Prajurit Samurai merupakan kasta sosial tertinggi di Jepang. Mereka terkenal karena keterampilan pertempurannya yang menakutkan dan diabadikan dalam budaya populer sejak berakhirnya pada akhir abad ke-19.

Namun, seperti dilansir Bonanza88 dari Mail Online, koleksi potret menarik dari prajurit Samurai sebenarnya yang diambil dalam dekade sebelum reformasi ini, telah memberikan wawasan ke dalam kehidupan militer otentik di Jepang pra-modern.

Beberapa tampak berpakaian khas Tosei-gusoku, atau berlapis baju besi, sementara beberapa terlihat dalam gaya jubah kimono. Namun hampir semuanya menggenggam senjata paling terkenal Samurai, dan mungkin senjata ikonik yang paling mematikan.

Dua dari foto-foto tersebut menggambarkan kelompok yang sedang mengambil bagian dalam upacara bunuh diri yang dikenal sebagai harakiri, bagian dari kode prajurit yang memilih kehormatan daripada dikalahkan oleh musuh mereka.

Diduga telah diambil pada tahun 1860-an, potret-potret ini dibuat pada saat perubahan besar dalam kekuasaan di Jepang.

Periode Edo telah menjadi pemerintah feodal militer Tokugawa Shogunate yang menguasai Jepang selama lebih dari 250 tahun, dan pembentukan sistem kasta sosial yang kaku menempatkan Samurai ditempatkan di bagian atas.

Sejarah Samurai dimulai dari periode Heian pada 710 M dalam kampanye khusus untuk menaklukkan Emirishi di wilayah Tohuku di bagian utara Honshu.

Selama berabad-abad mereka menjadi lebih kuat dan akhirnya menjadi ‘prajurit bangsawan’ di Jepang, yang membentuk kelas penguasa dari sekitar abad ke-12 sampai abad ke-19.

Pada saat Kaisar Meiji berkuasa pada tahun 1868, prajurit samurai mulai sedikit-demi sedikit dihapuskan. Pertama, dilucuti haknya untuk menjadi satu-satunya kekuatan bersenjata di Jepang, dan mulai memperkenalkan gaya militer Barat dari tahun 1873.   

Peran Penting Samurai

Tomoe Gozen, Samurai Wanita Tangguh Yang Menggunakan Pedang Dan Panah |  Indozone.id

Munculnya samurai dimulai dengan lahirnya kelas masyarakat Jepang yang memiliki keahlian sebagai prajurit, yang dikembangkan setelah reformasi Taika1 di tahun 646.

Dalam Reformasi Taika di tahun 645, Kaisar Kotoku dibantu Fujiwara no Kamatari melakukan pembaharuan dengan mengeluarkan peraturan yang berkiblat kepada kebudayaan Cina, antara lain menghapus kepemilikan tanah pribadi, membagi wilayah menjadi bagian daerah dan pusat, mendata jumlah penduduk dan membuat Koseki2, dan memperbarui sistem pajak.

Peraturan baru ini membuat banyak petani yang menjual tanahnya dan bekerja hanya sebagai petani penggarap tanah orang lain.

Selanjutnya, sejak menyebarnya dengan cepat agama Budha yang dimulai dari Nara pada tahun 550, mengkhawatirkan Kaisar Kanmu. Dengan semakin menguatnya pengaruh agama Buddha di Nara, dan untuk menghindari dominasi agama Budha tersebut, maka pada tahun 794, Ibu kota Jepang dipindahkan dari Nara ke Kyoto.

Pada saat itu terdapat empat keluarga terkemuka yaitu Minamoto, Taira, Fujiwara dan Tachibana. Pada periode Heian 3 tersebut, keluarga Fujiwara memegang peranan besar dalam dinsati kekaisaran. Dalam periode tersebut, dibawah rezim kekaisaran, kehidupaan kaum bangsawan di pusat kekuasaan, mengalami kemakmuran, tetapi sebaliknya, pemerintah daerah yang dikirim dari pusat selalu menindas masyarakat setempat.

Mereka melakukan kebijakan yang antara lain menaikan pajak tanah telah membuat pemilik tanah setempat merasa tertekan, pada akhirnya terjadi ketegangan antara kaum bangsawan istana dengan tuan tanah setempat, dan memicu pemberontakan di berbagai daerah.

Para pemilik tanah kemudian mempersenjatai petani, pengrajin dan penduduk kota untuk melindungi tanah-tanah mereka. Pembentukan pam swakarsa inilah awal lahirnya kelas prajurit yang nantinya dikenal sebagai samurai.

