Bali tidak hanya terkenal sebagai destinasi pariwisata karena keindahan alam dan budayanya. Kondisi sosial yang lebih toleran juga menjadi surga bagi para pelancong internasional terutama, kelompok homoseksual.

Awal 2021 publik digemparkan oleh sebuah utas Twitter yang ditulis dan diunggah oleh Kristen Gray. Gray adalah pelancong dari Amerika Serikat yang sudah menetap di Bali selama satu tahun.

Melalui unggahan tersebut, Gray mempromosikan Bali sebagai surga baru bagi kelompok homoseksual. Dirinya sendiri tinggal bersama pasangan sesama jenisnya di pulau tersebut. Utas Gray berisi pengalamannya dan sang pasangan lari dari Amerika Serikat yang saat ini dipenuhi sentimen homofobia dan sering terjadi kekerasan terhadap kelompok terpinggirkan.

Menurut Gray, kehidupannya di Bali jauh berbeda dengan pengalamannya di Amerika Serikat. Di Bali Ia dan pasangan dapat menemukan kedamaian, bisa bercengkrama dengan komunitas yang menerima mereka apa adanya, serta mendapat kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Perpindahan Gray dan pasangan ke Bali juga meningkatkan gaya hidupnya. Di Bali mereka bisa menikmati gaya hidup yang lebih mewah, bisnisnya pun semakin menguntungkan. Hal ini mendorong Gray untuk mempromosikan Bali sebagai surga aman bagi para homoseksual.

Utas Gray langsung menuai kritik dan cacian dari masyarakat lokal. Menurut banyak netizen lokal, aktifitas Gray mampu memberikan dampak buruk bagi ekonomi masyarakat Bali. Hal ini dikarenakan Gray tidak menyalahi aturan visa, dan mempromosikan Bali sebagai tempat tinggal baru bagi warga global dan bukan sebagai destinasi wisata.

Jika banyak warga global yang melanjutkan hidup di Bali, maka otomatis ekonomi Bali akan menjadi semakin timpang. Warga lokal terpaksa menderita harga-harga bahan pokok yang semakin melambung tinggi akibat dampak inflasi.

Sudah Sejak Lama

Lesbian Travel: Bali's Black Sand Beaches - Our Taste for Life - Purple Roofs

Kasus Kristian Gray bukanlah yang pertama. Bali sejak dulu memang cenderung lebih toleran terhadap aktifitas homoseksual. Sejak berabad-abad yang lalu, aktifitas homoseksual memang tidak pernah dipusingkan oleh masyarakat Bali.

Homoseksualitas dan perliaku seksual lain tidak dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Ragam aktifitas seksual dimaknai sebagaimana bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal ini dapat kita ketahui melalui catatan Dr Julius Jacobs, seorang pejabat kesehatan Belanda yang menetap di Bali pada era 1880an. Jacobs saat itu ditugaskan untuk mensosialisasikan imunisasi cacar air kepada masyarakat setempat.

Selain melaksanakan tugas, Jacobs juga melakukan observasi terkait budaya dan perilaku sosial masyarakat Bali kala itu. Salah satu aspek yang menjadi bahan observasi Jacobs adalah perilaku seksual masyarakat.

Jacobs mengamati terdapat beberapa bentuk aktifitas seksual di masyarakat Bali, mulai dari aktifitas heteroseksual, homoseksual, dan bahkan dengan anak atau pederasti. Pederasti sendiri merupakan aktifitas seksual yang terjadi antara anak laki-laki dengan laki-laki dewasa. Istilah ini sering menimbulkan kontroversi karena erat kaitannya dengan ekploitasi seksual anak dan kekerasan.

Bagaimana pun juga, pederasti perlu dipahami sebagai salah satu bagian dari budaya kuno yang sudah usang. Sebagaimana di zaman dahulu belum ada persetujuan global terkait batasan umur persetujuan anak dalam melakukan aktifitas seksual. Pedestari menjadi bagian dari beragam budaya kuno, beberapa di antaranya adalah Yunani kuno dan Romawi kuno.

Pederasti di Bali sendiri biasa dikenal sebagai menyelit. Aktifitas ini dulunya dipraktikkan nyaris di sebagian besar wilayah pulau Bali. Aktifitas semacam ini juga tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ini bahkan diakui sebagai tradisi.

Melenyit biasa juga ditemui dalam ritual-ritual kebudayaan. Misalnya, ketika dilakukan selepas penari tampil selama berjam-jam, para anak laki-laki biasa diharapkan untuk melayani para penari. Bentuk pelayanan ini dapat berupa aktifitas seks kepada para penari yang biasanya sudah dewasa.

Selain untuk melayani penari, bocah laki-laki juga sering didandani selayaknya perempuan untuk menawarkan pelayanan seksual mereka kepada laki-laki dewasa lain.

