Apabila anda tidak mengenal nama Zhao Yun, mungkin Anda lebih mengenalnya dengan panggilan hormatnya; Zilong. Ksatria Cina kuno ini merupakan sosok legendaris yang diangkat ke dalam sejumlah produk budaya popular. Mulai dari novel, manga, hingga gim, karakternya selalu menjadi karakter yang populer.

Lalu siapa sebenarnya Zhao Yun atau yang biasa dikenal dengan Zilong ini? Apabila Anda bermain gim Kembangan Koei, Dynasty Warrior, anda pasti akran dengan Zhao Yun dan kisah 3 negara. Awalnya Kisah 3 Negara adalah novel sejarah yang ditulis oleh Luo Guanzhong. Guanzhong adalah seorang penulis Cina kuno era Dinasti Ming, atau tepatnya pada tahun 1368-1644. Novel ini berlandaskan pada catatan sejarah yang ditulis oleh Chen Shou dengan judul Catatan 3 Negara.

Entah novel maupun catatan sejarahnya, kedua literatur tersebut membahas sejarah pertikaian tiga negara yang hidup berdampingan di era akhir dinasti Han, atau pada tahun 189-220. Apabila catatan sejarah yang ditulis oleh Chen Shou lebih berupa catatan kehidupan masing-masing penguasa wilayah, novel karya Guanzhong justru menyelipkan banyak dramatisasi dan kisah-kisah legenda di dalamnya.

Meskipun terdapat perbedaan itu, keduanya tetap fokus membahas pertikaian antar 3 blok yang saling memperebutkan kuasa atas dataran Cina. Ada ribuan karakter yang sebenarnya dibahas dalam kisah pertikaian ini, namun Zhao Yun merupakan salah satu karakter penting yang kemudian menjadi populer dalam perkembangann budaya Cina.

Sang Anak Naga

Kisah Perjalanan Zhao Yun si Anak Naga Dari Tiongkok

Popularitas Zhao Yun bukan lah tanpa sebab. Dalam adaptasi di budaya populer yang dihimpun Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber, tokoh Zhao Yun sering digambarkan sebagai sosok protagonis. Dalam Dynasty Warrior misalnya, sosok ini seringkali menjadi sampul depan kaset, ataupun menjadi karakter pertama yang perlu dimainkan oleh pemain. Dalam game lain seperti Mobile Legends: Bang-Bang, Zhao Yun atau Zilong menjadi salah satu karakter pertama yang dapat digunakan oleh pemain baru.

Hal ini banyak disebabkan karena kisahnya yang inspiratif dan sosoknya yang gagah. Kegagahannya di medan perang bahkan menobatkannya sebagai satu dari “lima jenderal macan”, sebuah sebutan untuk para kesatria paling pemberani dan jago di negara Shu Han.

Catatan sejarah atas kehidupannya hanya berasal dari dua sumber, yang pertama adalah Catatan Tiga Negara karya Chen Shou, dan biografi tidak resmi berjudul Zhao Yun Biezhuan karya Pei Songzhi. Untuk memahami sepak terjang Zhao Yun, kita juga perlu sedikit memahami konteks peperangan saat itu.

Pada masa akhir kekaisaran dinasti Han, mayoritas populasi Cina mengalami kesengsaraan akibat tingginya pajak, korupsi, dan pertikaian di dalam istana. Rakyat jelata yang kala itu tidak puas dengan kondisi kehidupan mereka mulai menginisiasi pemberontakan. Pemberontakan ini sering disebut dengan nama pemberontakan serban kuning. Pemberontakan ini terjadi dan mulai menyebar ke seluruh penjuru dataran Cina. Pemberontakan ini sangat efektif, hingga akhirnya kekaisaran Han kewalahan membasminya.

Pada masa ini, kekaisaran memberi wewenang bagi para jenderal dan pemimpin-pemimpin pasukan di seluruh daerah untuk memimpin penertiban atas pemberontakan serban kuning. Lambat laun, pemberontakan ini selesai namun masalah malah semakin runyam.

Para pemimpin perang mulai menyadari besarnya kemampuan dan kapasitas mereka untuk memimpin pasukan sendiri. Mereka pun merasa lebih layak untuk mengambil tahta kekaisaran Cina. Akibatnya, para pemimpin perang ini malah menjadi pemimpin pemberontakan di daerah kekuasannya masing-masing. Di sinilah muncul nama-nama penting yang akan menjadi kaisar di tiga negara yang akan bertikai untuk menyatukan Cina. Di sisi utara terdapat Cao Cao, yang nantinya menobatkan dirinya sebagai kaisar negara Wei. Di sisi timur terdapat Sun Ce yang akan menjadi kaisar negara Wu. Terakhir di sisi barat terdapat Liu Bei yang akan menjadi kaisar negara Shu.

