Korea Utara memang dikenal sebagai negara yang sangat tertutup dan penuh misteri. Salah satu misteri yang cukup terkenal dari Korea Utara ialah kamar 39.  Salah satu rumor mengatakan bahwa ruangan ini merupakan sebuah kamar operasional untuk segala macam aktivitas haram yang dilakukan Kim Jong Un dkk.

Informasi yang dihimpun Edisi Bonanza88 dari beberapa sumber, di dalam Room 39 ini sang pemimpin Korut itu melakukan sejumlah kejahatan macam pencucian uang, transaksi ilegal, serta produksi narkotika. Selain itu, konon di sini juga jadi ajang transaksi senjata-senjata gelap, kemudian dipakai juga untuk mengontrol sekitar 130 perusahaan milik Kim Jong Un di luar Korea Utara. Kabarnya lagi, dari tempat ini saja Kim bisa mengantongi miliaran dolar.

Kamar 39 ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan Kim II-sung, diktator korea di masa lalu. Akan tetapi, sebelum kematian putranya, kamar ini menjadi bumerang bagi rejim Pyongyang. Banyak ahli kimia yang dilatih dan dipekerjakan disini. Kantor ini juga bekerjasama dengan dua kantor lainnya untuk mendapatkan mata uang asing bagi kalangan elit serta mengelola uang itu untuk partai dan Kim.

Tempat ini di tahun 1988 resmi menjadi departemen partai independent. Sejak saat itu pula terlibat di dalam penyelundupan rokok, penipuan dokumen dan asuransi, pemalsuan mata uang dan produksi. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat yang didukung penuh oleh suatu negara. Diproyeksikan sebagai salah satu organisasi rahasia di Korea Utara yang mencari cara untuk memperoleh mata uang asing untuk Kim Jong-il.

Kamar ini didirikan pada tahun 1970-an dan tidak diketahui dari mana nama ini berasal. Sangat sedikit sekali informasi tentang Room 39 ini dikarenakan sifat rahasia organisasi sekitarnya. Cara kerja Biro ini adalah menggunakan 10-20 rekening bank di Cina dan di Swiss, untuk tujuan pemalsuan, pencucian uang dan transaksi ilegal lainnya. Tempat ini juga disinyalir terlibat dalam penyelundupan Narkoba dan penjualan senjata.

Korea Utara telah membantah terlibat dalam kegiatan ilegal apapun. Kamar 39 diyakini berada di dalam sebuah Gedung Partai Buruh di Pyongyang, ibukota Korea Utara. Banyaknya kegiatan illegal yang dilakukan seperti pemalsuan $ 100-an, produksi zat yang dikendalikan (termasuk heroin dan shabu) serta penipuan asuransi internasional.

Meskipun pengasingan negara Korea Utara membuat informasi seperti ini, namun banyak yang mengklaim Kamar 39 sangat penting untuk kekuatan lanjutan Kim Jong Un, memungkinkan dia untuk membeli dukungan politik dan membantu mendanai program senjata nuklir negara itu.

Sejak pemberitaan pertamanya, Room 39 ini jadi perbincangan banyak orang. Sayangnya, itu bukan sesuatu yang baik karena Room 39 ini seolah jadi bukti kekejaman nyata sang diktator. Dan setelah dicerca dengan berita-berita soal Room 39 ini, akhirnya pemerintah Korut angkat bicara.

Ya, mereka mengatakan jika ruang rahasia macam ini tak pernah ada dan hanya fantasi sebagian orang saja. Mendengar pernyataan ini tentu saja tak semua orang langsung percaya. Bahkan ada yang menganggap statement itu adalah langkah untuk mengaburkan pandangan orang-orang dari ruang rahasia yang sangat penting bagi Kim itu.

Seperti inilah Room 39, tempat super rahasia di mana seorang Kim Jong Un melakukan aksi-aksi edannya. Agak susah dipercaya sih soal eksistensi ruangan ini, mengingat Korut sendiri secara keseluruhan adalah tempat yang misterius. Tapi, kalau melihat kekejian yang dilakukan Kim Jong Un, mungkin saja tempat rahasia ini memang ada.

Tempat Rahasia Kim Jong-un untuk Hidup Mewah

Mengenal Room 39, Organisasi Misterius Korea Utara yang Bertugas  Pertahankan Harta Kim Jong Un

Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un disebut bisa hidup mewah bergelimang harta karena didukung oleh Office 39. Markas jaringan penyelundupan global itu diduga dirancang untuk menghasilkan uang demi memperkaya Kim Jong-un beserta keluarga.

