Saat Michael Sam, atlet American Football pada April 2018 lalu memberanikan diri mengungkap ke publik bahwa dirinya ialah seorang penyuka sesama jenis atau gay, ia begitu mendapat dukungan dan rasa simpatik dari sejumlah atlet senior Amerika Serikat lainnya seperti pemain baseball, Billy Bean, Wade Davis, dan atlet American Football lainnya, David Kopay.

Setidaknya hal tersebut cukup berarti bagi Michael Sam, ia masih memiliki sejumlah orang yang bersimpatik kepada pilihan seksualnya. Dukungan dan rasa simpatik itu setidaknya meredakan tekanan publik yang menyerangnya karena terang-terangan mengaku bahwa dirinya ialah seorang gay.

Sebagai atlet berkulit hitam dimana praktek diskriminasi masih ada dan terselubung, pengakuan Sam ini makin membuatnya semakin menjadi minoritas yang tertekan akan tetapi dengan dukungan sejumlah atlet lain, Sam masih menjalanin hidupnya sampai saat ini. Kondisi yang tak pernah ditemui oleh seorang Justin Fashanu, pesepakbola pertama yang juga mengaku bahwa dirinya ialah seorang gay.

Eks striker Manchester City ini pada 22 Oktober 1990 blak-blakan kepada media Inggris, The Sun bahwa ia memang seorang gay. Tak hanya pengakuan itu yang buat geger publik Inggris, di pengakuannya itu juga Fashanu mengatakan bahwa ia menjalin hubungan spesial dengan salah satu anggota parlemen Inggris yang berasal dari partai Konservatif. “Ia sudah menikah. Kami berakhir di tempat tidur di flatnya di London,” kata Fashanu.

Saat mengakui bahwa dirinya ialah seorang gay, Fashanu tercatat sebagai pemain West Ham United. Setelah pengakuan itu, ia pun jadi sasaran teror. Alih-alih mendapat dukungan seperti yang terjadi pada kasus Michael Sam, Fashanu justru mendapat penghakiman, bahkan saudaranya sendiri di salah satu sesi wawancara mengatakan bahwa John ialah orang buangan yang tak diterima di keluarga.

Sejumlah serangan fisik kepada dirinya sempat ia rasakan usai pengakuan itu. Pesepakbola berkulit hitam itu pun berkali-kali mencoba menjelaskan ke publik bahwa pengakuan tersebut agar ia terbebas dari perasaan bersalah yang selama ini menghinggapi dirinya.

Sayangnya apapun alasan Fashanu, bagi media dan publik Inggris hal tersebut sudah tak ada artinya. Fashanu tetap dicap hina dan layak untuk mendapat perlakuan diskriminatif.

Perlakuan diskriminatif ini seperti mengulang kisah kelam Fashanu saat masih anak-anak. Lahir di kota London dari keluarga imigran Afrika, membuat Fashanu dan adiknya sedari kecil sudah dititipkan oleh ayah dan ibunya ke Barnardo’s, sebuah lembaga amal di Inggris yang memang bertujuan menampung anak-anak yang orang tuanya tak sanggup untuk merawat dan nantinya anak-anak ini akan diadopsi oleh keluarga lain.

Pada umur 6 tahun, keluarga Alf dan Betty Jakcon dari Attleborough bersedia untuk mengadopsi Fashanu dan adiknya. Ia bersama sang adik pun harus pergi dari London dan tinggal di kawasan Norfolk di timur laut London.

Beranjak dewasa, Fashanu ternyata tak langsung menekuni sepakbola, ia justru sempat masuk sasana tinju dan petinju amatir di usia 14 sampai 15 tahun.

Tinju jadi pilihan bagi Fashanu yang saat itu masih mendapat perlakuan dan serangan rasial. Membela diri memang jadi alasan Fashanu menekuni tinju. Baru pada usia 16 tahun, saat bermain bola di salah satu akademi di tempat tinggalnya, skillnya membuat pencari bakat dari klub Norwich City terpikat pada dirinya.

Setahun kemudian, Fashanu pun menjalani debutnya untuk Norwich City melawan West Brom, klub yang berasal dari kawasan West Midlands. Kawasan West Midlands sendiri memiliki julukan Black Country, julukan ini merupakan sebutan rasial karena wilayah ini memiliki begitu banyak imigran Afrika. Para pemain kulit hitam di West Brom sendiri sering mendapat perlakuan rasial saat menjalani laga Liga Inggris.

