Sabung ayam merupakan bentuk judi, yang sudah sangat lama dilakukan oleh masyarakat di Asia Tenggara, seperti di Indonesia. Kata sabung ayam diadopsi dari bahasa Lampung, “sabung” yaitu berkelahi, sedangkan sabung ayam sendiri dalam bahasa Indonesia sama dengan “adu ayam”

Sehingga sabung ayam adalah perkelahian antara dua ekor ayam jantan yang saling ingin mengalahkan satu sama lainnya sampai salah satu dari ayam jantan tersebut mengakui kekalahannya berbunyi keok atau keluar dari arena sabung ayam.

Bagi kebanyakan masyarakat sendiri sabung ayam dianggap sebagai sebuah  tradisi yang telah membudaya padahal dibalik semua itu sabung ayam dijadikan tempat pertaruhan atau berjudi.

Sabung ayam merupakan permainan yang telah dilakukan masyarakat di Nusantara sejak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam jago yang memiliki taji dan terkadang taji ayam jago ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing.

Permainan sabung ayam di Nusantara ternyata tidak hanya sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tetapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, serta budaya. Dalam pandangan terhadap sabung ayam yang sudah menjadikan budaya pada setiap hampir setiap daerah di Indonesia, hal ini menunjukan bahwa adu ayam sangat membudaya pada masyarakat yang semua orang bisa menikmati perjudian sabung ayam tersebut.

Sabung ayam membuat sebagai budaya yang sudah melekat yang harus diutamakan di dalamnya. Dengan merupakan bentuk ajaran dari  sabung ayam sendiri yang membuat keselarasan dalam sebuah komunikasi yang dibagun di dalamnya, hal ini membuat sabung ayam sangat diminati oleh masyarakat yang menunjukkan eksistensi seorang individu dalam berkomunikasi.

Sabung ayam dalam segi kebudayaan merupakan budaya yang harus terus dilestarikan, akan tetapi dalam praktik sabung ayam sekarang lebih kompleks dengan di tambah oleh taruan dalam setiap permainan sabung ayam. Perjudian ini berlangsung sangat lama dalam masyarakat di Desa Becirongengor, Wonoayu, Surabaya sehingga peminat perjudian sabung ayam ini semakin menambah rivalitas antar petarung sabung  ayam.

Warga Desa yang menyenanggi permainan sabung ayam ini juga menjadikan sabung ayam semakin degemari. Namun demikian mereka juga tidak lepas dari pada para pemain yang sudah lama mengeluti permainan sabung ayam tersebut yang mensosialisasikan pada warga Desa.

Tempat sabung ayam atau yang biasanya disebut karangan digunakan terdapat di belakang rumah salah satu warga Desa. Tempat ini setiap akhir pekan sangat ramai didatangi para pelaku sabung ayam untuk melakukan praktik sabung ayam tersebut.

Melalui proses sosialisasi yang dilakukan oleh pemilik tempat sabung ayam pada petarung ayam yang terkhususnya warga Desa. Hal ini sudah menjadi kebiasaan dan sudah menjadi budaya habitus dari pada masyarakat. dalam kebiasaan yang dilakukan setiap akhir pekan khususnya pada hari sabtu dan minggu.

Sejarah Sabung Ayam di Indonesia

Ada Judi Sabung Ayam Dekat Rujab Kapolda - JPNN.com

Berdasarkan data yang dihimpun Edisi Bonanza88. pertarungan ayam atau sabung ayam tidak saja bagian dari sejarah yang ada di Indonesia, sabung ayam juga bagian sejarah di daratan Cina. Bahkan di bangkok, ajang sabung ayam sudah menjadi komoditas ekspor keluar negeri.

Secara spesifik terdapat perbedaan yang mencolok antara sabung ayam di Thailand dan di negeri kita Indonesia, di Thailand, ayam yang bertarung tak diperbolehkan memakai taji atau jalu dan jarang sekali ada yang bertarung sampai mati.

Kondisi ini berbeda dengan Indonesia, ayam aduan itu justru dibekali taji yang kadang dilengkapi dengan logam yang tajam dan taji justru menjadi senjata pembunuh lawan di arena.

Sebenarnya hobi mengadu ayam sudah lama dikenal di Indonesia, diperkirakan sejak dari zaman Kerajaan Majapahit. Kita juga mengenal beberapa cerita rakyat yang melegenda soal adu ayam ini, seperti cerita Ciung Wanara, Kamandaka dan Cindelaras. Cerita rakyat itu berkaitan erat dengan kisah sejarah dan petuah yang disampaikan secara turun-temurun.