Apabila aktifitas homoseksual seperti melenyit umum dilakukan antar laki-laki, aktifitas homoseksual perempuan justru lebih banyak ditutup-tutupi.

Menurut Jacobs, aktifitas seksual sesama jenis antar perempuan sebenarnya cukup umum dan bisa ditemui di tengah masyarakat Bali. Hubungan seksual antar perempuan Bali biasa dilakukan dalam bentuk oral, penggunaan tangan dan jari, atau bahkan menggesekkan organ seksual.

Praktik petting atau tribadisme yang dilakukan para perempuan Bali cenderung dirahasiakan. Meskipun begitu praktik ini memiliki julukannya sendiri yaitu, mecengceng juuk.

Lesbianisme di antara perempuan Bali cukup umum dan didasari oleh anggapan bahwa organ vital perempuan Bali memiliki keistimewaan tersendiri. Saking umumnya, praktik lesbianisme di Bali bahkan memiliki regulasi adatnya sendiri.

Pengaruh Budaya

It's dangerous': Sinaga case fuels LGBT backlash in Indonesia | Human Rights News | Al Jazeera

Sebelum Belanda masuk Bali, praktik lesbianisme sudah diatur oleh hukum adat bernama Manavadharmasastra atau Hukum Manu. Hukum ini mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan masyarakat Bali.

Salah satu aspek yang sering ditekankan dalam Hukum Manu adalah aspeks seksualitas dan pernikahan. Selain aspek-aspek tersebut, Hukum Manu bahkan juga menjabarkan secara rinci hukuman bagi pelanggaran norma maupun penyimpangan yang terjadi dalam hubungan.

Misalnya, sanksi untuk pelanggaran dalam hubungan seperti kawin lari atau penculikan pengantin. Namun, hukum ini sendiri jarang membahas homoseksualitas sebagai masalah yang diberikan sanksi.

Homoseksualitas dalam Hukum Manu baru dianggap masalah ketika terjadi penyerangan ataupun kekerasan. Hubungan homoseksualitas sendiri tidak diklasifikasikan sebagai penyimpangan atau pelanggaran seksual.

Setidaknya hanya ada satu aturan yang terkait dengan aktifitas homoseksual ketika seorang laki-laki berhubungan seksual dengan laki-laki lain. Aktifitas ini baru dijatuhkan hukuman apabila bentuknya pemerkosaan, atau tidak diperkenankan oleh satu pihak.

Jika terjadi maka, si lelaki yang melakukan perbuatan ini dapat dijatuhi hukuman mati. Namun, bisa saja hukuman ini diringankan apabila si pelaku membayar denda kepada si korban.

Hubungan sesama jenis justru lebih banyak dipermasalahkan jika terjadi antar perempuan. Hukum Manu malah lebih merincikan hukuman apabila pelanggaran terjadi antar sesama perempuan. Misalnya, apabila seorang perempuan menyentuh kelamin perawan tanpa alasan yang jelas, maka si pelaku akan didenda sejumlah delapan pana.

Pelaku juga harus membayar biaya pengobatan apabila tindakan tersebut menciderai si korban. Jika korban diketahui telah bertunangan, maka si pelaku harus membayar tiga kali lipat harga mahar pertunangan si korban.

Lebih dari itu, klitoris si pelaku juga akan disunat. Namun apabila pelaku diketahui sudah menikah dan tetap menyentuh alat kelamin perawan tanpa alasan, maka hukumannya ditambah dengan memotong vagina si pelaku. Hukuman ini juga diperberat dengan memotong dua jari tangan yang digunakan oleh pelaku.

Hukum-hukum yang menyinggung aktifitas homoseksual tadi, lebih menekankan pada tindakan-tindakan yang ada di luar persetujuan kedua belah pihak. Oleh karena itu, tindakan-tindakan tersebut dapat diklasifikan sebagai kekerasan seksual apabila diadaptasi dalam hukum modern.

Terlepas dari hukum yang menyinggung pelecehan dan kekerasan seksual, homoseksualitas tetap dianggap sebagai bagian dari hidup masyarakat Bali. Homoseksualitas pun tidak begitu saja ditinggalkan ketika Belanda menguasai seluruh wilayah Bali pada 1906.

Ketika Belanda telah mempelajari geografis Bali, mereka memutuskan untuk memanfaatkan kekayaan alam Bali yang indah sebagai destinasi wisata. Posisinya yang dekat dengan Pulau Jawa juga menjadi salah satu alasan strategis.

Setelah mempromosikan Bali sebagai tempat wisata, turis yang datang mulai mengenal adat dan perilaku seksual masyarakat Bali. Lambat laun, timbul juga citra Bali sebagai surga bagi homoseksual di antara para pelancong Eropa. Citra ini berkembang setidaknya hingga 1920an.