Zhao Yun berasal dari wilayah Zending yang terletak di provinsi Hubei, Cina. Ia mengawali karirnya ketika mendaftar ke pasukan Changshan. Setelah meniti karir beberapa waktu di pasukan tersebut, talentanya mulai dilirik oleh para penguasa setempat. Pemimpin perang pertama yang melihat bakat Zhao Yun di militer adalah Gongsun Zan, yang menguasai provinsi You di bawah negara Shu.

Gongsu Zan sebenarnya ragu dengan keputusan Zhao Yun untuk berperang di bawah komandonya. Pasalnya, pada saat itu banyak dari populasi rakyat di provinsi Ji memilih untuk menjadi pasukan rivalnya, Yuan Shao. Namun, Zhao Yun berhasil meyakinkan Gongsu Zan setelah mengatakan bahwa Ia hanya mau mengabdi pada pemimpin yang dermawan dan bijak.

Ketika menjadi pasukan di bawah komando Gongsu Zan, Zhao Yun baru bertemu dengan Liu Bei, yang nantinya akan menjadi kaisarnya. Pertemuan ini terjadi ketika Liu Bei sedang berlindung di Gongsu Zan. Kala itu, keduanya ditugaskan oleh Gongsu Zan untuk berperang bersama Tian Kai melawan pasukan Yuan Shao.

Masa perang sipil memang penuh intrik dan kejutan. Belum lama setelah peperangan itu usai, Zhao Yun dan Liu Bei dipertemukan Kembali dalam kesempatan dengan konteks yang berbeda. Kala itu, Liu Bei justru sedang berlindung di bawah naungan Yuan Shao, setelah markasnya direbut oleh Cao Cao. Pada saat yang sama, Zhao Yun juga sedang berada di markas Yuan Shao untuk melawan pasukan Cao Cao. Musuh yang sama menyatukan mereka, dan bahkan mereka menginap di kamar yang sama.

Kedekatan Zhao Yun dan Liu Bei semakin erat, terutama setelah Zhao Yun memutuskan untuk memihak Liu Bei untuk mengumpulkan pasukan sendiri. Zhao Yun dan Liu Bei serta para pengikutnya mulai melakukan kampanye besar untuk selanjutnya mendirikan negara Shu di wilayah selatan. Namun kedekatan ini baru mencapai puncaknya ketika terjadi pertempuran di Changban.

Pertempuran Changban merupakan momen historis yang paling menonjol dari kisah hidup Zhao Yun. Bahkan dapat dibilang bahwa pertempuran ini lah yang menjadikannya seorang legenda. Pasalnya dalam pertempuran Changban, Zhao Yun dikatakan sebagai sosok pahlawan yang menyelamatkan nyawa dari Liu Shan, putra Liu Bei.

Pertempuran itu dikisahkan dalam dua versi. Versi pertama adalah versi novel Kisah 3 Negara. Dalam versi ini, dikisahkan bahwa pasukan Liu Bei sedang dalam keadaan terkepung saat berpapasan dengan pasukan kavaleri Cao Cao di Dangyang. Ketika itu, Liu Bei harus kabur bersama dengan pasukannya dan meninggalkan istri dan anaknya dengan pasukan yang berbeda. Ketika mereka kabur, rombongan sipil termasuk keluarga Liu Bei tertangkap oleh pasukan Cao Cao. Mayoritas dari sipil tak bersenjata itu menjadi korban.

Pada saat itu, Zhao Yun langsung mengambil inisiatif untuk menyelamatkan rombongan sipil dan keluarga Liu Bei. Sayangnya, untuk Kembali menyelamatkan rombongan itu, Zhao Yun harus menghadapi serbuan pasukan Cao Cao seorang diri sambal mencari di mana letak rombongan tersebut. Dalam perjalanannya menuju lokasi rombongan, Zhao Yun perlu menghadapi jendral lawan Xiahou En terlebih dahulu. Xiahou En merupakan salah satu jendral kebanggan Cao Cao. Namun, dengan mudah Zhao Yun dapat mengalahkannya, dan bahkan merebut pedang hadiah Cao Cao dari tangan Xiaohu En.

Zhao Yun terlambat menemukan rombongan itu. Kebanyakan dari rombongan sudah tewas dibantai pasukan Cao Cao. Yang tersisa di sana hanyalah permaisuri Liu Bei, Mi Zhu, dan Liu Shan. Meskipun Zhao Yun datang, namun Mi Zhu menolak untuk diselamatkan. Mi Zhu justru lebih memilih untuk bunuh diri sehingga tidak menjadi beban ketika menumpang di atas kuda Zhao Yun. Mi Zhu hanya menitipkan sang anak, Liu Shan untuk diselamatkan oleh Zhao Yun.