Akibat pemberontakan ini, Kaisar secara perlahan mulai kehilangan pengaruhnya di berbagai daerah. Kemudian, para samurai yang memiliki kekuatan pun mengisi kekosongan kekuasaan, sampai akhirnya pada tahun 1156 samurai mulai menguasai politik dan militer di berbagai daerah tersebut.

Dalam waktu yang hampir bersamaan muncul dua klan samurai besar yang saling bertikai dan memperebutkan kekuasaan, yaitu klan Minamoto4 dan klan Taira. Kompetisi ini akhirnya pecah menjadi perang hebat yang disebut perang Gempei.

Dalam perang Gempei Keluarga Taira yang dipimpin oleh Kiyomori, berhasil mengalahkan keluarga Minamoto yang dipimpin oleh Yoshitomo. Selanjutnya, bahkan keluarga Taira menyingkirkan keluarga Fujiwara dari lingkungan kekaisaran Jepang.

Seluruh keluarga Minamoto dibunuh, kecuali Yoritomo dan Yoshitsune, karena ibu Yoshitsune dijadikan selir oleh Kiyomori. Namun secara diam-diam Yoritomo dan Yoshitsune membentuk pasukan untuk membalas kekalahan dari keluarga Taira.

Akhirnya keluarga Taira dapat dikalahkan oleh Yoshitsune. Berikutnya, karena takut akan kehebatan saudaranya, Yoritomo pun membunuh Yoshitsune dan Sembilan pengikutnya dengan 30.000 pasukan miliknya.

Setelah itu, Yoritomo menobatkan diri sebagai penguasa baru dan dimulailah masa keshogunan dalam sejarah Jepang. Pada masa ini, posisi shogun tepat dibawah Kaisar, dan bertindak sebagai penguasa. Yoritomo menggunakan sistem pemerintahan militer atau Bakufu.

Ia juga memberikan tanah kepada kaum militer yang dijadikan pengikut. Sebagai shogun, Yoritomo menghapuskan shoen yang membuat para shugon mulai menguasai daerah propinsi sebagai daimyo 10 .

Para daimyo ini kemudian membentuk prajurit bersenjata sendiri di daerah kekuasaan mereka, yang membuat pemerintahan Bakufu atau pemerintahan feudal pertama dalam sejarah Jepang semakin melemah.

Samurai selalu diidentikkan sebagai seorang prajurit laki-laki yang gagah berani dalam menghadapi segala hal. Tetapi, apakah benar bahwa samurai ini identik dengan laki-laki?

Selama ini, penulisan sejarah dibangun dalam kacamata laki-laki semata, perempuan dalam sejarah hanya ditampilkan sebagai pelengkap, yang perannya hanya dalam ranah domestic. Joan Kelly mengatakan bahwa, “Throughout historical time, women have been largely excluded from making war,…”sepanjang periode sejarah, perempuan telah dipisahkan dari kegiatan berperang. Hal ini lah yang membuat banyak masyarakat mengira bahwa perempuan tidak pernah ikut serta dalam perang.

Hampir seluruh peristiwa yang tertulis dalam sejarah sangat didominasi oleh laki-laki sebagai pemeran utamanya. Tetapi, sebenarnya ada bagian yang terlupakan dalam sejarah Jepang, yaitu peran perempuan sebagai samurai.

Hebatnya Samurai Perempuan di Jepang

Dijuluki Salah Satu Wanita Terkuat di Dunia, Wanita Ini Setara Dengan 100  Tentara Bersenjata - Semua Halaman - Grid

Munculnya perempuan samurai diperkirakan bermula saat periode Sengoku seperti yang telah dijelaskan di atas, saat kaum perempuan Jepang yang tinggal di rumah menunggu suaminya pulang.

Dengan kondisi zaman yang tidak aman, para perempuan ini selalu membawa pisau kecil untuk melindungi diri mereka dari bahaya. Mengenai hal ini Inazo Nitobe menyatakan, bahwa saat perempuan menginjak usia remaja, mereka akan dibekali pisau belati yang diselipkan di baju bagian atas mereka, untuk melindungi diri dan keluarga mereka.

Di zaman Sengoku, seluruh masyarakat dari seluruh kelas ikut serta dalam perang. Artinya perempuan yang selama ini diketahui hanya melakukan tugas rumah tangga semata, ikut terlibat dalam perang tersebut, mereka diikut-sertakan untuk melindungi kota dan istana kaisar sehingga munculah perempuan samurai.