Permainan Fashanu menyita perhatian publik, meski hal itu kemudian tertutupi karena ia berkulit hitam. Tak gentar, Fashanu kembali tunjukkan bahwa skillnya bermain bola ialah bakat alami. Saat melawan Liverpool, Fashanu mampu menciptakan gol yang membuat The Reds hanya mampu bermain imbang dengan skor 3-3. Gol Fashanu dicetaknya dengan proses tak biasa, ia melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti.

Juliet Jacques, seorang wartawan senior Inggris yang juga fans Norwich City menuliskan bahwa gol Fashanu tersebut sangat luar biasa. “Itu adalah permainan tim yang brilian dengan hasil akhir yang ditentukan skill individu memukau dari seorang pemuda yang kurang ajar,” tulis Jasques dalam artikelnya yang berjudul ‘The Meaning of the Goal’.

Di akhir musim 1981, Fashanu mendapat penghargaan goal of the season dari BBC. Penghargaan tersebut layak didapatkannya, karena sebagai striker muda, ia mampu menorehkan 35 gol dari 90 caps bersama Norwich City. Berkat torehannya itupun membuat Fashanu menjadi bagian dari Timnas Inggris dan melakoni 11 caps di antara tahun 1980 hingga 1982.

Meski sudah menjadi pemain tenar dengan skillnya yang tak biasa, perlakuan diskriminatif tetap dirasakan oleh Fashanu. Setelah memutuskan pindah dari Norwich, Fashanu sempat membela Nottingham Forest, Southampton, Brighton & Hove Albion, Manchester City, hingga Newcastle United.

Karier Fashanu sayangnya tak beranjak lebih baik. Sejumlah pihak mengklaim bahwa hal tersebut juga karena faktor perlakuan diskriminatif kepada Fashanu, ditambah pemain kelahiran 19 Februari 1961 tersebut tidak memiliki mental kuat seperti John Barnes, pemain kulit hitam kelahiran Jamaika yang membela Liverpool di era yang sama dengan Fashanu.

Fashanu juga sempat hijrah ke Amerika Serikat usai pengakuannya menjadi gay. Ia tercatat membela Toronto Blizzard pada 1991. Keputusan ke Amerika Serikat diambil Fashanu agar publik Inggris bisa melupakan pengakuannya yang kontroversial tersebut dan akan kembali setelah semua sudah tenang.

Sayang hal tersebut tak pernah terjadi. Fashanu bahkan sampai harus keluar dari Inggris lagi pada 1997 menuju Miramar Rangers, klub sepakbola di Selandia Baru. Setahun membela Miramar dengan mencetak 12 gol dari 18 caps, Fashanu memutuskan kembali ke Inggris. Ia tak lagi bermain bola di negaranya namun publik tetap mencapnya sebagai seseorang yang hina.

Pada pagi hari, 03 Mei 1998, Justin Fashanu mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menggantung dirinya di garasi bekas di kawasan Shoreditch, London Timur, sekitar satu mil dari tempat kelahiranya, Hackney.

Satu jam sebelum menggantung diri, Fashanu menghabiskan waktunya di Chariots Roman Spa, sebuah sauna untuk kaum gay di kawasan itu. Di kantong celananya, pihak aparat keamanan menemukan pesan terakhir dirinya. “Saya berharap Tuhan yang saya cintai menyambut saya pulang,” tulis Fashanu.

LGBTQ dan para Atlet

US Soccer will don some gay apparel for Pride Month - Outsports

Kasus Justin Fashanu mungkin di eranya mengagetkan publik Inggris. Faktanya tak hanya Fashanu yang memiliki daya tarik kepada sesama jenis. Tidak hanya para pesepak bola pria yang memiliki kecenderungan untuk menjadi homoseksual. Para atlet perempuan juga memiliki potensi untuk menjadi seorang lesbian.

Kata lesbian menunjuk pada homoseksual perempuan. Lesbian berasal dari kata lesbos, sebuah pulau ditengah lautan Eiges yang pada zaman dahulu dihuni oleh para wanita dan mereka melakukan hubungan seksual di sana.

Hubungan yang bersifat seksual hanyalah satu poin dari kontinum tersebut, yang mencakup “gairah perempuan terhadap perempuan” sama seperti “pilihan perempuan terhadap perempuan sebagai teman, teman hidup, dan komunitas”. lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan pilihan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual.