Zhao Yun kemudian membedong Liu Shan di badannya dan bergegas menyusul rombongan Liu Bei yang masih dalam pelarian. Dalam perjalanan. Tak lama dalam perjalanannya, Zhao Yun ternyata telah dikepung oleh ribuan pasukan Cao Cao. Zhao Yun tidak memiliki pilihan lain selain untuk menghadapi ribuan pasukan tersebut seorang diri, meski harus sambil menggendong bayi.

Setelah sekian lama pertarungan berlangsung, Zhao Yun memilih untuk mencari jalan keluar lain. Kebetulan pasukan Cao Cao terus mendorongnya ke arah satu jembatan. Ternyata di jembatan tersebut sudah ada Zhang Fei, salah satu jenderal Liu Bei,  yang menunggu Zhao Yun. Setelah Zhao Yun melewati jembatan itu, Zhang Fei langsung merobohkan jembatan sehingga pasukan Cao Cao tidak bisa mengikutinya.

Zhao Yun berhasil mengantarkan Liu Shan kepada sang ayah. Bukannya berterimakasih, Liu Bei justru langsung menjatuhkan anaknya sembari mengoceh. Menurutnya, anaknya hampir membuatnya kehilangan satu prajurit dan teman paling berharga. Sebelum Liu Shan jatuh ke tanah, Zhao Yun telah terlebih dahulu menangkapnya dan menyerahkan anak itu Kembali ke dekapan sang ayah. Zhao Yun meyakinkan Liu Bei, bahwa apapun yang terjadi Zhao Yun akan terus mengabdi padanya.

Karena kegigihannya dalam sejumlah medan perang, terutama dalam upaya penyelamatan di pertempuran Changban, Liu Bei menghadiahkan Zhao Yun posisi sebagai Jenderal. Selain promosi tersebut, Liu Bei juga memberikan Zhao Yun julukan Zilong yang berarti ‘anak naga’.

Legenda yang Populer

Dynasty Legends - Awakening Zhao Yun (God) - YouTube

Kisah Zhao Yun banyak menjadi inspirasi masyarakat Cina, Taiwan, hingga Jepang. Kegagahan dan sifatnya yang heroik kembali dikisahkan dalam sejumlah pertunjukkan teater, film, atau bahkan video gim.

Zhao Yun telah menjadi dongeng yang dikisahkan secara turun temurun di keluarga-keluarga Cina. Pada abad 15 ketika mesin cetak masuk ke Cina dan novel Kisah 3 Negara menjadi lebih populer lagi, nama Zhao Yun bahkan menjadi banyak digunakan untuk menamakan anak.

Dalam media kontemporer, kisah Zhao Yun diadaptasi ke sejumlah film televisi dan layer lebar. Misalnya dalam film televisi God of War Zhao Yun (2016), yang salah satu karakternya diperankan oleh Yoona dari girlband K-Pop Girls Generation.

Selain itu, aktor Hong Kong kawakan Andy Lau juga pernah memerankan Zhao Yun atau Zhao Zilong dalam film layer lebar Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008). Sosoknya juga muncul dalam film Red Cliff (2008), yang lebih fokus pada salah satu pertempuran besar yang melibatkan ketiga negara Wu, Wei, dan Shu.

Sedangkan produk-produk video gim, Zhao Yun juga muncul kebanyakan sebagai tokoh protagonis, misalnya di serial Dynasty Warrior, ataupun Mobile Legends: Bang bang. Penggambaran Zhao Yun dalam dunia gim memiliki pertimbangan dan cara adaptasi yang beragam. Ketika ada di serial Dynasty Warrior, pihak pengembang gim yaitu Toei, sengaja menggunakan sosok Zhao Yun sebagai karakter yang muncul di sampul. Hal ini dikarenakan pihak pengembang ingin menekankan bahwa gim tersebut fokus dalam aksi ketimbang strateginya. Karakter Zhao Yun dinilai tepat untuk membawa kesan aksi yang kental karena banyak memiliki kisah heroik.

Kemunculan Zhao Yun dalam Dynasty Warriors menjadi sangat ikonik dan berimbas pada produk setelahnya. Pihak pengembang Mobile Legends: Bang Bang, Moonton, mengakui bahwa mereka tidak mau menggunakan nama Zhao Yun karena dinilai sudah pasaran. Moonton sempat mengganti nama karakter Zhao Yun menjadi Yun Zhao. Penggantian nama ini kemudian ditolah oleh tim produksi mereka di Cina karena dinilai membingungkan. Akibatnya, hingga saat ini karakter Zhao Yun di Mobile Legends diganti namanya menjadi Zilong.