan kepolisian Los Angeles untuk membuka lowongan bagi aktor porno yang mau memerankan adegan dewasa menggunakan sebuah topeng.

Setelah menemukan aktor yang cocok, film itu kemudian diproduksi oleh Bing Cosby dan sutradara andalannya. Plot yang ada di film itu sederhana namun realistis. Kisahnya adalah adegan hubungan intim antara Soekarno, yang diperankan oleh aktor dari Chicago, dengan seorang agen soviet yang diperankan oleh seorang perempuan pirang.

Ceritanya, sang agen soviet menyamar sebagai pramugari di dalam pesawat yang kebetulan membawa Soekarno dalam penerbangan internasional. Plot ini dinilai sesuai untuk mempermalukan Soekarno. Sebabnya, Soekarno sendiri terkenal sebagai tokoh yang genit dan sering dianggap sebagai pemain perempuan.

Meskipun telah digarap, namun film porno tersebut tak pernah benar-benar dirilis. Satu-satunya produk yang dihasilkan dalam proyek itu adalah sejumlah foto yang juga tak pernah dimanfaatkan untuk membunuh karakter Soekarno. Film ini pun bukan satu-satunya proyek yang serupa.

Terdapat salah satu produksi film lain dengan agenda yang sama yaitu film berjudul Happy Days. Film ini juga tidak pernah dirilis, dan tidak ada laporan terkait keberhasilan produksi film tersebut. Satu-satunya laporan yang diketahui terkait film Happy Days adalah pengakuan Michael Drosnin, yang menyebut pekerja CIA yang ditugaskan untuk memproduksi film seperti ini setidaknya mendapat $500 per bulan.

Meskipun memiliki anggaran yang besar, proyek-proyek kampanye pembunuhan karakter ini tidak pernah benar-benar berhasil. Hal ini dikarenakan studi spionase lanjutan mengabarkan bahwa ide proyek tersebut tidak strategis.

Pasalnya, di negara maupun bangsa seperti Indonesia saat itu, pemimpin yang maskulin dan digandrungi wanita malah disegani. Sosok pemimpin ideal bagi masyarakat Indonesia pada masanya justru adalah pemimpin seperti Soekarno dan segala kenakalannya.

Kirim Agen Cantik

Ketika Istana Negara Kebobolan Agen CIA di Masa Soekarno - SejarahOne.id

Upaya CIA untuk menjatuhkan Soekarno bukan hanya dengan membuat film porno saja. Masih seputar anggapan bahwa Soekarno adalah mata keranjang, CIA juga pernah menyisipkan agen rahasia yang cantik ke dalam istana.

Agen cantik pertama adalah seorang gadis Amerika dewasa muda yang mengaku sebagai mahasiswi. Dalam penyamarannya, agen ini juga mengaku tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia lebih jauh.

Kehadiran agen cantik ini bahkan disaksikan oleh anak Soekarno yang juga menjadi musisi legendari Indonesia, Guruh Soekarnoputra. Menurut Guruh, agen cantik tersebut memiliki kulit kuning, tinggi sekitar 170 cm, payudara yang montok, dan hidung yang mancung.

Secara proporsi badan, tubuh agen tersebut adalah tubuh perempuan idaman pada masa itu. Sandiwara sang agen cantik juga dilengkapi dengan upaya lebih jauh. Sang agen kerap ditemukan belajar tarian tradisional, berlatih gamelan, hingga mengenakan kebaya dan berlenggak-lenggok di Istana. Pada awalnya, Soekarno tidak menyadari sandiwara ini dan justru terjebak dalam pesona sang agen.

Setelah memerhatikan agen cantik tersebut beberapa saat, Soekarno kemudian mengajaknya untuk tinggal di istana. Untungnya, kelicikan agen cantik tersebut hanya berlangsung sekejap.

Pada suatu kali, Soekarno mengundang Presiden Pakistan, Ayub Khan untuk berbincang. Kebetulan Presiden Pakistan familiar dengan sosok agen cantik tersebut, dan langsung memberi tahu Soekarno untuk berhati-hati. Selepas pertemuan tersebut, Soekarno langsung mengusir sang agen cantik dari istana.

CIA tetap gigih mengupayakan modus yang sama. Dalam kesempatan lain, mereka mengirim agen perempuan baru untuk memata-matai pergerakan Indonesia. Namun kali ini, modus operandinya berbeda. CIA awalnya mengirim agen perempuan bernama Pat Price yang berpura-pura menjadi penulis buku tentang Indonesia. Pat Price dikirim langsung ke Mesir, untuk bertemu dengan Soekarno yang saat itu sedang mengadakan kunjungan diplomatis di sana.

Pat Price lalu berkenalan dan berbincang dengan Soekarno. Soekarno pun awalnya masih terjebak di lubang yang sama.

Soekarno bahkan memfasilitasi Pat Price untuk datang ke Jakarta dan mendapat akses ke istana. Soekarno bahkan menyediakan satu orang asisten khusus untuk membantu memenuhi segala keperluan Pat Price. Selama beberapa bulan, dinas Penerangan mempelajari latar belakang serta gerak-gerik Pat Price, dan kemudian menyadari bahwa Ia adalah seorang agen CIA. Soekarno kemudian mengusir Pat Price setelah berkoordinasi dengan Dinas Penerangan.