Dalam kelompok lesbian terdapat semacam label yang muncul karena dasar karakter atau penampilan fisik yang terlihat pada seorang lesbian. Terdapat tiga label yang dikenal dalam kelompok lesbian, yaitu Butchi, Femme, dan Andro. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mencari tahu faktor-faktor penyebab seseorang memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan yang lainnya. Secara garis besar, terdapat dua teori yang dapat menjelaskan fenomena lesbian tersebut yaitu teori biologis dan teori psikologis.

Sudah hal yang umum dan kita ketahui bersama bahwa sepak bola merupakan salah unsur yang mampu merangkul segala kalangan tanpa memandang perbedaan seperti, perbedaan suku, agama, ras, bahkan jenis kelamin. Dapat dikatakan bahwa sepak bola mampu menyatukan semua. Namun yang jadi pertanyaan, apakah sepak bola juga memiliki ruang bagi kaum LGBT?

Diskriminasi merupakan hal yang lumrah terjadi apabila di dekat kita menemukan keunikan atau dalam hal ini, baik secara individu maupun kelompok orang sepakat mengatakan bahwa kaum LGBT itu memiliki kelainan.

Sering kali korban yang dicap memiliki kejanggalan seperti itu mendapatkan perlakuan yang berbeda dan cenderung dikucilkan di lingkungannya, sehingga dapat memengaruhi kehidupannya. Sepanjang hidup mau tak akan dikucilkan dari lingkungan.

Pun di sepak bola, akibat bertabrakan dengan nilai norma banyak orang, jarang pemain sepak bola yang mengakui dirinya bagian dari komunitas atau kaum LGBT. Bahkan, kebanyakan pesepak bola baru mau mengakuinya saat si pemain sudah memasuki masa pensiun.

Dunia sepak bola sempat dibuat kaget dengan pengakuan Thomas Hitzlsperger yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay. Meski bukan pesepak bola yang punya nama besar, kariernya selama menjadi pemain berkebangsaan Jerman ini terbilang mentereng.

Pada usia 18 tahun ia sudah merantau ke Inggris dengan bermain bagi Aston Villa. Bahkan Hitzlsperger merupakan kapten bagi tim nasional (timnas) Jerman U-19. Pemain yang berposisi sebagai pemain tengah ini juga sempat menjadi pemain langganan timnas Jerman senior medio 2004-2010 dengan 52 caps atau sampai saat tulisan ini dibuat, melampaui pencapian Sami Khedira dan Toni Kross yang baru membela Jerman sebanyak 51 kali.

Bila ada pertanyaan, “mengapa orientasi seks “khusus” ini sulit diterima dalam sepak bola?” maka jawabannya adalah kembali kepada sanksi dari lingkungan, termasuk di dalam lingkungan sepak bola sendiri.

Sebagai contoh dunia pernah berbuat tak adil terhadap seorang pesepak bola bernama Justin Fashanu. Pemain pertama yang tercatat sejarah mengaku gay ini harus mengakhiri hidup dengan bunuh diri lantaran tak tahan dengan diskriminasi yang diarahkan kepada pemain yang sempat mengharumkan negaranya di timnas Inggris U-21 ini.

Pasca-pengakuan dirinya pada tahun 1994 itu, karier sepak bolanya anjlok dan menamatkan karier di Miramar Rangers, Selandia baru, jauh dari hingga binggar. Lucunya, menurut laman wikipedia, sebelum menekuni sepak bola, dirinya adalah seorang petinju.

Atau bila menilik kasus terbaru, kenyataan pahit disingkirkan dari lingkungan sepak bola akibat kelainan orientasi seksual juga dialami oleh wasit yang notabenenya adalah seorang pengadil di lapangan, simbol dari apa yang dijunjung dalam sebuah pertandingan, yakni fairplay.

Halil Ibrahim Dinçdağ, seorang wasit asal Turki yang mengaku gay, harus diberhentikan dari tugasnya sebagai pengadil di lapangan. Bahkan sadisnya, ia kehilangan pekerjaannya di sebuah stasiun radio olahraga dan juga dihantui ancaman dari kelompok kanan keras. Meski telah insyaf, nyatanya keadilan masih sulit ia terima.

Saat ini, linimasa di Indonesia sedang gencar-gencarnya membicarakan LGBT. Mulai dari edukasi, diskusi, hingga perdebatan tersaji. Massa pro dan kontra pun berceceran memenuhi isi timeline kita sehari-hari. “Indonesia darurat LGBT” begitu seruannya.