Dan kota Tuban, jawa Timur diyakini sebagai kota yang berperan dalam perkembangan ayam aduan. Di sini, ayam bangkok pertama kali diperkenalkan di negara kita. Tak ada keterangan yang bisa menyebutkan perihal siapa yang pertama kali mengintroduksi ayam bangkok dari Thailand.

Permainan sabung ayam di pulau Jawa berasal dari cerita rakyat, Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam.

Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.

Akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa CindeIaras tak lain adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang akibat iri dan dengki sang selir.

Di daerah Bali permainan sabung ayam dikenal dengan nama Tajen yang berasal dari tabuh rah, sebuah upacara yang tujuannya mengharmoniskan hubungan manusia dengan Bhuana Agung. Upacara ini mempergunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain.

Upacara ini berupa upacara persembahan dengan cara nyambleh leher kurban dipotong setelah dimanterai. Sebelum itupun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa.

Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia.

Selain di Bali, daerah Bugis pun terdapat budaya sabung ayam dan bahkan merupakan kebudayaan telah melekat lama.

Ada istilah, Manu'(Bugis) atau jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar.

Bahkan budaya bugis kental dengan mitologi ayam. Hingga Raia Gowa XVI. I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haantjes van het Oosten“, yang berarti “Ayam Jantan dari Timur”.

Adu Ayam di Belahan Dunia Lain

Sabung Ayam Di Amerika Serikat Dan Eropa. Sabung Ayam Online

Olahraga adu ayam sudah ada di Roma sekitar tahun 450 SM. Penulis terkenal Romawi Klasik seperti Varro dan Columella telah menulis tentang sabung ayam. Mereka menceritakan bahwa pertarungan ayam terbaik datang dari Rhodes (seorang penulis terkenal di Yunani).

Selain itu mereka juga menceritakan bahwa Julius Caesar sangat menyukai adu ayam selama invasi pertamanya di Inggris tahun 55 SM, ia melihat bahwa Ingrris terus mengadakan permainan ayam tujuannya hanya untuk mengadu ayam, dan pertarungan ayam di Inggris jauh lebih baik dibandingkan di Roma.

Pertarungan ayam di Inggris dikenalkan sejak periode Raja Henry II (1154-1189). Banyak Raja di Inggris seperti James I, William III dan Charles II yang menyukai pertarungan ayam. Raja Henry VII bahkan membangun arena aduan di Istana Whitehall di Westminster.

Pertarungan ayam juga menjadi olahraga nasional pada masa itu, dibuktikan dengan diadakannya sekolah eksklusif sabung ayam, dimana para pengajar akan memberikan pengetahuan tentang cara berternak, merawat dan memelihara kondisi ayam. Pada puncak popularitasnya, bahkan para pendeta mengupayakan agar sabung ayam digelar di pelataran gereja.

Pada tahun 1654, sabung ayam dinyatakan ilegal di Inggris oleh penegak hukum Oliver Cromwell. Tapi para bangsawan dan masyarakat terus mengabaikan larangan tersebut, dan pertarungan masih diselenggarakan di seluruh Inggris.

Kemudian pada tahun 1849, masa pemerintahan Ratu Victoria, pertarungan ayam berakhir dengan UU Pencegahan Kekejaman pada Hewan. Namun, sampai saat ini, sabung ayam ilegal masih berkembang di seluruh Inggris.

Olahraga sabung ayam di Amerika, sebenarnya merupakan kelanjutan dari budaya sabung ayam tua Dunia Lama. Presiden terkenal sepertiGeorge Washington, Thomas Jefferson, Andrew Jackson dan Abraham Lincoln sangat menyukai olahraga ayam yang satu ini. Sabung ayam bahkan diterima secara sosial dan mendorong para pria memiliki komunitas ayam petarung dan menjadi ahli.

Pada suatu masa, Amerika menjadi pusat kegiatan acara adu ayam, bahkan dilakukan di istana kepresidenan. Kegiatan pertarungan ayam hampir dianggap sebagi lambang nasional. Sabung ayam adalah olahraga paling populer kedua setelah balap kuda. Berbagai kalangan masyarakat akan hadir jika diadakan kegiatan ini.

Sabung ayam mencapai puncaknya di British Amerika Utara antara tahun 1750 dan 1800. Sabung ayam itu cukup populer di seluruh Amerika Utara tetapi sangat populer di negara-negara selatan terutama di negara bagian Louisiana. Ayam petarung Amerika dipelihara dan dikembangbiakan serta diseleksi di arena aduan untuk menghasilkan kualitas pertarungan yang diinginkan. Kegiatan sabung ayam di Amerika telah menghasilkan ayam petarung yang sangat khas seperti yang terkenal Hatch, Kelso, Whitehackles dan jenis lainnya.