Seperti ditulis New York Post, tanpa Office 39, anggota elite Pyongyang akan tercekik oleh sanksi PBB dan Amerika Serikat serta tak bisa melakukan perdagangan dengan dunia, termasuk ambisi nuklir Kim Jong-un.

“Menurut Anda, dari mana Kim mendapatkan cognac (jenis brendi), Mercedes, dan arloji Rolex? Semua uang untuk membeli barang-barang itu berasal dari Office 39,” kata pensiunan kolonel Pasukan Khusus Angkatan Darat AS sekaligus pakar Korea Utara, David Maxwell.

Pembuatan dan perdagangan obat-obatan terlarang, pemalsuan, penyelundupan emas, perdagangan senjata, dan buruh budak disebut hanyalah segelintir dari kegiatan ilegal yang disponsori Office 39.

Dilansir dari New York Post, Office 39 didirikan oleh ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il pada 1974. “(Office 39) seperti bank bagi Kim Jong-un,” kata pembelot Korea Utara, Jason Lee (35 tahun).

Lee dan ayahnya bekerja sebagai eksekutif di Office 39 untuk menjalankan perusahaan pelayaran, sebelum akhirnya melarikan diri dari Pyongyang ke Seoul dan kemudian ke AS.

“Tapi dia menjadi sedikit lebih berhati-hati dalam beberapa tahun terakhir tentang aktivitas ilegal. (Aktivitas) itu mendapat terlalu banyak perhatian dan terlihat buruk bagi Partai,” kata Lee.

Menurut spesialis Asia di Park Strategies, Sean King, hingga awal 2000-an, diplomat Korea Utara yang bekerja atas nama Office 39 adalah orang-orang yang tak tahu malu untuk rezim.

“The Kim’s (keluarga Kim) seperti keluarga kriminal terorganisir yang menyamar sebagai pemimpin suatu negara. Para diplomat dikirim ke luar negeri dengan kuota mata uang keras yang harus mereka kirim kembali, dengan cara apapun yang diperlukan. Kedutaan Korea Utara diorganisasikan seperti perusahaan kriminal multinasional,” kata Sean.

Masih menurut keterangan Sean, banyak orang-orang yang disebut diplomat melintasi negara-negara di dunia. Mereka membawa minuman keras, rokok, dan obat-obatan yang diproduksi di Korea Utara atau barang selundupan lainnya ke kedutaan besar di seluruh dunia. Staf Office 39 juga menghasilkan uang untuk Kim dengan bertindak sebagai kurir narkoba lepas untuk negara lain.

Korea Utara masih memiliki sekitar 40 kedutaan, tapi pendapatan yang lebih besar dihasilkan dengan mengekspor tenaga kerja berupa budak.

Di wilayah Siberia, China, dan Rusia misalnya, pria Korea Utara melakukan pekerjaan seperti menebang kayu dan dipaksa untuk memberikan hampir semua upah mereka kepada pemerintah.

Penyelundupan narkoba memuncak pada awal 2000-an. Pada 2003, polisi Australia menemukan heroin senilai US$160 juta diturunkan ke pantai dari Pong Su, sebuah kapal kargo Korea Utara.

“Korea Utara mungkin masih terlibat dalam perdagangan narkotika, tapi tidak dengan sanksi resmi rezim hari ini,” ujar seorang sarjana Korea Utara dari lembaga analis 38 North kepada The Post.

Pada 2017 lalu, mantan pejabat Office 39, Ri Jong-Ho yang membelot pada 2014 membeberkan sekilas tentang cara kerja Office 39.

Kepada kantor berita Jepang, dia mengatakan operasi Office 39 memiliki lima kelompok pusat yang diawaki oleh ribuan karyawan tingkat rendah, di mana sedikit dari mereka melakukan bisnis yang sah tapi banyak juga yang tidak.

Kepada Washington Post, Ri mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan jutaan dolar AS ke Pyongyang hanya dengan menyerahkan sekantong uang kepada seorang kapten kapal yang meninggalkan kota pesisir China menuju pelabuhan Nampo, Korea Utara.

Ri memperkirakan, dia mengirim US$10 juta dengan cara itu hanya dalam sembilan bulan pertama di 2014.