Upaya Pembunuhan

CIA Rancang Penggulingan Sukarno Sejak 1953

Tidak hanya spionase, kelicikan CIA bahkan bisa lebih jahat lagi. Melalui beberapa catatan sejarah, CIA bahkan diketahui pernah merencanakan pembunuhan diam-diam pada Soekarno. Rencana itu dicetuskan setelah Konferensi Asia Afrika pertama berlangsung di Indonesia. Amerika Serikat khawatir Soekarno dan Indonesia menjadi semakin kuat dan semakin tidak dapat dikendalikan.

Hal ini terutama akibat keputusan Soekarno yang menyatakan tidak ingin terlibat dalam perang dingin. Amerika Serikat saat itu sudah menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang strategis untuk memenangkan perang dingin. Khawatir kekuatan Indonesia malah dimanfaatkan oleh Soviet, Amerika Serikat dan CIA memutuskan bahwa jalan terakhir untuk memenangkan Indonesia adalah dengan membunuh Soekarno.

Rencana pembunuhan tersebut tidak pernah benar-benar terlaksana. Penyebab tidak dilaksanakannya pun tidak pernah diketahui. Meskipun begitu, CIA tetap melanjutkan pengawasan berat terhadap Soekarno dan kerap dihubungkan dengan percobaan pembunuhan lainnya.

Misalnya, percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pilot bayaran CIA, Allan Pope, yang terjadi lima tahun sebelumnya.

Segala percobaan pembunuhan karakter maupun pembunuhan dalam arti literal yang ditujukan pada Soekarno ini membuat sang Bung Besar geram dan antipati terhadap Amerika Serikat. Baru ketika John F Kennedy terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, Soekarno merasa ada harapan untuk memperbaiki hubungan dengan negeri Paman Sam.

Soekarno bahkan sempat membahas ini dalam perbincangannya dengan Kennedy di Gedung Putih pada 1961. Soekarno bersaksi bahwa Kennedy bahkan mengakui dan meminta maaf terkait segala upaya buruk itu.

Terlepas dari upaya-upaya pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik, CIA juga melakukan banyak upaya untuk menjatuhkan Soekarno dari tahtanya. Upaya-upaya ini biasa dilakukan dalam bentuk pendanaan maupun penyediaan suplai senjata pada musuh-musuh politik Soekarno yang ada di dalam negeri.

Salah satu contohnya adalam penyokongan dana kepada partai oposisi besar kala itu, Partai Masyumi. Ini terjadi persis ketika Indonesia hendak melaksanakan pemilu pertamanya pada 1955. Pemilu pertama itu memang kerap disebut-sebut sebagai pemilu paling demokratis. Hal ini dikarenakan hadirnya partai yang berdiri dari ragam ideologi, dan tumbuh dari basis akar rumput yang kuat.

Hal yang jarang diketahui pada masa itu adalah, keterlibatan besar dua negara adidaya dalam pemilu tersebut. Gejolak perang dingin yang berlangsung antara Soviet dan Amerika Serikat sangat terasa hingga level politik praktis.

Partai Masyumi saat itu disebut-sebut mendapat sokongan dana yang besar dari CIA. Hal yang sama terjadi juga di kubu PKI yang saat itu disebut mendapat sokongan dana besar dari Soviet.

Sokongan dana yang diberikan Amerika Serikat kepada Masyumi tercatat hingga mencapai 1 juta Dollar. Kala itu, Masyumi menjadi opsi yang strategis bagi Amerika Serikat karena partai berlogo bulan bintang tersebut telah menjadi oposisi terkuat dari PNI dan PKI. Masyumi juga cukup vokal menyatakan pertentangannya terhadap kebijakan Soekarno.

Besarnya dana Amerika Serikat ini bahkan diberikan begitu saja. Masyumi tidak perlu membalas dengan laporan pertanggungjawaban. Utamanya, agar dana ini tidak terlihat sebagai agenda proxy, melainkan sebagai hibah yang lebih sukar terdeteksi agendanya. Hal ini juga berarti, Masyumi bebas untuk memanfaatkan dana besar itu demi kepentingan apapun.

Catatan terkait dana yang dimiliki oleh PKI pun terbilang minim. PKI kerap mengklaim memiliki sumber dana kampanye dari hasil iuran para anggotanya. Namun, beberapa sejarawan meyakini PKI juga mendapat suntikan dana yang besar dari Uni Soviet maupun Republik Rakyat Cina.

Namun, tidak ada yang berhasil membuktikan secara jelas suntikan dana dari blok merah tersebut. Teori dari suntikan dana Soviet berasal dari dugaan umum bahwa PKI tidak memiliki cukup dana yang berasal dari iuran anggota.

Pasalnya, anggota PKI lebih banyak diketahui bekerja sebagai buruh, petani, maupun masyarakat miskin yang terpinggirkan. Anggapan umum meragukan populasi anggota tersebut mampu mengumpulkan dana yang cukup untuk melakukan kampanye politik.

Dugaan terkait suntikan dana CIA juga seringkali ditepis oleh peneliti sejarah dalam negeri. Hal ini dikarenakan sudah banyak tokoh Masyumi yang memberikan klarifikasi terkait sumber dana partainya. Meskipun begitu, suntikan dana terhadap Partai Masyumi tetap tercatat dalam dokumen-dokumen CIA yang dipublikasikan beberapa dekade setelahnya.

Satu-satunya upaya CIA yang berhasil untuk menggulingkan Soekarno terjadi pada Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu). Dalam tragedi itu, CIA terlibat dalam mendanai dan memberikan suplai senjata pada pembantaian massal yang dilakukan militer kepada PKI. Pendanaan ini tercatat dalam dokumen-dokumen CIA yang baru pada beberapa dekade terakhir dipublikasikan melalui situsnya.