Karena kebanyakan perempuan ini ditugaskan untuk melindungi kota mereka, mereka dilatih untuk dapat menggunakan senjata yang dapat mengenai musuh dalam jarak jauh. Para perempuan samurai ini dilatih dengan naginata2karena senjata ini sangat fleksibel untuk menghadapi segala musuh.

Tetapi apakah perempuan samurai ini hanyalah sekedar pengawal dan pelindung istana; atau juga diturut-sertakan dalam perang? Banyak bukti arkeologi yang menemukan jasad perempuan dalam tanah bekas lokasi peperangan, salah satunya tempat terjadinya perang Senbon Matsubaru.

Tes DNA membuktikan bahwa dari 105 jasad yang ditemukan, 35 nya adalah jasad perempuan. Kesimpulannya, Perempuan samurai tidak hanya ikut perang tetapi perang juga menghampiri mereka. Mereka bertarung dengan keahlian dan gagah berani.

Meskipun berjuang layaknya samurai, penampilan dari perempuan samurai sangatlah khas. Tidak seperti laki-laki samurai, perempuan samurai tidak menggunakan pelindung kepala. Mereka menggunakan Hakama yaitu celana besar seperti rok yang terbelah dua, sehingga bentuk badan perempuannya tidak terlihat.

Bila samurai laki-laki dilengkapi dengan roku gusoku, perempuan samurai hanya menggunakan haidate di kedua pahanya, kote di tangan kirinya, dan dou, sehingga senjata apapun tidak dapat menembus ke tubuhnya.

Perempuan samurai yang berasal dari keluarga kelas atas juga memakai jinbaori yang bermotifkan lambang keluarganya, dan mon keluarganya. Senjata yang digunakan para perempuan samurai ini juga berbeda. Biasanya samurai laki-laki membawa katana, tetapi perempuan samurai membawa naginata, yang bentuknya seperti tombak panjang, dengan pedang di ujungnya. Selain naginata, perempuan samurai juga membawa tanto31 sebagai persenjataannya.

Tomoe Gozen Bantai 1000 Prajurit

Tomoe Gozen's Bravery And Strength, Embodiment Of A True Female Samurai |  Ancient Pages

Tomoe Gozen merupakan keponakan dari Minamoto Yoritomo, tetapi ia pengikut dari Minamoto Yoshinaka. Ia digambarkan memiliki keterampilan dalam mengayunkan pedang dan memanah, sehingga ia dikatakan dapat menghadapi 1000 prajurit sekalipun.

Banyak pertempuran yang ia ikuti dan selalu dimenangkannya. Kisah keberaniannya dimulai dari pertempuran di Awazu

Pada tahun 1184 yang ditulis dalam Heike Monogatari. Pada pertempuran di Awazu ini, banyak yang mati terbunuh, tetapi Tomoe berada diantara 7 orang yang selamat. Aksi menakjubkan lainnya yaitu, saat 7 orang yang selamat ini semakin berkurang menjadi hanya 5 orang.

Tomoe diperintahkan untuk melarikan diri oleh Yoshinaka. Yoshinaka juga berniat untuk melakukan hara-kiri karena melihat keadaan yang semakin buruk. Meskipun demikian, Tomoe masih ingin berjuang sedikit lagi.

Dengan gagah berani ia menunggang kudanya, dan pergi menuju musuhnya yang kuat dan berani, Onda no Hachiro, beserta 30 pengikutnya. Tomoe mendekati dan melompat ke arah Onda, kemudian memegangnya erat-erat, dan memenggal kepala Onda. Setelah melakukan hal itu, Tomoe langsung melepaskan pakaian perangnya dan pergi ke provinsi bagian utara.

Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Wada Yoshimori, yang merupakan pengikut dari Minamoto Yoritomo, dan menjadikan Tomoe sebagai selirnya. Tomoe melahirkan anak laki-laki, tetapi dibunuh pada tahun 1213 saat keluarga Hojo menghancurkan keluarga Wada. Setelah itu, Tomoe menjadi bikuni dan meninggal di usia 91 tahun.

Ueno Tsuruhime yang Ditakuti

Ueno Tsuruhime

Di tahun 1577, Oda Nobunaga bersama dengan Toyotomi Hideyoshi melakukan operasi militer dengan tujuan menundukan keluarga Mori yang memiliki kekuasaan besar di daerah Tsuneyama.

Keluarga Mimura adalah salah satu keluarga yang bergabung dengan Nobunaga dalam operasi tersebut. Salah seorang perempuan dari keluarga Mimura bernama Tsuruhime, menikah dengan Ueno Takanori. Suatu hari, kediaman Tsuruhime dan suaminya dikepung oleh samurai keluarga Mori, dan suami Tsuruhime pun meninggal dalam serangan tersebut.