Sepak bola pun juga mengalami darurat LGBT. Kiper AS Roma, Morgan De Sanctis pada tahun 2014 menyatakan bahwa sepak bola Italia dipenuhi oleh pemain yang mengalami masalah penyimpangan seksual. Bahkan banyak di antaranya adalah pemain Serie A.

“Homoseksualitas ada dalam sepak bola Italia. Dari 400-500 pemain, 2-3 persen pasti ada yang  gay, tapi belum ada yang punya keberanian mengaku,” kata De Sanctis.

Namun dengan adanya keadaan darurat ini tak serta merta menurunkan kualitas liga. Bahkan sepak bola Italia cukup berprestasi. Juventus misalnya mampu tampil di final Liga Champions pada musim 2014/2015.

Klub di Inggris Memiliki pemain LGBT

How homophobia claimed the life and career of Justin Fashanu -  Attitude.co.uk

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) boleh dibilang masih hal tabu di Premier League. Namun, setiap klub diyakini punya setidaknya satu pemain gay.

Klaim ini diutarakan oleh kapten Watford Troy Deeney dalam wawancaranya dengan BBC Podcast. Meski demikian, Deeney mengakui tidak mudah untuk para pemain untuk mengakuinya secara terbuka kepada publik.

Dulu pernah ada mantan pemain Norwich City dan Wimbledon Justin Fashanu yang diduga gay. Lalu ada beberapa nama seperti Liam Davis, Aslie Pitter, Robbie Rogers, dan Thomas Hitzlsperger.

Dari deretan nama itu, cuma Hitzlsperger yang merupakan nama tenar dan berani buka-bukaan bahwa dia adalah gay, itu pun setelah pensiun pada 2013. Hitzlsperger pernah bermain di Aston Villa, West Ham United, dan Everton.

Sementara itu, mantan bek kiri Timnas Inggris dan Chelsea, Graeme Le Saux, pernah dapat tuduhan gay meski sejatinya dia berkeluarga dengan istri dan dua anak.

“Saya bakal buka-bukaan bahwa setiap tim pasti punya setidaknya satu pemain gay atau biseksual. Mereka pasti ada, 100 persen ada,” ujar Deeney.

“Saya rasa setiap orang atau komunitas akan khawatir jika dia jadi yang pertama jujur soal gay. Saya rasa akan banyak pengakuan ketika yang berani memulainya,” sambungnya.

Deeney percaya jika ada pemain bintang yang berani jujur kalau dirinya adalah gay, maka para pemain lain akan terbantu.

“Jika ada pemain bintang yang berani bilang kalau dia gay, saya yakin akan ada 100 orang ikutan mengaku. Masalahnya selama ini mereka malu-malu mengakuinya.”

Premier League sampai saat ini masih mendukung terus komunitas LGBT. Bahkan mereka punya tradisi di satu pekan untuk mengenakan hal-hal berwarna pelangi, warna yang mewakili kaum LGBT.

Namun tak semua pemain sepak bola di Inggris setuju dengan kampanye ini. Adalah Mateja Kezman yang mengaku gusar dan siap untuk berperang melawan para pemain sepakbola yang diketahui memiliki penyimpangan seksual itu.

Kezman merupakan mantan pemain Serbia yang sempat memperkuat skuat Chelsea. Kini Kezman menduduki jabatan sebagai Direktur Teknik di FK Vojvodina. Sikap Kezman keras, hingga menyatakan diri siap angkat senjata untuk berperang melawan kaum homoseksual.

Kampanye antihomoseksual itu disampaikan Kezman saat mendengar para mantan pemain Belanda mulai dari Louis van Gaal, Ronald de Boer, dan Pierre va Hooijdonk ikut ambil bagian di sebuah pesta kaum gay di Amsterdam pada 2013.

Kezman merasa geram dengan sikap para seniornya itu. “Sejujurnya, saya mengatakan van Gaal telah melakukan sebuah kesalahan karena dia mendukung tindakan homoseksual. Bagi saya, itu adalah sebuah masalah,” ujar mantan pemain PSV Eindhoven itu.

“Saya berpendapat sebaiknya tindakan tersebut jangan pernah dipromosikan dan saya berharap Federasi Sepakbola yang di Serbia tidak mendukung kaum gay,” tambahnya.

Sementara itu, di Belanda memang memiliki tempat tersendiri bagi kebebasan kaum homoseksual. Mereka terang-terangan mendukung tindakan tersebut.