Korea Utara yang Tertutup

North Korea's illicit smuggling network 'Office 39' helps Kim Jong-un  maintain life of luxury | World News | Zee News

Seringkali negara ini memaksa PBB untuk mengambil tindakan dengan ancaman-ancaman uji coba nuklir yang dilakukan sehingga setiap gerak-gerik Negara Korea Utara menjadi bagian dari ancaman keamanan internasional. Maka dari itu kajian tentang Kebijakan Luar Negeri Korea Utara selalu menjadi bahan penelitian yang menarik baik bagi penelitik kebijakan luar negeri, penstudi hubungan internasional ataupun penstudi ilmu pemerintahan.

Secara umum, studi tentang Korea Utara dapat dikategorikan menjadi Ideologi Juche, Krisis Ekonomi Korea Utara, Ketegangan di semenanjung Korea, Korea Utara sebagai ancaman keamanan Asia Timur dan Sikap Offensive Korea Utara.

Semua tema tersebut menarik dan penting untuk memahami fenomena Korea  Utara dan terutama di kawasan Asia Timur. Akan tetapi sebagai pijakan penelitian, tema sikap offensive Korea Utara mungkin akan menjadi sangat relevan untuk penelitian ini.

Pada masa kepemimpinan Kim Il Sung, upaya pembentukan sistem ekonomi sosialis cepat berkembang karena proses nasionalisasi seluruh industri sudah dimulai sebelum pemerintahan dibangun, tidak lama setelah mendapat kemerdekaan dari penjajahan Jepang Sesuai dengan UU Reformasi Tanah yang diumumkan pada Maret 1946, pengembalian tanah dan pembagian kembali tanah itu kepada rakyat umum dengan gratis dilaksanakan, hingga membentuk landasan sistem perkebunan secara  kolektif.

Pada bulan Agustus tahun yang sama, UU untuk menasionalisasikan pabrik utama, perusahaan, pertambangan, stasiun pembangkit listrik , transportasi, layanan pos, perbankan, organisasi instansi komersial dan budaya diberlakukan. Walaupun kegiatan ekonomi tingkat individu yang berskala kecil diizinkan selama perang Korea untuk melengkapi kekurangan tingkat produksi, sebagian besar ekonomi Korea Utara dinasionalisasikan dan digunakan secara kolektif.

Keterbukaan Korea Utara pada masa kepemimpinan Kim Il Sung terhadap dunia luar terlihat dari kebijakan yang diambil untuk menjalin hubungan atau kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional seperti dengan wilayah Nodric pada tahun 1973, menjalin hubungan diplomatik dengan Australia pada tahun 1974, ikut bergabung dengan World Healt Organization (WHO) pada tahun 1973, bergabung dengan the International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1977.

Setelah meninggalnya Kim Il Sung pada tanggal 8 Juli 1994, Korea Utara dipimpin oleh Kim Jong Il yang merupakan anaknya sendiri. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Kim Jong Il masih memakai Juche sebagai ideologi dan kebijakan luar negeri Korea Utara, tetapi kebijakan untuk memperkuat bidang militer (Militarry first) lebih diutamakan oleh Kim Jong Il.

Alhasil, kemajuan pesat dibidang militer bisa dirasakan dengan berhasilnya Korea Utara dalam pengayaan uranium dan membuat senjata nuklir. Dengan mengesampingkan pengembangan sektor ekonomi, pada masa kepemimpinan Kim Jong Il, ekonomi Korea Utara semakin terpuruk bahkan bisa dikatakan menjadi negara yang gagal (fail State).

Perbedaan dari kedua rezim yaitu Kim Il Sung dan Kil Jong Il sangat jelas terlihat disini, dimana masa kepemimpinan Kim Il Sung menggunakan ideologi Juche sebagai kebijakan luar negerinya membuat negaranya maju di sektor ekonomi, sedangkan pada masa kepemimpinan Kim Jong Il yang lebih mengedepankan Militarry first telah membuat negaranya semakin terpuruk di sektor ekonomi tetapi sangat maju di bidang militer.

Selain itu, intensitas provokasi atau sikap detterence terhadap Korea Selatan, Jepang maupun dunia internasional lebih banyak dilakukan oleh rezim Kim Jong Il daripada rezim Kim Il Sung. Bahkan pada tahun 2008, ditengah kekurangan pangan Korea Utara malah membeli senjata senilai $65 juta dalam lima tahun terakhir.