Kemudian, para ibu dan anak dari keluarga Mori dipaksa untuk melakukan bunuh diri. Tsuruhime memutuskan bahwa, seandainya ia harus mati, kematiannya tidak dilakukan dengan tangannya sendiri. Ia pun bergegas mengumpulkan perempuan lain untuk bertarung melawan keluarga Mori.

Pada awalnya, mereka sangat takut akan kepercayaan, bahwa perempuan yang bertempur akan dihukum di kehidupan setelah mati nanti, tetapi Tsuruhime meyakinkan mereka bahwa hal itu tidak akan terjadi, karena bila meninggal dalam peperangan, maka Amida Budha akan menuntun mereka ke surga di barat.

Akhirnya Tsuruhime beserta 33 perempuan pengikutnya, berlari ke medan pertempuran dan membuat samurai keluarga Mori terkejut melihatnya dan hampir tidak percaya.

Tsuruhime menuju ke salah satu jenderal perang dan menantangnya, tetapi ia diabaikan karena samurai tidak dipersiapkan untuk membunuh perempuan. Tsuruhime yang merasa kecewa karena tidak bisa mati dalam peperangan, mundur dari medan pertempuran. Ia dan pengikutnya melakukan bunuh diri sambil mengucapkan nenbutsu.

Myorin-ni Bunuh 63 Prajurit

Myorin - Wikipedia

Di tahun 1586, Myorin-ni berkontribusi dalam perlindungan istana dari penyerangan yang dilakukan oleh klan Shimazu dari Satsuma yang ingin menguasai Istana Funai, Tsurusaki, dan Usuki. Saat tiga panglima perang Shimazu hendak menyerang istana Tsurusaki, mereka terkejut melihat samurai yang muncul untuk melindungi istana tersebut adalah seorang perempuan.

Myorin-ni muncul dengan baju perang dan naginata, dan turun ke medan pertempuran. Pertempuran ini ternyata seimbang, sehingga mereka melakukan negosiasi. Myorin-ni ditawarkan emas dan perak apabila ia mau menyerahkan istananya. Meskipun demikian, Myorin- ni menolak, ia akan tetap melindungi istananya sampai mati.

Myorin-ni juga dikenal dengan penyerangannya bersama dengan Toyotomi hideyoshi melawan Shimazu. Mereka berpura-pura membantu Otomo dan menyiapkan strategi untuk penyerangan di Kyushu. Myorin-ni berhasil membunuh 63 penyerang dari Satsuma dan hanya kehilangan satu prajuritnya. Salah satu panglima perang dari Shimazu yang bernama Nomura, melihat Myorin-ni dengan rasa hormat atas keberaniannya.

Nomura pun membawa Myorin-ni yang saat itu terluka parah ke istana Takashiro, dimana suaminya meninggal saat terjadinya perang di Mimigawa., akhirnya Myorin-ni juga meninggal ditempat yang sama dengan suaminya.

Ketangguhan Myorin-ni membuat Hideyoshi terkagum, ia merasa bahwa Myorin-ni merupakan perencana serangan Kyushu yang hebat dan menyebabkan kekalahan bagi klan Shimazu. Ini merupakan salah satu penyerangan terhebat yang direncanakan oleh seorang perempuan.

Kisah Samurai Peremuan dari Hondo

Pada 1589 Konishi Yukinaga dan Kato Kiyamasa melakukan ekspedisi melawan Istana Shiki dan Istana Hondo. Saat mengetahui akan dilakukan penyerangan ke Istana Hondo, beberapa ratus perempuan yang kebanyakan dari mereka telah kehilangan suaminya, menyiapkan diri untuk ikut dalam peperangan demi melindungi kampung halamannya.

Agar memudahkan mereka dalam perang, para perempuan ini memotong rambut mereka, memakai pakaian perang, menyelipkan banyak pisau dan pedang ke ikat pinggang, ada juga yang memegang tombak dan senjata lainnya. muculnya beberapa ratus perempuan dari pintu istana, mengejutkan penyerang mereka.

Para perempuan ini sangat kuat dan tangguh, bahkan mereka banyak membunuh prajurit laki-laki yang dipimpin oleh Toranosuke, bawahan dari Kiyamasa. Karena Toranosuke kesal akan kenyataan bahwa prajuritnya telah dibunuh oleh perempuan dan anak-anak, akhirnya ia pun melakukan serangan brutal. Serangan ini menyebabkan kekalahan pasukan perempuan Hondo dan hanya dua yang selamat.