Banyak keturunan ayam aduan yang diberi nama sesuai dengan nama penemunya. Kegiatan sabung ayam menurun ketika Perang Saudara dimulai.

Setelah Perang Revolusi, beberapa warga Amerika Serikat memandang sabung ayam sebagai sisa buruk dari budaya Inggris dan menganjurkan untuk meninggalkannya. Saat ini, sabung ayam masih berlangsung, meskipun dilarang di sebagian besar negara-negara Barat masih berlangsung di AS, kebanyakan dilakukan oleh imigran

Di banyak negara sabung ayam dianggap ilegal dan terlarang. Hal ini terjadi karena sabung ayam identik dengan kegiatan perjudian yang dikhawatirkan mengganggu kehidupan sosial ekonomi dalam rumah tangga.

Namun demikian, sisi lain kegiatan sabung ayam juga dianggap dapat melestarikan keturunan ayam yang tangguh dan berkualitas sebagai warisan budaya. Banyak peternak di seluruh dunia, mengembangbiakkan keturunan ayam yang unggul, kuat dan berani. Yang terpenting dari kegiatan pertarungan ayam adalah memunculkan species ayam yang berkarakter dan kuat.

Ayam Bangkok yang Melegenda

Astaga, Diduga Judi Sabung Ayam di Manado Sebar Undangan Lewat Medsos –  WartaBolmong.news

Ayam bangkok pada awalnya berasal dari Thailand, akan tetapi saat ini ayam bangkok yang beredar di pasaran sangat beragam jenisnya, ada yang asli impor, anakan impor, dan ada pula yang lokal.

Kualitas ayam bangkok impor biasanya 85% lebih unggul dibanding lokal. Itu bisa dilihat dari gaya bertarung, daya tahan tubuh, maupun kekuatan pukulannya.

Pada mulanya, ayam bangkok pertama kali dikenal di Cina pada 1400 SM, karena mereka berhasil mengawin silangkan ayam kampung mereka dengan beragam jenis ayam jago dari India, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Laos.

Para penggemar ayam kala itu menginginkan bibit ayam yang mampu bertarung dengan satu atau dua kali pukul dan lawannya sudah kalah. Dalam catatan sejarah, sekitar satu abad lalu, orang-orang Thailand berhasil menemukan jagoan baru yang disebut king’s chicken.

King’s chicken ini punya gerakan cepat, pukulan yang mematikan dan saat bertarung otaknya jalan. Orang Cina menyebut ayam ini leung hang qhao dan kalau di tanah air dikenal dengan nama ayam bangkok.

Kehebatan ayam bangkok ini kala itu sanggup mengalahkan semua ayam lokal di Cina, dan dengan kondisi itulah orang-orang Cina kala itu bergerilya ke hutan-hutan mencari ayam asli yang akan disilangkan dengan ayam bangkok.

Dalam perjalanan, pada tahun enam puluhan di Laos berhasil menemukan ayam aduan yang sanggup menyaingi ayam bangkok, namun setelah terjadi kawin silang yang terus-menerus mereka agak kesulitan membedakan antara ayam aduan dari Laos dengan ayam bangkok dari Thailand.

Di Thailand dan Laos terdapat beberapa nama penyabung patut dicatat, seperti Vaj Kub, Xiong Cha Is dan kolonel Ly Xab. Pada 1975, ayam bangkok milik Vaj Kub sempat merajai Nampang, arena adu ayam yang cukup bergengsi di Thailand masa itu.

Pernah ada ayam lokal asal Malaysia dari kota Socra yang sempat mengalahkan ayam bangkok, tapi pada generasi berikutnya seorang penyabung ayam Mr. Thao Chai dari Thailand berhasil menumbangkan dominasi peternak dari Malaysia. Mr. Thao memberi nama jagoan baru itu, Diamond atau Van Phet.

Thailand adalah negara dengan penghasil ayam bangkok unggulan dan ini adalah salah satu sektor bisnis yang mendunia bahkan tidak saja sampai ke kawasan Asia Tenggara, namun meluas ke Meksiko, Inggris dan Amerika Serikat.

Sementara di Indonesia ada kebiasaan atau aturan yang berbeda dengan negeri Thailand. Di Thailand jarang ada adu ayam sampai mati. Mengapa kok bisa begitu? Karena di Thailand ada larangan menggunakan jalu atau taji ketika menyabung ayam.

Lain halnya dengan di Indonesia. Ayam-ayam petarung dibekali dengan jalu yang tajam. Bahkan mereka diajari cara menggunakan jalu. Terkadang jalu atau taji ini dijadikan senjata pembunuh lawan ketika terjadi pertarungan.