Bukannya tanpa sebab, citra ini merupakan dampak dari promosi Belanda yang kerap menitikberatkan wisata pada aspek kecantikan dan kemolekan masyarakat asli Bali. Tubuh perempuan Bali menjadi salah satu incaran bagi para pelancong Eropa. Tidak hanya perempuan Bali, dalam perkembangan citranya, tubuh laki-laki Bali juga kerap dibahas sebagaimana memiliki keindahan yang setara dengan para perempuannya.

Menurut penulis Global Gays, salah satu esai dalam buku Sexual Identities, Queer Politics, tidak hanya rupa yang indah yang dijual kepada pelancong homoseksual. Aktifitas homoseksual yang ditulis oleh Jacobs juga menjadi bahan jualan untuk menjadikan Bali sebagai destinasi wisata para gay.

Catatan Jacobs yang menunjukkan besarnya toleransi Bali terhadap aktifitas homoseksual membawa kesan bahwa Bali bisa menjadi ruang yang aman bagi para gay, terutama mereka yang berasal dari kelas elit Eropa.

Pada abad 20, masyarakat Bali juga memang masih tidak mengurusi aktifitas homoseksual di tanahnya. Pewajaran yang terjadi di masyarakat ini biasanya disebabkan oleh anggapan umum yang tumbuh di sekitar masyarakat. Menurut masyarakat Bali kala itu, seorang homoseksual pada akhirnya juga akan jatuh cinta pada perempuan, menikah, dan lalu menjadi heteroseksual.

Keindahan rupa masyarakatnya, serta pewajaran terhadap aktifitas homoseksual membuat banyak pelancong Eropa datang ke Bali di era 1920an. Di antara pelancong yang datang bahkan ada juga nama-nama besar dalam dunia kebudayaan.

Sebut saja para budayawan yang juga homoseksual seperti pelukis Rudolf Bonnet, pengamat musik Colin McPhee, hingga seniman Walter Spies sempat singgah dan hidup di Bali pada beberapa waktu. Mereka sangat mencintai Bali, dan bahkan menjadi produktif karena mendapat banyak inspirasi yang berasal dari kedamaian hidup di pulau dewata.

Kecintaan mereka terhadap Bali tidak hanya tercermin dalam karya-karyanya, tetapi juga melalui beragam upaya mempromosikan Bali. McPhee misalnya melakukan penelitian tentang musik tradisional ala gamelan Bali yang ekstensif.

Bonnet dan Spies tidak mau kalah, mereka mendirikan kolektif budaya bernama Pita Maha. Kolektif ini memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perekembangan kesenian dan kebudayaan masyarakat Bali bahkan hingga kini.

Mulai Terkikis

Pasangan Menikah Sejenis Coreng Bali | Republika Online

Keakraban Bali dengan kelompok homoseksual tidak berlangsung lama. Tepat satu dekade setelahnya, sentimen homofobia menjamur di seluruh wilayah Hindia Belanda termasuk Bali.

Sentimen ini menjadi panggilan politik kebijakan bagi pemerintah kolonial. Hindia Belanda menanggapi besarnya sentimen ini dengan melakukan razia homoseksual secara masif di beberapa daerah. Homoseksual yang terjerat razia nantinya akan ditangka dan dijatuhi hukuman pidana.

Sebenarnya di negeri asalnya, homoseksualitas tidak lagi dipermasalahkan sejak 1811. Namun mengikuti revisi dari Hukum Pidana Belanda, banyak aturan yang diperbaharui terutama tentang hubungan seksual dengan anak di bawah umur.

Mereka yang ketahuan berhubungan seks sesama jenis dengan anak di bawah umur akan dijatuhi pidana dan dijebloskan ke penjara. Hukum ini memang spesifik menyasar hubungan seks pada anak di bawah umur, namun pada praktiknya, kelompok homoseksual lah yang paling banyak dikriminalisasikan karena banyak dugaan kedua aktifitas seksual tersebut berkaitan.

Hukum ini diberlakukan tanpa pandang bulu. Nama-nama besar seperti Spies juga terjerat hukum ini. Beberapa nama lain seperti Roelof Goris dan Herman Noosten juga ditangkap. McPhee sendiri lari dari Bali dan hidup di New York pada 1939.

Satu-satunya nama besar yang melanjutkan hidup di Bali hanyalah Bonnet yang setidaknya menetap sampai 1957.

Kemahsyuran nama Bali sebagai surga kelompok homoseksual langsung tenggelam. Baru ketika Indonesia merdeka dan Belanda hengkang dari Bali, citra ini muncul kembali. Pada dasarnya sentimen homofobia secara umum menjamur di seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini berbeda dengan Bali, sentimen homofobia yang membuat banyak orang ditangkap pada masa Belanda sebenarnya tidak ada di dalam masyarakat. Masyarakat Bali seperti apa yang sudah dicatat oleh Jacobs, memang selalu memaklumi dan tidak bermasalah dengan homoseksual. Mungkin hal ini yang juga membuat Kristen Gray betah dan mempromosikan Bali sebagai surga bagi homoseksual.